Youth Love

Youth Love
eps 42


__ADS_3

Tid.. tid.. tid...


Abra menekan klakson ketika melihat Millie berjalan memasuki halaman sekolah, Millie berbalik mengernyitkan keningnya


"Tumben pake Motor? " ucap Millie


"Udah lama gak di pake, lagian ini terakhir kalinya gue pake" jawab Abra


"Mau lo jual? " tanya Millie


"Kayaknya"


"Yang lain mana? mereka juga pake motor? " tanya Millie


"Enggak.. hari ini Jason bawa mobil, ayo masuk " Abra merangkul Millie masuk


Mereka cekikikan sambil berjalan entah apa yang mereka bicarakan, sebelum masuk ke kelas mereka berpapasan dengan Rafael yang kebetulan juga akan masuk ke kelas itu


"Gue anterin sampe sini aja ya, kayaknya pawang lo marah" bisik Abra


"Duluan pak" Abra berbalik pergi


Mata Millie dan Rafael beradu pandang lalu Millie memalingkan wajahnya dan masuk ke kelas, wajah Millie terlihat ketus sementara Rafael kini tidak banyak bicara, semua orang menatap Millie dengan sisa luka di wajahnya


"Millie gak apa apa? " tanya Dita


"Kalo gue kenapa napa gue gak akan masuk sekolah Dita" Dita hanya nyengir


"Millie.. lo kenapa? pantes kemaren gak sekolah, mama sama papa bilang lo sakit" ucap Niko


"Gue abis tinju" jawab Millie


"Kalian masih mau ngobrol? kalo gitu silahkan lanjutkan obrolannya di luar" ucap Rafael dengan tegas


"Oke... gue lagi males belajar" Millie berdiri dan keluar dari kelas membuat murid lain tercengang


"Yang mau bergabung dengan Millie silahkan" tegas Rafael


"Menarik, kayaknya mereka lagi berantem" batin Anggia


Saat waktunya pelajaran olahraga semua murid turun menuju lapangan, Millie terakhir turun karena terlalu malas


Anggia tahu Millie belum turun lalu dia menuangkan sabun cair di tangga karena sudah pasti Millie akan turun, benar saja Millie menuruni anak tangga dan Anggia pun kabur untuk bersembunyi

__ADS_1


Millie menginjak cairan tersebut kakinya terkilir sampai hampir jatuh namun Rafael menahan tubuhnya, Millie mendorong tubuh Rafael meskipun dia kesulitan berdiri


"Jangan sentuh gue" ucap Millie lalu pergi dengan kaki pincang


"Millie lo kenapa? " Aldi menghampiri Millie dan membantunya berjalan, Rafael hanya menatap kepergian Millie


"Benar kan mereka lagi ada masalah" gumam Anggia


Di tengah lapangan Anggia kembali berulah dia menjulurkan kakinya ketika Millie berjalan memegang bola, Millie tersandung kaki Anggia hingga jatuh lutut serta telapak tangannya berdarah


"Lo sengaja ya? Sini kalo berani" Millie berdiri


"Apa? kok lo nyalahin gue? "


"Jelas jelas kaki Anggia tadi sengaja kan? Dita juga liat" Ucap Dita


"Iya gue juga liat" sahut yang lain


"Bego" Millie melemparkan bola di tangannya ke kepala Anggia hingga dia jatuh pingsan


Karena ulahnya akhirnya Millie di panggil ke ruang guru bk lagi, Setelah menjelaskan semuanya guru pun membantu mengobati luka di tangan Millie


"Kamu gak sayang apa punya wajah cantik tapi sering bonyok, Orang lain yang jelek operasi biar cantik masa kamu wajah cantik-cantik pengen jadi jelek? "


"Ibu bukan saya yang mulai tapi mereka, saya cuma bela diri" jawab Millie


" Katanya kamu luka? " tanya Rafael


"Ibu mau simpan kotak dulu" guru bk pergi membiarkan mereka berdua


''Kenapa emangnya? bukannya lo seneng liat gue luka bahkan mungkin lo berharap gue mati? "


"Kalo kamu gak mulai duluan semua ini gak akan terjadi, Kamu bunuh cewek yang aku cinta dan sekarang kamu buat temen deket aku terbaring koma di rumah sakit" Millie tersenyum smirk


