
"Yang... kamu tidur di dalem, kok lama banget?"
"Apaan sih? gak perlu gedor gedor juga" Millie keluar menggunakan baju tidur yang di pakai sebelumnya dengan rambut di gulung handuk
"Marah marah mulu entar cepet tua" goda Rafael seraya mencolek dagu Millie
"Nyebelin... iiiihhh" Millie mencubit lengan Rafael dengan kesal
"Nyebelin apa sih? kan kamu udah liat juga, impas lah"
"Nih impas.. nih impas" Millie melepaskan handuk di kepalanya dan mengacak rambut Rafael yang sudah rapih dengan handuk tersebut
"Tuh kan kusut lagi"
"Kamu kurang ajar banget sih, kenapa kamu ngelakuin itu? aku gak terima " Millie memukuli Rafael dengan tangannya
"Ngelakuin apa sih? aku gak ngerti" Rafael berpura-pura tidak mengerti apapun
Millie menanyakan apa yang di lakukan Rafael ketika dia tidur namun Rafael masih berpura-pura bodoh, Rafael malah tertawa ketika Millie kembali memukulnya
"Ini.. ini.. maksud aku " Millie membuka kancing bagian atasnya menunjukkan tanda merah di tubuhnya
"Oh.. itu, aku melakukannya seperti ini" Rafael mendorong Millie dan menindihnya
"Rafael lepasin.. kamu gila" Millie berusaha melawan namun tulangnya seakan lemas ketika Rafael kembali membuat tanda merah itu di leher Millie
"Kamu udah lama jadi istri aku, aku belum dapetin hak aku" Rafael menatap mata Millie dengan nafas memburu
"Aku.. aku..." Millie tidak melanjutkan kata katanya karena Rafael lebih dulu membungkamnya
Keduanya terhanyut dalam buaian asmara, Millie bahkan tidak sadar apa yang di lakukan Rafael padanya
Gejolak yang begitu besar membuatnya lupa akan batasan yang dia berikan pada Rafael, malam itu dia menyerahkan segalanya, menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk Rafael
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Semalem Rafael telepon katanya kemaren mereka makan di luar karena Millie ketiduran jadi nginep di hotel"
"Ohh.. syukurlah, mama lega kalo mereka baik baik aja" Allea gelisah semalaman karena Rafael juga Millie tidak dapat di hubungi
"Jadi semalem kakak gak pulang ma?" tanya Exel
"Iya.. mama sampe khawatir mereka gak ada kabar"
"Kayaknya pengen bebas berdua tuh" ucap Michelle sambil cekikikan
"Michelle..." mulutnya langsung tertutup rapat seketika ketika mendengar teguran sang ibu
"Maaf" lirih Michelle
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"El.. tunggu El" Dirga menahan tangan Ellia
"Kenapa?" tanya Ellia terkesan dingin
"Aku minta maaf.. aku akan perbaiki semuanya, please jangan diemin aku"
"Apa yang harus di perbaiki? kayaknya gak ada deh" ucap Ellia
"Syukur deh berarti kamu udah maafin aku?"
"Bukan itu.. aku mau kita break dulu, aku mau fokus belajar biar lulus tahun ini" Dirga begitu terkejut mendengar hal itu
"Kamu masih bisa belajar aku janji gak akan ganggu kamu kalo kamu lagi belajar, kita gak perlu break Segala "
"Keputusan aku udah bulat, maaf ya aku di panggil dosen" Ellia menepis tangan Dirga lalu pergi
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Millie berjalan gontai menuju area sekolah, dia sampai tidak melihat ketiga sahabatnya yang duduk di lorong kelas
"Woi.. kenapa Lo?" tanya Jason, Millie menoleh lalu menghampiri mereka
"Sorry gue gak liat Lo pada" ucap Millie sambil duduk bersandar di tiang
"Lo anemia? tumben lemes" tanya Roy
"Gue kurang tidur aja semalem, gue lemes masih ngantuk" jawab Millie sambil menguap
"Jangan jangan Lo udah..." Millie mendorong kepala Jason
"Sialan.. gak"
"Emang Lo tau gue mau ngomong apa?"
__ADS_1
"Gak tau dan gak mau tau, otak Lo gue udah paham" ucap Millie
"Lo beneran gak apa apa mil? Lo udah makan?"
