Wanita Bermuka Dua

Wanita Bermuka Dua
Sesuatu yang tidak bisa di beli dengan uang.


__ADS_3

Sherin melihat ke Elsa.Wanita ini menyukai Devan? dan sepertinya bukan hanya sekedar menyukai, tetapi Sherin juga merasa terkejut ketika dia mendengar Devan belum pernah tinggal bersama dengan Devan.


Pada saat itu,ponsel Sherin berdering.dia menganggukkan kepala kepada Elsa dan meminta ijin untuk keluar dari ruangan. Nomor yang menelpon Sherin adalah nomor asing, tetapi Sherin tahu siapa orangnya


"kamu dimana? mengapa kamu tidak ada di kantor?" ucap si penelpon


Alis Sherin terangkat, "mengapa kamu bisa tahu aku tidak berada di kantor?" bukannya menjawab, Sherin malah bertanya balik. Sherin berpikir, Jangan-jangan pria ini menyuruh orang untuk mengawasinya?


"kamu belum menjawab pertanyaan aku, kamu ada di mana sekarang?"


Sherin melihat ke sekelilingnya, Sherin juga tidak tahu tempat ini ada di mana, selain hanya mengetahui nama daerah ini adalah daerah pelangi. "di desa yang terpencil?" Sherin berjalan beberapa langkah menjauh dari Elsa dan merendahkan volume suaranya. "oh iya, aku bertemu dengan kekasih kamu di sini. Direktur Devan memang benar-benar memiliki banyak wanita" tidak tahu mengapa, Sherin sangat ingin sekali menyindir Devan.


Devan menyenderkan punggungnya ke sofa dan wajahnya memancarkan sebuah senyuman yang cerah sangat terlihat jelas "kamu cemburu?"


Tatapan Sherin menjadi sedikit tenggelam.


cemburu? tidak mungkin!

__ADS_1


"apakah kamu ingin tahu siapa wanita itu?" pancing Sherin. Sherin tidak percaya jika Devan tidak ingin tahu. senyuman Devan semakin mendalam di sebrang sana, lalu dia menjawab "tidak, tidak perlu!aku hanya ingin bertemu dengan kamu"


Mendengar ucapan Devan sampai di sini, Sherin tidak tahu lagi dia harus menjawab apa.Jantungnya berdetak sangat cepat dan Sherin mematikan telponnya dengan segera. Sherin merasa dirinya akan menjadi gila jika pria ini terus mendekati dirinya.


Adegan Elsa selesai pada sore hari dan Sherin bermaksud ingin berjalan-jalan di sekitar desa.


"Nona Sherin, jangan pergi terlalu jauh.kita akan kembali ke kota dan beristirahat setelah mereka berdua siap." orang yang bertanggung jawab menelpon Sherin ketika dia melihat Sherin keluar dari area syuting.


Desa ini tidak besar, orang-orang muda semuanya bekerja di luar dan hanya sisa orang tua dan orang yang sakit yang tinggal di sini.Suasana hati Sherin yang baik menjadi tertekan tanpa alasan setelah dia berkeliling di desa ini.Personalitas Sherin sebenarnya optimis tetapi dia juga sangat emosional dalam hatinya.


"Tante, apakah kamu datang dari luar?" ada sebuah suara anak kecil datang dari arah belakang Sherin.Nada bahasanya bukan merupakan bahasa standar tetapi tetap bisa mengerti jika di dengar dengan konsentrasi. Sherin menoleh ke belakang dan dia melihat seorang anak kecil yang berusia sekitar usia Simon. mungkin karena faktor angin, wajahnya terlihat ada sedikit hitam merah.Baju yang di kenakan nya juga terlihat baju lama tapi sangat bersih.Fitur wajahnya pun terlihat sangat cantik dan tajam.


"Tante, kata nenek aku, orang tuaku juga bekerja di luar." anak kecil itu berkata sambil melihat ke gerbang masuk desa dan matanya terlihat memiliki ketidaksabaran yang jelas. "mereka hanya bisa pulang jika waktu tahun baru.Sekarang masih tersisa empat belas hari lagi sebelum tahun baru itu tiba."


