
Othor up 3 bab ya.. jangan lupa like komen vote dan bunganya
Millie melihat seorang wanita memunguti barang belanjaannya yang berserakan, Millie ikut membantu memungutinya
"Terimakasih" ucapnya
"Mami... "
"Sayang.. mami kangen banget sama kamu " Mami Rafael memeluk Millie
Mami Rafael membawa Millie ke rumah barunya yang jauh berbeda dengan rumah sebelumnya, di dalam rumah ada papa dan juga William yang duduk di kursi roda
"Itu... itu.. " gumam Millie
"Kenapa sayang? " Tanya mami Rafael
"Siapa itu mami? "
"Itu William teman Rafael, dia lumpuh karena kecelakaan dan sekarang orang tuanya yang membantu keluarga kita" jawab Mami seraya berjalan ke dapur
"Kecelakaan? " Rafael tidak mengatakan yang sebenarnya pada orang lain
Millie membantu mami Rafael memasak di dapur meskipun hanya membantu memotong sayuran, mami Rafael tetap sama dia wanita hebat tidak pernah mengeluh dan selalu tersenyum
"Kamu kenapa gak sekolah? " tanya mami Rafael
"Aku di skors mi gara gara kak Rafael" jawab Millie
"Gara-gara Rafael? "
"Iya.. mami inget kan waktu Millie tiba tiba telepon nanya keberadaan mami? itu karena kak Rafael mabuk dan gak sadar di club malam aku bawa dia pulang terus temen aku foto dan sebar di sekolah jadi aku di skors" Millie mengatakan alasannya di skors dari sekolah
"Jadi dia bikin kamu di skors? bener-bener dia keterlaluan pake mabuk-mabukan, awas aja dia" terdengar suara motor berhenti di halaman rumah
"Ini nih biang keroknya datang, kenapa kamu mabuk-mabukan sampe Millie di skors dari sekolah? " Mami Rafael mengoceh sambil mengacungkan sodet pada Rafael
"Mi.. mami tunggu dulu, ini ada apa? " Mami mengejar Rafael yang berlari mengelilingi kursi yang di duduki papa Rafael
"Kalian ini kenapa? " tanya papa Rafael saat Rafael bersembunyi di belakangnya
"Anak ini.. hah hah.. dia bikin Millie di skors dari sekolah" Millie berdiri di pintu dapur, semua mata menatapnya
Wajah William berubah ketika mendengar nama Millie di sebut, Rafael menjauh dari papa sambungnya saat melihat Millie
"Kamu di skors gara gara aku? " tanya Rafael
"Iya.. anggia sebarin foto waktu aku bantuin kamu keluar dari club malam"
__ADS_1
"Aku minta maaf.. aku gak tau akan seperti ini" ucap Rafael
"Kamu mabuk? dasar bocah gendeng gak bisa di kasih tau orang tua" mami memukul paha Rafael dengan sodet lalu pergi ke dapur
"Kamu kesini sama siapa? " Rafael mendekati Millie
"Gak usah deket deket, kita musuh ingat itu.. gue cuma baik di depan mami" Millie bicara pelan dengan wajah galaknya lalu pergi menyusul mami Rafael ke dapur
Rafael mengulum senyumnya melihat Millie yang terlihat menggemaskan ketika galak seperti itu, Rafael membawa William jalan jalan keluar di sekitar rumah
"Lo tau William? bener kata Millie cari kerja itu susah dan sampe sekarang gue belum dapet kerjaan, gue berpikir buat buka bengkel tapi... uang tabungan gue pasti abis semua kalo pake buat buka bengkel" Rafael menceritakan kesulitannya pada William
"Atau gue Terima aja perjodohan dari oma buat dapet duit? tapi gue gak suka sama Raisa yang kayak badut" Rafael tidak suka dengan Raisa yang selalu bermake-up tebal
Millie mendengarkan percakapan mereka dari balik tembok, Millie memang marah pada Rafael tapi dia tidak tega melihatnya kesulitan seperti ini
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Anggia mengendap-endap menuju pintu untuk pergi keluar namun saat dia membuka pintu ternyata sang ibu sudah berada di hadapannya, Anggia hendak pergi kembali ke rumah namun Cindy menahan tangannya
"Beresin baju kamu, mama mau kirim kamu ke asrama" ucap Cindy
"Mama apaan sih? aku gak pindah sekolah"
"Mama udah urus pemindahan nya, sekarang kembali ke kamar dan beresin baju kamu" Anggia kembali ke kamarnya bersama Cindy dan mulai membereskan baju bajunya
