
"Nak... makan dulu" Allea mengetuk pintu kamar Millie, dari pulang sekolah sampai sekarang dia tidak kunjung keluar dari kamarnya
Di dalam kamarnya Millie menangis sendirian mematikan semua lampunya, biasanya Millie tidak pernah ambil hati ketika bermasalah dengan siapapun
Namun kali ini berbeda Millie merasa hatinya tersakiti untuk kesekian kalinya, pertama Rafael dan sekarang mami Rafael membencinya
Handphonenya berdering berulang kali mungkin ratusan panggilan dari Rafael dan juga Aldi yang tidak di jawab oleh Millie, pintu kamar kembali di ketuk namun Allea mengatakan hal berbeda sekarang
"Sayang.. itu ada Rafael sama Aldi di luar" ucap Allea
"Mereka kesini? " gumam Millie
Millie segera membasuh mukanya dan memakai hoodie, kacamata serta masker untuk menutupi wajahnya dan matanya yang sembab karena terus menangis
Saat Millie keluar kedua pemuda itu sedang berhadapan dengan tatapan membunuh, Millie berdiri di tengah tengah mereka meskipun tidak dapat menghalangi pandangan keduanya karena tinggi Millie hanya sebatas bahu mereka
"Kalian ngapain sih? " Millie menginjak kaki keduanya
"aduuhhh" keduanya meringis
"Mau berdiri disini terus? tatap tatapan? " Rafael segera menarik Millie agar menempel di tubuhnya
"Ayo katanya mau nonton" Aldi menarik tangan Millie sementara Rafael memeluk dada Millie
"Sembarangan" Rafael memukul tangan Aldi dan melepaskannya dari Millie
"Kamu pulang aja, aku udah janji sama Aldi mau pergi"
"Gak.. kalo kamu pergi aku juga ikut" jawab Rafael, Millie mendongak menatap Rafael yang ada di belakangnya
"Jangan.. jangan ketemu sama aku lagi, jangan buat mami marah" Millie melepaskan tangan Rafael dari tubuhnya
"Kamu udah janji kan gak akan jauhin aku lagi? "
"Bukan aku yang gak nepatin janji, kamu denger sendiri kan mami ngomong apa? " Aldi mengerutkan dahinya mendengarkan pertengkaran Millie dan Rafael
"Aku gak peduli, sampai kapanpun aku gak akan lepasin kamu"
"Ayo kita pergi" Millie menarik tangan Aldi
"Kamu boleh pergi tapi aku yang akan antar" Rafael menarik tangan Millie
"Dia udah bilang gak mau pergi sama lo" Aldi juga menarik tangan Millie hingga keduanya saling menarik
"Aaaaaaaa... lepas" Millie menepis tangan keduanya dan masuk kedalam rumah, sesaat kemudian Millie keluar dengan membawa kunci dan helm
__ADS_1
"Kita pergi masing masing, kalo kalian mau ikut jangan ribut" Millie pergi meninggalkan keduanya
Rafael dan Aldi terburu-buru mengikuti Millie dengan kendaraan yang mereka bawa
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Di kampus Ello sedang terjadi sesuatu yang menggegerkan, Arumi berada di atap gedung berniat mengakhiri hidupnya
"Arumi turun.. semua permasalahan pasti ada jalan keluarnya jangan melakukan itu" ucap Ellia
"Gak.. gue udah gak punya siapa siapa lagi, orang orang yang peduli sama gue satu persatu pergi"
"Kita temen lo Arumi, ayo turun.. kita akan bantu lo" Irene baru saja datang berdiri di samping Ellia
"Gara-gara Irene... cinta gue udah hilang, gue mau Ello gue mau Ello bertanggung jawab atas semua yang terjadi sama gue" Semua orang menatap Irene
"Dia hamil dan menuduh Ello yang menghamili nya, kalo Ello bertanggung jawab sama dia lalu gue gimana? siapa yang melakukan itu sama gue? siapa yang mau bertanggung jawab sama gue? "
Semua mulai kasak kusuk membicarakan cinta segitiga mereka, Irene meremas tangannya sendiri dia malu
Sebuah tangan meraih tangan Irene dan menggenggamnya, Irene menoleh ke sampingnya dimana Ello berdiri sekarang
"Gue bertanggung jawab sama Irene karena malam itu benar-benar dia yang ada di kamar yang sama sama gue, gue udah punya buktinya" ucap Ello
