
Ayah Gabriel meletakkan handphone-nya,terdiam lama sekali, akhirnya memutuskan untuk menelpon ke nomor yang sudah bertahun-tahun tidak di telpon, hanya saja,yang terdengar cuma nada nomor kosong.
Kemudian dia bangkit berdiri, memijat mijat ujung hidungnya, mengerutkan alis,dan menelpon ke orang lainnya lagi.
"kamu bilang apa? meninggal....sudah meninggal?"
Orang yang di telpon di sebrang sana itu juga berkata yang lainnya lagi,tetapi ayah Gabriel sudah tidak bisa mendengarkan lagi, tubuhnya yang tinggi itu kaku mundur dengan sempoyongan beberapa langkah,kemudian dengan gemeteran menopang pada dinding dan merosot ke lantai.
Takut dan sakit di hatinya bermunculan, kedua tangannya menopang dahi,air mata berderai membasahi wajahnya.
Di kehidupan ini,dia terus berhutang padanya!
Rumah kediaman keluarga Gabriel....
"ayah,kenapa kamu tidak bicara? munculnya wanita itu, apakah dia akan berusaha merebut hati Devan juga? dia...dia ingin mengatakan bahwa wanita itu sangat cantik, dan wanita itu juga ibu kandungnya Simon.Jika ada saingan seperti itu muncul, meskipun dia tidak mau mengakuinya, dia akan mulai panik."
Tidak seperti sikap tenangnya dalam menghadapi Sherin sebelumnya,yang Gabriel miliki sekarang adalah rasa ketakutan.
Kemudian ayah Gabriel meminum teh dan tidak terlihat ada ekspresi apa pun.
"ayah...."
"jika dia berniat ingin merebut, dia tidak akan menunggu sampai hari ini." jawab ayahnya.
Meskipun dia tidak mengenal anak itu,dia percaya bahwa selama bertahun-tahun,orang itu seharusnya bisa mendidik anaknya dengan baik.
"tapi, ayah..."
"apa yang membuat kamu begitu panik? apa gunanya wanita cantik yang lainnya jika Devan benar-benar menyukai kamu? dari pada kamu khawatir secara membabi buta di sini, kamu lebih baik berusaha mempertahankan hati laki-laki itu," setelah itu,ayahnya bangkit dan berjalan ke kamarnya.
Dia adalah seorang pria juga,dia tahu betul,ketika sedang benar-benar mencintai seorang wanita, maka matanya tidak akan melirik wanita lain lagi, dunia dia hanya ada wanita itu seorang, terlepas dari keindahan dan keburukan satu sama lain,cinta sejati,mungkin,akan mulai dari wajah,tetapi akhirnya semuanya jatuh kepada kepribadian.
Melihat sosok ayahnya itu, Gabriel tidak tahu apakah itu hanya lah ilusi, dia merasa kalau ayahnya terlihat jauh lebih tua hari ini.
Gary turun dari lantai atas dan tampak bahagia ketika melihat Gabriel yang sedang duduk di sofa.
Gabriel hanya meliriknya,lalu bangkit,mengambil tasnya dan bersiap untuk pergi.
Tetapi sebelum dia melangkah keluar,lengannya di tarik dari belakang.Gabriel melihat ke arah Gary,dia melihat piyama yang di pakai oleh Gary,alisnya berkerut dan wajahnya suram.
Dia mencoba melepaskan tangannya,
__ADS_1
"apa yang ingin kamu lakukan?" Gabriel berkata kepada Gary dengan ketus.
gary mengusap kepala Gabriel,tapi di dorong ke samping oleh Gabriel dengan rasa jijiknya, "jangan sentuh aku!"
"Gabriel, apa kamu sudah memutuskan pertunangan kamu dengan Devan? sekarang,mumpung kamu belum menikah, masih belum terlambat.Lihat lah,sebelumnya ada seorang wanita yang bernama Sherin muncul,kamu juga belum jelas tahu siapa dia,sekarang muncul lagi ibu kandungnya Simon.Apakah kamu bisa bahagia jika seperti itu?" Gary benar-benar perhatian kepada Gabriel.
"kamu tidak perlu ikut campur urusan-ku! tidak mungkin untuk aku memutuskan pertunangan dengan Devan." ucap Gabriel.
Dia telah menghabiskan hampir seluruh waktu dan energinya untuk bersama dengan Devan selama bertahun-tahun.Dia bahkan merasa bahwa alasan mengapa dia bisa hidup, adalah Devan.
Harus menyerah? tidak,dia sampai mati pun juga tidak akan pernah menyerah.
Setelah itu,Gabriel berjalan dengan cepat keluar dari rumah.
"ayah,mengapa kamu harus memaksa Gabriel sampai ke jalan yang buntu? kamu kan juga tahu kalau Devan tidak menyukai Gabriel sama sekali.Mengapa kamu waktu itu.. "
Tak lama setelah Gabriel pergi, Gary pergi untuk mencari ayahnya.
Ayahnya sedang membereskan pakaiannya.Dia mendengar Gary bertanya seperti ini,sebelum Gary bisa selesai bicara,dia marah dan mengangkat tangannya untuk menampar wajah Gary. "apakah kamu tahu,berapa banyak nyawa yang telah di hilangkan demi kamu? jalan buntu? kamu tahu apa tentang jalan buntu?" ayahnya berkata dengan keras.
Setelah itu, dia mendorong tubuh Gary, lalu mengambil koper kecil dan keluar dari kamarnya.
Dia akan pergi untuk melihat wanita itu.
Sherin yang baru keluar dari lokasi syuting melihat HP nya berdering,Yuta menelponnya.
