
Dokter menatap Clover dari atas sampai bawah sebelum dia berbicara,
"masalahnya tidak serius, hanya pendarahan di perut, tetapi dia masih sangat muda, dengan keadaan seperti ini, maka jika tidak di rawat dengan baik, mungkin akan susah untuk mempertahankan sampai tua nanti, dan dia akan terus menderita." selesai berkata, dokter menghela nafas, mengangkat kaki dan pergi...
Clover berkata terima kasih, baru saja berbalik untuk membuka pintu kamar pasien.
"mama, dia itu seharusnya ada di sini" suara Gabriel, bahkan walau dia tidak mendengarkan selama bertahun-tahun, dia masih bisa mengenalnya.
Dia buru-buru menarik tangannya, berbalik dan melintas ke sudut dinding.
Lalu dia melihat Gabriel dan ibu Gabriel yang masuk ke dalam kamar pasien, lalu menutup pintu.
Dia menundukkan kepalanya, tidak bisa menutupi rasa kecewa.
Melalui jendela transparan di pintu, melihat ke dalam, Devan sepertinya sedang tertidur, Gabriel duduk di sebelah tempat tidur, terlihat memegang tangan Devan, tampaknya sedang menangis, ibu Devan terus berbicara di sampingnya tanpa henti.
Kemudian, Gabriel jatuh ke dalam pelukan mertuanya.
Segalanya terlihat sempurna.
__ADS_1
Clover mengambil nafas dalam-dalam dan akhirnya berbalik, lalu pergi...
Di dalam kamar pasien.
"ma, lihat, meski dia sudah tertidur, tetapi nama yang keluar dali bibirnya masih tetap nama wanita itu. Ma, selama bertahun-tahun, aku masih tidak bisa memasuki hatinya."
Ibu Devan memeluk Gabriel, dan dia merasa agak tidak enak, "Gabriel, aku mendengar wanita itu sudah meninggal, Devan ini pasti belum bisa melupakannya untuk sementara waktu, kamu harus memberinya waktu, lambat laun, dia secara alami akan melihat kebaikan kamu"
Gabriel mengangguk, "ma, mungkin ini semua karena aku tidak cukup baik untuknya"
"Devan, kamu sudah bangun?" ibu Devan tiba-tiba berkata
"ma, apakah dari tadi hanya kalian berdua?" dia dengan jelas mendengar suara Clover, apakah itu hanya ilusi?
Ibu Devan pun mengangguk, bingung.
Devan memejamkan matanya dan tidak berbicara lagi. Pada saat ini, ponsel di atas meja berdering, Devan mengambilnya dan melihat nya ternyata itu panggilan dari Dylan.Tidak tahu apa yang dikatakan Dylan di dalam telpon, membuat Devan yang tadinya lemas dan tidak bersemangat, Tiba-tiba mendapatkan semangat yang baik dan dia langsung tersenyum.
Ketika dia sudah menutup telponnya, ibu Devan bertanya, "ya,memangnya hal baik apa yang kamu dapat?"
__ADS_1
Devan menatap ibunya dan kemudian menatap Gabriel, "tidak ada.Ma, jika kalian tidak ada perlu lagi, maka kembali lah!"
"ya.Ma, lihat,hari ini mulai gelap, di sini juga sangat jauh dari rumah, sebaiknya mama pulang lebih awal" Gabriel berkata.
"kamu pulang bersama mama saja!" Devan tiba-tiba berkata, Gabriel tampak canggung, "aku di sini saja untuk menemani kamu"
"tidak perlu. Kalian berdua pulang saja, aku ingin istirahat dengan tenang di sini." Devan berkata sambil berbaring,lalu memejamkan matanya lagi.
Ibu devan menatap Gabriel, lalu menatap Devan lagi, bagaimana kepribadian putranya, dia sangat mengerti, kemudian dia pun menepuk-nepuk lengan Gabriel dan berkata, "ayo, kamu pulang dengan mama, sudah mulai gelap, mama sendirian juga sedikit takut"
Gabriel memutar pelan bibirnya seraya tersenyum, dia berkata kepada Devan "Devan, kalau begitu aku akan pulang dulu bersama mama, dan kamu harus menjaga dirimu sendiri dengan baik!"
Devan hanya menjawab "hemm" tapi tidak terdengar.
Ketika keduanya turun sampai di bawah, Gabriel baru teringat kalau dia lupa memberikan Devan obat yang di bawanya, dia pun menyuruh ibu Devan untuk menunggunya di luar, dan dia membawa obat ke atas terlebih dulu.
.
Bersambung.....
__ADS_1