Masih tersisa 14 hari sebelum tahun baru tiba? mata Sherin menjadi memerah.Dia mengelus kepala anak kecil itu dan memberikannya beberapa biskuit dan permen lolipop.Tetapi anak kecil itu malah menolaknya "Tante, nenek bilang, tidak boleh makan makanan orang lain!"


Sherin merasa bangga.Dia meletakkan permen lolipopnya di tangan anak kecil itu dan juga meletakkan biskuitnya di saku baju anak kecil itu. "orang tuamu memilih untuk bekerja di luar dan membiarkan kamu di rumah karena mereka ingin memberikan kamu masa depan yang lebih baik. Jangan salahkan mereka!"

__ADS_1


Setelah memiliki Simon, Sherin mengerti bahwa tidak ada orang tua yang ingin berpisah dengan anaknya kecuali dalam keadaan terpaksa. Anak kecil itu mengangguk. "aku tidak pernah salahkan mereka,aku hanya merasa sangat rindu kepada mereka.Teman-teman lain yang berada di desa ini sudah di jemput oleh orang tuanya dan hanya tersisa aku sendirian di sini." anak kecil itu mengeluh dan menunduk.


Makanya anak kecil ini menyapa Sherin ketika dia melihatnya? Sherin jadi merasa sedih dan langsung memeluk anak kecil itu.Air mata yang di tahan sedari tadi olehnya mengalir begitu saja.


"kapan kamu bisa memberikan rasa belas kasihan yang kamu miliki itu kepada aku juga?" suara yang tidak asing di pendengaran Sherin berbicara di belakang dirinya. Sherin menoleh ke belakang dan melihat Devan yang berdiri di jarak tidak jauh darinya.


"kamu....,mengapa kamu bisa datang ke sini?" ucap Sherin kepada Devan.


Anak kecil itu sepertinya sedikit takut setelah dia melihat Devan. Dia mundur dua langkah ke belakang dan berkata "Tante,aku akan pulang dulu.Selamat tinggal!" anak kecil itu pergi sambil melambaikan tangannya kepada Sherin dan Sherin balik melambaikan tangannya kepada anak kecil itu.


"di dunia ini memiliki terlalu banyak orang yang hidup lebih susah darinya. apakah kamu akan sanggup merasa sakit hati untuk orang sebanyak itu?" sebenarnya Devan sudah tiba beberapa saat yang lalu.Devan sudah melihat Sherin ketika anak kecil itu menyapanya.Melihat Sherin yang menangis karena beberapa kata anak kecil itu, Devan sepertinya mengerti kasih sayang Sherin terhadap Simon.


"Direktur Devan masih tahu dengan arti kata 'susah'?" Sherin menyeka air matanya dan menatap ke Devan dengan tatapan mengejek.


Devan mengangkat alisnya dan berjalan menuju ke sisi sebelah Sherin "ada beberapa 'kesusahan' di dunia ini yang bisa di selesaikan dengan uang.Tetapi,ada juga yang tidak!"


Sherin memikirkan ucapan Devan "apakah ada kesusahan yang tidak bisa di selesaikan dengan uang?" Sherin bertanya. Devan mengangguk dan mengelus kepala Sherin, "tentu saja. apakah kamu mengerti perasaan hanya bisa tertidur jika makan obat selama 14 tahun?"

__ADS_1


14 tahun? Sherin mengangkat kepalanya dan menatap ke pria yang berada di hadapannya ini.Berarti mulai dari usia 13 tahun Devan sudah harus makan obat dulu sebelum tidur baru dia bisa tidur? Sherin meras sakit hati mendengarnya. Sherin dengar dari Mbok Lili, hal ini terjadi karena Devan mengalami beberapa hal pada saat dia masih kecil.


Sherin ingin bertanya karena masalah apa dia tidak bisa tidur? tetapi dia tidak tega karena takut membuat Devan teringat dengan ingatan yang menyedihkan.Melihat ekspresi Sherin, Devan merasa sedikit tersentuh. "sudahlah. simpan kembali rasa belas kasihan kamu itu dan cepat kembali ke area penyuntingan.mereka seharusnya sudah akan selesai!"


__ADS_2