
"Lo gak apa apa? " Astrid baru saja sadar
"Kenapa banyak orang? " tanya Astrid
"Kamu kenapa? " Tanya guru
"Aku gak apa apa.. aku cuma kecapean aja" Ucap Astrid seraya menunduk
"Kalian keluar dan masuk ke kelas masing-masing" setelah semua murid keluar tinggal Millie menceritakan bahwa teman yang dia maksud adalah Astrid
Millie menceritakan semuanya meskipun Roy sering menyela pembicaraan, Astrid hanya diam menundukkan Kepalanya
"Apa benar Astrid? apa benar yang di ceritakan Millie? " tanya guru
"Enggak bu.. saya gak hamil, mungkin kak Millie salah sangka" ucapnya
"What? are you kidding me?" pekik Millie
"Saya bisa tes sekarang bu" guru mengantar Astrid ke kamar mandi
Setelah beberapa saat Mereka keluar dengan hasil tes di tangan guru, Millie terkejut saat guru itu menunjukkan hasil tesnya
"Gimana kamu lihat kan? kamu mau apa sih sebenarnya? kamu tau gak apa dampaknya buat mereka berdua kalo kamu sembarangan fitnah begitu? "
"Bu.. saya berani sumpah ini bukan fitnah" Ucap Millie
"Kamu keterlaluan, ibu akan panggil orang tua kamu" guru meninggalkan Millie bersama Roy dan Astrid
"Lo dalam masalah" Roy menjentikkan jarinya di hadapan Millie lalu pergi
"Lo keterlaluan... gue berniat bantuin lo sementara ini yang lo lakuin? thanks " Millie pergi meninggalkan Astrid sendiri
"Gue cuma gak mau lo terlalu jauh ikut campur, gue gak mau lo dalam masalah yang lebih besar, maafin gue" Astrid sebenarnya menukar hasil tesnya dengan yang dia bawa di sakunya, Astrid sudah mengira hal ini akan terjadi maka dari itu dia membawa hasil tes itu ke sekolah
Millie keluar dari UKS dengan perasaan kesal menuju kelasnya, semua murid berkumpul di mading membuatnya penasaran
Millie membelah kerumunan betapa terkejutnya dia melihat foto fotonya bersama Rafael terpampang di dinding, mereka menatap ke bawah lalu kembali menatap foto tersebut dan sepatu yang di gunakan Millie sama dengan foto di mading
"Sama"
"Jadi selama ini mereka punya hubungan? "
"Gue cemburu"
"Please... gue mimpi kan"
__ADS_1
"Bangsat" Millie menarik kasar foto foto itu dari mading dan meremas nya
"Siapa yang tempel disini? siapa? " teriak Millie
"Bukan gue" semua orang menggeleng, siapa yang berani menyinggungnya bahkan mereka tidak berani membicarakan hal buruk pada Millie
"Kalo gue sampe tau siapa yang pasang di sini, habis lo" Millie memasukkan foto tersebut ke dalam tempat sampah lalu pergi
Millie tiba di kelas dengan wajah yang muram sampai-sampai Dita dan Niko saja tidak berani bertanya, Rafael masuk ke dalam kelas membuat murid murid gaduh
"Pak.. bapak pacaran sama Millie ya? "
"Itu sepatu dari bapak ya? "
"Pak itu kan sepatunya mahal banget, bapak sweet deh"
" Bapak.. aku cemburu"
"Patah hati masal kita pak" Melihat wajah Millie yang kesal Rafael menghampiri Millie dan mengangkat dagunya dengan jari telunjuk
"Senyum dong kok murung gitu" Para murid murid itu membulatkan matanya
"Jangan gini.. malu" Millie bicara berbisik menurunkan tangan Rafael
"Untuk menjawab pertanyaan kalian.. Millie memang pacar saya" Rafael mencolek hidung Millie
Kabar ini akan begitu cepat menyebar di sekolah, Millie yakin dia akan terkena masalah lagi setelah ini dan benar saja Millie dan Rafael di panggil ke ruang guru saat pelajaran berlangsung
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Disini Max di ruang guru bersama Millie, Roy juga orang tuanya, Sebenarnya Roy tidak menelpon ayahnya namun Max sengaja mengajaknya ke sekolah
"Ada apa ini? kenapa muka kamu? "
"Maaf Rudi ini ulah anakku Millie, mereka berantem"jawab Max
" Apa? kalah sama anak cewek? " Rudi menatap anaknya juga Millie yang tidak ada luka sama sekali
"Saya memanggil wali dari Millie karena ada beberapa masalah yang Millie buat" Guru menceritakan tentang Astrid dan Roy juga masalah Rafael yang berpacaran dengan muridnya
