Wanita Bermuka Dua

Wanita Bermuka Dua
Gabriel menyalahkan dia 2


__ADS_3

Kesimpulan yang di dapat dari ucapan orang\-orang adalah: Wanita ini ingin balas dendam kepada Gabriel.


Sherin menggigit bibir bawahnya,dia menggelengkan kepala,sedikit ketakutan dia mendongak kepala,berpapasan dengan tatapan Devan,ketika Devan mengetahui bahwa Sherin sedang menatap dirinya,dia segera mengalihkan pandangannya.


Jantungnya seperti di tabrak oleh sesuatu,sangat sakit dan menyakitkan.


Pada sudut matanya melihat wanita itu sudah jatuh ke dalam pelukannya,sepertinya Devan mengerti sesuatu.


"Devan,bukan aku...."dengan buru-buru Sherin ingin menjelaskan, dia takut akan kesalahpahaman Devan, dia bukan sosok seorang yang sangat peduli dengan pandangan orang lain,tetapi pada saat ini,dia sangat peduli dengan pandangan Devan terhadap dirinya.


" Devan,jangan salahkan Sherin, aku baru saja mengatakan kepada penjaga bahwa dia adalah seorang pengasuh di rumah keluarga mu, keceplosan,dia mungkin sangat marah,tidak....tidak sengaja melukai aku" Gabriel menyela ucapan Sherin.


Sherin dengan pandangan yang tidak percaya pun menatap Gabriel, Sherin berpikir dalam hati 'bagaimana dia bisa berkata bohong tanpa berkedip mata?'


Walaupun dirinya tidak pintar pun,dia tidak mungkin di hadapan orang banyak, langsung menusuknya dengan pisau?


Tiba-tiba,Sherin seperti mengerti sesuatu, wanita ini,dia mengandalkan kepercayaan dari Devan, apabila Devan percaya padanya, apabila memang begitu, walaupun dia hari ini tidak bersalah, Devan akan memikirkan cara agar dia mengakuinya.


Bagaimana dengan Devan? apakah dia akan percaya pada Sherin?


"aku akan membawa kamu ke rumah sakit" pada saat ini Devan, wajahnya tanpa ekspresi,tidak terlihat emosinya sama sekali.


Tetapi dari awal hingga akhir, dia tidak melirik Sherin sekalipun.


Melihat bayangan Devan yang menggendong Gabriel pergi, dalam hati Sherin terasa sangat kosong, apakah devan begitu? dia percaya pada Gabriel? mempercayai bahwa dirinya melukai Gabriel?


Sherin ingin mengikutinya, ingin menjelaskan dengan jelas kepada Devan,tetapi lengannya ditarik oleh seseorang "ingin kabur melarikan diri setelah melukai orang lain? siapa yang bisa menelpon 110, wanita yang seperti ini,harus di hukum sesuai peraturan"


Kemudian,Sherin mendengar di antara kerumunan, ada yang menelpon ke 110....


Pikirannya kosong.


Polisi tiba dalam waktu yang singkat,hingga borgol tangan yang dingin menempel pada kulitnya,dia menoleh ke arah kerumunan, Orang-orang tersebut atau tatapan yang dingin,atau tidak ada hubungan sama sekali.


Di antara banyaknya orang yang berkerumunan ada beberapa yang dia kenal, rekan kerja,Manager Lupus.....dan gadis bontet yang di tarik oleh manager Lupus.


Hati Sherin sangat kecewa....


Di *R*umah sakit

__ADS_1


"lukanya sangat dalam, apabila terjadi pada bagian dada,dia akan meninggal" ucap dokter sambil menjahit lukanya, sambil menghela kan nafas dalam-dalam.


Walaupun sudah di suntik obat bius, Gabriel masih merasakan sakit sehingga dia tidak bisa bicara.


Handphone-nya berdering, Devan keluar dari kamar menjahit dan mengangkat telponnya.


"ada saksi yang melihat Nona Gabriel yang meletakkan pisau ke tangan Nona Sherin" Dylan berkata.


Devan mengerutkan alisnya,memegang kening, terdiam dalam waktu yang cukup lama,dia perlahan-lahan berkata, "tutup mulut orang tersebut!"


"polisi membawa pergi Sherin" Dylan menarik nafas,berkata dengan lambat.dia terdiam sesaat, kemudian lanjut berkata "aku akan segera ke sana, kamu, bagaimana kondisi di sana?"


"tidak apa-apa,kamu membawa dia pulang dulu,dan memberi tahukan nya,setelah aku membereskan masalah disini,aku akan pergi mencarinya" jawab Devan.Terdiam sesaat,kemudian lanjut berkata "tutupi semua informasi!" perintahnya kepada Dylan.


