
"Tunggu di luar aja yuk, biarin mereka pilih dulu " Millie mengajak Irene keluar setelah selesai memilih gaun
"Kakak mau minum deh, cari yang seger seger enak kayaknya" Millie dan Irene mencari minuman untuk mereka
Millie memesan minuman sambil memainkan handphonenya sementara Irene duduk tak jauh dari Millie, Millie berjalan membawa dua minuman dari kejauhan dia melihat sebuah motor yang naik ke trotoar mengarah pada Irene
"Kak awas" Millie berlari menarik Irene
Nahas minuman yang di bawa Millie melayang dan tumpah di helm orang tersebut, motornya hilang keseimbangan dan terjatuh
Millie mendudukkan Irene lalu berlari menarik kerah baju orang tersebut, perkelahian diantara mereka tak terhindarkan hingga Rafael yang mencari Millie berlari membantu kekasihnya itu
Millie memegangi lengannya yang berdarah terkena pisau yang di bawa orang itu sementara Rafael berniat membuka helm orang tersebut namun hanya bisa menarik kaca helmnya, Rafael tertegun melihat sepasang mata di balik helm itu
Karena Rafael mematung orang tersebut memanfaatkan keadaan dan kabur dengan motornya, Millie hendak mengejar namun Rafael menarik tangannya
"Kamu kenapa sih? tuh jadi pergi kan.. " Millie menggerutu
"Kamu gak rasain tangan kamu berdarah? " benar saja tangan Millie mengeluarkan banyak darah
"Ck.. " Millie menarik kasar lengannya yang di pegang Rafael
"Kakak gak apa apa? " tanya Millie
"Gak apa apa.. makasih ya, malah kamu yang luka" Irene sampai ngilu melihat darah membasahi lengan Millie
"Ini anak pada kemana sih, belum beres udah pada pergi" Para orang tua mencari anak anaknya keluar
Millie, Rafael dan Irene juga baru saja kembali ke butik, Max melihat tangan anaknya berlumuran darah
"Ini kenapa? " Max mengambil lengan Millie
Ketiganya saling menatap mereka bingung harus mengatakan apa, mami Rafael yang menjadi panik melihat calon menantunya terluka
"Kenapa malah diem di sini? ini harus cepat di tangani dokter" ucap mami Rafael
"Mami benar.. ayo kita obati lukanya" Ucap Rafael seraya berjalan membawa Millie lebih dulu
Irene satu mobil bersama Rafael dan Millie menuju rumah sakit, Millie tak mengiris ataupun mengeluh kesakitan dia malah terlihat biasa saja malah Irene yang tak bisa melihat darah di lengan Millie
"Aku yakin yang tadi bukan cowok... postur tubuhnya aja udah kelihatan itu cewek" ucap Millie
"Bisa jadi" jawab Rafael
"Emang tadi kamu gak liat? " Tanya Millie
__ADS_1
"Udah sampe.. ayo" Rafael membukakan pintu mobil untuk Millie dan Irene
Millie mendapatkan beberapa jahitan di lengannya karena lukanya cukup besar, Tidak ada drama menangis atau meringis wajah Millie biasa saja namun mami Rafael dan Irene yang melihatnya jadi ngilu sendiri
"Sakit gak? " tanya Irene
"Sakitlah" jawab Millie
"Gak mau nangis gitu? " tanya Irene yang penasaran melihat Millie hanya diam saja
"Ngapain nangis gak bakal ilang juga sakitnya"
Mereka keluar dari ruangan itu dan Rafael bersama Max yang menunggu di luar menghampiri Millie, keduanya bersamaan memegangi tangan Millie kiri dan kanan
"Sayang kamu gak apa apa? " tanya keduanya bersamaan lalu saling menatap dan kembali menatap Millie
"Gak apa apa cuma enam jahitan" Jawab Millie
"Millie manusia apa robot sih? kok gak punya rasa sakit" batin Irene
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Rafael dengan langkah besarnya masuk ke dalam rumah Arumi, Bibi menahan Rafael yang tampak sangat marah mencari Arumi
"Dimana Arumi? "
"Arumi.. keluar lo" teriak Rafael
"Aaarrrggghhh... " terdengar suara teriakan dari kamar Arumi beserta barang barang pecah
