Youth Love

Youth Love
eps 151


__ADS_3

"Ngapa tuh muka kayak benang kusut? " Seperti biasa Michelle selalu mengejek Millie


"Muke lo kayak Bungkus gorengan" jawab Millie sambil berlalu ke kamarnya


Millie langsung masuk ke kamar berbaring tanpa berganti baju lebih dulu, Perkataan mereka saat di cafe masih terngiang ngiang di telinga Millie


"Apa itu bener? tapi gak mungkin, Rafael gak sejahat itu" Millie menatap langit langit kamarnya tanpa dia sadari akhirnya dia tertidur


Tak terasa waktu makan malam tiba namun Millie masih berada di alam mimpi, Mata Millie mengerjap kalau tetesan air mengenai wajahnya


"Ini genteng bocor apa gimana? " Millie mengucek matanya sambil bangun dari tidurnya


"Sialan.. dasar bocah gila" Millie melempar bantal pada Michelle yang tertawa cekikikan


"Kata mama turun makan dulu, kakak tidur kayak ****** jadi aku siram aja"


"Iya gue turun mau cuci muka dulu, lo duluan aja" Millie mendorong Michelle Agar keluar


"Kerjain ahh.. jangan bilang kalo ada kak Rafael" batin Michelle


"Gak usah cuci muka.. langsung turun aja ayo" Michelle menarik tangan Millie menuju meja makan


Millie yang masih ngantuk tidak memperhatikan sekelilingnya ada siapa saja, dia hanya menurut saat Michelle menarik kursi untuknya dan duduk


"Cuci muka dulu nak" Ucok Allea


"Nih si Michelle katanya gak usah cuci muka, jadi langsung turun" Millie menunjuk Rafael yang ada di sampingnya


"Buka dulu matanya Millie, itu di sampingnya ada siapa? " ucap Ellia


Millie melirik ke samping kirinya ada Exel saat menoleh ke samping kanan Millie langsung membulatkan matanya, Millie langsung berdiri dan berlari ke dapur untuk mencuci muka


"Sialan si Michelle ngerjain gue" Millie mengikat rambutnya yang berantakan bagai singa lalu mencuci mukanya tidak lupa memakai sedikit lipgloss yang ada di sakunya


"Bening bener neng" Michelle terkekeh kembali menggoda Millie


"Awas lo" Millie menjambak rambut Michelle


"Aaaaa.. sakit"


"Millie.. jangan kasar sama adiknya" Max menengahi anak anaknya yang suka ribut


"Ledekin aja terus ledekin" Millie melirik Rafael yang senyum senyum sendiri


"Apa sih? sensi banget" ucap Rafael


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Setelah makan malam Millie pergi keluar karena Rafael di kurung Max di ruang kerjanya, meskipun Millie percaya pada Rafael tapi tetap saja perkataan mereka membuat Millie kepikiran


"Aaarrrggghhh... sial kalo ketemu lagi gue rontokin rambut lo berdua" Millie berteriak saat berjalan lalu menendang sebuah kaleng hingga mengenai punggung seseorang yang sedang berkumpul


"Woi.. siapa nih? " Millie mengigit bibir bawahnya sambil memejamkan mata


"Sorry.. sorry.. " ucap Millie sambil berbalik menghadap mereka


"Loh.. Millie" ternyata orang tersebut adalah William bersama anak anak werewolf

__ADS_1


"Kak William.. "


"Lo ngapain jalan sendiri? " William menghampiri Millie


"Sorry ya gue gak sengaja" ucap Millie


"Gak apa apa.. mau kemana biar gue anter? "


"Gak usah.. gue cuma jalan jalan aja, bosen di rumah" jawab Millie


"Gabung sini aja Millie, bang Rafael pasti lagi sibuk ya" Teman teman Rafael mengajak Millie bergabung


"Boleh... " Millie akhirnya duduk bersama mereka


Millie hanya diam saja sementara mereka bercanda tertawa ke sana kemari entah membahas apa, William menyadari ada sesuatu yang sedang terjadi pada Millie


"Lo kenapa? " William mencolek tangan Millie


"Gak apa apa.. " jawab Millie


"Tumben diem, ada yang di pikirin? " Tanya William


"Kalo mau cerita cerita aja, tentang bang Rafael? " lanjutannya


"Gue mau ngomong bentar" Millie menarik William menjauh dari sana


"Mau nanya apa? " William duduk di sebuah ayunan begitu pun Millie duduk di ayunan di samping William


"Rafael pernah.. pernah.. "


"Apa sih? ngomong aja gak apa apa"


"Ituin.. maksudnya? "


"Pernah tidur sama cewek? " William tampak bingung, mungkin dia tidak tahu harus menjawab apa


"Emang kenapa? dia minta itu sama lo? " tanya William


"Enggak.. dia gak pernah macem macem sama gue, ada satu mantannya yang minta pertanggungjawaban dan satu geng yang balas dendam katanya karena Rafael pernah p*rk*s* adiknya dan bikin dia koma" ucap Millie


