
Sherin tidak menyangka Yuta bisa menanyakan pertanyaan ini,bertanya begitu langsung lagi,tangannya yang menggenggam gelas,sangat terlihat jelas tersentak, Sherin membelokkan badan,duduk kembali di atas sofa, meletakkan gelas ke atas meja tamu,lalu mengambil remote dan menyalakan TV, pandangan matanya tidak berfokus melihat ke atas, dirinya suka Devan kah?
Em,,,,suka,dari pertama kali di Pulau itu,saat laki-laki itu tiba-tiba muncul,dirinya langsung jatuh cinta,tapi....meski suka juga mau bagaimana? dia adalah calon suami orang lain,mereka tidak mungkin bisa bersatu, masih belum di ketahui!
Jadi,Sherin menoleh melihat Yuta, perkataannya pun terhenti, "aku..."
"sudah lah,kamu tidak perlu menjawab.Aku... tidak ingin tahu!" Yuta memotong perkataan Sherin,mengarahkan penglihatannya ke TV, mata yang terlihat kecewa itu membuat hati Sherin terbesit perasaan tidak tega.
Tapi, cinta, bukan mengasihani,bukan juga tersentuh.
"Acara Tahunan Perusahaan malam nanti, apa kamu akan pergi?" Yuta mendapat informasi bahwa Sherin akan menghadiri Acara Tahunan Perusahaan, dia merasa tidak tenang,karena itu tidak bisa menahan diri untuk menemui nya.
Sherin menghela kan nafas,kemudian mengangguk, "em," jawabnya. Manager Lupus setiap hari mengingatkan, meski Sherin ingin melupakan pun sulit.
Yuta menoleh, menatap Sherin lama sekali,ingin berkata pun tidak jadi.
Orang itu harusnya juga bisa pergi, semoga,mereka tidak bisa bertemu.
Acara Tahunan Perusahaan ini di adakan tiga tahun sekali, selain karyawan-karyawan utama perusahaan,juga mengundang supplier-supplier besar,pelanggan dan lain-lain.
Dan dengan dana besar membooking satu hotel termewah di daerah Ciput....
Sherin terakhir memilih mengenakan seragam kerja.Baju yang di antar oleh orang utusan Devan tadi sore,terlihat laki-laki itu sudah dengan sengaja memilih yang sederhana, tapi jahitan yang begitu bagus, juga tidak bisa di tanggung oleh kalangan pegawai seperti dirinya.Yuta juga ada usulan, namun yang Yuta berikan kepadanya,juga ditolak oleh Sherin.
"yah,Sherin,kamu....kamu kenapa memakai seragam kerja ke sini?" Manager Lupus meminta mereka berkumpul di kantor, setelah itu baru bersama-sama pergi ke hotel, setelah melihat Sherin yang datang dengan memakai seragam kerja,alis mata mengerut menjadi satu.
__ADS_1
"Jangan-jangan dress terusan pun tidak punya ya?" Debora yang dari awal menertawakan sampai punggungnya membungkuk itu.
Gadis bontet yang saat itu juga berjalan ke depan,menarik tangan Sherin sambil berkata "Sherin, Acara Tahunan Perusahaan 3 tahun sekali,yang datang semua adalah orang-orang hebat di perusahaan dan beberapa orang kalangan atas, kamu juga tidak punya pacar,apa tidak ingin di sana mencari satu?"
Sherin saat ini baru memperhatikan,beberapa teman kantor, meski di luarnya memakai jaket, tapi di dalamnya memakai beragam gaun, riasan nya juga lebih bagus lagi dari biasanya.
Sherin menundukkan kepalanya melihat penampilan dirinya sendiri, memang benar,sedikit agak tidak cocok,menggigit-gigit bibir bawahnya, lalu menggeleng.
"tidak ada cara lagi"
Devan ada di sana, dia bisa ada pemikiran ke siapa?
Berkata lagi, Devan ada di sana,dia masih bisa ada pemikiran ke siapa?
"kalau tidak memakai gaun, apa tidak boleh pergi?" Sherin melihat manager Lupus sedari tadi melihatnya muncul terus saja mengerutkan alis,tidak bisa menahan diri mengeluarkan suara bertanya.
