
Sherin sangat terkejut,setelah sadar,dia dengan sekuat tenaga mendorong Andrew.mengangkat tangannya dan menampar laki laki itu lalu membalikkan badan dan berlari pergi.
Dia bersembunyi di dalam toilet,bersandar pada dinding dan menyerosotkan dirinya ke bawah hingga dia terduduk di lantai,tangannya masih gemeteran.
Handphone-nya berdering,dia mengambil dan melihat,sesuai tebakannya,itu adalah Andrew,dia menekan tombol untuk menolak panggilan itu.
Berdering lagi....tolak lagi....
Bunyi SMS masuk,dia membukanya,SMS dari Andrew.
"Sherin, maaf aku...aku tadi terlalu khilaf," Sherin sebenarnya tahu bahwa Andrew tadi hanya terangsang olehnya,baru lah bisa melakukan itu.tapi,dia justru sangat marah karena baru saja sesaat sebelumnya dia merasa di hormati,tapi saat ini perasaan di permainkan orang itu terasa lagi.
Masa bersekolah dulu,orang-orang mengatakan dalam dirinya terdapat keangkuhan pasti karena dia terlihat cantik.
Saat itu dia merasa lucu,Jangan-jangan orang yang tidak cantik, harus menempelkan dirinya sendiri kepada laki laki.?
Tidak,dalam pandangan Sherin,apakah itu percintaan atau pun pernikahan,jika bukan karena keduanya saling mencintai,lebih baik tidak ada dan tidak boleh berhubungan sedikit pun dengan kecantikan luar.
Walaupun terhadap laki laki seperti Andrew yang bisa membuat segerombolan wanita datang menghampirinya,dia juga tidak bisa menerima sembarangan begitu saja.
Toilet ini adalah bagian paling pojok di lorong hotel itu,jadi tidak begitu banyak ada orang yang melintas,Sherin terduduk di lantai sana,dan juga sudah lupa waktu telah berlalu berapa lama,hingga Simon menelponnya.
"mama,kamu di mana?"tanya anak itu.
Sherin tiba-tiba menjadi sadar kembali." kamu sudah selesai?"
"mama di mana,aku akan pergi ke sana untuk mencarimu..." jawabnya.
"tidak perlu tidak perlu, aku di pintu Hall belakang sedang menunggu,aku sekarang ke sana." jawab Sherin sambil berdiri, kakinya sedikit kesemutan,dia berpegangan pada dinding untuk berdiri,setelah berdiri sesaat dia baru bisa perlahan berjalan menuju Hall belakang.
Setelah Dylan menyerahkan Simon kepada Sherin,dia pun berpesan kepada pak Hasan untuk mengantar mereka pulang terlebih dahulu.
Setelah kembali ke rumah,Sherin memandikan Simon,dan menemaninya duduk berbincang-bincang di ranjang.
jadi semuanya seperti biasa saja,tidak ada hal yang tidak normal.
"mama, aku ingin minum susu." ujar Simon.
__ADS_1
Sherin dengan gaya memanjakannya itu,menunjuk-nunjuk dahi Simon sambil berkata."baik,kamu tunggu di sini,aku akan pergi mengambil susu."
Setelah susu di ambil,anak itu pun mengatakan bahwa dia tidak ingin minum,dia ingin membaca buku.
Sherin tidak berpikir banyak, lalu dia pergi lagi ke ruang baca di samping sana untuk mengambil buku.setelah kembali, Simon pun memberi kan segelas susu tadi kepada Sherin sambil berkata."ma,kamu saja yang meminum susunya,aku rasa malam ini kamu belum makan malam kan?" karena baru saja dia mendengar bunyi dari perut Sherin
Sherin terharu dengan kehangatan hati anak ini,dia pun menerima susu itu,dan meminumnya sampai gelas itu kosong.
Beberapa saat setelah dia minum susu itu, Sherin merasa badannya menjadi menggebu-gebu dan sedikit panas, lalu dia melepaskan rompinya dan melanjutkan membaca buku untuk Simon,namun Sherin merasa dia perhatiannya tidak bisa menjadi satu lagi.
"ma,kamu tidak apa-apa kan?" tanya Simon yang gelisah melihat Sherin.
Sherin memijat pelipisnya, lalu memaksakan diri untuk tersenyum kepada Simon dan berkata."baiklah,hari ini...baca sampai di sini dulu,mama ingin pergi tidur dulu." sambil mau berdiri namun menemukan bahwa badannya lemas seperti air, tidak bisa berdiri sedikitpun.
Simon memonjongkan bibirnya,wajahnya mengeluarkan senyuman puas.
Lalu keluar dan menelpon papa nya.
"papa,hari ini tanggal 1,papa akan pulang untuk menemaniku tidur kan ya?" tanya Simon dengan suara yang sengaja di buat-buat untuk minta di kasihani.