"Kalo masalah ceweknya lo tanya bang Rafael kalo masalah geng itu bukan gitu ceritanya, jadi gini... temen kita lagi mabuk terus di jalan dia ketemu cewek dan melakukan itu, kakaknya balas dendam sampe temen kita meninggal.. bang Rafael juga balas dendam atas kematian dia dan kakak si cewek ini katanya koma sampe dua tahun atau setahun lebih lah, bukan bang Rafael tepatnya tapi temen kita yang udah meninggal" Millie akhirnya bisa bernafas dengan lega mendengar cerita William


"Kita dulu bukan orang baik Millie, kalo lo dengar keburukkan bang Rafael jangan asal Terima, lo harus cari tau kayak sekarang karena banyak yang simpang siur pastinya"


"Semenjak kematian Roshie bang Rafael jadi tertutup dia gak pernah ikut kita seneng seneng lagi, sampe dia punya rencana buat balas dendam sama lo tapi malah jatuh cinta sama lo itu dia tutupin dari kita"


"Emang kalian sejahat apa? " tanya Millie


"Bikin rusuh, kita semena-mena di jalan gak liat siapa yang kita temuin kalo kita mau hajar mereka hajar aja, kita merampas apapun yang kita mau dan memaksa orang lain "


"Apa Rafael pernah paksa cewek lain kayak temen temen kalian yang lain? " tanya Millie


"Gak pernah.. dia punya cewek cewek yang rela lakuin apa aja demi dia kenapa harus repot repot paksa cewek lain" William membulatkan matanya dia keceplosan mengatakan itu pada Millie


"Maksudnya bukan gitu, aduh... " William menggaruk kepalanya tak gatal


"Gak apa apa.. gue udah tau, dia cerita sendiri sama gue "

__ADS_1


"Oh.. syukur deh, udah malem mending lo pulang gak baik cewek berkeliaran malem malem" ucap William


"Thanks udah cerita dan bikin gue lega, kalo gitu gue pulang dulu"


"Gue anterin aja, khawatir kalo lo pulang sendiri" Millie pulang diantar William sampai dengan selamat di rumahnya


Seseorang melihat dari balik jendela lalu kembali menutup gorden nya, saat masuk semua penghuni rumah sepertinya sudah tidur namun dia masih mendengar suara dari ruang kerja Max


Millie membuka pintu ruang kerja ayahnya dan masuk kedalam, Rafael masih belum tidur dan masih sibuk dengan kertas kertasnya diatas sofa


"Belum beres? " Tanya Millie seraya duduk di samping Rafael


"Keliatannya? "


"Tidur aja biar terusin besok, nanti malah sakit" Millie membereskan kertas kertas yang berserakan


"Simpan aja di situ, kalo mau tidur tidur aja" Rafael bicara ketus pada Millie


"Kenapa sih? kesel sama kerjaan yang gak beres beres? " tanya Millie


"Keselnya karena aku susah susah kerjain ini buat seseorang biar dapet restu tapi seseorang itu malah pergi sama cowok lain pulang malem" ucap Rafael sambil mengetik di laptop


"Ohh.. "


"Cuma Ohh? udah pergi tidur sana, ganggu orang kerja aja" Bukannya pergi Millie malah merebahkan tubuhnya dan menjadikan kaki Rafael sebagai bantal


"Ganggu aja, sana tidur di kamar"


"Kalo lagi marah lucu deh, bibirnya kayak Bebek" ucap Millie


"Terserah... bodo amat gak mau tau, sana pergi" Rafael mendorong kepala Millie hingga dia terbangun


"Ayang liat sini.. senyum dong, mana senyum gantengnya " Millie sengaja menggoda Rafael



"Ganggu orang aja" Rafael tidak sedikit pun menoleh dia menyelesaikan pekerjaannya lalu menutup laptopnya dan pergi keluar meninggalkan Millie


"Ayang kok aku di tinggal" rengek Millie manja


Millie tertawa mengikuti langkah Rafael menuju kamar tamu, sesampainya di dalam kamar tamu Rafael mengunci pintunya membuat Millie gelagapan


"Kamu mau ngapain? kenapa pintunya di kunci? "


"Gak ngapa ngapain, sengaja biar kamu gak bisa keluar" Rafael berjalan menuju ranjang lalu tidur menutupi tubuhnya dengan selimut


"Loh kok tidur? aku gimana? hei bangun bukain pintunya" Millie mengguncang tubuh Rafael


"Kalo mau tidur di sini aja, biar nanti papa kamu tau kita tidur satu kamar dan langsung di nikahin"


"Jangan gila deh.. sini kuncinya" Millie membalik tubuh Rafael untuk mengambil kunci di saku celana bagian depan


"Kalo berani ambil aja sendiri" Rafael menjadikan tangannya sebagai bantal menunggu Millie mengambil kuncinya


"Berani" Millie benar-benar memasukkan tangannya ke dalam saku Rafael dan mengambil kunci tersebut


Wajah Millie memerah dia segera membuka pintu kamar dan berlari ke luar

__ADS_1


"Gue nyenggol apaan tadi? " gumam Millie


"Udah nyenggol dia lari " ucap Rafael


__ADS_2