
"Sayang nanti sore aku pulang telat ya, aku di undang kolega bisnis aku buat datang ke pembukaan restauran baru dia"
"Kolega yang mana?" tanya Millie
"Itu loh yang waktu itu aku anterin pulang"
"Oh.. terserah " jawab Millie dingin
"Beneran? kamu mau di bawain apa nanti?" tanya Rafael sambil berjalan ke arah lemari
"Gak usah.. aku juga mau pergi nonton sama Aldi sama tiga sahabat aku juga" Rafael seketika menghentikan langkahnya
"Apa? coba bilang sekali lagi?"
"Aku mau nonton nanti sore sama temen sekolah aku jadi kalo kamu mau pergi ya... pergi aja" Millie masih cuek sambil memakai kaos kaki
"Aku gak izinin dan gak akan pernah izinin kamu pergi sama mereka" Rafael tiba-tiba mendorong tubuh Millie hingga terlentang
"Lepasin nanti baju aku kusut, aku mau sekolah" Millie berontak ketika Rafael menahan kedua tangannya
" Kamu gak boleh pergi"
"Kenapa? aku aja izinin kamu pergi kan? pake baju dulu sana" Millie merasa risih melihat suaminya hanya menggunakan handuk juga posisinya yang berada di atas tubuhnya
"Masih tanya kenapa? kamu istri aku jadi kalo aku gak izinin kamu gak boleh pergi, atau... kamu boleh pergi tapi..." Rafael menatap Millie dengan tatapan nakal
"Aku gak pergi.. Udah sana pake bajunya" dengan cepat Millie menjawab sambil memalingkan wajahnya
"Muka kamu kenapa merah gitu? " goda Rafael
"Pake baju kamu risih aku liatnya"
"Iya" Rafael bangkit dari atas tubuh Millie sambil menarik tangan Millie untuk membangunkannya
"Sayang liat dulu" Millie yang melanjutkan memakai kaos kaki mengangkat kepalanya menatap Rafael
Tiba-tiba Rafael membuka handuknya membuat Millie dengan cepat menutup wajahnya dengan telapak tangan, Rafael tertawa saat melihat Millie berlari keluar kamar dengan wajah tertutup sampai sampai dia menabrak tembok
"Segitu paniknya dia" Rafael menggeleng melihat kepanikan Millie padahal dia sudah memakai underwear
"Gila... ngapain dia buka handuknya? untung gue gak liat" gumam Millie
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Di sekolah seperti biasa Millie berkumpul dengan tiga sahabatnya juga Dita dan Niko, mereka cekikikan membahas hal hal yang tidak jelas
"Liat tuh kepala pak Seno kena cahaya matahari makin silau aja" ucap Jason membuat mereka kembali tertawa
"Heh.. gak sopan, kalo dia denger baru tau" sergah Dita
"Emang bener silau Dita, liat aja" Millie memutar kepala Dita agar melihat guru botak yang sedang berjalan di lapangan
"Iya juga sih" jawab Dita dengan polosnya membuat mereka kembali tertawa
"Udah ah kita pergi aja gabung sama mereka gak bener " Niko menarik Dita pergi dari sana
__ADS_1
"Yee.. gak seru loh" cibir Millie
"Gimana nanti sore jadi gak nih?" tanya Jason
"Gak jadi.. gue.. gue ada acara" jawab Millie
"Ahh.. Lo akhir akhir ini kalo di ajak jalan nolak mulu" ucap Roy
"Gue tau nih.. kak Rafael gak ngizinin kan?" tebak Jason
"Ya... Lo tau sendiri kan?" lirih Millie
"Ya udah sih bisa lain kali kita pergi kalo kak Rafael ngizinin"
"Iya sih.. tapi sekarang gak asik aja, Lo di ajak kemana mana susah" ucap Jason
"Gue juga mikir gitu, tapi gimana lagi dia sebenernya udah jadi suami gue" perkataan Millie membuat ketiga sahabatnya terkejut
"Apa ? suami lo?" ucap mereka bersamaan
"Sssttt... jangan kenceng kenceng" bisik Millie
"Wih.. Lo udah nganu dong?" ledek Jason
"Enak aja.. gue belom di apa-apain"
"Yah.. rugi dong nikahin Lo?" sahut Roy
"Bodo amat.. gue gak minta di nikahin juga"
"Gimana ceritanya Lo married masih sekolah?" tanya Jason
"Millie.. Millie.. kecil kecil udah married aja" ketiga sahabatnya terus saja meledek Millie
"Diem Lo pada berisik, nyesel gue kasih tau" Millie pergi meninggalkan mereka
