
Mendengar kata-kata ayah Devan, Clover merasa seperti sebuah petir yang besar menyambar pada dirinya. berbagai jenis pemikiran mulai muncul di pikirannya.
Dia menggertakkan giginya sendiri dan berusaha untuk mengontrol emosinya. Secara tidak sadar Clover ******* bibirnya, "apakah maksud paman adalah keluarga Devan tidak mau menerimaku?"
Ayah Devan menundukkan kepalanya dan tangannya yang memegang gelas teh tegang di udara, setelah beberapa saat dia baru berkata, "tidak, di dalam hati paman, kamu sudah termasuk menantu keluargaku, kamu adalah ibu dari kedua cucuku, tentu saja paman tidak akan tidak menerima kamu"
Clover menundukkan kepalanya dan tidak menjawab, dia sedang menunggu ayah Devan lanjut berbicara.
"tetapi, apakah kamu tahu kalau Gabriel bercerai dengan Devan, dia mungkin harus turun dari posisi dia sekarang"
Kecepatan berbicaranya sangat lambat, jadi, Clover mendengar semua kata-katanya dengan jelas. Hanya saja dia tetap tidak mengerti.
"mengapa?"
"karena Devan sekarang memiliki saham Ningga group sebesar 41 persen, kalau dia bercerai, dia harus menepati janjinya kemarin untuk memberikan saham sebesar 10 persen kepada Gabriel, kalau begitu, Devan bukan lagi merupakan pemilik saham terbesar di Ningga group. di tambah kalau orang jahat mempergunakan masalah antara kamu dan Devan, bisa jadi Devan harus kehilangan semua yang dia miliki sekarang"
Clover tentu saja kaget, tapi,sejujurnya yang Clover terpikir secara reflek adalah, dia tidak akan peduli juga kalau Devan bukan seorang direktur lagi, asal mereka bisa bersama, semua ini bukan masalah.
Tetapi, menghadapi orang tua di depannya, Clover tidak berani berkata seperti itu, Ningga group juga hasil kerja keras orang tua ini, Clover tidak bisa begitu egois.
Melihat Clover tidak berbicara, sudut bibir ayah Devan terangkat, dan tatapannya memancarkan pandangan rendah terhadap Clover, ternyata wanita ini juga tetap lebih peduli terhadap kekayaan.
Tetapi, ucapan Clover selanjutnya membuat sudut pandang ayah Devan terhadap Clover berubah secara total.
"paman, menurutku, aku merasa tidak penting dengan masalah apakah Devan itu direktur Ningga group atau bukan, aku hanya ingin bersamanya, tidak peduli dia miskin atau kaya, tetapi, kalau Devan sendiri ingin bercerai, aku juga tidak akan bisa mencegah itu, Devan juga memiliki pemikiran dan keinginan dia sendiri.... " berkata sampai sini, Clover menggigit bibirnya.
"kalau Devan merasa pantas dan bahagia jika dia mengambil posisi direktur untuk menggantikan aku, aku tidak akan membantah itu, karena aku juga berharap dia bisa bahagia"
Pada detik itu, Clover sangat percaya bahwa Devan tidak akan memberatkan posisinya daripada cintanya untuk Clover.
Kalau tidak, mana mungkin Devan bisa minum minuman sampai muntah darah dan tidak peduli dengan nyawanya sendiri demi Clover.
Selain itu, Clover juga percaya, walaupun Devan kehilangan Ningga group, asal Devan memiliki niat, tidak akan terlalu sulit untuk membangun satu Ningga group lagi.
Kondisi seburuk bagaimana pun, Clover juga akan bekerja keras bersama Devan untuk melindungi keluarga Devan.
Ayah Devan hanya terus menatap Clover pada waktu yang sangat lama.
__ADS_1
Ekspresi dia sangat tenang, tetapi emosi di dalam hatinya sangat kuat. sebelum datang,dia sudah berpikir berbagai jenis jawaban yang mungkin di katakan oleh wanita ini, kalau bukan keras kepala, pasti menuruti.
Tetapi, wanita ini malah memberikan hak memilihnya kepada anaknya sendiri. Hanya agar Devan bisa bahagia....hal ini membuat sudut pandangnya terhadap Clover berubah total.
