
Rafael tiba di kamar dan melihat Millie sedang mengambil baju tidurnya di dalam lemari, Rafael menghampiri Millie dan memeluknya dari belakang
"Aku salah.. aku pikir dia beneran butuh bantuan"
"Aku mau mandi" Millie melepaskan tangan Rafael dan masuk ke kamar mandi
"Sayang.. gimana caranya biar kamu maafin aku?" Rafael menggedor pintu kamar mandi
"Pergi aku gak mau liat kamu"
"Oke aku pindah ke kamar tamu tapi jangan marah lagi ya" Millie tidak mengatakan apapun lagi
Saat Millie keluar dari kamar mandi rupanya Rafael masih ada disana, Millie tak memperdulikan Rafael meskipun dia mengekori Millie kemanapun
"Aku keringin ya rambutnya"
"Gak usah, aku gak cacat aku bisa sendiri" ketus Millie
"Kamu mau makan apa? aku bisa masakin buat kamu"
"Aku punya bibi gak perlu repot repot" jawab Millie dingin
"Tapi bibi udah tidur"
"Aku bisa angetin makanan yang ada di kulkas, sekarang pergi.. bukannya mau tidur di kamar tamu?" Rafael kembali memeluk Millie menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Millie
"Aku gak bisa tidur sendiri "
"Sebelumnya kamu tidur sendiri kan? anggap aja simulasi kalo kamu jadi duda" Rafael sontak melepaskan pelukannya
"Kamu kok ngomongnya gitu"
"Emang kenapa? ohh.. aku lupa, kalo pun kamu jadi duda akan ada banyak wanita yang ngantri buat tidur sama kamu"
"Kamu ngaco deh"
"Kamu bisa tetap disini biar aku yang pergi" Millie pergi dan masuk ke kamar tamu
Rafael terus mengetuk pintu kamar tamu karena Millie menguncinya, satu pintu kamar terbuka mengintip
Siapa lagi kalau bukan si kepo Michelle yang mengajak adiknya untuk mengintip apa yang terjadi di luar
"Yah.. gak dapet jatah deh " Michelle cekikikan melihat Rafael
"Jatah apaan?" tanya Exel
"Hah?? enggak ada kamu salah denger, ayo tidur nanti mama kesini" Michelle menutup pintunya sebelum Allea datang memeriksa anak anaknya pada malam hari
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Kasih tau anak anak itu jangan sampai punya anak dulu, kasian si beruang kecil"
"Iya ma.. lagi pula sepertinya Millie udah beli pil kontrasepsi" jawab mami Rafael
"Baguslah.. dia harus kejar dulu cita-citanya, sayang kalo anak orang kaya cuma jadi ibu rumah tangga"
"Kan ada Rafael ma.. dia bisa membiayai hidup istrinya" Oma mengambil kacang panjang yang sedang di iris mami Rafael lalu memukulkannya ke b*k*Ng menantunya itu
"Bukan masalah uangnya, apa kata orang kalo seorang menantu keluarga kita hanya lulusan SMA?"
"Hah.. mama lagi lagi mementingkan status" gumam mami Rafael
"Karena Status itu penting.. kita sering berkumpul dengan para sosialita, malu kita kalo di tanya soal menantu kalo gak selevel"
__ADS_1
"Jadi kalo Millie bukan dari keluarga kaya mama gak mau nerima dia sebagai menantu?" tanya mami Rafael
"Itu bisa di pertimbangkan, seberapa layak dia untuk di terima"
"Mama.. mama.. gak berubah dari dulu, kalo aku yang penting anaknya baik dan Rafael bahagia aku akan terima dari kalangan apapun keluarganya, aku gak mau di jauhin anak cuma karena Restu" cicit mami Rafael
"Kamu nyindir mama?"
