Wanita Bermuka Dua

Wanita Bermuka Dua
Memberi Rumah


__ADS_3

Sherin juga tidak tahu dirinya kenapa.Semua pikiran negatif mulai muncul di kepala Sherin. Pada detik itu, Sherin ingin segera menikah dengan seorang pria sederhana, agar Devan tidak terus mengejar-ngejar dirinya. Sherin membenci fakta dirinya yang tetap mencintai Devan walaupun Sherin sendiri mengetahui bahwa Devan sudah memiliki tunangan.


"aku akan melihat siapa orang yang berani tertawa?"


Tanpa sadar, Devan sudah berdiri di depan Sherin. Sherin berputar balik badannya, tetapi Devan sudah menarik Sherin ke dalam pelukannya sebelum dia mulai berjalan.


"aku sudah mengganti semua perabot di rumah depan itu. kamu pergilah untuk melihat dan beri tahu aku jika ada yang tidak sesuai atau masih kurang!"


Sherin menatap Devan dengan tatapan dingin "Devan,aku tidak mau jadi selingkuhan kamu atau pun kekasih kamu.bisa kah kamu menjauh dariku?!"


Sherin takut jika dirinya tidak akan bisa menahan diri dan menerima perasaan Devan jika Devan terus bersikap begitu baik terhadapnya.


Devan saat ini seperti orang yang mengonsumsi narkoba,dia tahu dirinya akan merasa kecanduan tetapi tetap tidak bisa menghentikan kelakuannya.Ketidak bahagia nya Sherin jelas terlihat di wajah Sherin,membuat Devan merasa sakit hati. Sherin menyingkirkan tangan Devan yang ingin menghibur dirinya.


Devan menghembuskan sebuah nafas ringan, dia tidak berpengalaman dalam urusan menghibur wanita.Untuk pertama kali di dalam hidupnya, Devan merasakan rasa tidak berdaya melihat Sherin yang diam membisu tidak berbicara. Devan juga semakin mengerti bahwa uang bukan segalanya.Uang tidak bisa membeli perasaan dan bahkan tidak bisa membeli senyuman Sherin.


"setelah tahun baru, aku akan membatalkan perjanjian pernikahan dengan Gabriel."


"kamu tidak takut orang lain akan mengatakan kalau kamu adalah seorang penghianat?" Sherin sengaja memancing emosinya.


"aku akan memperbaiki dengan cara lain" jawab Devan.


Sherin mengangkat kepalanya dan dia melihat sikap keras kepala di mata Devan. Sherin merasa bahagia dan sedih pada waktu yang bersamaan.Mengapa kebahagiaan dia harus di bangunkan pada kesedihan orang lain?


"Devan,kita..."


"mama,papa, kalian sedang berbicara tentang apa?" tiba-tiba suara Simon datang memutuskan kata-kata Sherin.Suasana yang menegangkan pun menjadi agak santai.

__ADS_1


"Simon,bagaimana kamu bisa datang ke sini?" ucap Sherin berantusias.


Ada senyuman yang cerah terpasang di wajah Sherin.Melihat Sherin yang begitu menyayangi Simon, Devan merasa sedikit iri.


"mama,aku dengar dari paman Dylan kalau papa membelikan kamu sebuah rumah mewah.jadi, aku datang ke sini untuk melihatnya" jawab Simon. alis Devan terangkat dan Dylan memukul dahinya sendiri.Keputusan untuk memberitahu Simon sepertinya bukan keputusan yang benar.


Sherin sedikit terkejut, lalu dia menoleh ke Devan, "kamu...kamu sudah membeli rumah ini?"


"Simon bilang hatinya merasa tidak nyaman kalau kamu tinggal di tempat yang terlalu biasa" jawab Devan sambil berjalan ke sisi Sherin.


'apa aku pernah berkata seperti itu?' Simon pun berpikir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Tiba-tiba dia teringat sesuatu.Dia tersenyum kepada Sherin dan bertanya


"mama, apakah papa ingin meminta sesuatu yang dia tidak pernah dapatkan dari mama?"