"Sherin apakah kamu mengenal Ragil Setiadi?" tanya Yuta di sebrang sana.
"Ragil Setiadi?" Sherin sedikit terhuyung mundur dan hampir tidak bisa berdiri dengan tegak.Dia menggigit bibir bawahnya dan berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan dirinya.
Enam tahun yang lalu, waktu benar-benar adalah sebuah hal yang mengerikan.Nama yang pernah terukir di benaknya telah encer sehingga dia sudah hampir melupakannya.
"Sherin?" mengetahui Sherin tidak menanggapi, Yuta memanggil namanya lagi.
"bagaimana kamu bisa kenal dia?" bukan menjawab,Sherin malah bertanya balik pada yuta dengan suaranya sedikit bergetar.
"dia bilang dia itu ayah kamu,mungkin dia melihat vidio tadi malam dan mengenal kamu.Dia baru saja menelpon ku,dan dia bilang dia ingin bertemu dengan kamu"
Yuta berbicara perlahan, seolah takut sherin tidak sanggup menerimanya.
Begitu Sherin bernafas pelan dengan hidungnya,pikirannya kembali terbayang akan tatapan mata ibunya yang kosong dan terlihat menderita itu.
__ADS_1
Bertemu dengan dirinya? ya,Sherin ingin melihatnya juga.Dia ingin bertanya kepada ayahnya,mengapa dia menghilang dalam situasi seperti itu.Mengapa bisa meninggalkan begitu banyak masalah selama bertahun-tahun dan pergi begitu saja?
"Sherin,kamu tunggu aku di pintu masuk teater. aku akan menjemput kamu dulu,dan kemudian kita bicara lagi setelah bertemu nanti" setelah itu,telponnya di tutup.
Ketika Yuta tiba,dia melihat Sherin duduk di tangga batu di samping jalan dengan memeluk kakinya.Ketika dia mendekat, dia mendapati Sherin seperti habis menangis karena matanya terlihat merah. Jelas, kalau Sherin tadi menangis dalam waktu yang lama.
"kemarin, apakah seharusnya aku tidak membiarkan kamu melakukan itu?"
Yuta naik dan duduk di samping Sherin,meletakkan kepala Sherin di bahunya.
"Yuta,Ragil Setiadi adalah ayahku." Sherin berbicara dengan ringan,perlahan dan bibirnya bergetar.
Yuta mengerutkan kening,dan mengangguk. "aku tahu,dia sudah bilang."
"Yuta,bukan kah kamu pernah bertanya kepadaku,mengapa aku tidak mengucapkan selamat tinggal enam tahun yang lalu dan langsung pergi begitu saja? itu karena ibuku mengetahui bahwa dia menderita kanker,dan ayahku tiba-tiba menghilang pada saat itu.Keluarga kami tidak memiliki sumber keuangan yang biasanya bergantung pada ayahku yang melakukan beberapa usaha kecil untuk mencari nafkah.Jadi setelah ayahku pergi, aku pergi untuk menjadi pengganti agar bisa menyelamatkan ibuku." Kenangan yang sangat menyakitkan,tetapi sekarang hanya cukup di ringkas jadi beberapa kalimat saja.
"tunggu....tunggu sebentar, sherin,kamu baru saja bilang, ayah kamu hanya melakukan bisnis kecil?" tanya Yuta penasaran, bagaimana mungkin nomor telpon pribadinya bisa di ketahui oleh seorang pengusaha kecil?
Sherin tentu saja tidak mengerti apa maksud Yuta.Dia hanya mengangguk dan menjawab "ya benar,apa masalahnya?"
Wajah Yuta tiba-tiba berubah, hanya melakukan bisnis kecil? ini...ada apa ini?
Dia berdiri,menoleh ke Sherin dan menarik nafas. "pergi ke mobil dulu,di sini cuacanya dingin!" setelah itu,dia dan Sherin berdampingan berjalan ke tempat parkir mobilnya.
Udara panas dalam mobil membuat seluruh tubuhnya menjadi hangat,tetapi suhu di dasar jantungnya masih terasa dingin.
"Sherin,apakah kamu tahu apa yang ayah kamu lakukan dalam bisnis kecilnya itu?" Yuta melepas mantelnya dan menaruhnya di lutut Sherin, Pura-pura bertanya dengan santai.
Sherin tersenyum dan berterima kasih kepada Yuta,lalu menggelengkan kepalanya.
"aku tidak tahu, dia sering bepergian untuk urusan bisnis. Kadang-kadang dia tidak kembali ke rumah setelah berhari-hari, aku bertanya pada ibuku, katanya itu untuk keperluan bisnisnya. Apa yang terjadi?"
Tubuh Yuta sedikit bergetar,menyeka bibirnya, dan ada sedikit keraguan di matanya. Dia meraih tangan Sherin dan meletakkannya di telapak tangannya.
Yuta menatap Sherin dengan ekspresi yang serius. "Sherin....pria seperti dia, lebih baik kamu tidak usah bertemu dengannya, kalau kamu menemuinya,dia hanya akan membuat hidup kamu susah saja!"
Sherin tidak melihat kekusutan di mata Yuta, dia menggelengkan kepalanya.
"sejak dia menghilang,aku tidak menganggap dirinya ayahku lagi.Aku ingin mencarinya.Aku hanya ingin bertanya mengapa dia tega meninggalkan istri dan anaknya waktu itu?"
Adegan sebelum kematian ibunya muncul lagi di matanya.
__ADS_1
Yuta menatapnya dengan dalam dan mengangguk.
"yah,aku akan bantu kamu untuk mencari informasi"