"Masalah itu memang sebelum ini Millie sudah meminta bantuan saya untuk menolong anak yang bernama Astrid ini, bahkan sekarang ibunya bekerja perusahaan saya sebagai OB karena anakmu membuatnya di pecat"
"Dia ibu tunggal jadi semua beban keluarga dia tanggung sendiri, jadi saya yakin Millie tidak berbohong, mungkin ada sesuatu hal yang membuatnya menyangkal" lanjut Max
"Tapi dia sudah melakukan tes dan hasilnya negatif, Kita bawa saja anak itu ke dokter untuk memastikan.. maaf Rudi bukannya tidak percaya dengan anakmu hanya saja sebelum masalah ini sampai ke telinga guru Millie lebih dulu meminta bantuanku" ucap Max
__ADS_1
"Aku akan percaya setelah ada bukti, memang harusnya anak itu di bawa ke dokter"
"Pa.. ini gak perlu di perpanjang udah lah" sergah Roy
"Kenapa lo protes kalo lo emang gak salah, lo gak perlu takut kalo emang lo gak salah" ujar Millie
"Dan masalah pak Rafael dan Millie mereka berpacaran, saya takut ini akan mempengaruhi citra sekolah" ucap guru
"Kita tidak melakukan hal hal yang membuat buruk citra sekolah bu, lagi pula kami sangat menjaga sikap di sekolah dan foto foto itu di luar sekolah, bukankah itu wajar? " ucap Rafael
"Tapi ada beberapa siswa yang mengusulkan agar Millie di pindahkan dari sekolah ini, mereka mengklaim Millie sudah terlalu sering berbuat onar"
"Anak anak yang mana bu? pindah ya pindah aja paling sekolah kehilangan investor terbesar dan murid yang mengharumkan nama sekolah" ucap Millie dengan percaya diri
"Maaf anak saya memang agak agak lancang, kalau begitu siapkan saja formulir untuk pemindahan Millie besok saya akan pindahkan dia" mendengar perkataan Millie guru itu terdiam sejenak
"Masalah ini biar saya yang tangani, kita utama kan dulu kasus Astrid karena jika memang ini benar maka akan mencoreng nama baik sekolah" jawab guru
"Baiklah... sebaiknya kita bawa anak itu ke rumah sakit sekarang" Max berdiri begitupun Rudi
"Kalo sampai terbukti benar, habis kamu" ucap Rudi pada anaknya
"Agak agak nakal" ucap Rafael seraya menarik pinggang Millie ketika dia hendak pergi
"Jangan macem macem di sekolah, disini kita guru dan murid" Millie melepaskan tangan Rafael
"Kalo di luar boleh dong? " goda Rafael
"Au ah" Millie menyusul papanya untuk membawa Astrid ke rumah sakit
Terjadi perdebatan karena Astrid menolak juga Roy yang masih dengan alibinya bahwa Millie memfitnahnya, Akhirnya Millie mengancam untuk memecat ibunya dari kantor Max barulah Astrid menjadi penurut
Setibanya di rumah sakit Astrid di periksa oleh dokter di temani Millie dan guru perempuan yang ikut, tangannya gemetar karena kepanikannya Millie yang menyadari itu menggenggam tangan Astrid untuk menguatkannya
Sementara di luar Roy izin ke toilet pada Max dan Rudi namun setelah beberapa saat dia tidak kunjung kembali, Max dan Rudi mencari ke toilet ternyata tidak ada dia sudah kabur
Rudi mengepalkan tangannya erat dengan wajah memerah menahan amarah, dokter sudah mengatakan semuanya dan guru pun meminta maaf pada Millie dan Max begitu pun Astrid
"Saya takut tuan dia mengancam akan menyakiti ibu dan saya kalo membuka mulut, dia menjanjikan saya uang untuk aborsi dan dia membujuk saya agar tidak memperbesar masalah ini agar saya bisa terus melanjutkan sekolah"
"Dia juga mengancam.. Papanya yang seorang polisi tidak akan membiarkannya di penjara jadi percuma kalo saya melapor, maaf tuan jangan pecat ibu saya" lanjut Astrid seraya menangis tersedu
"Kamu salah nak.. Rudi adalah polisi yang jujur dia akan menghukum siapapun yang bersalah tanpa terkecuali, kita akan mencari jalan keluarnya kamu tenang aja" ucap Max
"Maafin anak om.. om udah gagal mendidik dia, kamu tidak akan menderita semua akan om tanggung dan anak ini tidak akan lahir tanpa ayah, saya janji" ucap Rudi
__ADS_1
"Makasih om... saya kira om akan membela anak om, kak Millie maaf "
"Gak apa apa, semua udah selesai lo bisa duduk tenang di rumah.. jangan terlalu banyak pikiran sekarang hidup kalian udah terjamin" ucap Millie