Sherin menjadi bingung.Sesuatu yang Devan tidak miliki?


"apa maksud kamu?"


Ekspresi Simon sangat murni dan imut. Tetapi Sherin merasa malu dan tidak tahu harus menjawab apa. Sherin melihat ke arah Devan dengan wajahnya yang sangat merah. Dylan yang berada di belakang Devan pun mendengarkan dan dia tertawa dengan tidak sopan.


"Simon,mama tidak akan menerima rumah ini. karena mama tidak memiliki sesuatu yang bisa di tukar dengan apa yang di inginkan papa kamu" jelas Sherin.


Simon masih kecil, sherin juga masih belum terpikir cara yang bagus untuk menjelaskan kepadanya.


"oh? kalau begitu,anggap saja aku yang membelikan rumah ini untuk mama! tunggu aku sampai menabung uang yang sudah cukup, aku akan kembalikan uangnya kepada papaku" kata-kata Simon membuat hati Sherin merasa terharu.


Sherin mengelus kepala Simon dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"baiklah.Kalau begitu,mama akan menunggu Simon" Sherin memegang tangan Simon dan kemudian memasuki rumah mewah di depannya. Sherin pernah ke sini saat dia sedang mencari tempat tinggal. Selain yang memang sudah tidak bisa di ganti, semua perabot mulai dari dalam rumah sampai rumah sudah di gantikan oleh orang suruhan Devan.Orang yang bisa melakukan hal yang luar biasa seperti ini di dalam waktu singkat, hanya Devan.


Tetapi,usaha yang di lakukan Devan malah menjadi beban bagi Sherin.


"mama,boleh kah aku tidak pulang ke rumah malam ini dan tidur bersama mama di rumah ini?"


"tidak boleh!"....." tidak boleh!"


Sherin dan Devan menjawab dalam waktu yang bersamaan. Sherin tidak setuju karena akan merisaukan masalah keamanan Simon, dan Devan tidak setuju karena perasaan pribadinya.


"anak kecil tidak boleh semalaman tidak pulang ke rumah" Devan melirik ke Simon. Dylan yang mengerti maksud Devan, tidak bisa menahan diri dan dia pun tertawa dengan keras.


Dylan tidak pernah berpikir jika suatu hari Devan bisa merasa cemburu dengan anaknya sendiri.


Akhirnya, Devan dan Simon berdua di usir oleh Sherin. Sherin juga menerima rumah itu dengan syarat Devan harus mengubah nama pemilik rumah menjadi nama Devan sendiri dan Sherin akan membayarnya seperti uang sewa rumah setiap bulan.


Hari kedua, Sherin terbangun karena ada yang menelpon dirinya.


"halo?"


"Sherin,kamu harus berkemas,bawalah beberapa baju dan segera datang ke kantor. Kantor Clover tadi menelpon,mereka meminta kita untuk membawa tiga orang dan mengikuti mereka ke daerah pelangi sekitar dua hari lamanya!"


Daerah pelangi?


"pergi ke daerah pelangi untuk?"


Manajer Lupus tertawa dan dia pun berkata "menurut kamu, untuk apa mereka meminta kalian bertiga pergi ke sana?" setelah itu, manager Lupus mematikan telponnya.

__ADS_1


Sherin mengerutkan alisnya, dia baru saja bermasalah dengan Yuta kemarin, apa karena Yuta bukan lah orang yang pendendam? Sherin tidak mengerti. Sherin dengan cepat meninggalkan rumah setelah berkemas mengambil beberapa baju dan dokumen yang di perlukan.


Sherin melihat gadis bontet dan Debora yang berada di depan kantor.Meskipun pandangan Sherin terhadap gadis bontet ada sedikit berubah karena masalah kemarin, Sherin tetap menyukainya.Kalau untuk Debora, Sherin sangat jarang berinteraksi dengannya kecuali urusan menata rias untuk Gabriel kemarin. Tetapi yang jelas, wanita ini seperti membenci Sherin.


__ADS_2