
"Mau kemana? " Ello menahan tangan Irene
"Gue malu" lirih Irene dengan suara bergetar
Ello memutar tubuh Irene ternyata dia sedang menangis, Ello memeluk Irene tanpa berkata-kata hanya itu bisa dia lakukan
Keadaan ini bukan keinginan mereka berdua semua terjadi tanpa di duga, Ello juga tidak pandai mengatakan kata kata yang menenangkan
"Kita akan percepat pernikahannya" ucap Ello
Mereka yang penasaran mengintip mereka yang berada di lorong kampus dengan Ello memeluk Irene, mereka merasa iri pada Irene karena dapat kesempatan Ello yang selama ini puja-puja
"Gue mau pulang" Irene menyadari kehadiran mereka dan melepaskan pelukan Ello
"Jalan pelan aja, lo lagi hamil" Ello meraih tangan Irene menggandeng nya menuruni anak tangga
"Apa gue mimpi? "
"Omg.. pengen banget di gandeng gitu"
"Apa si Irene jebak Ello? secara dia ngejar-ngejar Ello dari dulu"
"Atau dia pelet? "
"Ello sweet banget sih walaupun gak banyak ngomong"
"Cowok itu kan yang penting tindakannya bukan cuma omong doang"
"Gue gak rela kalo Irene dapetin Ello"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Kenapa kamu mengatakan itu di hadapan banyak orang? " Ellia menarik Arumi ke tempat sepi
"Itu kenyataan, Irene emang hamil duluan"
"Kenapa kamu mempermalukan Irene? padahal dia diam dengan semua kebohongan kamu" ucap Ellia
"Gue juga korban, lantas siapa yang melakukan itu sama gue? " Arumi membuat wajah sesedih mungkin
"Kan sudah jelas jelas yang ada di kamar bersama Ello itu Irene, itu juga di yakini sama Ello sendiri, harusnya kamu jangan ngaku ngaku? kalo Ello benar-benar menikahi kamu bagaimana dengan Irene? kamu licik... harus sebagai wanita kamu mengerti apalagi merasakan hal yang sama" ucap Ellia lalu pergi
"Kalian hubungan kalian akan berjalan lancar? dendam gue bertambah satu lagi" gumam Irene
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Mami aku pulang dulu ya" ucap Millie
"Iya sayang.. ini bawa kue buat keluarga kamu"
"Makasih mami" Millie mencium tangan Mami Rafael pergi bersama dengan Rafael
Anna hanya memandang kesal pada Millie yang sedang di pasangkan helm oleh Rafael, sepanjang perjalanan Millie hanya diam
"Kenapa diam? " tanya Rafael
"Aku udah tau kenapa kamu marah sama Anna" jawab Millie
"Dia masuk kamar kamu diam diam kan? lalu apa yang dia lakukan? " tanya Millie
'Dia mau p*rk*s* aku"ucap Rafael sambil terkekeh
__ADS_1
"Isshh... aku nanya serius"
"Aku juga serius... Dia dorong aku ke ranjang terus.. "
"Terus kamu diem aja gitu? " ucap Millie dengan nada marah
"Gemes deh kalo udah marah marah" Millie memukul bahu Rafael
"Jawab kamu ngapain sama dia? "
"Aku langsung pergi, aku gak suka dia gak tau malu" jawab Rafael
Tiba-tiba saja hujan turun dengan begitu derasnya hingga keduanya terpaksa berhenti untuk meneduhkan, cukup lama mereka tinggal disana namun hujan tak kunjung berhenti
"Mau pada kemana? " Mobil Aldi berhenti di hadapan mereka
"Mau pulang nunggu hujan reda" jawab Millie
"Mau ikut gak? " Millie melirik Rafael
"Gak deh makasih"
"Kami ikut aja takut sakit" ucap Rafael
"Iya.. kayak hujannya juga gak bakal reda" Aldi hendak membukakan pintu
"Gak usah.. gue mau nikmatin hujan lo duluan aja"
"Beneran? " tanya Aldi
"Iya.. lo duluan aja"
"Peluk dong dingin" ucap Millie
Rafael melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Millie, hujan sedikit mereda Rafael mengambil sesuatu di bawah jok motornya
"Kamu pake kita pulang keburu gelap" Rafael mengambil jas hujan dan memberikan pada Millie
"Tapi kamu? " jika yang Millie yang memakainya otomatis Rafael akan basah kuyup
"Yang penting kamu" Rafael membantu memakaikannya pada tubuh Millie
Mereka meneruskan perjalanan menembus lebatnya hujan
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Siapa di situ? " Sony baru saja membuka pintu kamarnya yang gelap, tiba-tiba sebuah bayangan melintas
