Youth Love

Youth Love
eps 39


__ADS_3

"Kenapa dia bawa Millie menjauh dari rumah, apa yang mereka bicarakan? kenapa Millie kayak gak nyaman gitu? " Ellia memperhatikan keduanya dari balkon di rumahnya


Melihat Millie pergi Ellia segera masuk karena Dirga juga kembali masuk ke rumahnya, Dirga tersenyum ketika Ellia menuruni anak tangga


"Mau jalan jalan gak? " tanya Dirga


"Enggak.. aku lagi gak enak badan" jawab Millie


"Kamu sakit? udah minum obat? " Dirga meletakkan punggung tangannya di kening Ellia


"Aku gak apa apa" Ellia menurunkan tangan Dirga


"Aku mau istirahat, kalo kamu mau pulang silahkan" ucap Ellia


"Kamu beneran mau tidur? ini masih jam tujuh malem" tanya Dirga


"Aku lagi capek banget"


"Ya udah kamu mungkin butuh waktu istirahat, aku pulang ya" Dirga mengusap kepala Ellia lalu pergi


"Aku selalu bingung sama sikap kamu, satu sisi aku ngerasa kamu cinta sama aku tapi di sisi lain aku ngerasa kamu gak rela liat Millie sama cowok lain, apa kamu sebenernya suka sama Millie tapi kamu gak sadar itu? " batin Ellia menatap kepergian Dirga


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Itu orang bukan sih? " ucap Jason


"Jangan berhenti, bisa bisa itu orang jahat" ucap Millie


"Tapi kalo orang butuh bantuan kasian Millie" ucap Abra


Mobil Abra perlahan melewati orang yang tergeletak di aspal, orang tersebut masih bergerak lemah dengan tubuh berlumuran darah


"Ini beneran butuh bantuan" Abra menghentikan mobilnya dan turun diikuti yang lainnya


"To.. long.. " ucapnya lemah nyaris tidak terdengar


"Ini korban begal apa gimana? kasihan banget" ucap Millie


"Ayo kita bantu" Mereka hendak mengangkat orang tersebut bersamaan namun tiba tiba beberapa motor dan mobil mengepung mereka


"Loh.. apa apaan nih" Millie memasang kuda kuda waspada dengan orang orang yang mulai turun dari kendaraannya


"Millie... lari" lirih seorang pria yang tergeletak tak berdaya


"Millie dia ngomong sesuatu" ucap Jason


"Lindungi dia" ucap Millie membuat teman temannya mengelilingi pria tersebut


Mereka melawan sekumpulan orang yang menggunakan pakaian serba hitam lengkap dengan penutup kepala, Millie memang handal dalam berkelahi namun Millie dan teman temannya kalah jumlah


"Gue udah gak sanggup mil" ucap Abra begitu pun Jason yang sudah terkena pukulan

__ADS_1


"Dalam hitungan tiga kita lari, kita gak bisa lawan orang sebanyak ini" ucap Millie


"Satu.. dua.. tiga... " mereka berlari namun tidak dengan Millie


Millie di tarik seseorang dan di suntikkan sesuatu di tangannya membuat dia kehilangan kesadaran, setelah Millie terjatuh tak berdaya di bawah mereka memasukkannya ke dalam mobil lalu pergi


"Gawat.. ternyata mereka mengincar Millie"


"Kita pergi.. kita harus laporin ini sama papanya Millie"


Mereka pergi karena khawatir dengan Millie dan melupakan pria tadi yang sempat ingin mereka tolong, Abra merasa bersalah karena tidak mendengarkan ucapan Millie akhirnya Millie menjadi korbannya


"Semoga lo baik baik aja, gue gak bisa maafin diri gue sendiri kalo lo kenapa napa" batin Abra


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Bang.. kesini sekarang kita di serang lagi" Rafael terburu buru menuju alamat yang di berikan Sony


Sesampainya di sana mereka semua terluka terlebih pria yang sudah berlumuran darah, Rafael mengepalkan tangannya hingga otot-otot di tangannya menegang


"William... William bangun" William adalah teman terdekat Rafael di gengnya, hanya dia yang dapat di percaya oleh Rafael