Setelah menutup telpon,dia meminta supir untuk berputar balik, berhenti di pinggir jalan, dan mengatakan kepada Gabriel."aku akan antar kamu pulang dulu."
Mendengar ini,raut wajah Gabriel seakan tidak mempercayai apa yang sudah di dengarnya dan menjawab."tapi...hari ini adalah hari pertunangan kita."
"nurut ya,hari ini tanggal 1,setiap bulan tanggal 1,aku sudah berjanji untuk menemani Simon tidur." setelah berpikir lagi merasa kata-kata tadi seperti ini tidak terlalu baik lalu menambahkan."sorry ya,sewaktu memilih tanggal aku lupa akan hal ini."
Gabriel menghirup nafas dalam-dalam,seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya juga hanya menganggukan kepala,wanita ini percaya mereka masih banyak waktu di hari esok karena mereka juga sudah bertunangan.
"Devan,orang yang di panggil mama oleh Simon, apakah dia pengasuh baru di rumah mu?" tanya Gabriel saat turun dari mobil yang tidak bisa menahan diri untuk memastikan hal ini.
Devan agak sedikit terdiam,setelah itu baru dengan lembut tersenyum pada Gabriel dan menjawab,"anak kecil tidak tahu apa-apa,sembarangan memanggil,jangan terlalu di masukan ke dalam hati, di kemudian hari kamu akan menjadi ibunya.
Jawaban Devan ini membuat wajah Gabriel berseri-seri.
Ketika pulang ke rumah, Simon sedang duduk di sofa,setelah melihat Devan masuk, anak itu terlihat senang bukan kepalang, dan berkata."papa,aku pikir kamu tidak akan pulang."
Perkataanya menyentuh kelemahan Devan, jarang sekali dia bisa menggendong Simon dan memangku anak itu di atas pahanya.
__ADS_1
"papa,ayo minum susu,malam ini aku melihat mu banyak minum wine!" ujar Simon yang lalu merosot dari lutut Devan turun dari pangkuannya dan mengambil segelas susu yang sudah di letakkan di meja tamu itu, kemudian memberikannya kepada Devan.
Devan sangat tidak suka dengan bau susu,kalau biasanya,dia pasti akan menolak,tapi hari ini keadaannya seperti ini,di dalam hatinya selalu masih saja merasa berhutang pada anak ini.
Maka,,dia pun mengambil segelas susu itu dan meminum sampai habis.
Karena pesta pertunangan ada sedikit lelah,di tambah malam itu juga tidak sedikit wine yang di minumnya, Devan tidak sedikit pun berpikir akan keanehan tingkah laku Simon ini.
Menyuruh Simon pergi ke kamar untuk menunggunya, lalu dia pergi ke kamarnya sendiri, kepanasan dan gerah dalam tubuhnya membuat Devan memilih mandi air dingin di cuaca yang dingin musim semi seperti ini.
Hanya saja,aneh sekali masih saja itu tidak bisa membuat dia merasa sedikit pun tenang.
Devan pergi mengambil air mineral dingin di dalam kulkas, sambil minum sambil berjalan ke kamar Simon.
Membuka pintu, kamar yang gelap seperti ini sama seperti biasanya,ada sedikit bau susu.
Simon sangat suka minum susu.
membuka selimut,dan berbaring di dalamnya.
"emm..." di atas lengannya bertambah satu tangan lagi,sangat jelas itu bukan tangan Simon.
Kewaspadaan dirinya pun muncul dan langsung mengangkat tangan itu,dia membalikkan badan,turun dari ranjang, menyalaknan lampu di samping ranjang.
kemudian,langsung membuka selimut di sampingnya.
Lalu terlihat lah Sherin yang sedang melengkungkan badannya, berbaring di samping, rambutnya yang panjang itu menutupi sebagian wajahnya.Beberapa kancing baju tidurnya sudah terbuka, oleh karena itu juga jelas sekali terlihat pakaian...dalam...di dalamnya.
Devan mengalihkan pandangan matanya dari tubuh wanita itu,menarik nafas dalam-dalam,memaksakan diri untuk menahan gejolak dalam dirinya,dan berkata.
"apa yang kamu lakukan di sini?" suaranya,karena terlalu menahan diri menjadi agak sedikit serak.
Hanya saja,orang yang terbaring di ranjang itu, selain terus membulak-balikkan badan dan menarik-narik baju di badannya, pada dasarnya tidak menjawab apapun.
Jika saat ini,Devan masih tidak mengerti semua ini,maka selama ini dia sia-sia saja bersosialisasi di luar sana.
Melihat gelas kaca di atas kepala ranjang itu serta mengingat kembali keanehan tingkah laku Simon,dia memejamkan mata, agak sedikit berteriak. "dasar anak kecil!"
__ADS_1