"Gue gak sempet sarapan, gue kesiangan" jawab Millie lemas
"Ya ampun.. Lo ngapain aja semalem Ampe gak tidur bangun aja kesiangan"
"Gue belajar.. gue laper temenin ke kantin" mereka berempat akhirnya pergi ke kantin
Ketika sedang sarapan dengan bubur ayam Millie memejamkan matanya sambil terus menggeleng gelengkan kepalanya, ketiga sahabatnya saling senggol melihat apa yang Millie lakukan
Sebenarnya Millie mengingat kejadian malam itu, begitu memalukan baginya dia sampai menggeleng agar bisa melupakannya
Flashback on
"Selamat pagi" ucap Rafael ketika Millie baru saja membuka matanya
"Pagi.." jawab Millie
Millie baru sadar kepalanya tidur di atas tubuh Rafael yang masih polos, Millie kembali teringat kejadian semalam lalu berbalik membelakangi Rafael
"Kenapa? kamu malu?" Rafael memeluk Millie dan meletakkan kepalanya diatas kepala Millie
"Kita... kita..."
"Iya.. maaf aku khilaf, aku lupa sama janji aku buat gak sentuh kamu" Millie menutup wajahnya, dia malu karena dia juga melupakan batasan yang dia berikan pada Rafael
Rafael mengecup tengkuk juga bahu Millie membuat bulu kuduknya meremang, Millie spontan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan bergeser hingga dia terjatuh dari ranjang
"Sayang kamu gak apa apa?" tanya Rafael
"Eng.. enggak... aku kesiangan" Millie terburu buru hingga beberapa kali kakinya menginjak selimut yang dia pakai
Rafael mengulum senyumnya dia merasa gemas dengan tingkah Millie
Flashback off
"Gila..." Millie berteriak sambil menggebrak meja membuat ketiga sahabatnya terkejut juga mereka menjadi pusat perhatian
"Lo kenapa?"
"Siapa yang gila?"
Millie mencuci wajahnya berkali kali untuk menyegarkan pikirannya, Millie menatap kaca sambil merutuki dirinya sendiri
"Dasar bodoh.." Millie menunjuk-nunjuk dirinya sendiri dengan umpatan
"Gue harus ke apotek"
Sepulang sekolah Millie pulang tanpa sepengetahuan teman temannya bahkan Rafael menunggu di sekolah cukup lama
"Millie kayaknya udah pulang deh kak" ucap Dita
"Sama siapa?"
"Gak tau.. tuh temen temennya baru keluar" Jason dan kedua temannya baru saja masuk parkiran
"Hei kalian liat Millie gak?" tanya Rafael
"Enggak kak.. kita pikir udah pulang duluan" Karena tak menemukan Millie akhirnya Rafael pulang
Di apotek Millie baru saja membeli pil kontrasepsi, walaupun malu dia berpura-pura membelikannya untuk ibunya
Saat keluar dari apotek Millie di tabrak seseorang hingga pil yang dia beli terjatuh
"Anak sekolah beli pil kontrasepsi? " ucap seseorang
Millie segera ngambilnya dan memasukkannya kedalam saku, ketika hendak pergi orang tersebut menahan tangannya
"Kamu Millie, kan?" ternyata orang tersebut adalah Anjani
Millie memejamkan matanya lalu berbalik menatap Anjani, Anjani menatap Millie dengan tatapan aneh
"Kamu...."
"Maaf ya aku buru buru" Millie menepis tangan Anjani lalu berlari keluar
"Jangan jangan dia... enggak.. ini gak mungkin" gumam Anjani
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Millie baru saja sampai di rumahnya dia tidak memperhatikan sekeliling langsung berlari menuju kamarnya, Rafael yang sedang duduk bersama Michelle dan Exel di ruang keluarga sama sekali tak terlihat olehnya
Rafael menyusul Millie kedalam kamar namun kamar tersebut tampak kosong, terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi
__ADS_1
"Kamu di dalam?"
