
Rafael sampai di rumah dia segera mencari keberadaan Millie, setelah mencari Millie di kamar Rafael kini turun mencarinya di dapur
"Sayang... kamu disini ternyata" Rafael memeluk Millie yang sedang duduk di tepi kolam berenang
"Darimana kamu semalem?" tanya Millie
"Aku nginep di kantor, maaf gak hubungin kamu soalnya aku ketiduran"
"Oh.. ikut aku bentar" Millie menuntun tangan Rafael menuju kamar mereka
"Kamu kangen ya? masih pagi yang" ucap Rafael saat Millie mengunci pintunya
"Jelasin ini... kenapa kamu bohong?" Millie memberikan handphonenya pada Rafael
"Sayang aku..." Rafael terkejut melihat fotonya bersama Anjani
"Gak perlu ngomong apa apa lagi, beresin baju kamu dan pergi"
"Sayang.. aku bersumpah malam itu aku gak ngapa-ngapain, sebenarnya aku gak inget kejadian malem itu tapi aku yakin gak terjadi apa apa" Millie tertawa melihat Rafael yang panik
"Kamu kok ketawa?" tanya Rafael
"Kamu aja gak inget kejadian semalam, gimana kamu bisa segitu yakinnya gak terjadi apa apa?"
"Aku bisa pastikan itu, aku bisa buktiin nanti " Rafael meraih tangan Millie namun Millie menepisnya
"Pergi sana, biar aku yang beresin" Millie mengeluarkan semua baju Rafael dan memasukkannya ke dalam koper dengan sembarangan
"Udah... maaf aku gak bisa nganter kamu ke depan, sini hp aku" Millie mendorong koper tersebut hingga berhenti saat menabrak kaki Rafael
"Yang.. kamu jangan gini dong"
"Aku terlalu baik sama kamu?" Millie menarik tangan Rafael serta kopernya lalu mendorongnya keluar kamar dan kembali mengunci pintunya
Mendengar suara Rafael memohon dari luar air matanya tak terbendung lagi, Millie luruh di lantai menutup wajahnya dengan telapak tangan
"Kenapa gue harus jatuh cinta sama orang kayak dia? padahal gue udah tau aslinya seperti apa" Millie menghapus air matanya
Rafael menarik kopernya turun menuju lantai bawah, Allea seketika berdiri melihat menantunya membawa koper besar
"Mau kemana nak?" tanya Allea
"Aku ada perjalanan bisnis ma" jawab Rafael
"Millie gak nganter sampai depan?"
"Millie lagi di kamar mandi, aku pergi ma.. titip Millie" ucap Rafael lalu pergi setelah mencium tangan Allea
Millie melihat kepergian Rafael dari atas balkon, Rafael pun menatap Millie sebelum dia benar benar pergi
"Mungkin pisah adalah jalan yang terbaik buat kita" gumam Millie
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Kenapa sayang?" Max menjawab telepon dari Allea padahal dia sedang meeting bersama para staf
"Iya... nanti aku langsung kesana, aku lagi meeting "
"Gak apa apa.. jangan lupa makan, i love you " Max menutup teleponnya dan kembali melanjutkan meeting
Para staf yang bekerja lama dengan Max sudah tahu betapa bucinnya sang atasan pada istrinya, mereka kerap merasa iri dengan kemesraan Max dan Allea meskipun sudah mempunyai banyak anak dan cucu
Max selalu menjawab telepon sang istri dengan nada lembut meskipun dia sedang sibuk, banyak staf wanita mengagumi Max karena sikapnya pada sang istri
"Istri bos kita ganggu banget sih, gak tau apa suaminya lagi kerja" celetuk sekretaris baru Max
"Memangnya kenapa? toh tuan gak keberatan juga" jawab staf yang masih ada di ruang meeting
__ADS_1
"Yah.. harus profesional dong, masa setiap ada panggilan di jawab mulu padahal tuan lagi sibuk"
"Kamu orang baru pasti gak tau, nyonya sama tuan emang gitu.. mereka harmonis meskipun pernikahan mereka sudah berjalan cukup lama, jangan iri" ledek staf itu
"Siapa yang iri? apa bagusnya istrinya aja udah tua, cantikan gue kemana mana" gumam sekretaris itu yang masih bisa di dengar oleh si staf
"Di liat liat kayaknya kamu selalu cari perhatian tuan, kamu tertarik sama tuan? hati hati banyak karyawan yang di pecat karena berusaha cari perhatian tuan"
"Siapa yang cari perhatian?" ucap si sekretaris
"Hati hati aja.. tuan galak sama cewek lain apalagi yang suka godain dia, duluan ya"
"Liat aja.. gue pasti bisa dapetin hatinya meskipun cuma jadi simpanan, lumayan kan gue bisa porotin" ucap sekretaris tersebut dengan percaya diri
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Selesai meeting Max langsung pergi ke kantor Rafael setelah mendapatkan laporan dari sang istri bahwa menantunya pergi membawa koper besar
"Selamat pagi tuan" sekretaris Rafael yang tidak lain adalah sekretaris lama Max berdiri memberi salam
"Pagi.. Rafael ada?"
"Tuan Rafael belum datang tuan" jawab sekretarisnya
"Apa dia ada kegiatan di luar kota?"
"Tidak ada tuan... akhir akhir ini hanya menyelesaikan proyek di ibu kota " Max mengangguk-anggukkan kepalanya
"Ada yang mau di sampaikan atau tuan mau tunggu?"
"Saya tunggu dia saja" jawab Max
"Mau di buatkan teh atau kopi tuan?"