Manager Lupus mengedipkan mata ke Sherin, "juga bukan begitu,tapi....jika kamu pergi seperti ini, kalau orang tidak tahu bisa menganggap kamu sebagai pelayan loh"
Sherin mengangguk. "kalau begitu bagus,asal bisa pergi saja, kalau manager merasa aku memalukan,aku juga boleh tidak pergi!" pokoknya, Sherin juga tidak ada keinginan antusias terhadap pertemuan seperti itu.
Manager Lupus terus menerus menggeleng, "pergi,harus pergi, ayo jalan....jalan, waktu sudah mepet!" juga tidak tahu adik sepupu perempuannya itu berpikir apa,terus-menerus berpesan, menyuruh nya harus membawa Sherin pergi bersama.
Sekelompok orang tiba di pintu masuk hotel,di sana Manager Lupus sendirian sedang membagikan undangan.
Sherin berjalan di posisi paling belakang di kelompok orang itu.
"oh,perutku sakit.Aku pergi ke kamar mandi dulu, nanti aku akan datang mencari kamu !" ucap Sherin.Gadis bontet itu masuk terlebih dulu di depannya.
Sherin mengangguk,sambil mengambil surat undangan dari tas nya untuk di serahkan kepada staf penjaga di pintu masuk.
__ADS_1
Kedua penjaga itu mengambil undangan itu,dan setelah memandang nya,sikap mereka pun berubah 360 derajat "halo,Nona, mohon perlihatkan kartu identitas anda!"
Sherin menunjuk kepada gadis bontet yang telah masuk ke dalam "aku bersamanya" dia ingin mengatakan mengapa saat gadis bontet tadi masuk mereka tidak memintanya kartu identitas,tetapi saat dirinya ingin masuk,malah harus menunjukkan kartu identitas?
"Nona,tolong tunjukkan kartu ID anda!" wanita yang berdiri di tengah itu sepertinya tidak mendengarkan penjelasannya, dan dia masih mengulangi kata-kata tadi.
Saat itu,sudah mulai banyak orang di belakang yang menunggu..
Sherin hanya bisa menarik nafas dalam-dalam,dan ternyata di sini pun mereka melihat seseorang dari penampilan terlebih dahulu.Meskipun dia ingin berkelas kepala,tetapi setelah di pikir-pikir, dia pun membuka tasnya untuk mencari kartu identitasnya.
Hanya saja,kartu identitas yang biasanya berada di tasnya...aneh,kenapa tidak bisa di temukan hari ini?
"apa yang terjadi? apa kamu orang yang ingin masuk dan mencari makanan gratis?" ucap penjaga dengan sinis nya.
"jadi mau masuk tidak? di luar sangat dingin nih...!" kata sorang tamu di belakangnya.
"..."
Saat ini, Sherin sedang mengulum bibirnya dan mengulurkan tangannya,mencoba menarik undangannya kembali dan berkata bahwa dia tidak akan masuk.
"ada apa ini?" terdengar sebuah suara wanita yang datang dari belakang.
Ketika Sherin mendengar suara ini, dia pun langsung menoleh, dan dia melihat Gabriel berdiri di bawah beberapa tangga.Dia yang hari ini,terlihat sangat cantik.Gabriel di prediksi sebagai tuan putri penerus dari PT Ningga Group milik Devan, dia di haruskan,berpenampilan baik di setiap kehadiran di khalayak umum.
Hanya saja saat dia berpikir tentang kejadian terakhir kali di daerah wol, dia menjadi tidak berani menatap langsung ke arah Gabriel, dia merindukan ada kebahagiaan di mata Gabriel, dia berpikir Tuhan sedang membantu dirinya.
Staf yang sombong tadi,segera membungkuk sambil berjalan ke arah Gabriel, "Nona Gabriel,wanita ini,mengenakan pakaian yang aneh,kami khawatir kalau dia akan memanfaatkan kondisi saat ini,oleh karena itu,saya ingin memeriksa kartu identitasnya."
Wajah Gabriel semakin muram, "orang yang di kenal oleh Tuan Devan, apakah mungkin masih mencari kesempatan di kondisi seperti ini?"
__ADS_1
Mendengar Gabriel mengatakannya seperti itu, Sherin menghela nafas lega, dia merasa sangat bersyukur, tetapi lebih banyak merasa bersalah.....