Wanita Bermuka Dua

Wanita Bermuka Dua
Gabriel bukan orang baik


__ADS_3

Kemudian, ibunya Sherin jatuh sakit. Ayahnya tiba tiba menghilang dan ibunya pun menjadi merasa cemas. Ibunya menjadi sering marah\-marah. Jadi,karena itu Sherin benar\-benar tidak mendapat kan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


"mama, apakah orang tua mama tidak bersikap baik kepada mama?


" mereka....sudah tidak berada di sisiku" meskipun Sherin sudah tahu keberadaan ayahnya, tetapi Sherin sudah tidak mengakui keberadaan ayahnya sejak dia mengetahui bahwa ayahnya lebih memilih melarikan diri lalu membiarkan Sherin dan ibunya hidup tanpanya.


"oh iya, aku lupa. mereka kan pasti sudah ada di surga." ucap Simon sambil mengulurkan lidahnya dan menepuk kepalanya sendiri. Sherin mengangguk dan memeluk Simon.


"mama, kamu belum menjawab pertanyaan dari aku? apakah mama mau pindah lagi ke sini?" Simon yang berada di pelukan Sherin itu terus saja bertanya. Sherin tertawa dan kemudian menjawab "kalau.....Tante Gabriel mendengar kan kata-kata kamu, dia pasti akan marah" jawab Sherin. Sherin awalnya ingin berkata 'ibu tiri' tetapi dia merasa tidak tega.


"kamu adalah mama aku. dia tidak akan bisa mengatur aku ingin menyuruh siapa untuk tinggal di sini." Simon berkata dan duduk dengan tegak.


"Simon!" Devan berjalan menuju ke arah mereka berdua sambil melepaskan jasnya. Devan menarik Simon yang berada di samping Sherin dan berkata "bukan kah papa sudah mengajar kan kamu untuk tidak boleh berkata seperti itu kepada tante Gabriel? kamu tidak mendengar kan kata-kata papa?"


Simon melirik ke Devan dengan tatapan yang tidak senang dan berkata "orang yang dia pedulikan itu papa bukan aku, papa menyukai dia dan ingin menikah dengan dia itu masalah papa.Yang penting,aku tidak suka sama dia....." jelas, perkataan Simon membuat Devan menjadi emosi. melihat tangan Devan yang sudah akan mengayun ke wajah Simon, Sherin langsung berdiri dan menghalang di depan Simon. Devan tidak sempat menghentikan gerakannya dan tanpa sengaja menampar ke pipi kanan Sherin. setelah suara tamparan itu berhenti terdengar,suasana ruang tamu menjadi sunyi. Simon langsung menangis dan bertanya kepada Sherin "mama,apakah kamu baik-baik saja?"

__ADS_1


Sherin hanya bisa memeluk Simon. Sambil memegang pipi kanannya,Sherin melihat ke Devan, "Simon hanya akan semakin membenci Nona Gabriel jika kamu terus melakukan itu kepada Simon!"


"jadi,aku harus membiarkan Simon bertingkah sesukanya?" nada bicara Devan terdengar jelas semakin tinggi,Tetapi dia merasa menyesal ketika dia melihat pipi kanan Sherin yang memerah bekas tamparan nya. Devan yang terlihat jelas membela dan berpihak kepada Gabriel membuat hati Sherin merasa sakit. Jika Devan memang begitu cinta kepada Gabriel, mengapa dia masih ingin berbicara kata-kata seperti itu kepada Sherin? berpikir sampai di sini, Sherin merasa di permainkan.


"Simon, ayo kita naik ke atas!" Sherin memegang tangan Simon dan naik ke lantai atas.