Sementara Sherin,


Duduk di sudut ruang tahanan,kedua tangan Sherin memeluk lutut,di dalam pikirannya tidak berhenti menayangkan adegan-adegan yang baru saja terjadi di ballroom.


Sangat jelas,ini sudah di rencanakan oleh Gabriel


Tiba-tiba dia merasa dirinya sangat polos, sebelumnya,dia sangat merasa bersalah terhadap Gabriel.


"Tuan Yuta, silahkan!"


"buka pintu!"


"ini...."


"aku menyuruh kamu untuk membuka pintu,..." suara teriakan Yuta menarik kembali pikiran Sherin. Sherin mengangkat kepala,mendongak,di batasi oleh sebuah pintu, dia melihat wajah Yuta yang cemas, dia berhadapan dengannya, dengan terpaksa dia tersenyum dengan sangat kaku.


Yuta bergegas untuk masuk ke dalam dan berlutut di depan Sherin, melihat ke Sherin dari atas sampai bawah,dia merasa lega, "syukurlah,kamu tidak terjadi apa-apa."


"kamu sudah lupa,aku yang menyakiti orang lain, bukan orang lain yang menyakiti aku!" dengan tertawa pahit Sherin berkata.


"jangan sembarang bicara,sifat kamu seperti apa, apakah aku tidak mengetahuinya? untuk membunuh ayam saja kamu tidak berani, bagaimana dengan melukai orang lain?"


Sherin terbengong, "bagaimana kamu bisa tahu?"


"baiklah, di sini bukan tempat untuk ngobrol. Berdiri lah,kita pulang dulu ke rumah!"

__ADS_1


"Tuan Yuta, apabila kamu akan membawa dia pergi, jika atasan mengetahuinya, kita berdua harus bagaimana bertanggung jawab?" saat Yuta dan Sherin berjalan menuju pintu, polisi yang mengenakan baju polisi itu berdiri di samping,dia mengerutkan kening,dengan suara yang pelan dia berkata.


"apabila ingin bertanggung jawab, bagaimana jika aku dapat membuktikan bahwa dia tidak melukai siapa pun?"


Sherin mendengar, dia mendongak,menatap Yuta, "Yuta...."


Polisi itu merasa sangat di persulit "tetapi..."


Yuta meliriknya,dan menarik Sherin keluar dari kantor polisi.


Yuta merangkul pinggang Sherin, berjalan dengan buru-buru, saat mereka berdua baru saja keluar dari kantor polisi, mereka melihat Dylan yang datang dari depan.


"Nona Sherin..." Dylan menyapa Sherin.


Karena Sherin merasa sangat lelah,jadi dia hanya menjawab dengan menganggukkan kepala, tidak berbicara.


Tatapan Yuta tertuju pada Dylan."apa yang ingin kamu lakukan di sini?"


"Nona Gabriel masih di jahit di rumah sakit,jadi..."


"jadi apa? jadi,aku tidak boleh membawa dia pergi? kamu dan Devan itu sama,apakah otak kalian adalah otak pikiran binatang? apakah dia bisa menyakiti orang? apakah di dalam hati kalian tidak memiliki perasaan?" Yuta tidak memberikan Dylan kesempatan untuk menjelaskan, Yuta menarik Sherin dan berjalan menuju ke arah dia memarkirkan mobil.


Dylan mengerutkan kening, mengangkat kedua tangan di udara, kemudian meletakkan kembali di bawah dan membuang nafas dengan kuat.


Setelah berpikir,dia memilih untuk mengejar mereka.


Dylan mengetuk jendela mobil, Sherin menurunkan jendelanya,lalu menatap Dylan.


"Nona Sherin,Devan mempercayai mu" ucap Dylan..


apabila tidak, Devan tidak mungkin saat Dylan ingin mengikuti ke rumah sakit, dia meminta Dylan berada ditempat kejadian, dan segera menemukan saksi mata.


Sherin mendongak,tatapannya tertuju pada Dylan,dia hanya merasa lucu dan menyedihkan "benarkah? dia percaya Nona Gabriel,mengambil pisau menusuk dirinya sendiri?"


Dylan ternganga,pada saat ini,dia tidak bisa menjawab,hal ini berhubungan dengan Devan dan Gabriel,dia tidak bisa menjawabnya.


Pada hati Sherin tanpa alasan dia merasa sangat sedih,terdiam sesaat, dia menaikkan sudut bibirnya,tersenyum,tertawa dengan ironis, berpikir "percaya kepadanya?"


Percaya kepadanya,pada saat itu, bahkan Devan tidak melirik dirinya.

__ADS_1


Cinta? bahkan kepercayaan yang paling dasar saja tidak ada, bagaimana dengan cinta?....


__ADS_2