Sony terburu buru menyalakan lampunya ternyata kamarnya kosong namun jendelanya terbuka, di luar jendela tepatnya di balkon ada sebuah jejak sepatu
"Jadi bener tadi ada orang, tapi siapa? " Seseorang diam diam masuk ke kamar Sony
Sony mengecek semua barang-barangnya tapi tidak yang hilang satupun, semua utuh sepertinya orang itu belum sempat mengambil apapun
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Rafael sedang membaca buku di kamarnya sepulang dari rumah Millie, Karena pulang basah kuyup Rafael mengurungkan niatnya ke bengkel
Dia sekelebat bayangan di luar jendelanya perlahan-lahan Rafael berjalan jendela, dia membuka jendela tersebut tidak siapapun disana
"Apa gue salah liat? " Rafael mengecek keadaan di luar dia takut ada orang jahat berniat masuk
__ADS_1
Saat kembali mengunci pintu depan tiba-tiba terdengar suara barang-barang jatuh di kamar William, Rafael segera berlari menuju kamar William
Pria itu tergeletak di bawah dengan keringat membasahi tubuhnya, Rafael mengangkatnya dan merebahkan kembali tubuhnya di ranjang
"Lo kenapa? mau sesuatu? " William menggelengkan kepalanya dengan lemah
"Ya udah tidur, biar gue tidur disini.. kalo butuh sesuatu lo bisa bangunin gue" ucap Rafael lalu tidur di samping William
Keadaannya kini semakin membaik dan menunjukan perkembangan, dia bisa menggerakan sedikit kepalanya
William bernafas lega lalu memejamkan matanya saat melihat Rafael sudah tidur lebih dulu
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Anggia tidak berhenti menangis karena pacarnya tidak juga di temukan, Cindy juga tidak bicara dia menjadi pendiam dan sering menangis diam diam
Danendra begitu sakit kepala memikirkan masalah anaknya, dia sudah meminta bantuan Max dan sekarang anak buah Max sedang mencari pemuda tersebut
"Makan.. jangan nangis " ucap Danendra dingin pada Anggia lalu pergi
Anggia melemparkan piring tersebut lalu menggoreskan pecahannya pada pergelangan tangannya, Anggia tidak memiliki semangat untuk hidup lagi setelah apa yang terjadi padanya
Dia malu pada orang tuanya juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan setelah ini, tubuh Anggia tergeletak di bawah bersimbah darah
Bibi di rumahnya berniat menyimpan baju Milik Anggia, baru saja bibi masuk dia menjerit ketika melihat anak majikannya bersimbah darah dengan wajah pucat
Danendra dan Cindy berlari ke kamar anak semata wayangnya, Cindy mengangkat anaknya dan memangku kepalanya
"Anggia.. kenapa kamu melakukan ini.. " Cindy menangis pilu
"Gak ada waktu kita harus bawa dia ke rumah sakit" Danendra mengangkat tubuh Anggia membawanya ke dalam mobil
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Niko mereka.. mereka.. " Dita dan Niko baru pulang dari bioskop, mobilnya di ikuti sekumpulan geng motor
Dita mengenali jaket mereka membuatnya ketakutan, Niko mempercepat laju mobilnya namun masih saja mereka bisa menghadang mereka
"Jangan keluar" ucap Dita menahan tangan Niko
Tiba-tiba saja jendela mobil Niko di pecahkan membuat Dita menjerit, Niko di tarik keluar dan berusaha melawan mereka
Niko yang tidak terlalu pandai berkelahi tentu dapat dapat dengan mudah di kalahkan, beruntung Dirga dan Ellia datang tepat waktu
Ellia memeluk Dita yang ketakutan sementara Dirga membantu Niko, ketika hampir kalah sebuah berhenti dan terdengar suara tembakkan yang mengenai roda motor salah satu dari mereka
Para geng werewolf lari tunggang langgang meninggalkan motor tersebut, mereka melirik ke arah mobil tersebut ternyata itu adalah mobil Max
"Wihh.. kakak punya pistol? " mata Niko berbinar menghampiri Max
"Mana gak ada? tadi cuma ketapel.. ayo pulang" ucap Max lalu masuk ke dalam mobilnya
"Ketapel? " Niko menggaruk kepalanya
"Bocil gampang banget di boongin" ucap Dirga
"Lo pulang sendiri aja, Dita gue bawa" lanjutnya
"Tapi kak.. "
"Dia babak belur biarin pulang biar langsung di obatin" ucap Dirga
__ADS_1