
"Astaga..... ini kamar apa penampungan sampah? " ucap Millie ketika masuk kamar Irene
"Masuk sini.. nanti suruh bibi beresin, liat nih filmnya lagi seru"
"Ihh... kak Irene ini sampah dari kapan sih? " Millie memungutnya satu persatu
"Dari pagi.. gak usah Millie biar bibi aja"
"Gak apa apa.. kakak lanjut aja biar aku singkirin sampahnya dulu" Millie memasukkan semua sampahnya pada tempat sampah juga membersihkan remahannya dengan penyedot debu
"Padahal gak usah repot repot Millie, Sini.. udah makan belum? " Irene menarik tangan Millie lalu merangkulnya
"Udah... sebelum kesini dapet makanan gratis" Jawab Millie sambil terkekeh
Irene menjadi diam seketika melihat adegan di filmnya yang di perankan seorang anak kecil yang mencari-cari ibunya, dia harus bekerja untuk menyambung hidupnya dengan sang nenek
Tak terasa air mata Irene mengalir begitu derasnya entah karena sedih melihat filmnya atau ada hal lain, Millie yang sedang membalas pesan Rafael baru tersadar Irene terisak
"Kak.. kenapa? ya ampun... liat film aja sampe mewek" ucap Millie
"Kasian banget anaknya.. kok ada ya ibu yang tega ninggalin anaknya? " ucap Irene sambil mengusap air matanya
"Ada banyak faktor yang membuat mereka harus meninggalkan anaknya kak, setiap hidup manusia tidak semuanya mudah, makanya kita harus banyak bersyukur karena punya orang tua yang sayang sama kita dan tidak kekurangan" jawab Millie
"Kamu bener... ada banyak faktor yang membuat seorang ibu tidak menyayangi anaknya" lirih Irene
"Tapi kalo gak sayang dan ninggalin anak tetep aja salah, harusnya kalo mereka udah yakin lahirkan anaknya mereka harus bertanggungjawab merawat dan membesarkannya jangan di telantarkan, siapa tau kan nanti di masa depan anak itu yang akan membahagiakan kita"
"Tapi kalo kita gak mau lahirin anak itu, gimana? " Tanya Irene
"Berdosa banget lah kak.. bagaimana pun bayi itu tetap makhluk hidup"
"Mau kemana? " Tanya Millie saat Irene bangun
"Mau ke kamar mandi"
Irene menangis melihat pantulan nya di cermin seraya mengusap perutnya, dia tidak tau harus bagaimana lagi disatu sisi dia juga tidak tega dan tidak berani tapi di sisi lain Irene tidak memiliki pilihan lain
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Kamu tidur disini aja besok kan harus anter mami sama William" ucap mami Rafael
"Nanti Rafael kesini deh pagi pagi"
"Kamu jarang pulang, gak pernah tidur di rumah juga akhir akhir ini.. mami kangen tau sama anak mami"
__ADS_1
"Ya kan di bengkel lagi rame ramenya, sayang kalo di tinggal "
"Hari ini aja kamu tidur disini ya.." Mami Rafael memohon
"Iya.. aku mandi dulu ya Mi" Rafael mengambil handuknya dan pergi ke kamar mandi yang terletak di dapur
Saat Rafael keluar dari kamar mandi dengan di lilit handuk dia berpapasan dengan Anna, gadis itu menatap Rafael tak berkedip
"Minggir" Rafael menggeser tubuh Anna untuk memberikannya jalan
"Kenapa dia sedingin itu? padahal dulu dia baik banget, perhatian, selalu ngelakuin apapun buat gue" batin Anna melihat Rafael masuk ke kamarnya
"Apa salah kalo gue ungkapin perasaan gue yang sebenarnya? apa salah mencintai teman sendiri? dia kayaknya ngejauhin gue banget"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Gak bisa tidur nih, kenapa sih gue harus inget mimpi itu lagi? " Ello bangun dari tidurnya, dia hanya berbaring namun tidak bisa memejamkan matanya
Ello mengambil dompetnya dan kembali menatap potongan rantai kecil itu, lalu dia mengambil handphonenya untuk menelpon Arumi