"Yee.. kok ngambek? woi mil"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Kamu gak perlu jemput, aku bawa mobil sendiri"
"El.. kamu masih marah? aku harus gimana biar kamu gak marah lagi?" Dirga merutuki kebodohannya
Kenapa juga dia sering membicarakan Millie saat sedang bersama Ellia, Dirga memang merasa kehilangan teman seperti Millie apalagi setelah Millie mengenal Rafael
"Aku cuma ngerasa kehilangan Millie sebagai teman aja"
"Terserah kamu deh.. aku duluan ya" Ellia pergi meninggalkan Dirga dengan mobilnya
"Gimana cara jelasinnya?" gumam Dirga sambil menggaruk kepalanya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Hari Ini Ello dan Irene pergi ke supermarket sementara kedua bayi kembarnya dia titipkan pada bibi di rumah, Ello sedang menerima telepon sementara Irene sedang memilih buah dan sayur
__ADS_1
"Yang.. kamu mau buah apa?" Irene menghampiri Ello
"Aku apa aja, bentar papa lagi telepon "
"Ohh.. ya udah aku yang pilih aja ya" Ello hanya mengangguk sebagai jawaban
"Ehh.. Irene ya? gue pangling banget" Irene berpapasan dengan teman teman kuliahnya
"Kalian belanja juga?"
"Iya.. kita lagi ngabisin waktu aja libur kuliah" Irene hanya tersenyum
"Gue duluan ya masih banyak yang harus di beli" Irene seperti ingin menghindari mereka karena tatapan mereka membuat Irene canggung
"Sekarang Lo agak gemukan ya?"
"Iya.. hati hati Lo, suami Lo kan banyak yang naksir kayaknya Lo harus jaga penampilan deh"
"Iya.. kalo gini entar disangka lagi jalan sama emaknya" ledek mereka sambil tertawa kecil
"Ada yang lucu ya? kalian lanjutin aja deh ketawanya gue permisi" Irene hendak pergi namun mereka menahan keranjang yang di dorong Irene
"Gimana rasanya dapetin cowok yang Lo kejar kejar selama ini?"
"Pasti seneng dong? apalagi gue liat Ello sayang banget sama anaknya"
"Tapi... jangan jangan Ello cuma perhatian di media sosial aja?"
"Gue gak yakin Ello bisa terima Lo secepat itu, dulu aja dia benci banget sama Lo"
"Kalian kenapa sih? gue rasa gak pernah bikin masalah sama kalian deh, bisa gak sih gak usah ikut campur? mau hidup gue bahagia kek mau enggak kek, mau suami gue perhatian atau enggak itu gak ada urusannya sama kalian"
"Gue gak habis pikir kenapa ada orang orang seperti kalian yang iri melihat orang lain lantas menjatuhkan mental orang tersebut, kalian pikir hidup kalian sehebat apa? " lanjut Irene
"Biasa aja dong jangan sewot gitu"
"Gue dari tadi diem aja kalian yang keterlaluan, punya mulut di pake buat hal yang berguna kalo gak berguna sebaiknya kalian buang aja mulut kotor kalian" ucap Irene lalu pergi meninggalkan belanjaannya
"Loh belanjaannya mana?" tanya Ello saat berpapasan dengan Irene
Irene tidak menjawab dia pergi begitu saja membuat Ello kebingungan, Ello mengikuti Irene sampai keluar dari supermarket namun bukannya masuk ke mobil mereka Irene malah pergi dengan taksi
"Dia kenapa?" Ello mengejar Irene dengan mobilnya
Beberapa pesan juga panggilan dari Ello tidak Irene hiraukan, dia sengaja naik taksi karena tidak ingin Ello melihat dirinya sedang menangis
Sesampainya di rumah Irene membayar ongkos taksi saat Ello baru saja sampai, Ello mengejar Irene yang hendak masuk kedalam rumah
"Sayang tunggu.. kamu abis nangis?" Ello menahan Irene dan menatap wajahnya lekat
hidung Irene masih memerah tampak jelas dia baru saja selesai menangis, Irene mengucek hidungnya lalu tersenyum
"Enggak... aku gak enak badan jadi gak mood belanja" jawab Irene
"Tapi kenapa pulangnya naik taksi?"
__ADS_1
"Aku cuma gak mau kamu sampe ketularan aja, aku masuk ya mau istirahat bentar" Ello menatap kepergian Irene dengan kebingungan
"Ada apa sama dia? jawabannya gak masuk akal" gumam Ello