
"mama, kamu bisa menikah dengan papaku saja kan? ya,kamu bisa menikah dengan papaku saja! papaku juga menyukai mama,ya kan?" Simon berkata dengan tergesa\-gesa, Sherin berusaha tersenyum,kemudian mengelus kepala kecil Simon, berpura\-pura berkata dengan santai, "tapi aku tidak menyukai papa kamu, papa kamu itu terlalu luar biasa, aku tidak cocok dengannya"
"jangan,mama,tolong, jangan pergi ya?! Simon tidak punya mama, kalau kamu juga pergi meninggalkan ku, maka tidak ada orang yang baik pada Simon lagi...mama,aku mohon ya? jangan pergi....!"
Saat ini, Simon tidak bersikap manja, tidak ada lagi IQ tinggi, hanya ada seorang anak berusia 5 tahun yang biasa.
"mama,aku akan mendengar semua perkataan mama,oke? aku akan menjadi putra mama" dia bertanya ulang.
Air mata Sherin, pada perkataan Simon ini, akhirnya tidak bisa di tahan lagi,kemudian dia berdiri,memejamkan mata, lalu menarik koper, berbalik badan dengan tegas,melangkah menuju arah pintu chek-in.
"mama,jangan pergi!"
"mama,aku mohon padamu, jangan pergi, oke?"
"arh...." Sherin mendengar suara jeritan Simon, lalu membalikkan kepala, langsung nampak Simon yang terjatuh di lantai, refleksnya ingin langsung maju dan mengangkatnya, tapi pada saat kaki di angkat bersiap untuk melangkah, dia menurunkan lagi.Menggigit bibit bawahnya, dia menarik nafas dalam-dalam, membalikkan badan.
"mama,kamu jangan pergi....!"
"mama...."
__ADS_1
Dulu sebelum menjadi ibunya, Sherin tahu bagaimana rasanya merindukan anak ini, sekarang dia baru mengerti, perpisahan antara anak dan ibu, seperti apa rasanya, tapi,bagaimana? jika tidak meninggalkan anak ini, maka yang akan menderita adalah semua orang.
Sampai masuk ke dalam area chek-in, Sherin tetap bersikap tegap, tidak berani menolehkan kepala ke belakang walau hanya sekedar untuk melihatnya.Dia takut,setelah melihat, dia tidak ada keberanian untuk meninggalkan tempat ini lagi.
Hingga masuk ke dalam kereta, ketika pintu tertutup, saat kereta mulai jalan, baru lah dia berjongkok dekat pintu,memeluk kedua lututnya,menangis menjerit jerit.
Dia menangis amat lama, lama hingga orang orang yang datang pada melihatnya.Kemudian dia mengambil tas di sampingnya, lalu kembali ke tempat duduk semula terlebih dahulu, di sebelahnya, duduk seorang bapak tua, dia dengan ramah menyapa bapak tua itu, setelah itu pun bertanya ke mana bapak tua itu akan pergi?
Mereka berdua mengobrol sebentar,mendengar kereta menyebutkan bahwa sudah akan sampai di tujuan selanjutnya, Sherin bangkit, pergi ke toilet, kereta berjalan, sampai saat kereta berhenti lagi.
Dia baru saja keluar, dia bukan Sherin yang sama.
Pemandangan di luar kereta berjalan mundur, ingatan Sherin juga sedang mundur, mundur sampai ke hari pertama dia masuk ke rumah Devan....
Segalanya, seolah-olah seperti mimpi, saat ini, dia sudah terbangun dari mimpi.
Kereta tiba di tujuan berikutnya, tidak lama setelah berjalan lagi, Sherin mendengar secara samar-samar suara keributan dari kereta di sebrang rel lain.
Secara naluriah mengangkat kepala, dia langsung terlihat Devan yang berdiri di tengah-tengah sekumpulan orang yang berpakaian serba hitam.
__ADS_1
Seperti biasanya, berpakaian jas dan sepatu kulit, dasi tertarik hingga ke posisi kancing kedua, rasanya sedikit berantakan, tetapi di antara kekacauan itu, ketampanannya masih saja tidak berkurang. Raut wajahnya terlihat kusam juga gelap, walaupun berjarak sangat jauh, tetap bisa merasakan kemarahan dan kecemasannya.
Sherin pergi, tentu saja Devan akan merasa khawatir. Namun, Devan, jika aku berada di sisimu, bagaimana caramu menjagaku? kita, bagaimana caranya kita berdua meneruskannya?"
Tidak mungkin ada kebahagiaan!
Namun,hatinya tetap terasa hangat, paling tidak, dia masih juga mengejar kemari.
Sayangnya....
Sherin duduk tegak,melepaskan topi di kepalanya, menampakkan wajah cantiknya, riasan di wajahnya lumayan tebal, kehilangan wajah aslinya, tapi tetap tidak bisa menyembunyikan kecantikan yang luar biasa. sweater putih di leher, celana kulit hitam, aroma parfum yang sangat kuat.
Dia sekali lagi menegaskan bahwa dirinya bukan Sherin.
Sejak saat ini,dunia ini, tidak akan ada Sherin lagi.
Devan, selamat tinggal!"
Bersambung....
__ADS_1