
Akhirnya mereka berangkat untuk jalan-jalan, naik mobil bersama-sama.
......
Mobil berhenti,melihat pesawat pribadi yang parkir di depannya, Sherin menoleh dan melihat ekspresi wajah Devan yang aneh, "bukannya kamu bilang ingin pergi berjalan-jalan?" tanya Sherin tidak mengerti.
"kenapa? ada masalah?" jawab Devan balik bertanya pura-pura tidak mengerti juga.
"Jalan-jalan, apa perlu sampai naik pesawat?" benar-benar berbeda dunia, dan pola berpikir antar generasi juga berbeda.
Devan menggendong Simon kemari dan membantunya naik pesawat,dan ketika dia baru saja ingin mengulurkan tangan untuk membantu Sherin,ponselnya yang ada di dalam saku celananya berdering.
Dia memberi kode kepada Sherin untuk menunggu sebentar, dan dia mengangkat telponnya.
Sherin memegang tiang dan sambil memikirkan benda apa yang ada di depannya, dia tidak pernah naik pesawat atau pun pesawat pribadi.Dia tampak agak kekanak-kanakan dan melihat-lihat ke kanan dan ke kiri.
"ya,baik, aku akan segera ke sana" tiba-tiba,Sherin mendengar Devan mengatakan kalimat itu, dan mematikan telponnya, ekspresi wajah Devan menjadi suram dan menakutkan.
__ADS_1
Sherin bertanya kepada Devan "apakah ada masalah?"
Devan tidak menjawab pertanyaan Sherin,hanya berbalik dan menatap Simon, "kamu bawa lah Simon dulu, aku takut kalau aku tidak bisa pergi hari ini"
Berhenti sejenak,kemudian dia berkata lagi, "Gabriel berada di rumah sakit, aku harus pergi untuk melihatnya"
Walaupun Devan berkata dengan santai,tetapi Sherin tahu bahwa masalah pasti tidak akan semudah itu. Gabriel,hanya untuk melawan dirinya, dia rela menusuk lengannya dengan pisau, dan hanya untuk supaya Devan pergi melihatnya, apa yang akan dia lakukan kali ini?
"kamu pergi dulu saja,aku akan membawa Simon ke tempat ku dulu, jika kamu tidak bisa datang malam ini, maka biarkan pak Hasan yang menjemput Simon untuk pulang!" Ekspresi wajah Sherin yang penuh pengertian, juga sangat jelas dengan suasana hatinya, dan merasa sangat tidak nyaman. Namun Gabriel masih tunangan Devan,dia tidak memiliki hak untuk menghentikan dan juga dia tidak ingin menyusahkan Devan.
Ketika Devan sampai di rumah sakit,dari jarak jauh saja, dia mendengar suara jeritan Gabriel dan membanting barang-barang dari dalam, dokter yang mendengar bahwa Devan sudah datang, langsung menyapanya dari jauh.
"Nona Gabriel tadi bersembunyi di kamar mandi dan mengambil pisau lalu memotong nadinya sendiri" jelas dokter,berkata dengan hati-hati, melihat Devan mengerutkan keningnya, dan dengan cepat dokter berkata lagi "Namun,untungnya para perawat menemukannya tepat waktu, sekarang sudah tidak apa-apa, suasana hati nona Gabriel terlalu labil, dan dia terus meminta untuk memanggil anda kemari, kami juga tidak bisa melakukan apa-apa...."
Dokter berdiri sangat dekat dengan Devan,sehingga dia bisa mendengar suara ketika Devan mengepalkan tangannya, dan jari-jarinya menggertak keras, seterusnya,dia tidak berani untuk terus berkata lagi.
Sementara Devan, dari jarak jauh saja sudah bisa melihat Gary yang berdiri di ambang pintu, melihat Devan menuju ke arahnya, kepala Gary menoleh ke satu sisi, mengalihkan pandangannya, ekspresi wajahnya sangat buruk, ketika Devan ingin mendorong pintu dan masuk ke dalam kamar pasien, Gary tiba-tiba mengulurkan tangannya dan meremas kerah Devan.
__ADS_1
"ini semua karena kamu.Jika kamu tidak mencintainya, mengapa kamu ingin bertunangan dengannya?"
Pandangan Devan tertuju pada tangan Gary yang terletak di lehernya, Devan mengangkat tangannya dan menyingkirkannya dengan kuat, kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam kamar pasien.
Dua perawat sedang menunduk dan berdiri di kedua sudut kamar, Gabriel terus-menerus membanting semua barang yang ada di kamar itu.
Gabriel mengirim pesan teks kepada Devan,tetapi dia tidak membalasnya, malah pergi ke mall dengan wanita itu dan menemaninya membeli baju, dan masih ke rumahnya....
Berpikir sampai di sini, Gabriel tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
"apa yang sedang kamu lakukan?" suara yang rendah itu menghancurkan udara yang tertekan di dalam ruangan.
Tindakan Gabriel yang sedang melempar bantal itu, terdiam sejenak, dan berbalik badan menatap Devan yang berdiri di sisi lain dalam kamar.
"Devan...." dia baru saja berkata satu kata itu, kemudian langsung pingsan.
Boleh baca juga novel lainnya yang berjudul 'Penantian cinta Arga'😊😊
__ADS_1
kasih like,komen dan vote nya!?