"Dan lo salah orang, gue gak pernah lakuin apapun sama kedua orang itu"


"Apa alibi satu orang bisa mematahkan keterangan banyak saksi? kamu menyangkal tapi temen temen aku saksinya" Millie menggelengkan kepalanya


"Kalo gitu lo yang bodoh, kalo lo ngira gue yang bunuh wanita tercinta lo itu gue bisa apa? lo mau pukul gue? lo mau gue mati? silahkan gue ada di hadapan lo sekarang tapi ingat satu hal jangan menyesal saat lo tau semua kebenarannya" Millie mendekat bahkan menunjuk nunjuk wajah Rafael


Bukannya memukul Millie yang terus bicara di hadapannya Rafael malah memeluknya membuat Millie bungkam, Millie memejamkan matanya sejenak mendengar detak jantung Rafael


"Ini pelukan terakhir, gue musuh lo sekarang kalo pun lo mau bunuh gue silahkan tapi jangan ganggu orang orang di sekeliling gue" ucap Millie lalu berbalik pergi berjalan terpincang-pincang

__ADS_1


Millie terlihat mengusap kedua matanya tampaknya menangis ketika meninggalkan Rafael, di belakang sekolah Millie duduk sendiri memeluk kakinya


Hari ini benar-benar menyakitkan mendengar seseorang yang dia cintai mencintai wanita lain dan menyalahkannya atas kematian wanita itu


"Gue bener-bener bodoh, selama ini dia gak cinta sama gue.. kenapa rasanya sesakit ini? kenapa gue harus nangis? sialan" Cinta membuat Millie yang kuat menjadi lemah


"Lo disini ternyata? lo bisa nangis juga" Abra tertawa duduk di sebelah Millie


"Kenapa lo? putus cinta? " Millie hanya diam saja


"Udahlah.. jelek lo mewek begitu" Abra meraih tubuh Millie dan memeluknya


"Lo pernah gak sih sakit hati waktu cewek yang lo cinta ternyata cinta sama orang lain dan dia berpura-pura cinta sama lo cuma buat manfaatin lo doang? " Millie mengusap air matanya


"Pernah.. tapi bukan gitu ceritanya"


"Terus gimana? " tanya Millie


"Gue suka sama satu cewek tapi cewek itu susah di dapetin apalagi dia gak suka kalo ada cowok yang terang-terangan nunjukin rasa sukanya sama dia, akhirnya gue jadi temen yang asik buat dia cuma biar bisa deket aja"


"Kok gitu? terus cewek nya tau gak lo suka sama dia? " Millie mendongak menatap wajah Abra


"Kayaknya enggak deh, kami berteman lama dan akhirnya dia punya pacar tapi itu gak bikin perasaan gue memudar, gue lebih suka bareng-bareng sama dia tanpa jarak walaupun status kita hanya sebagai teman.. gue bego ya? "


"Lo rela liat dia bahagia sama cowok lain sementara lo berharap dari lama tapi gak bisa dapetin dia? " tanya Millie


"Awalnya gue emang gak rela tapi sekarang yang penting dia bahagia gue dukung, mau sama cowok lain atau pun sama gue yang penting dia bahagia"


"Beruntung banget cewek itu, di cintai dengan begitu luar biasanya sama cowok tulus kayak lo" Lirih Millie


"Udah dong jangan nangis, perkara cinta aja lo nangis apa kabar sama muka yang bonyok? " ledek Abra


"Lo putus ya sama pak Rafael? " tanya Abra


"Iya.. " singkat Millie


"Udah cowok masih banyak, ayo pulang.. kakak lo udah ada di depan" Abra mengulurkan tangannya membantu Millie berdiri


"Kok lo gak bilang kalo kakak gue udah di depan? "


"Kan barusan udah bilang" jawab Abra sambil terkekeh


"Maksudnya kenapa gak dari awal? "

__ADS_1


"Sengaja biar lo tenang dulu, emang lo gak malu jalan ke depan ingusan gitu? " Abra menunjuk wajah Millie


"Sialan lo" Millie memukul lengan Abra yang hanya tertawa


__ADS_2