
"kamu pergi kemana tadi?" Devan malah menjawab pertanyaan Sherin dengan sebuah pertanyaan.
"aku pergi untuk jalan-jalan" jawab Sherin sambil mengeluarkan charger dan ponselnya dari dalam tasnya,kemudian mengecas ponselnya nya di samping tempat tidur.
"apakah kamu sedang menghindari aku?" Devan bertanya lagi sambil memeluk Sherin.Badan Sherin pun menjadi kaku.
"jangan sentuh aku!" Sherin berontak dan mendorong Devan. Tetapi badannya malah merasakan sesuatu seperti di setrum listrik ketika dia menyentuh tubuh Devan.
Devan tidak ingin melepaskan Sherin, dia mengernyit kan alis, "Sherin,kamu tahu rasanya kangen pada seseorang?" Devan tiba-tiba bertanya seperti itu, Sherin belum menjawab juga, kemudian Devan lanjut berkata "ingin melihatnya di setiap saat, tidak fokus dalam mengerjakan hal apa pun, selama ini, aku baru pertama kali merasakannya"
Sherin tidak dapat melihat wajahnya, kedua tangannya tetap dalam posisi berontak ingin mendorong, dalam hatinya dia merasa sangat senang,karena ternyata, bukan hanya dirinya yang merasakan seperti ini,tetapi Devan juga merasakan seperti ini.
Terdiam, Sherin menjawab dengan berpura-pura agar terlihat tenang "Devan,apa yang kamu sukai dari diriku?"
Sudut bibir Devan sedikit terangkat,kemudian menjawab dengan halus, "kebaikan kamu,kepolosan kamu,keinginan kamu,......semuanya,aku menyukainya!"
Sherin menutup kedua mata,tarik nafas panjang, dia memaksakan dirinya sendiri untuk bersikap tenang "semua ini, Gabriel pun juga mempunyai nya"
Setelah berkata, Sherin mengusir tangan yang di pinggangnya "lepaskan! aku ingin mandi."
Devan menggelengkan kepala, "Sherin,apa bila kita bersama, kamu akan menjadi ibu Simon.Apakah kamu tidak menyukainya?"
Sherin menyeringai,meskipun tidak bersama dengan kamu, aku tetap ibu Simon,ibu kandungnya.Sherin berpikir dalam hati.
"Devan,apakah malam ini kamu tidak akan pulang?" Sherin mengubah topik pembicaraan, karena tidak ingin menjawab pertanyaan Devan.
Devan melepaskan Sherin,lalu dia berbaring di atas kasur sambil berkata "hari ini,demi ingin melihat kamu aku tidak membawa obat.Jadi,malam ini aku membutuhkan kamu!"
Membutuhkan aku? ini,bisa di jadikan alasan? Sherin melotot, dia berpikir kenapa dia dulu tidak mengetahui kalau pria ini begitu menyebalkan?
Kemudian Sherin mengambil perlengkapan mandi dan alat-alat kosmetik,dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi, tutup pintu,dan menguncinya.
Devan mendengar suara pintu yang terkunci,tatapannya menjadi dalam.
__ADS_1
Jarak di antara kamar mandi dengan kasur,hanya di batasi dengan sebuah kaca.bahkan jika gorden itu di tarik,saat mandi, bayangan Sherin akan membuat Devan segera terangsang.
Devan memaksakan dirinya sendiri untuk tetap fokus pada handphonenya,tetapi nafasnya menjadi semakin cepat.
Sherin menggunakan kecepatan paling cepat untuk mandi, lalu berdandan merias dirinya uang terlihat jelek, setelah selesai dia mengenakan baju tidur yang biasa, dan berjalan keluar.
Melihat Devan yang sedang fokus pada layar handphonenya, perhatiannya tidak tertuju pada dirinya, Sherin jadi merasa lega.
"itu,bisa kah kamu tidur di atas sofa saja?!" setelah berkata,Sherin melihat ke samping,tidak berani menatap Devan.
Devan meletakkan handphonenya di atas meja sebelah tempat tidur,mendengarkan suara tersebut, Sherin menoleh ke Devan, dia melihat Devan yang mulai membuka baju, sweater,kemeja, kemudian tangannya di letakkan di bagian pinggang, dan dia meletakkan tangan di tali pinggang.Devan sepertinya menyadari tatapan Sherin,dia menyipitkan mata,berkata dengan halus "apakah kamu yakin masih mau lanjut melihatnya?"
Kemudian,wajah Sherin berubah menjadi sangat merah merona. Dia masuk ke dalam selimut, membungkus dirinya sendiri dengan ketat.
Ya Tuhan, apa yang dia lakukan tadi? dia melihat Devan membuka baju, sampai termenung.