"Kamu masih ingat minuman untuk saya? buatkan itu saja" sekretaris Rafael mengangguk
Lama Max menunggu disana dan akhirnya Rafael datang setelah Max menunggunya beberapa jam, Rafael cukup terkejut melihat mertuanya sedang duduk di sofa
"Papa udah lama?"
"Saya nunggu udah dua jam, kenapa jam segini baru sampe?" tanya Max
"Maaf pa.. ada masalah tadi"
"Kamu pergi dari rumah apa Millie yang ngusir kamu?" Rafael terlihat ragu duduk di hadapan Max
"Katakan saja, ada masalah apa?" ucap Max
"Jadi gini pa.." Rafael ragu ragu bercerita pada Max
Raut wajah mertuanya yang datar sulit untuk di tebak, entah Max akan marah atau justru langsung menghajarnya
"Kamu yang punya masa kamu gak bisa rasain? kemungkinannya ada dua yang seperti ini kalo kamu gak melakukannya mungkin wanita itu jebak kamu"
"Papa gak marah?" tanya Rafael
"Marah kalo kamu terbukti melakukannya, saya kasih kesempatan buat kamu cari tau kebenarannya dan kalo semua terbukti benar tinggalkan anak saya" ucap Max
"Makasih pa.. aku pasti cari kebenarannya, aku yakin gak terjadi apa apa diantara kami"
"Jangan terlalu percaya diri, persiapkan diri bertemu di meja hijau dengan anak saya" Harapan yang semula terang benderang di hadapan Rafael sirna begitu saja ketika Max mengatakan masalah pengadilan
"Aku bisa jamin pa, aku gak akan kehilangan Millie " ucap Rafael dengan yakin
"Buktikan saja... kalo kebenaran menyatakan kamu terbukti mengkhianati anak saya, habis kamu sama saya" ucap Max lalu berdiri dan pergi
"Mampus.. kok gue jadi takut" gumam Rafael
__ADS_1
Max tidak akan tinggal diam dengan masalah ini, namun dia hanya ingin melihat sejauh apa Rafael bisa mengatasi masalahnya sendiri
Max akan diam diam menyelidiki masalah ini tanpa di ketahui siapa pun, seolah dia sudah hafal dengan situasi seperti ini
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Rafael menelpon Millie berkali kali namun gadis itu malah mematikan handphonenya, Rafael akhirnya datang ke rumah dan langsung mencari Millie
Saat Rafael masuk ke kamarnya dia melihat Millie sedang tidur di sofa, Rafael duduk di lantai menatap wajah Millie yang tertutup rambut
"Kamu cantik walaupun lagi tidur" Rafael menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Millie
Mata Millie tampak sembab dengan bantal sofa yang basah, Rafael tersenyum melihat Millie sepertinya menangis sebelum akhirnya tertidur
"Kamu bisa nangis juga" Rafael mengelus wajah Millie
Mata Millie mengerjap merasakan pergerakan tangan Rafael di wajahnya, Millie menepis tangan Rafael lalu bangun untuk pergi
"Millie tunggu... kasih aku kesempatan buat buktiin semuanya sama kamu, meskipun aku gak inget apa apa tapi aku yakin gak terjadi apapun malam itu"
"Siapa cewek itu?" tanya Millie, foto itu memang tidak memperlihatkan wajah wanita yang bersama Rafael
"An.. Anjani"
"Kasih aku alasan, kenapa aku harus kasih kamu kesempatan?" Millie menatap dalam mata Rafael
"Karena aku yakin gak mungkin mengkhianati kamu" jawab Rafael
"Kalo semua terbukti benar?"
"Aku.. aku.. aku harus ninggalin kamu, itu yang papa kamu bilang" Millie mengernyitkan dahinya
"Papa?"
"Iya.. papa kamu udah tau, dia kasih aku kesempatan buat buktiin kejadian malam itu dan kalo terbukti benar papa minta kita cerai" lirih Rafael
"Bagus kalo papa tau, aku kasih kamu kesempatan tapi bukan berarti aku maafin kamu"
"Terus kapan kamu maafin Aku? aku gak bisa tidur sendirian" Rafael memohon agar Millie mengizinkannya tinggal disana
"Tidur aja sama setan" ucap Millie lalu pergi menuju balkon
"Kok tega sih yang.. jangan gitu dong" Rafael merengek seperti anak kecil
"Diem.. udah sana pergi, berisik banget sih"
"Nanti kalo aku pergi kamu nangis lagi" ledek Rafael
"Siapa? siapa yang nangis? pengen banget aku tangisin gitu? mati aja dulu nanti di tangisin banyak orang " ketus Millie
"Yang.. kok jahat gitu sih ngomongnya, kalo aku beneran mati gimana?"
"Tinggal kubur, emang mau mayatnya di bakar atau di hanyutin di laut?" Rafael mengerucutkan bibirnya
"Jijik banget " Millie bergidik lalu membelakangi Rafael
"Kamu emang gak ngerasa kehilangan kalo aku mati?" tanya Rafael seraya memeluk Millie dari belakang
"Mati ya mati aja"
Rafael mengecup tengkuk serta punggung Millie yang terbuka, Millie berbalik hendak memarahi Rafael namun Rafael lebih dulu menyambar bibir Millie
Millie awalnya memukuli Rafael namun semakin lama Rafael menghanyutkan Millie dengan kelembutan, tangan Millie kini mencengkeram baju Rafael
Keduanya terdiam saling memandang ketika Rafael melepaskan pagutannya, Millie memalingkan wajahnya lalu pergi meninggalkan Rafael begitu saja
"Dia malu " ucap Rafael sambil tersenyum ketika melihat wajah istrinya memerah
__ADS_1