Wanita Bermuka Dua

Wanita Bermuka Dua
jatuh cinta


__ADS_3

Devan tidak memiliki rasa cinta kepada Gabriel. Beberapa tahun ini, Devan berusaha menghindari Gabriel jika tidak ada masalah penting yang terpaksa.Dalam hal ini, Dylan jelas mengerti devan. Aroma wangi Sherin yang berada di tempat duduk mobil membuat Devan merasa cemas.


"benar-benar ingin pulang ke rumahmu?" Dylan menghidupkan mesin mobil dan melihat kepada Devan


"kalau tidak?"


Dylan tidak berbicara. dia pasti berpikir bahwa Devan akan berubah pikirannya, jadi dia sengaja mengemudi dengan lambat. Setelah beberapa saat, Devan mengeluarkan sebuah batuk ringan dan berkata "ayo,kita pergi ke pulau. Jika ada sesuatu terjadi pada dia, aku tidak bisa menjelaskannya kepada Simon."


Dylan tersenyum.tidak bisa menjelaskan kepada Simon? alasan yang bagus. Dylan ingin melihat kerasa kepala Devan sampai kemana?


Sherin melihat hutan yang berada di depan matanya, di samping jalan masuk ada sebuah kayu lama yang bertulisan "kapal ferry" dan sebuah tanda panah yang menunjuk ke dalam hutan. Sherin melihat ke dalam hutan dan dia benar-benar melihat ada sebuah jalan kecil.Meskipun dia merasa aneh mengapa pelabuhan kapal ferry bisa berada di dalam hutan, tetapi melihat langit mulai menggelap dan gerimis, Sherin tetap jalan masuk ke dalam hutan dengan hati yang ragu.


Setelah Sherin masuk ke dalam hutan, ada seseorang yang menukar kayu yang di lihat Sherin tadi menjadi sebuah kayu yang bertulis "bahaya.di larang masuk!"


Temperatur di pulau ini berbeda dengan temperatur di daerah ciput. Sherin memegang erat jaket yang dia pakai dan terus berjalan ke dalam hutan. Setelah berjalan semakin dalam, Sherin tidak bisa menemukan jalan keluar. Sherin mengerutkan keningnya dan berjalan ke depan lagi, setelah beberapa menit, Sherin merasa ada sesuatu yang salah. Dia melihat ke belakang, jalannya seperti tidak ada bekas ada orang yang pernah berjalan di situ.

__ADS_1


Tiba-tiba, Sherin merasakan sakit yang luar biasa di kakinya, Sherin melihat ke bawah dan menyadari ada seekor ular yang berpanjang sekitar belasan sentimeter berada di kakinya. Ibunya Sherin sering berkata bahwa Sherin mirip dengan laki-laki, Sherin tidak takut dengan ulat,kecoa,tikus dll. yang paling dia takuti hanyalah binatang yang panjang dan licin seperti ular. Sherin menutup mulutnya sendiri tidak berani bersuara, untuk pertama kali di hidupnya, Sherin berpikir akan lebih baik jika dia langsung mati sekarang.


Sherin tidak berani bergerak dan tetap berdiri di tempat, dia teringat kotak penata rias yang berada di tangan kanannya, ingin melakukan sesuatu tapi takut ular itu memanjat ke badan atau wajahnya, kalau begitu dia mending sekarang langsung di gigit sampai mati.Tidak tahu apakah ularnya memiliki racun, Sherin merasa penglihatannya mulai kabur.


Jarang ada yang pergi ke pulau pada saat malam hari, di tambah Dylan sengaja mempercepat kecepatan mengemudi nya.Mereka sampai di pulau dalam waktu 1jam. Manager hotel sudah menunggu di luar hotel, melihat mobil Devan sudah sampai, manager hotel segera pergi menyambut Devan. "Tuan Devan, kami telah mengecek CCTV di luar hotel dan nona itu sepertinya berjalan ke arah timur pulau."


"arah timur pulau, apa maksudmu?" menghadapi Devan yang sudah tidak sabar, manager hotel memberanikan dirinya dan menjawab "arah timur pulau memiliki sebuah hutan yang sangat luas. karena hutan itu belum di kembangkan, area sana merupakan area yang di larang masuk. karena...."


