
"Kenapa dia gak nanyain antingnya yang hilang? " Ello menatap sebuah potongan rantai kecil
Entah itu potongan dari gelang, kalung atau anting namun Ello menyangka bahwa itu adalah sebuah potongan anting di lihat dari kecilnya rantai berujung bunga tersebut
"Apa gue harus bener-bener nikahin dia? gue belum siap, dia emang termasuk kriteria gue tapi kenapa gue ngerasa biasa aja" gumam Ello
Ello memasukkan kembali rantai kecil itu ke dalam dompetnya, rantai itu dia temukan saat terbangun di hotel itu
"Kak.. " Millie yang baru pulang dari rumah sakit tiba-tiba membuka pintu nya
"Ketuk dulu Millie"
"Sorry lupa... gue kangen, lo gak pernah jengukin gue waktu gue di rumah sakit" Millie memeluk Ello hingga terjengkang kebelakang
"Manja banget sih, orang udah punya pacar juga" Millie memeluk dari samping sambil berbaring
"Pacar beda sama kakak, kalo kakak kan di peluk peluk gini gak apa apa"
"Awas aja lo berani macem macem sama Rafael" Millie mendongak menatap wajah Ello
"Lo juga macem macem, sekali kali boleh lah" Ello melirik dengan tatapan tajam
"Hehe.. becanda, tapi serius gue nanya gimana rasanya? ''
" Millie... nyesel gue ngomong ada " Ello langsung mendorong Millie menjauh dari tubuhnya
"Iya.. iya gue becanda.. mau peluk" Millie merengek kembali merangkak mendekati Ello
"Enggak.. pergi sana, gue males ngomong sama lo" Ello menahan kepala Millie
"Gue becanda doang kak" Millie tertawa berusaha menepis tangan Ello
Ello memukul kaki Millie hingga dia meringis, Millie membalas perbuatan Ello hingga mereka berkelahi kecil
"Mama.... mama.. kak Ello ma.. mama kak Ello jahat" Millie berteriak memanggil Allea
"Hahha.. mau lari kemana kamu, rasain nih" Millie menelungkup dengan tangan di kunci pergerakannya oleh Ello, Ello juga mengetuk kepala Millie dengan jarinya
"Astaga.. adik kamu baru sembuh" Pekik Allea saat masuk ke kamar Ello
"Kakak duluan ma liat kaki aku" Millie menunjukkan betisnya yang memerah karena di tampar Ello
__ADS_1
"Ini juga sakit dia tonjok" Ello menunjukkan lengannya yang memar karena di tonjok Millie
"Kalian kalo becanda suka kelewatan deh, Ayo kamu keluar" Allea membawa Millie pergi keluar kamar Ello
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Telepon Rafael suruh kesini sekarang" titah Max
"Mau ngapain pa? masih pagi" tanya Millie
"Telepon aja, dia mau jadi pacar kamu gak? " Millie pun mengikuti perintah papanya
Beberapa saat kemudian Rafael pun datang saat mereka hendak sarapan, Bibi mengantar Rafael ke meja makan sesuai perintah majikannya
"Makan dulu, setelah ini kamu ikut saya" ucap Max
"Baik Om" Mereka menyelesaikan sarapannya
Max mengerjakan sesuatu terlebih dahulu di ruang kerjanya sebelum memberikan tugas, saat kembali Max melihat Millie sedang bicara berhadapan dengan Rafael sambil Berpegangan tangan
"Gak usah pegangan kayak mau mau nyebrang aja'' Max memisahkan tangan Millie dan Rafael
"Kamu ikut saya " Ucap Max
"Kalo mau jadi pacar kamu dia harus kuat dong, kalo gak kuat gimana dia bisa lindungi kamu, ayo pergi" Ketika Max berjalan lebih dulu Rafael mencuri-curi kesempatan mencium pipi Millie lalu pergi
"Cih.. " Millie tersenyum memegangi pipinya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Sayang kamu gak kuliah nak? " mama Irene mengetuk pintu kamar nya
"Aku lagi sakit ma.. " Ucap Irene menyembulkan sedikit kepalanya
