
"Ini gak di kunci" Anggia membuka pintu rumah Rendi
Baru saja beberapa langkah dia keluar tiba-tiba mobil mama Rendi datang, Anggia hendak lari namun dia berhasil di tangkap dan di bawa kembali kedalam rumah
"Lepas.. lepasin gue mau pulang, gue mau ketemu mama sama papa'' Anggia menangis meronta ketika dipegangi
" Lo berani keluar dari sini? lo harus di kasih pelajaran " Rendi kembali memukuli Anggia bahkan kali ini lebih parah
Keduanya menyiksa Anggia sampai menendangnya berkali-kali, Anggia menjerit kesakitan namun tidak membuat mereka berhenti
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Jemari Rafael bergerak bersamaan dengan matanya yang mengerjap, Mami Rafael berdiri dari duduknya menghampiri anak semata wayangnya
"Sayang kamu sudah sadar nak, kamu bisa lihat mami kan? " Rafael mengangguk lemah
Rafael mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan lalu memejamkan matanya sejenak, Pintu ruangan perlahan terbuka William dan Anna masuk bersamaan
"Millie mana? " Suara Rafael lirih dan lemah
"Kamu udah 5 hari koma sekarang baru sadar jangan mikirin apa apa dulu, wil panggil dokter"
"Baik tante" William keluar untuk memanggil dokter
"Beruntung semuanya tidak ada yang bermasalah, hanya kaki dan tangan mungkin akan agak lama untuk sembuh" Dokter memeriksa keseluruhan tubuh Rafael lalu tersenyum merapihkan kembali alat-alatnya, Rafael menahan tangan dokter yang hendak pergi
"Gadis berseragam sekolah.... " Bicara beberapa kata saja sudah membuat Rafael lelah
"Gadis itu baik baik saja, dia menghilang setelah mengantar kamu kesini" wajah Rafael terlihat murung
"Ada yang sakit kak? aku khawatir selama kakak koma" ucap Anna, Rafael tidak menjawab tatapannya lurus
"Bang gimana perasaan lo? " William menghampiri Rafael
"Millie.... " Rafael menoleh pada William
William mengerti apa yang di maksud Rafael dan membisikkan sesuatu, setelah di bisikkan oleh William wajah Rafael tampak berseri
"Nanti kalo gak ada siapa siapa gue bawa Millie kesini" bisik William
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Lo tau rumah Rendi kan? " Millie menelpon William
"Tau.. kenapa emang? "
"Anterin gue kesana" ucap Millie
"Mau ngapain? Jarang di rumah juga, dia lebih banyak tinggal di markas"
__ADS_1
"Gue ada urusan penting, kalo bisa lo jemput gue di rumah"
"Gue otw ke sana" ucap William
Millie sudah bersama William dalam perjalanan menuju rumah Rendi, Millie selalu seperti sedang memikirkan sesuatu saat bersamanya
"Lo mikirin apa? " Tanya William.
"Keadaan Rafael gimana, udah ada perkembangan? "
"Liat ada tukang bakso, lo mau gak? " William terkesan mengalihkan pembicaraan
"Enggak... gue pengen cepet sampe"
"Nih satu belokan lagi" William menunjuk jalan
"Dari situ deket gak? atau masih jauh? " tanya Millie
"Deket.. rumah gede warna abu hitam yang gerbangnya warna gold"
"Stop... Lo tunggu di sini aja, gue jalan kaki kesana" Millie menepuk bahu William agar menghentikan motornya
"Gak.. kalo lo kenapa napa gimana? "
"Cuma Rendi, gue bisa urus sepuluh Rendi sendirian" Millie turun menyerahkan helm yang digunakannya pada William lalu pergi
Millie mendengar suara Anggia menjerit jerit dari dalam rumah, saat hendak mendobrak pintu rumah Rendi tiba-tiba tangan Millie di tarik kebelakang
"Kalo kita masuk kemungkinan besar mereka akan melaporkan kita sama polisi dengan tuduhan palsu, kita telepon polisi biar mereka tahu yang sebenarnya" William menelpon polisi sementara Millie merekam suara lirih Anggia minta tolong yang sudah melemah
Beberapa polisi datang lalu seseorang mengetuk pintu rumah Rendi, mama Rendi membuka pintu dengan senyuman nya
