
Irene mengangkat gelas hingga hampir menempel di bibirnya namun tiba-tiba seorang anak berlarian dan menyenggol tangan Irene hingga gelasnya jatuh dan pecah
"Ya ampun.. "
"Ini anak siapa sih? Jangan lari lari di tempat umum dong jadi minum orang jatuh" Arumi memarahi anak itu hingga hampir menangis
"Ssttt... Gak apa apa, mana kakak liat ada yang luka gak? " Irene berlutut di bawah menyamakan tingginya dengan anak itu
"Jangan nangis.. Gak apa apa" Irene mengelus kepala anak kecil itu
Ello ikut berdiri dan membantu Irene berdiri dan mengangkat anak itu sambil mencari keberadaan orang tuanya, Ello tak lepas menatap Irene yang berjiwa keibuan dia menghibur anak kecil yang menangis ketakutan
"Maaf mas mbak saya kecolongan" Seorang wanita berkacamata datang bisa di pastikan itu adalah ibu si anak
"Iya bu liat tuh ulah anak ibu minuman temen saya jadi jatuh" Arumi kesal karena minuman itu tidak di minum Irene
"Saya ganti minumnya ya mbak, sekali lagi saya minta maaf"
"Gak apa apa.. Lagi pula anak kecil belum mengerti apa apa, saya cuma khawatir dia terluka tapi untung saja tidak apa apa" Ucap Irene, Irene memainkan pipi kembung bocah yang berada di gendongan Ello
"Sini sayang.. Jangan lari lari lagi ya" Sang ibu mengambil anak tersebut
"Nis.. Ganti minuman mbak ini ya, meja ini sudah bayar" Ucap Ibu tersebut yang ternyata pemilik Restauran
"Terimakasih" Ucap Irene
"Sama sama... Sekali lagi saya minta maaf atas ketidaknyamanannya "
"Sial... Kenapa bisa gagal sih? Padahal sedikit lagi" Batin Arumi
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Om hari ini mau di anter kemana? " Rafael seperti biasa pagi pagi sudah berada di rumah Millie
"Kamu liat muka saya bengkak? Kamu anter anak anak sekolah aja tapi jangan lupa nanti balik lagi kesini temenin saya di rumah istri saya mau arisan"
"Siap om" Rafael memberikan hormat pada Max lalu pergi
"Lumayan bisa di kerjain" Gumam Max sambil terkikik
Setelah mengantar Michelle dan Exel kini Rafael sudah kembali ke rumah Max, Millie tidak mau diantar karena berangkat dengan motornya sendiri
"Kamu udah makan? Makan dulu sana "
"Udah om sebelum kesini" Jawab Rafael
"Tolong dong ajak peliharaan Millie jalan jalan, kasihan udah lama gak ke urus"
"Emang Millie pelihara apaan om? " Tanya Rafael
__ADS_1
"Anjing kecil, ada di kandang belakang karena kalo di depan anak anak saya takut "
"Siap om, saya pergi dulu " Max terkekeh setelah Rafael pergi
"Kandang ini kali ya? Tapi mana anjingnya? " Rafael tidak melihat anak anjing di dalam kandang
Tiba-tiba dia di buat terkejut dengan suara gonggongan anjing dari belakang tubuhnya, Rafael berbalik anjing hitam besar itu menggeram ke arahnya
Sesaat kemudian Rafael berlari di kejar oleh anjing tersebut, Max lagi lagi tertawa melihat Rafael di kejar anjing
"Hahahaa... Aduh sakit" Max mengusap wajahnya yang masih bengkak
Satu suitan yang Max lakukan mampu membuat anjing itu berhenti dan berbalik berlari ke arahnya, Max memasangkan tapi di leher anjing tersebut lalu mengikatnya dan memberinya makan
"Kamu gimana sih di suruh bawa jalan jalan malah lari lari" Ucap Max
"Om sengaja kan ngerjain saya? " Nafas Rafael masih ngos-ngosan
"Mana ada? Anjing itu memang masih kecil usianya, badannya doang gede"
"Au ah" Rafael berbaring terlentang di dekat pintu belakang
"Loh kok tidur di lantai? Kalo mau tidur di kamar aja" Ucap Allea saat menghampiri suaminya dan melihat Rafael berbaring
"Gak apa apa tan.. Lagi ngadem"