"Kamu sakit apa, gak demam kok? mata sampe bengkak gitu, kita ke dokter aja ya"
"Gak usah ma.. aku mau tidur dulu ya" Irene kembali kedalam namun saat hendak membuka pintu mama Irene mendorong paksa pintu anaknya
Kamarnya begitu berantakan, barang barang pecah dimana-mana, bantal rusak isinya berhamburan, sprei sudah tidak berbentuk, mama Irene membulatkan matanya menutup mulutnya yang menganga
"Kamu kenapa nak? kenapa bisa sehancur ini? " Irene memeluk Mamanya sambil menangis tersedu-sedu
__ADS_1
"Kenapa sayang? cerita sama mama" Mama Irene membawa anaknya duduk di ranjang, Irene meringkuk dalam dekapan ibunya
"Kenapa sayang? mama gak pernah lihat kamu sesedih ini"
"Aku gak apa apa ma... aku cuma merasa hidup ini gak adil" mama Irene mengusap air mata putrinya
"Apa yang gak adil? hidup kamu yang mana? kamu gak pernah hidup susah dari kecil, kamu cantik, banyak yang sayang sama kamu, apa sebagian kecil kesulitan di hidup kamu membuat kamu mengira hidup tidak adil? kamu harus lebih banyak bersyukur sayang"
"Apa kehilangan hal yang berharga di hidup aku itu adalah hal kecil ma? padahal aku begitu banyak menyimpan ketakutan, aku takut tidak ada yang mau akan menerimaku, aku takut hamil, aku takut mama dan papa kecewa, aku takut hidup aku hancur" batin Irene
"Kamu gak mau cerita? gak apa apa.. semua akan baik baik saja, kalo kamu merasa tidak bisa melaluinya sendiri kasih tau mama" orang tua Irene adalah orang tua yang tidak banyak melarang juga mengerti privasi sang putri bahkan tidak pernah masuk ke dalam kamar Irene tanpa mengetuk pintu, mereka memberikan kepercayaan pada anak tunggalnya
"Iya ma"
"Jangan nangis dong... kamu jangan menyiksa diri kamu sendiri, sekarang pergi mandi dan main lupakan masalah kamu sejenak" Ucap Mama Irene
Irene telah selesai bersiap dan pergi dengan mobilnya menuju rumah Millie, dia membuat janji dengan Millie untuk pergi bersama hari ini
"Masuk dulu kak, gue ganti baju bentar ya" ucap Millie
Irene menunggu di ruang tamu samar-samar dia mendengar suara beberapa orang mengobrol di ruang tamu, Irene sedikit mengintip ternyata diruang keluarga ada Allea, Ellia, Ello dan Arumi
Irene mendengar tentang kejadian di malam itu ketika Allea bertanya yang terjadi sebenarnya pada Arumi, Ellia melihat keberadaan Irene lalu bangun dan menghampirinya ke ruang tamu
"Kamu denger ya? ayo ikut aku" Ellia membawa Irene keluar rumah
"Kamu dengar kan? itu alasan kenapa Ello dan Arumi pacaran, malam itu saat kita di bandung Ello gak sadar melakukan itu sama Arumi jadi mau tidak mau dia harus bertanggung jawab" Irene terkejut mendengar ucapan Ellia
"Kamar 105? " Tanya Irene
"Aku gak tahu pasti kamar berapa, itu hanya Ello dan Arumi saja yang tau" jawab Ellia
"Jangan kasih tau orang soal ini ya.. aku percaya sama kamu" ucap Ellia, Irene hanya mengangguk lemah
Irene mulai curiga bahwa orang yang bersamanya malam itu adalah Ello, aroma parfum serta suara gumaman pria itu sama dengan Ello
"Kak ayo" Irene tersadar dari lamunannya
"Ellia gue duluan ya" ucap Irene
"Kalian hati hati ya" Irene dan Millie pun pergi meninggalkan rumah Max
__ADS_1
Irene tidak bisa tenang dia terus berpikir apakah pria itu Ello atau bukan, jika pria itu Ello haruskah dia bersyukur? tapi jika bukan maka kehancuran di hidupnya akan terus dia rasakan
Jangan lupa like komen vote dan sajen ya 😍😍