Kemudian ayah Devan berdiri dan mengangguk kepada Clover, "pilihan anakku, lumayan bagus..."
Mendengar kata-kata itu, Clover menghela sebuah nafas lega dengan diam-diam. Dia menggerakkan alisnya dan memberikan sebuah senyuman kepada pria tua di depannya ini, "tidak, pilihanku yang lebih bagus daripada Devan, makanya aku bisa memilih dia di antara begitu banyak laki-laki"
Setelah waktu yang sangat lama, Clover baru tahu ternyata maksud kedatangan ayah Devan hari ini hanya bertujuan untuk mengetes perasaan Clover terhadap Devan.
Setelah waktu yang sangat lama juga, Clover juga baru tahu ternyata ayah Devan sudah membuat keputusan itu pada saat setelah hari ini.
Hari-hari setelah itu kembali ke ketenangan seperti dulu, Devan berada di dalam negeri dan Clover berada di luar negeri. mereka akan vidio call setiap hari, mereka melalui hari-hari dengan biasa tetapi cukup manis.
Hanya saja, Devan sangat aneh, kemarin Devan akan terus menyuruh Clover untuk menggeserkan pusat karier perusahaannya ke dalam negeri setiap hari..
Setelah kembali ke dalam negeri kali ini, Devan sama sekali tidak berbicara tentang hal itu lagi.
Karena itu, Clover merasa sedikit kecewa di dalama hatinya......
"apakah anak-anak sudah tidur?"
Clover meletakkan ponsel nya di atas meja, sambil mengoleskan krim malam, Clover berkata, "iya, kamu? masih bekerja?"
"iya, ada beberapa dokumen yang masih belum selesai ku baca, setelah selesai baca, aku akan langsung tidur"
"oh...."
setelah itu, mereka tidak berbicara, tetapi kesunyian itu sangat terasa nyaman.
Sepertinya Devan mendirikan ponselnya di atas meja, jadi Clover pas bisa melihat penampilan Devan yang sedang menundukkan kepalanya fokus bekerja.
Setelah selesai mengoleskan krim ke wajahnya, Clover meletakkan dagunya di atas tangannya sambil menatap ke ponselnya tanpa mengedipkan matanya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk, "tok...tok...tok...."
Clover melihat Devan mengerutkan alisnya, "siapa?"
__ADS_1
"Devan, ini aku, aku ada memasak sup untuk kamu" suara Gabriel.
Devan menundukkan kepalanya dan melihat Clover mengambangkan mulutnya dengan tatapan yang berisi seperti ingin membunuh.
Devan menghirup sebuah nafas dan mengangguk tanpa suara.
"tidak perlu. aku tidak ingin makan" suara Devan sangat dingin.
"ah....." terdengar suara teriakan dari luar.
Devan mengerutkan alisnya dan melihat ke ponselnya secara reflek.
"coba pergi lihat!" Clover berkata tanpa suara menggunakan isyarat bibir.
Devan mengangguk, kemudian dia berdiri, karena Devan tidak mematikan vidio call mereka,Clover bisa mendengar suara langkah kaki Devan dan suara membuka pintu dengan jelas.....
"kenapa?"
"Devan, mangkuknya jatuh dan sup nya kena kakiku, boleh kah kamu menggendong ku ke kamar untuk mengoleskan obat?!"
Mendengar sampai sini, telinga Clover tiba-tiba menjadi tajam, pada waktu yang sama Clover juga memandang rendah Gabriel.
"pinggangku tidak sehat Baru-baru ini, kamu suruh mereka bantu kamu saja!"
Setelah beberapa saat, "nyonya, kami akan membantu Anda masuk ke kamar"
Setelah itu, terdengar suara pintu tertutup.
Setelah Devan duduk kembali, Clover langsung bertanya dengan tidak sabar, "pinggang mu tidak sehat? apa yang terjadi?"
Devan mengangkat kepalanya dan menatap Clover dengan dalam, "pakai otak?"
setelah mengerti maksudnya, Clover mengangguk dan menunjuk ke layar ponselnya, "direktur Devan, pinggangmu tidak sehat! hahaha......."
.
Bersambung......
__ADS_1