"Halo.. "
"Halo.. sorry ganggu lo malem malem, gue cuma mau tanya lo kehilangan anting gak? " tanya Ello
"Anting apa ya? "
"Oh.. iya itu.. itu.. punya aku" ucap Arumi
"Bisa liat yang satunya lagi gak? " tanya Rafael
"Tapi udah aku buang kan udah rusak, bukan emas kok makanya aku buang"
"Ohh.. ya udah gak apa apa " tanpa basa basi Ello mematikan teleponnya
"Kenapa gue ragu ya? " gumam Ello
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Dia gila apa ya? dingin banget" Millie terbangun tengah malam untuk mengecilkan AC, dia berusaha meraih remote AC di atas meja di samping tempat tidur
Remote berhasil dia raih namun tas Irene tersenggol dan jatuh berserakan, Millie terpaksa bangun untuk memungut barang barang Irene
"Kamu lagi ngapain? " tanya Irene, Millie menoleh dia duduk di bawah ranjang
"Kakak apa ini? " Millie membaca hasil pemeriksaan dari rumah sakit
__ADS_1
Irene merampas surat tersebut dan meremas nya wajahnya terlihat begitu sedih, melihat Irene menangis membuat Millie tidak tega dan beralih duduk di samping Irene lalu memeluknya
"Maaf kak.. aku udah lancang baca itu" ucap Millie
"Gak apa apa, kamu bisa jaga rahasia kan? " Millie pun mengangguk
"Jadi ini alasannya kenapa kak Irene gak pernah deketin kak Ello lagi? " batin Millie
"Kakak lagi bingung Millie, kakak harus apakan anak ini? " lirih Irene
"Kenapa kakak gak minta tanggung jawab sama cowok itu? "
"Ini rumit Millie, anak ini hasil p*rk*s**n.. dia gak di inginkan siapapun" jawab Irene
"Orang tua kakak tau? " tanya Millie, Irene hanya menggeleng
"Gimana selanjutnya? "
"Gak tau... aku gak berniat membesarkan anak ini" lirih Irene
"Aku gak bisa bantu kak, tapi aku harap jalan yang terbaik buat kakak"
Millie mengerti bahwa Irene berkata begitu tentu saja dia akan menghilangkan janin itu, dia ingin berkata jangan namun dia tidak bisa mengatakan mengingat Irene pasti sangat menderita dan kebingungan sekarang
"Tidur lagi kak masih malem, jangan terlalu di pikirin" ucap Millie
Millie dan Irene kembali tidur karena waktu pagi masih sangat lama, Irene tidur memegangi tangan Millie dia butuh support seseorang sekarang
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Millie nakal, diem aku masih ngantuk" Rafael menepis sebuah tangan yang membelai wajahnya saat masih tidur
"Millie... kamu harus di kasih pelajaran" Rafael menarik tubuh Anna yang dia kira itu adalah Millie dan memeluknya
Rafael mencium kepalanya sesaat kemudian dia tersadar wanginya berbeda dengan Millie, Rafael terkejut ketika dia tidur memeluk Anna
"Ngapain lo disini? " Rafael mendorong tubuh Anna
"Mami suruh bangunin"
"Minggir.. lain kali kalo mau bangunin ya bangunin aja gak perlu pegang pegang" ketus Rafael seraya bangun
"Kakak kenapa sih? kakak benci sama aku karena aku suka sama kakak? apa dosa kalo aku suka sama kakak? "
"Gak dosa tapi gue terganggu.. gue udah bilang sampe kapanpun gue gak akan pernah suka sama lo, gue cuma anggap lo itu adik jangan bersikap menjijikkan seperti yang udah udah atau gue akan beneran benci sama lo" ucap Rafael lalu pergi
__ADS_1
"Gue cuma mau seperti wanita wanita itu, mereka lo perhatiin, lo sayang, lo peluk mesra, gue udah tahan perasaan ini tapi semakin hari semakin besar" batinnya, Anna mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca
"Lo cuma mau kepuasan aja kan sama mereka? lo cuma punya gue, selamanya cuma punya gue" gumam Anna