"apakah aku sudah mengizinkan kamu untuk pergi?" Devan berkata kepada Simon. tetapi kata-kata ini membuat Sherin menjadi semakin marah. Sherin menoleh kepada Devan dan berkata sambil berteriak "apa yang kamu inginkan? kamu sudah menampar dan marah-marah. sekarang,apalagi yang kamu inginkan?" Sherin langsung menarik Simon lalu naik ke atas tanpa memperdulikan bagaimana reaksi Devan. Karena suara Sherin yang keras, semua pembantu berkumpul dan terkejut melihat kelakuan Sherin terhadap Devan. bukan kah Sherin hanya seorang pembantu? mengapa dia berani berbicara seperti itu kepada Devan, Tuannya sendiri?


Devan masuk ke dalam ruang bacanya dengan perasaan marah. Setelah itu,terdengar suara barang-barang berjatuhan ke lantai


"mama,kamu memang hebat! berani melawan papa aku...." ucap Simon yang memuji Sherin sambil menunjuk kan ibu jarinya kepada Sherin. Sherin mengelus pipi kanannya dan melirik ke arah Simon "mama melakukan itu semua demi kamu"


Simon setengah jongkok di atas tempat tidurnya,memegang pipi Sherin dan berkata dengan nada bicara yang sangat dingin "kalian orang dewasa juga tidak akan percaya dengan kata-kata anak kecil seperti aku. mama, yang penting kamu harus ingat, jangan pernah berhubungan dengan wanita itu! dia buka orang baik..."


"apakah kamu melihat atau mendengar sesuatu?" Sherin bertanya.Simon menarik kembali tangannya. "mama,aku tidak melihat atau mendengar kan apa-apa.apakah mama percaya dengan indra ke enam? indra ke enam aku mengatakan kalau dia bukan lah orang yang baik." Simon turun dari tempat tidurnya dan membuka lemarinya,lalu dia kembali naik ke atas tempat tidurnya setelah mengambil sebuah botol kecil.

__ADS_1


"usia kamu hanya berapa tahun? kamu mempunyai indra ke enam?"


"jangan membandingkan kecerdasan kamu dengan kecerdasan aku, saudari Sherin!" Simon menjawab. Sherin melirik Simon dan menepuk kepalanya dengan penuh kasih sayang.


"Simon,apakah mama harus minta maaf kepada papa kamu? sepertinya mama sudah kelewatan tadi" tanya Sherin.


Simon mengoleskan obat ke wajah Sherin dan menjawab "mama adalah orang pertama yang berani melawan dengan papa aku" alis Sherin terangkat,anak ini memang menggemaskan. padahal Sherin berani melawan kepada Devan karena dia. Simon malah bertingkah seperti orang yang tidak berhubungan dengan masalah ini.


"sudah membaik? apakah perlu aku ambil kan es untuk di oles ke pipi mama?" Simon bertanya dan kemudian berkata lagi, "mama tidak perlu meminta maaf lagi.papa sudah menampar mama tadi"


Sherin merasa terharu dengan perilaku Simon kepadanya. Kemudian Sherin memegang tangan Simon sambil menggelengkan kepalanya. Jelas, Devan agak sedikit mengontrol tenaganya tadi, kalau tidak, Sherin sudah pasti tidak akan bisa bekerja besok. Sherin meragu sejenak dan akhirnya turun dari tempat tidur Simon.


"mama,kamu mau kemana?"


"mengambil es" Sherin menjawab dengan ragu. setelah keluar dari kamar Simon, Sherin berjalan ke ruang baca yang berada di bagian kanan. dia merasa ragu beberapa saat dan kemudian memberanikan diri mengetuk pintu ruang baca. karena tidak ada suara yang menjawabnya, Sherin mengira kalau Devan sudah tidak ada di rumah.Tiba-tiba, pintu ruang baca terbuka, Devan berputar balik badannya dan berjalan masuk kembali ke ruang baca setelah melihat Sherin.

__ADS_1


"maaf, saya seharusnya tidak ikut campur tangan masalah keluarga kamu" Sherin berkata dengan suara yang sangat kecil. Devan tidak menjawabnya.


"masuk!" Devan bersuara pada saat Sherin sudah melangkah akan pergi.


__ADS_2