"Iya.. bentar" Jawab Millie
Baju sekolah Millie yang berserakan di ranjang langsung di bereskan oleh Rafael dan di bawa ke tempat baju kotor, sesuatu terjatuh dari saku seragam Millie
"Apa ini?" Rafael membaca pil yang terjatuh
Millie keluar dari kamar mandi dan melihat Rafael sedang memegang pil tersebut, dengan cepat Millie mengambilnya dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya
"Kenapa gak bilang bilang kalo mau beli pil kontrasepsi?"
"Aku malu"
"Kamu gak mau punya anak?" tanya Rafael dengan cepat Millie menggeleng
"Kenapa?"
"Aku mau lanjutin sekolah, aku mau jadi dokter kayak mama" lirih Millie
''Mama kamu dulu kuliah udah punya anak"
"Tapi aku gak mau, aku pikir akan terlalu repot aku mau fokus kejar karier aku" Millie bicara sambil menunduk memainkan jari kakinya
"Tapi aku mau punya anak secepatnya"
"Aku mohon jangan paksa aku, aku udah kasih apa yang kamu mau jangan berharap lebih banyak lagi" jawab Millie
"Oke.. aku bisa punya anak dari wanita lain"
"Silahkan" ucap Millie lalu pergi meninggalkan Rafael
"Menggemaskan.. dia sampe beli sendiri, apa dia gak malu?" Rafael tersenyum seraya menggelengkan kepalanya
Dia memang tidak ingin memaksa Millie lagi pula dia juga masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan istri kecilnya, dia hanya senang menggoda Millie saja
"Apa apaan dia itu? makin nyesel gue " gerutu Millie
"Kak kata mama temui mama di kamarnya" ucap Exel ketika Millie turun
"Mau ngapain?"
"Gak tau.. tanya aja sendiri" Millie kemudian mengetuk kamar Allea
Tok.. Tok..Tok..
"Masuk sayang" Allea menarik lembut tangan Millie
"Ada apa ma?" tanya Millie
"Mama kangen sama kamu nak, kamu masih marah sama mama?"
"Enggak ma.. aku cuma.. cuma.." Millie terdiam ketika mengingat sesuatu
"Aduh.. kalo gue bilang gak ada yang percaya sama gue gimana sama Rafael? kalo sampe papa tau dia bohong gawat, udah terlanjur juga" batin Millie
"Enggak ma.. aku cuma malu, aku takut mama sama papa yang masih marah sama aku" jawab Millie
"Marahnya orang tua itu gak akan lama sayang, mama kangen kamu yang ceria di rumah ini, kamu diem bikin perasaan mama sakit"
"Maafin aku ma.. aku gak marah sama siapapun, aku cuma merutuki kebodohan aku sendiri, aku takut mama sama papa gak sayang lagi setelah aku melakukan kesalahan " Millie memeluk Allea dan sang ibu membelai rambut Millie
"Mama dan papa sayang sama kamu nak, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri jaga rumah tangga kalian, walaupun begitu kamu masih gadis kecil mama jangan malu kalo mau manja sama orang tua kamu sendiri, biar mama gak ngerasa kehilangan kamu"
"Mama gak kehilangan aku, aku masih disini" Allea mengecup dahi Millie
"Jangan menghindar dari kami lagi, jadilah Millie seperti yang dulu" Millie hanya mengangguk semakin memeluk Allea
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Selamat siang tuan" Anjani masuk begitu saja keruangan Rafael tanpa mengetuk pintu
"Selamat siang, apa kita ada meeting hari ini?" tanya Rafael
"Tidak ada.. saya hanya mampir untuk mengajak makan siang bersama"
"Maaf.. saya sedang sibuk, bisa anda lihat pekerjaan saya yang menumpuk" Rafael menunjuk berkas yang bertumpuk-tumpuk di meja
"Tidak apa apa, saya akan menunggu" Anjani duduk di kursi yang dia tarik dari tempatnya dan duduk tepat di samping meja kerja Rafael tanpa di persilahkan
Rafael menggaruk kepalanya dia bingung harus bagaimana mengusir Anjani dari sana, dia takut mertuanya tiba tiba datang dan akan menimbulkan kesalahpahaman
Tiba tiba pintu ruangan terbuka membuat Rafael juga Anjani menoleh, Rafael segera berdiri menghampiri seseorang yang mematung di pintu...
Jangan lupa like, komen, vote dan gift 🥰🥰🌹🌹☕☕
__ADS_1