
"makan sesuatu dulu untuk menambah stamina!"
Tifa yang baru saja meminum seteguk susu, mendengar kata-kata Devan, dia tersedak dan batuk mengeluarkan suara, "uhuk....uhuk...."
Dia memutar kepala, mengerutkan alis, "kakak, apa kamu tidak tahu, ada beberapa hal tidak cocok di dengar oleh anak-anak?"
Clover mengangkat tangannya, mencubit pinggang Devan, dan wajahnya lebih merah lagi. Devan mengangkat alisnya, di wajahnya tidak merasa ada yang salah, lalu dia memelototi Tifa, "kamu, ketika kamu bersama dengan Dylan, kenapa kamu juga tidak merasa malu?"
Kata-kata Devan membuat Tifa tiba-tiba tidak bisa berkata, menundukkan kepala dan makan.
"suamiku, apa kamu melihat wajah putra kita penuh kebahagiaan?" Helena bertanya sambil menggoyangkan lengan suaminya.
Ayah Devan mengangguk. tatapannya tidak fokus ke depan, dan tidak menjawab Helena.
Setelah terjadi banyak hal kemudian, Clover baru lah menyadari meskipun Devan tidak memberi wajah pada adik ini,tetapi dalam hatinya sangat memanjakannya, dan Tifa, meskipun Devan selalu bersikap biasa saja padanya, tetapi tetap tidak bisa mempengaruhi perasaannya terhadap kakaknya.
"jika kepala tidak lurus, kaki pun akan ikut berjalan miring" Felice melihat keduanya, berkata dengan dingin, berdiri,lalu keluar.
"adikku, Tuan Yu itu orangnya lumayan baik, kalau ada kesempatan kamu boleh mempertimbangkan"
Langkah yang menuju keluar tiba-tiba berhenti sejenak,kemudian mempercepat menuju keluar rumah.
"mama, ayo kita pulang ke rumah!" Momo dengan marah berlari keluar dari kamar, tangannya membawa tas pink kecilnya.
Clover tidak mengerti, berdiri lalu sepertinya terpikir sesuatu, wajahnya bingung, "kenapa?"
"aku sudah melihatnya. Kamu bahkan tidak bisa berjalan, kalau kita terus tinggal di sini, aku merasa kita akan kehilangan nyawa" selesai berkata, maju berdiri di depan Clover, menatap fokus pada Devan.
__ADS_1
Clover menjadi merasa malu, tiba-tiba juga tidak tahu harus bagaimana menjelaskan nya kepada Momo, wajahnya berubah memerah seperti udang rebus, mengangkat kepala, melihat Devan, dan memelototi nya.
"Momo, kakak akan membawa kamu untuk bermain di luar, oke?" Simon sudah agak besar, beberapa hal, sedikit atau banyak dia bisa mengerti, dia meletakkan tablet di tangannya, maju berjongkok di depan Momo.
Momo melihatnya, sedikit tersentuh, tetapi dia langsung berpikir,dan menggelengkan kepalanya, dia tidak boleh pergi, bagaimana kalau mama di bully lagi pada saat dia pergi?
"kita pergi bermain sebentar, setelah kembali kaki mama akan pulih"
"benarkah?"
"benar, Momo, kamu mendengarkan kata-kata kakakmu, mama sedang bermain permainan dengan ayah, jadi...setelah kamu bermain beberapa saat kembali, permainan kami selesai, mama akan pulih" Clover segera menambahkan.
Setelah Momo di bawa keluar oleh Simon, Tifa yang di sebelah memandang rendah pada Devan, "hei, kakak, kamu sudah haus selama berapa tahun, kamu setidaknya juga harus lebih sayangi kakak ipar, kamu lihat...."
"Tifa, jangan salahkan kakakmu..." Clover dengan malu menghentikan perkataan Tifa. Mendengar panggilan kakak ipar darinya, membuat wajahnya semakin memerah.
Helena yang duduk di sofa, menonton interaksi beberapa orang, tertawa dan mencondongkan tubuh ke depan, ayah Devan sudah memasuki ruang belajar.
Clover menikmati sarapan, dan merasa malu sampai kepalanya sudah hampir masuk ke dalam mangkuk. Namun, ada kehangatan di dalam hatinya, suasana hangat sepeti ini bukannya selalu dia dambakan?
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1
.
.
.
Mohon dukungannya like dan komen....
Terimaksih...
Love you all
💖💖💖💖
.
.
.
Interaksi pembaca
Tengah malam begini, baru dua orang yang absen....
Terimakasih 😍🤗
__ADS_1