"karena apa? katakan sekarang!" Devan sudah tidak sabar.


"karena hutan sana itu di juluki hutan ular..." Devan memijat dahinya dan berkata "biarkan semua petugas keamanan untuk menari dia ke sana!" Dylan mulai menelpon ke orang orang yang yang bersangkutan, Manager hotel juga segera memberi perintah ke bawahannya.


"Sherin...." Devan memanggilnya sambil memegang bahunya. Mendengar ada yang memanggilnya, Sherin mengangkat kepalanya dan melihat Devan dengan tatapan yang penuh dengan ketakutan. Ketika dia menyadari bahwa orang di depannya adalah Devan, dia terkejut. bukankah Devan sudah pulang?


Tetapi kemunculan Devan membuat Sherin merasa dia memiliki seseorang untuk membantunya. Sherin ingin mengucapkan Terima kasih kepada Devan, tetapi yang keluar hanya air mata. Melihat Sherin seperti itu, Devan merasa sesuatu yang asing yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya, hati Devan menjadi sakit karena wanita ini!

__ADS_1


"Sherin.." Devan memanggilnya lagi. Sherin pingsan sebelum sempat menjawabnya.


di kamar hotel


"Tuan Devan, racun yang ada di tubuh Nona Sherin sudah di keluarkan. untungnya racun ular itu tidak kuat, tetapi kaki nona Sherin terluka agak parah karena nona Sherin memukulnya terlalu kuat. jadi mungkin akan sedikit sakit saat nona Sherin akan berjalan" kata dokter setelah menghela nafas.


Devan hanya menatap kepada wanita yang berbaring di atas tempat tidur. secara tidak sadar, Devan juga menghela nafas yang panjang setelah mendengar kata kata dokter. Tidak lama setelah dokter pergi, Sherin sudah sadarkan diri, Sherin jelas terkejut setelah melihat Devan yang berada di sampingnya. dia melihat ke sekelilingnya dan menyadari dirinya hanya memakai kemeja yang tipis, dua kancing kemeja pertamanya bahkan terlepas. Sherin langsung mengancingkan semua kancingnya, Dylan yang berada di depan pintu tersenyum melihat kedua orang tersebut dan memilih untuk keluar dari kamar.


Devan merasa bahwa dirinya sudah gila, dia merasa sakit hati untuk wanita yang menghindar darinya seperti menghindar pencuri setelah sadarkan diri. jika Sherin adalah wanita yang normal, bukan kah dia harus memeluk Devan? dan menangis sambil bermanja? ekspresi Devan menjadi dingin.


"apakah kamu bodoh? apakah kamu tidak melihat di sana ada kayu yang bertulis 'bahaya, di larang masuk!'? kamu itu buta atau tidak bisa membaca?" suara Devan sudah tidak memiliki kelembutan seperti tadi, dia memarahi Sherin dengan kejam. Sherin melihat pria yang emosi di hadapannya, kali ini Sherin tidak marah, tetapi dia merasakan sesuatu yang asing di hatinya.


"Devan, bukan kah kamu sudah pulang? mengapa kamu bisa muncul di sini lagi? Sherin bertanya, menatap Devan dengan matanya yang besar.


" aku sempat melewati jalan sini!" Devan tidak menyangka Sherin akan bertanya kepada dia, menjawab dengan nada dingin dan tidak natural.

__ADS_1


Sempat melewati? Sherin mengangkat alisnya.Dia sempat melewati hutan? tidak kah kebohongan ini terlalu jelas?


"Nona Sherin, Devan tahu kamu tertinggal di pulau sendiri dan sengaja membawa mobil kembali ke pulau ini untuk mencari kamu!" Dylan yang berada di luar kamar memasukkan kepalanya ke dalam kamar dan berkata demikian. Dylan tidak mau membuang kesempatan kali ini, mendengar kata kata Dylan, Devan pun menatapnya. Sherin tidak mengerti, Devan sengaja membawa mobil kembali ke pulau untuk mencari dia? dia berpikir beberapa saat dan akhirnya bertanya "mengapa?"


__ADS_2