"Enggak ma.. mana berani aku" mami Rafael mengulum senyumnya
Mami Rafael seolah menyindir Oma yang dulu di jauhi oleh papi Rafael hanya karena tidak mau menerima istrinya yang dia nikahi secara diam diam
Mami Rafael memang bukan keluarga yang susah namun masih di bawah keluarga papi Rafael, Oma mempermasalahkan itu hingga akhirnya papi Rafael memilih pergi membawa istrinya
Semua perlahan membaik ketika Rafael lahir meskipun Oma tidak sepenuhnya menerima mami Rafael, butuh waktu bertahun-tahun untuk memantaskan diri agar dapat di terima oleh Oma
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Aku berangkat sayang" Ello pamit pada Irene yang masih berbaring
"Kamu yakin gak mau istirahat aja? kamu semaleman gak tidur karena jagain anak anak"
"Aku ada ujian hari ini, aku harus bisa selesaikan kuliah tahun ini biar bisa langsung kerja" Ello mengelus kepala Irene
" Maaf ya aku ngerepotin kamu, aku gak becus jadi istri"
"Kamu ngomong apa sih, kamu dan anak anak lagi sakit jadi udah kewajiban aku buat rawat kalian.. hari ini aku minta mama datang buat bantu jaga Daren dan Karen, kamu istirahat ya" Ello mengecup dahi Irene
"Kamu hati hati.. jangan lupa sarapan "
"Iya.. aku pergi ya" sebelum pergi Ello kembali berjalan ke arah box bayi
"Nah.. jagoan dan tuan putri jangan rewel, jangan bikin Mama repot, papa pergi dulu sayang " Ello mencium kedua anaknya lalu pergi
"Gue beruntung dapet suami kayak Ello, meskipun gue gak yakin dia mulai mencintai gue 100% tapi seenggaknya dia menjaga gue dan anak anak dengan baik"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Gue ketindihan ya?" racau Millie sambil mengucek mata
Di lihatnya ternyata Rafael sudah tidur di sampingnya memeluk dirinya begitu erat, Millie menyingkirkan tangan Rafael lalu duduk di tepi ranjang sebelum pergi ke kamar mandi
"Pantesan ketindihan setan" gumam Millie
"Setan apa?" suara Rafael terdengar begitu seksi dengan suara paraunya
Rafael kembali melingkarkan tangannya di pinggang Millie dan menariknya hingga Millie kembali berbaring
"Lepasin ini udah siang, aku mau berangkat sekolah "
"Bentar lagi.. aku juga mau berangkat ke kantor" jawab Rafael
"Ya udah sana mandi, karena udah hampir telat aku pergi naik motor gak usah anterin aku"
"Motor kamu kan ada sama Jason, mau pake motor siapa?" tanya Rafael
"Motor kak Ello, cepet lepasin" Millie memukul tangan Rafael
Bukannya melepaskan Millie kini kedua tangan Rafael meremas bagian depan tubuh Millie, Millie yang kesal menyikut perut Rafael lalu kabur ke kamarnya
"Aaarrrgghh.. Millie awas kamu ya"
"Sukurin.. siapa suruh main remes remes aja, emangnya gue sapi" gerutu Millie
__ADS_1
Setelah beberapa saat Millie sudah memakai seragam sekolahnya sementara Rafael baru saja kembali dari kamar tamu dengan handuk yang di lilit di pinggangnya
"Suit.. suit.." Rafael menggoda Millie dengan bersiul
"Apa liat liat? " ketus Millie
"Galak banget sih, Ambilin baju dong yang" meskipun marah Millie tidak mau durhaka pada suaminya
Millie mengambil satu set pakaian kerja berikut underwear milik Rafael, saat berbalik betapa terkejutnya Millie melihat suaminya yang sudah hilang rasa malunya
Rafael melepaskan handuknya dan menggunakannya untuk mengeringkan rambut, Millie spontan berbalik membelakangi Rafael sambil mengulurkan tangannya ke belakang
"Dasar gak tau malu.. pake bajunya sekarang" teriak Millie
"Sekalian pakein dong"
"Males banget.. nih pake aja sendiri aku mau berangkat sekolah " Millie mundur perlahan sambil mengulurkan pakaian Rafael
Tangan Millie menyentuh dada Rafael namun suaminya itu tidak juga mengambil pakaiannya, Millie menutup matanya dengan telapak tangan lalu berbalik
Rupanya Rafael sedang tersenyum melihat tingkah istri kecilnya, Millie semakin kesal dan menjatuhkan pakaian Rafael begitu saja
"Dasar gila" ucap Millie lalu melenggang pergi
"Cih.. udah pernah pake juga liat doang masih malu-malu " gumam Rafael
"Ya ampun... gue liat bentuknya jelas banget, iihh.." Millie bergidik ngeri
"Kamu kenapa?" tanya Allea melihat Millie bergidik
"Gak apa apa... mama aku pinjem motor kak Ello "
"Kan biasanya dianterin suami kamu, lagi berantem? "Tanya Allea
"Enggak ma.. aku kesiangan kalo nunggu dia"
"Masa gak berantem semalem Rafael minta kunci cadangan sama mama? ada masalah selesaikan dengan baik" Millie hanya menggaruk tengkuknya
"Iya nanti.. sekarang pinjem dulu kunci motornya aku mau berangkat "
"Kamu kalo mau sesuatu gak bisa nunggu" Allea mengambil kunci motor milik Ello
"Nih.. kamu gak sarapan dulu?" tanya Allea
"Enggak keburu ma.. aku udah masukin makanan ke kotak bekal nanti tolong kasih kak Rafael ya, bilangin aku udah berangkat " ucap Millie sambil mencium tangan Allea lalu berlari keluar
" Gak pamit dulu sama suami kamu?" Millie tidak mendengar ucapan Allea
"Dasar.."
Setelah beberapa menit Millie pergi kini Rafael turun saat Allea sedang membereskan meja makan bersama bibi
"Nak Rafael mau sarapan dulu?" tanya Allea
"Gak usah ma.. aku langsung berangkat aja" Rafael mencium tangan Allea
"Eehh.. tunggu, ini tadi Millie siapin sebelum berangkat sekolah katanya buat bekal"
"Makasih ma"
Rafael berangkat dengan senyum tak pernah pudar dari bibirnya, dia terus melirik kotak bekal yang di siapkan istrinya
"Perhatian juga ternyata" gumam Rafael
__ADS_1
Sesampainya di kantor Rafael membuka kotak bekal tersebut, meskipun isinya masakan rumahan biasa namun menjadi lebih istimewa karena Millie yang menyiapkannya sendiri
"Gue harus bener bener minta maaf, tapi harus gimana?" Rafael memikirkan cara untuk meminta maaf pada Millie agar gadis kecil itu mau memaafkannya