"Gue mau lo juga bertanggung jawab sama gue Ello"
"Kalo lo gak mau gue lebih baik mati, gak ada lagi yang sayang sama gue dan lo tau itu kan? " Arumi menangis tersedu
"Ya udah mati aja, mau loncat? silahkan" ucap Ello lalu menarik tangan Irene
"Tunggu... bisa aja dia benar-benar lagi stres, kita gak boleh biarin dia mati, gue pernah ngerasain gimana rasanya hidup dalam kebingungan dan ketakutan" Irene menahan tangan Ello
"Jadi gue harus apa? "
"ayo naik, kita harus bujuk dia"
"Gak.. biarin aja, gue gak mau berurusan lagi sama dia " sempat terjadi perdebatan diantara keduanya hingga akhirnya Ello mengikuti apa yang di inginkan Irene
Irene dan Ello pergi ke atap untuk bicara dengan Arumi, disana Arumi sudah naik ke pembatas dan bersiap untuk melompat
"Jangan gila Arumi" Arumi menoleh saat melihat Ello
"Apa lo datang kesini buat cegah gue? "
"Turun.. pikirin keluarga lo, nyokap lo sayang sama lo" ucap Ello
__ADS_1
"Gue turun kalo lo balik lagi sama gue dan tinggalin dia"
"Gak.. gue sama Irene mau nikah beberapa hari lagi, dia yang nyuruh gue kesini buat cegah lo, kalo bukan karena dia gue gak akan ada disini" Arumi mematung sejenak
"Sekarang terserah lo mau turun, atau loncat tapi perlu lo tau, gue gak akan ninggalin Irene" ucap Ello
"Jangan melakukan hal bodoh Arumi, gue pernah putus asa sama kayak lo tapi gue gak ada niatan buat bunuh diri, kalo lo gak ada siapapun buat berbagi masalah gue sama Ello mau dengerin kok, kita akan selalu ada buat lo" Ucap Irene
"Maaf Irene. . gue selama ini jahat sama lo, lo baik banget sama gue"
"Gak apa apa.. lupain aja sekarang turun, kita bantu lo nanti buat cari siapa orang yang udah melakukan itu sama lo" ucap Irene
Saat akan turun kaki Arumi tergelincir membuat orang orang di bawah sana berteriak, Ello menarik tangan Arumi yang bergelantungan agar kembali naik ke atap
Arumi memeluk Ello sambil menangis di pelukannya, Irene melihat itu merasa sesak sendiri
Mendengar langkah kaki Irene menjauh Ello melepaskan Arumi dan berjalan menggandeng tangan Irene, Arumi mengepalkan tangannya menatap tidak suka pada kedekatan mereka
"Akhhh" Irene dan Ello menoleh bersamaan dan melihat Arumi tergeletak tak sadarkan diri
Irene yang pertama berlari mendekatinya kemudian Ello mengikuti Irene, Ello mengangkat tubuh Arumi sementara Irene membawa tas Arumi
Irene tidak sengaja menjatuhkan tas Arumi hingga isinya tercecer, Irene kembali memasukkan barang barang Arumi
Di dalam tasnya Irene menemukan obat obatan serta kartu rumah sakit, tampaknya masalah Arumi sangat serius hingga harus datang ke psikiater
"Kasian juga Arumi" gumam Irene
Irene berjalan menuruni anak tangga sampai tangga terakhir, Ello menghampirinya setelah menyerahkan Arumi pada tenaga kesehatan
"Lo gak apa apa? ada yang sakit? " Ello menyentuh perut Irene
"Gue gak apa apa" dengan cepat Irene menurunkan tangan Ello
"Jadi bener Irene hamil duluan? "
"Gak tau malu ya, hamil di luar nikah sampe orang lain tau"
"Bangga tuh di hamilin sama cowok yang dia kejar-kejar"
"Jangan jangan dia sengaja biar di nikahin Ello" Irene mendengar desas desus dari teman kuliahnya
"Gue gak pernah bangga, gue malu, gue gak pernah umbar aib gue, siapa yang mau ada di posisi gue? kalian jangan menghakimi karena kalian gak tau apa yang udah gue lalui" Irene menghampiri mereka dan bicara dengan tegas
"Semoga kalian gak ngerasain ada di posisi gue" lanjut Irene lalu pergi
__ADS_1
Ello menatap mereka tajam dengan tatapan membunuh membuat mereka tidak sanggup mengangkat kepalanya, Ello mengejar Irene yang sepertinya sedang menangis berlari ke luar kampus