"Kamu abis ngapain kok ngos-ngosan? " Tanya Allea
"Pasti kamu ngerjain dia kan? " Allea menatap Max dengan tatapan intimidasi
"Eng.. Enggak kok, iya kan? " Max mengedipkan sebelah matanya agar Rafael mau bekerja sama
"Iya tan.. Om ngerjain saya katanya suruh ajak jalan jalan anak anjing ehh.. Tau nya saya malah di kejar" Max melotot tak percaya Rafael mengadukannya pada Allea
"Nakal... Anak orang di kerjain terus, gak kapok kemaren di sengat tawon? Mau nanti kamu kena batunya lagi di gigit anjing? " Allea menarik telinga suaminya dan membawanya pergi
"Eemmm.. Mamam" Rafael tertawa sendiri melihat Max di marahi istrinya
"Kebayang kalo gue nikah sama Millie" Gumam Rafael seraya menyangga kepalanya dengan tangan
Awalnya memang bayangan indah yang terbersit sampai dia senyum senyum sendiri, namun saat mengingat Millie jago bela diri membuatnya bergidik ngeri
"Bikin salah dikit bisa patah leher gue" Gumamnya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Non gak mau jenguk nyonya di rumah sakit? " tanya bibi
"Enggak.. ngapain, biarin aja" jawab Arumi
__ADS_1
"Bibi bikinin es buah dong"
"Non mau buah apa aja? " tanya bibi
"Apa aja lah buat temen kok, nanti bibi kasih"
"Ohh... siap Non, nanti bibi kasih tau kalo udah jadi"
Bibi membuatkan apa yang di minta Arumi lalu kembali memanggilnya setelah selesai di buat, bibi meninggalkan sebentar dapur menuju kamarnya namun saat kembali dia melihat Arumi seperti memasukkan sesuatu ke dalam es buahnya
"Selamat tinggal bayi menjengkelkan, Lo dan Ello akan secepatnya berpisah" bibi cukup terkejut mendengar Arumi merencanakan sesuatu yang jahat
Bibi tidak berani menegur dia takut Arumi akan mengamuk lagi, bibi akan menyampaikan pesan nanti pada si penerima agar tidak memakan es buah tersebut
"Ayo pergi, aku anter bibi nanti kasih sama orangnya ya" ucap Arumi
"Baik Non" Bibi benar-benar gugup dia memikirkan cara bagaimana agar dapat menyampaikan pesan tanpa di ketahui Arumi
"Bibi kasih, aku liatin disini harus dia Terima ya" Bibi hanya mengangguk
Bibi menekan bel di luar pagar dan sangat kebetulan orang yang keluar adalah Irene, mereka terlihat berbicara mungkin Irene sedang menanyakan sesuatu
"Bibi yang kerja di rumah Arumi kan? " tanya Irene
"Iya Non.. ini saya di suruh nganter ini"
"Oh.. makasih ya bi, mau mampir dulu bi?" Tanya Irene
"Gak usah Non makasih, saya pergi dulu" Irene hendak mengambil wadah tersebut namun bibi tidak mau melepaskannya
"Gimana nih" batin bibi
Bibi ragu antara takut dengan Arumi juga takut terjadi sesuatu dengan Irene, dia melepaskan kotak itu dengan berat hati
"Saya permisi ya Non"
"Iya bi hati hati" ucap Irene
Tiba tiba Ello memeluknya dari belakang hingga tangannya tidak sengaja menyenggol tangan Irene yang sedang memegang wadah tersebut hingga wadahnya jatuh, Mendengar Irene menjerit bibi menoleh kebelakang dia bernafas lega saat es buah itu tumpah berserakan
"Gimana sih tuh jatuh kan? gak bisa diem sih" gerutu Irene
"Maaf gak sengaja, gitu aja marah gue bikinin yang baru yang lebih enak" Ello mencium pipi Irene lama
"Gak mau"
"Mau apa dong? mau kiss? " Ello memutar tubuh Irene agar menghadapnya
Belum sempat Irene menjawab Ello sudah lebih dulu mengecup bibirnya, Irene kembali marah marah karena malu Ello menciumnya di luar rumah sementara Ello hanya tertawa melihat tingkah Irene yang menggemaskan menurutnya
__ADS_1
"Sial... sial... kenapa gagal lagi? kenapa keberuntungan selalu berpihak sama dia? " Arumi memukul stir berkali-kali sambil berteriak