Rafael berlari ke atas menuju kamar Arumi, saat pintu kamar terbuka lagi lagi Arumi berteriak dan membanting barang barang di kamarnya
"Kenapa lo di kelilingi orang orang yang sayang sama lo? kenapa cuma gue yang sendirian.. aaarrrggghhh... ini gak adil.. gak adil" Rafael menarik tangan Arumi kebelakang
"Pergi.. pergi.. " Arumi mendorong Rafael
"Kenapa lo lakuin ini? sadar Arumi sadar.. ini salah" Rafael memegang lengan Arumi
"Lo gak tau apapun, lo gak perduli lagi sama gue, lo terlalu sibuk sama pacar lo"
"Lo kenapa jadi kayak gini? kenapa lo melukai Millie padahal semua udah jelas bukan dia pelaku pembunuhan Roshie, kenapa lo masih menyimpan dendam? "
"Bukan Millie yang gue incar.. gue gak bermaksud melukai Millie, lo gak tau apapun sekarang pergi.. pergi.. " Arumi berteriak teriak seperti orang kerasukan
"Kalo bukan Millie siapa lagi? " Arumi diam, Rafael kini mengerti
__ADS_1
"Irene.. lo mengincar Irene? tapi kenapa? "
"Gue gak suka sama dia, hidupnya terlalu sempurna, orang tua yang memanjakannya, suami yang mencintainya, dan orang-orang di sekelilingnya yang selalu ada dan selalu support dia.. gue gak suka itu" Rafael memijat keningnya
"Dengerin gue.. yang lo perbuat itu salah, gak semua yang lo lihat sesempurna itu, lo gak tau kehidupan dia yang sebenarnya bisa aja dia punya sisi gelapnya sendiri cuma kita gak tau" Rafael memegang kedua bahu Arumi
"Kenyataannya gue emang gak punya siapa siapa, gue sendiri, keluarga gue gak pernah ada buat gue dan orang orang yang gue sayang satu persatu pergi termasuk lo" Rafael menyadari memang Arumi tidak punya siapapun untuk di andalkan
Arumi menarik diri dari keluarganya meskipun ibunya menyayanginya namun semua itu tidak di anggap Arumi karena kekecewaannya pada ibunya yang sempat selingkuh dengan suaminya yang sekarang hingga meninggalkan ayah kandungnya
"Gue ada di sini, gue gak pergi kemana pun.. mulai hari ini kapanpun lo butuh gue kasih tau gue" Rafael memeluk Arumi yang terisak
Setelah Arumi tenang Rafael baru meninggalkannya, Rafael terlalu menyepelekan penyakit Arumi dia tidak menyangka Arumi akan menjadi segila itu
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Mama kamu waktu hamil makan apa sih? " Irene baru saja keluar dari kamar mandi dan kini sedang duduk membersihkannya wajahnya di meja rias
"Emang kenapa? " Ello berjalan menghampiri Irene dan memeluknya dari belakang
"Millie kayak bukan manusia dia lebih kayak robot, masa tangannya luka sampe di jahit 6 jahitan gak nangis atau meringis gitu seenggaknya"
"Dia terbiasa dengan luka, dia wanita terkuat disini.. makanya mama suka marah sama papa karena gara-gara papa Millie jadi gitu"
"Kok gara gara papa? " tanya Irene
"Usia lima tahun Millie sering di bawa ke Dojo, dia suka ikutan latihan sama orang dan suka banget kalo di bawa kesana.. setiap dia nangis papa selalu bilang kalo Millie nangis gak akan di bawa kesana lagi"
"Jadi Millie gak pernah nangis? " Tanya Irene
"Pernah juga.. tapi dia bisa nahan air matanya dan melampiaskannya ke hal hal yang membuat dia capek kayak berantem sama orang, pukul samsak sampe tangannya berdarah, dia kekuatannya kayak abang abang" Ucap Ello sambil terkekeh
"Aku harus belajar dari Millie " ucap Irene
"Kenapa harus belajar dari dia? " tanya Ello
"Biar kuat, kalo kamu macem macem nanti tinggal aku banting"
"Aku gak perlu di banting, aku pasrah aja" bisik Ello sambil mengecup telinga Irene
"Iisshh.. jauh jauh" Irene memukul kepala Ello dengan sisir
"Sakit sayang"
"Lebay banget masa kalah kuat sama adiknya" tiba-tiba kursi yang di duduki Irene di tarik oleh Ello
__ADS_1
"Masih belum tau kekuatan aku? Ayo kita coba" Ello mengangkat tubuh Irene ke ranjang