"Ada yang bisa saya bantu pak? ucap mama Rendi dengan ramah
" Saya mendapatkan laporan bahwa di rumah ini telah terjadi tindak penganiayaan, Bisa saya periksa rumahnya "
"Penganiayaan? ahaa.. sepertinya terjadi kesalahan pak, disini tidak ada penganiayaan" ucap Mama Rendi
"Minggir lama" Millie tiba tiba mendorong mama Rendi hingga dia bisa masuk ke dalam rumah
"Anggia... Anggia.. dimana lo Anggia" Millie berteriak namun tidak ada jawaban dari Anggia
"Ini anak siapa sih? hei.. punya sopan santun gak sih? " Mama Rendi menarik tangan Millie
Millie melihat ada ceceran darah dan mendorong mama Rendi lalu mengikuti jejak darah yang mengarah ke satu kamar, Millie mengetuk kamar tersebut namun tidak juga ada yang membuka
"Hei... kamu siapa sih? keluar gak? "
"Kamu.. apa yang kamu, menjauh dari sana" ucap polisi namun Millie tidak mendengarkan dan mendobrak pintu kamar tersebut
__ADS_1
"Dimana Anggia? " teriak Millie
"Gue gak tau, apa lo gila geledah rumah orang sembarangan? "
"Gue gak sembarangan, mana Anggia, bajingan? " Millie menyerang Rendi dan terjadi perkelahian diantara mereka
Polisi melerai keduanya dan mulai menggeledah isi rumah Rendi, polisi menggeledah isi kamar yang di curigai Millie namun tidak menemukan apapun
Millie mendengar sayup sayup suara minta tolong di belakangnya, saat Millie membuka lemari di belakangnya begitu terkejutnya Millie saat tubuh Anggia terhuyung menimpanya
Anggia di bawa menggunakan mobil polisi menuju rumah sakit sementara suami dan mertuanya di bawa ke kantor polisi, Millie merasa iba melihat keadaan Anggia yang sudah tak berbentuk
Wajahnya di penuhi lebam dan bengkak serta tubuhnya juga lebam lebam, dari kakinya mengalir darah segar Millie benar benar tidak habis pikir kenapa Anggia bisa memilih lelaki seperti itu
"Gimana keadaannya? " tanya William yang menyusul kesana
"Belum tau.. masih di periksa dokter"
"Gue gak habis pikir, kenapa cowok tega melakukan kekerasan sama cewek padahal tenaga mereka itu lemah" ucap Millie
"Gak tau.. gue cowok tapi gue gak gitu" jawab William
"Gue gak tega liatnya, gak kebayang gimana perasaan papa kalo gue ada di posisi Anggia"
"Gak mungkin lah.. lo bisa dobrak pintu, berantem, cowok mana berani KDRT sama lo" cicit William langsung mendapat tatapan maut dari Millie
"Bercanda"
"Rafael gimana kabarnya? '' Tanya Millie
" Itu dokter keluar" lagi lagi William tidak memberitahu tentang Rafael yang sudah siuman
Millie segera menghampiri dokter untuk menanyakan keadaan Anggia
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Tolong HP gue" Rafael meminta handphonenya pada Anna untuk menghubungi Millie
"Handphone kakak di bawa mami, kata mami kakak gak boleh di kasih HP biar gak bisa hubungi Millie"
"Sini HP lo" ucap Rafael
"Gak.. kakak bisa gak sih lupain Millie? dia udah bikin hidup kakak itu menderita, kakak juga selalu celaka gara-gara dia"
"Lo kenapa sih? Apa masalahnya sama lo? yang luka gue yang kenapa lo yang sewot? " Rafael kesal dengan Anna yang sama saja dengan ibunya
"Karena aku sayang sama kakak, aku peduli sama kakak, aku gak mau kakak terluka berulang kali"
"Kakak liat dimana Millie saat kakak terbaring gak berdaya? dia malah deketin William, setiap hari mereka ketemuan, pergi bareng.. Millie gak pernah bener-bener peduli sama kakak" Lanjut Anna
__ADS_1
"Millie gak kayak gitu, Kalo lo gak punya bukti gak usah nuduh sembarangan gue percaya sama Millie"
"Kakak liat sendiri, aku harap kakak gak dibutakan cinta yang salah" Anna memberikan foto foto Millie dan William yang ada di handphonenya