Wanita Bermuka Dua

Wanita Bermuka Dua
Simon Merasa Aneh


__ADS_3

Simon merasa kalau anak kecil ini benar-benar aneh. Tiba-tiba saja dia berteriak dengan antusias dan memanggilnya kakak, tiba-tiba juga dia menangis, lalu dengan sekejap dia bersikap dingin dan mengabaikannya.


Orang mengatakan hati wanita itu susah di tebak, sekarang ini benar-benar tepat sekali, masih sangat kecil saja sudah berubah-ubah.


"Simon, nenek mencari kamu di aula depan" suara Devan terdengar dari atas kepala Momo.


Momo mengangkat kepalanya secara reflek, seorang pria yang sangat tinggi, sangat tinggi,, sehingga dia merasa lehernya sakit hanya untuk melihat wajahnya. Hati yang kecil ini, apada saat ini, berdetak dengan cepat, dia? pria yang tidak setia ini? adalah ayahnya?


Momo awalnya sangat iri kepada orang lain yang memiliki ayah, tapi setelah mendengar ayah Yuta mengatakan sesuatu tentang ibunya, sama seperti ayah Yuta tidak memberitahunya apa-apa, apakah masalah ini ada hubungannya dengan ayahnya,setelah memperhatikan sikapnya terhadap ibunya, tiba-tiba dia merasa membencinya.


Tangan mungil yang tengah memegang tas kecilnya itu menjadi kencang, dia menggigit bibir bawahnya, kemudian dengan dingin dan sombong dia berjalan melewati Devan dan Simon.


Hanya saja, tubuhnya yang kecil langkahnya juga kecil, dengan sekejap kedua pria itu, yang satu besar dan yang satunya kecil,sudah berjalan melewatinya.


"kamu mau kemana? aku akan membawamu pergi?" ketika Simon berjalan melewati Momo, dengan tanpa sadar dia bertanya kepada Momo dan hendak menggandengnya.


Karena hari kemarin baru saja hujan, jadi ada air menggenang di sekitar taman, itu agak susah untuk berjalan. Momo yang mengenakan sepasang sepatu kecil,sangat berjuang untuk bisa berjalan.


Devan mendengar Simon berbicara, dia menoleh karena terkejut. Tetapi pada saat itu juga Momo tengah melihat ke bawah, jadi Devan pun tidak melihat wajah Momo dengan jelas, dia hanya berpikir aneh, kenapa putranya sangat ramah, karena itu sangat langka.

__ADS_1


Simon tidak terlalu suka berteman sejak dia masih kecil, tidak tahu apakah karena dia memiliki IQ yang terlalu tinggi atau meremehkan orang lain, atau juga hanya tidak ingin bermain dengan yang lain atau apa...Lagi pula,dia sering merasa takut dan Menghindari anak-anak lain, tidak peduli anak yang lebih besar darinya atau yang kecil.


Tetapi hari ini....


Simon melihat tatapan curiga dari Devan, seketika tubuhnya sedikit bergetar, apakah dia baru saja kesurupan? kenapa tiba-tiba kepikiran untuk menggandeng gadis kecil itu?


"tidak!" Momo menjawab dengan ketus tanpa mengangkat kepalanya.Kebetulan ada celah di antara Devan dan Simon, pantat kecilnya berputar, lalu pergi ke arah lain.


Simon menyentuh hidungnya dan tampak malu.Ini adalah pertama kalinya dia menunjukkan kedekatannya dengan seorang gadis kecil, tetapi dia tidak menyangka....


Devan menunggu Simon untuk maju dan menepuk pundaknya. Sesudahnya, ayah dan anak itu tidak berkata apa apa lagi.


Tetapi ketika mereka baru saja melangkah memasuki ruangan, sesosok bayangan kecil dari belakang mereka, melesat keluar dari pilar dan dengan cepat mengikuti masuk.


Di aula depan, ibunya Devan sedang asyik bermain dengan permainan di ponsel nya.Ketika dia mendengar suara langkah kaki, dia pun mendongak dan melihat Simon. dengan cepat dia menaruh ponsel nya dan bangkit. Dia langsung berlari ke depan dan memeluk Simon dengan erat. "oh, Simon.Nenek sudah kangen setengah mati. Sini coba nenek lihat apakah telah tumbuh lebih tinggi dan lebih gemuk?" sambil berkata, sambil membalikkan badan Simon, menepuk punggungnya, dan tertawa "lumayan, sudah kuat badannya"


"Hai,nenek..." tidak seperti ketika dia masih kecil, Simon sudah lebih tenang selama empat tahun ini.Sekarang Simon terlihat seperti orang dewasa bertubuh kecil. Dia tidak terlalu akrab dan mencium neneknya seperti dulu lagi, dia hanya menyapanya dengan sopan.


Tangan ibunya Devan seketika terhenti, hanya mengangguk dan tidak bicara lagi.

__ADS_1


"dia....dia tidak datang?" dia bertanya kepada Devan.


"aku tidak menghubunginya untuk datang..." Devan menjawab tanpa ekspresi.


Ibunya Devan menatap Devan dan Simon bergantian, lalu menghela nafas, dan memberi isyarat kepada Devan untuk duduk di seberangnya.


"Devan, kamu kan sudah menikah dengan dia, dia akan menjadi istrimu selamanya, walaupun hatimu belum bisa memaafkan sikapnya, coba lah belajar untuk menerimanya. kamu mengerti kan?"


Setelah itu, dia meraih tangan Simon lagi,


"nak, tante Gabriel sebenarnya tidak jahat, kamu bisa mencoba memperlakukan nya seperti seorang ibu, dia akan baik kepada Simon!"


Simon mengangkat kepalanya dan menatap dalam ke arah ibunya Devan, tetapi menarik tangannya, "Nenek, nenek ngobrol saja dengan ayah. aku akan pergi ke depan untuk melihat lihat." setelah mengatakan itu, dia berbalik badan dan pergi ke tempat lain.


.


Bersambung....


Mohon dukungannya like dan komen....

__ADS_1


Terimakasih...


Lover you all....


__ADS_2