"Karena kamu bukan Millie, mama bukan om dan tante kamu.. mama akan bersikap tegas sama kamu" Anggia tidak bisa berkutik dia harus pasrah di pindahkan kan ke sekolah asrama
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Ngapain ngumpet disitu? " Millie tahuan saat bahunya terlihat menyembul dari belakang tembok
Millie memejamkan mata sebelum keluar dari tempat persembunyiannya, Millie berjalan menghampiri Rafael seraya menggaruk tengkuknya
"Lagi ngapain disana? nguping ya? "
"Apaan sih, gue.. gue.. mau ngobrol sama dia" Millie berlutut di hadapan William
"Lo ingat gue? " tanya Millie dan William mengedipkan matanya
"Gue mau tanya, siapa yang bikin lo kayak gini? " tanya Millie
"Percuma dia gak bisa jawab, lagian kalo bukan kamu kenapa gak jelasin waktu aku tanya? " ucap Rafael
"Karena gue rasa percuma aja, lo akan lebih percaya kebohongan temen temen lo" ketus Millie
"Kata siapa? "
__ADS_1
"Buktinya lo hampir bunuh gue, kalo malem itu gue gak bisa kabur mungkin gue udah abis sama temen temen lo yang kurang ajar itu.. bajingan" gerutu Millie
"Dia beneran gak bisa ngomong? " tanya Millie
"Ya.. dia cuma bisa gerakan sedikit jari sama mengedipkan mata"
"Kalo dia pipis sama pup berarti... " Millie membulatkan matanya membuat wajah William memerah
"Ishh.. otak kamu" Rafael mengusap wajah Millie
"Sorry.. " Millie mengulum senyumnya menatap William
"Dengerin gue, kalo gue yang bikin lo kayak gini lo bisa berkedip kalo bukan gerakan tangan lo" ucap Millie
Dengan susah payah William menggerakkan jarinya membuat Millie tersenyum lega, Millie menatap Rafael tajam dengan tatapan mengintimidasi
"Nyesel gak? gue gak bohong sama lo, tapi ya udahlah udah lewat juga.. gue rasa sekarang gue bisa hidup tenang " ucap Millie lalu pergi
Rafael merutuki dirinya sendiri yang tidak percaya pada Millie padahal dia tahu betul Millie tidak akan menyakiti siapapun jika orang tersebut tidak mengganggunya, William menatap Rafael bibirnya bergetar seperti hendak mengatakan sesuatu
"Kenapa gak bisa? gimana gue jelasin kalo semua kesalahpahaman yang terjadi antara Millie dan Rafael di sebabkan oleh Sony" karena kesal dengan keadaannya yang sekarang William hanya bisa berteriak dalam hati
"Kenapa? lo mau ngomong sesuatu? " air mata William mengalir dari kedua matanya
"Lo akan sembuh percaya sama gue, lo harus semangat jangan nyerah gitu aja" ucap Rafael mengusap air mata William
"Kasian William.. di saat masa sulitnya kedua orang tuanya bahkan gak ada di sampingnya, dia pasti sangat frustasi " batin Rafael
"Kita masuk, lo harus istirahat" Rafael kembali membawa William masuk kedalam rumah
Di dapur Millie membantu mami Rafael menyiapkan makan siang, sementara papa Rafael tidak bergerak dari tempat duduknya sedari tadi
Rafael berdiri di pintu dapur menatap Millie dia membayangkan jika Millie menjadi istrinya nanti, dalam lamunan Rafael.....
"Sayang masak apa? " Rafael memeluk Millie dari belakang
"Aku lagi masak makanan kesukaan kamu, Apa anak kita udah tidur? "
"Dia udah tidur setelah aku kasih susu, sekarang giliran aku yang kamu kelonin " ucap Rafael lalu mencium pipi Millie
"Apa sih? diem sayang aku lagi masak ini belum mateng " Rafael terus menciumi pipi dan tengkuk Millie
Rafael senyum senyum sendiri bersandar di pintu, saking terlalu asik melamun dia sampai tidak menyadari bahwa mami nya berada di depannya melambaikan tangan di depan wajahnya
"Kamu udah gila ya? " Rafael tersadar dari lamunannya ketika mami Rafael memukul lengannya
Millie menatap aneh Rafael sambil bergidik geli melihat Rafael senyum senyum sendiri, Rafael mundur perlahan pergi dari sana dengan wajah tersipu
__ADS_1
"Isshh... aneh" gumam Millie