"kamu tidur duluan saja! aku ingin mandi dulu" Devan bisik-bisik di telinga Sherin,hembusan nafasnya membuat wajah Sherin menjadi panas seketika.
Begitu sampai terdengar suara gemercik air mengalir, Sherin membuka mata kemudian,dia memiringkan kepala, dia melihat bayangan sosok seorang pria,lalu tiba-tiba bangun, dia berpikir, Ya Tuhan,tadi pada saat dia mandi,,ini.....bukan....
Habis berpikir,Sherin berbaring ke belakang,memegang kepala, mungkin hari ini dia terlalu capek.
Memegang kepala sampai tertidur.
Saat dia setengah sadar,dia merasa ada yang membuka selimutnya,kemudian dia merasakan hawa dingin,dia langsung membalikan badan dan melihat bayangan hitam di depannya, dia mendorongnya dengan kaki dan tangan "Devan,apa yang ingin kamu lakukan?"
Devan menyalakan lampu yang ada di samping tempat tidur, lalu dia memegang kepala dengan satu tangan,menatap Sherin dengan pandangan licik "tadi yang mau kan kamu?"
Mau? mau seperti apa? Sherin menatap Devan dengan bingung "mau apa?" ucapnya dengan lirih.
Devan menarik tangan Sherin,meletakkan di depan dada, "bagaimana menurut kamu?" Sherin terdiam, pandangannya pindah ke bawah,merasakan suhu panas dari tangannya,Sherin segera menarik tangannya.
"Devan,kamu....kamu keterlaluan!" setelah berkata,Sherin memiringkan badan, pindah ke samping kasur,dan tidur membelakangi Devan.
__ADS_1
Dia mengingatkan diri sendiri untuk tetap terjaga,tetapi kelopak matanya terasa semakin berat.
Ketika Sherin bangun lagi, Ini sudah hari kedua.
Perlahan-lahan membuka mata,menoleh ke samping, dia melihat Devan sudah berpakaian rapih,duduk di atas sofa sedang membaca buku dengan serius. Pria ini sangat sempurna, di lihat dari sisi apa pun sangat sempurna. Sherin diam-diam memperhatikan Devan.
Devan merasakan seperti ada yang sedang memperhatikan dirinya,kemudian dia menutup buku yang ada di tangannya, meletakkan di samping,lalu dia berdiri,melihat Sherin yang buru-buru membalikkan badan, bibirnya sedikit terangkat ke atas,melengkung membentuk sebuah senyuman.
Dengan satu kaki setengah berlutut di kasur, mencondongkan badan, dia mencium pipi Sherin. "aku harus pulang ke darah ciput, untuk mengurus urusan kantor, kamu jangan lupa sarapan!"
Setelah berkata Devan langsung berdiri, menarik bajunya,dengan santai dia berkata "nanti malam,aku akan datang menemani kamu"
Sherin menoleh kepadanya,melototi,lalu berkata "Devan,apakah pria selalu merasa wanita yang di luar rumah lebih baik?"
Devan mengancing kan kancing di lengan baju,mendengar Sherin berkata seperti ini,menoleh ke samping dan menatap Sherin "mungkin?"
"Nona Gabriel,yang begitu lemah lembut, baik hati,perhatian dan cantik,tetapi...." Sherin menundukkan kepala, berpikir "tetapi kamu tidak ingin menyentuhnya, dan malah mencari wanita di luar."
Devan mengerutkan kening, kakinya bergerak berjalan ke hadapan Sherin,kedua tangannya di kasur,menatap Sherin "siapa yang memberi tahu kamu,aku mencari wanita di luar?"
Saat ini Sherin merasa ingin memutuskan lidahnya saja, tidak pantas dia bertanya seperti ini.
Menggertak Kan gigi,alisnya sedikit terangkat "aku mendengar orang bilang,Nona Gabriel,dia masih....perawan,dan ketika sedang belanja,simon bilang kamu sering membelikan barang-barang untuk wanita lain.apakah itu....itu,memberikan hadiah?"
Dengan tatapan mata yang tajam dan mengerikan,Devan melihat ke Sherin "kamu ingin tahu alasannya?"
Sherin melihat tangannya yang bergetar, dia menelan air ludah, menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
"aku tidak ada hubungan dengan kamu, jadi aku tidak perlu tahu!" suara Sherin terdengar di bawah selimut.
Kemudian Devan berdiri,menarik selimutnya ke depan dada,di detik berikutnya,dia tiba-tiba membungkuk dan mencium Sherin.
Sherin merasa sesak nafas karena ciuman itu,dia melepaskannya dan segera berdiri
__ADS_1
"sekarang,masih ingin mengetahui alasannya?"
Sherin merasa sesak nafas di dada, tetapi dia mengerti apa yang di maksud pria ini, lalu dia bertanya dengan intonasi rendah "kenapa?".....