"Siapa yang melakukan ini? " wajah Rafael di penuhi kemarahan


"Dia.. cewek itu dan teman-temannya"


"Siapa? ngomong yang jelas" Rafael mencengkram baju Sony


"Gak masuk akal, Millie gak akan serang kalian kalo kalian gak buat masalah sama dia" Rafael menghempaskan Sony hingga mundur beberapa langkah


"Ini semua gara gara malam dimana Roshie tewas bang, sebenarnya malem itu gue masih jadi pacar kakaknya Millie tapi gue bawa cewek lain dan kepergok sama Millie, gue gak nyangka dendamnya berkepanjangan"


"Ini udah keterlaluan banget bang, Roshie mati dan sekarang William lo gak bisa diem aja" lanjut Sony


"Sial... aaarrghhhh" teriak Rafael


"Jangan laporin ini ke polisi bang karena percuma dia bisa lolos lagi, kita harus balas dendam sama dia secara langsung sebelum korban lain berjatuhan"


"Millie emang gak pernah memikirkan resiko apapun yang akan menimpa dirinya demi menyelamatkan kakaknya" gumam Rafael


"Ini gue nemu ini di dekat William" Sony memberikan sebuah kalung pada Rafael


"Kalung dari mami"


"Gue bawa William ke rumah sakit dulu, lo tangkap dia dan bawa ke tempat biasa" Rafael pergi membawa William ke rumah sakit


"Akhirnya... " Sony tersenyum smirk lalu melakukan tos dengan teman temannya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Byur

__ADS_1


Millie terbangun ketika seember air di siramkan ke wajahnya, Millie tidak pernah menunjukkan wajah takut dia selalu tenang


"Mampus lo.. kena sekarang"


"Cih.. yakin banget gue bakal mampus? " Millie menunjukkan wajah sombongnya


"Yakin.. gue yakin banget"


Bugh


Millie terkekeh meskipun sudut bibirnya berdarah ketika wajahnya di pukul oleh pria itu, Millie meludah di hadapan pria itu sambil tertawa


"Apa sebenarnya motif kalian? apa karena cewek yang mati tempo hari? " pria itu kembali memukul wajah Millie


"Lo udah bunuh cewek kesayangan bos, dan gara gara lo geng kita jadi berpecah belah"


"Gara gara gue? dasar bego kalian salah orang justru orang kalian yang bunuh cewek itu" pria itu kembali memukul wajah Millie


"Dasar pengecut, lo berani mukul gue karena tangan gue di iket.. lepasin kalo lo emang bener bener jantan"


"Gue menikmati peran gue sebagai pengecut, setelah kita puas siksa lo kita akan pake lo rame rame sebelum lo mati" Millie tertawa mendengar ancaman orang tersebut


"Oh ya? tapi gue yakin sebelum itu terjadi kedua tangan lo gak akan berguna lagi.. dasar geng sampah" hardik Millie


"Lo bilang kami apa? dasar j*l*ng.. " pria itu mencekik leher Millie dan mengangkatnya


"Denger ini baik baik, Sony yang bunuh cewek itu dan kalian menangkap orang yang salah.. kalian sekumpulan orang bodoh"


"Itu cuma alibi lo biar bisa bebas kan? tapi kami gak akan mudah percaya sama orang luar" Millie senyum mengejek menatap merendahkan pria tersebut


"Suatu saat kalo kebenarannya terungkap gue harap kalian akan berlutut di bawah kaki gue" ucap Millie


"Wajah lo cantik tapi lo mematikan, selamat menikmati malam ini lo akan menjadi piala bergilir"


"Sebelum mereka semua, gimana kalo lo yang coba pertama kali? " Ucap Millie dengan nada menggoda


Pria itu sempat berpikir sejenak memandangi wajah Millie dengan seksama, wajah yang lebam dan berdarah karena ulahnya tapi masih saja terlihat cantik dan manis


Pria itu mendekatkan wajahnya pada Millie berniat mencium Millie, dengan cekatan kaki Millie menjatuhkan lawan lalu mengangkat kursi yang dia duduki untuk menginjak telapak tangan pria tersebut dengan kaki kursi


"Arrrggghhh... dasar cewek sialan" pekiknya


"Salah siapa kaki gue gak di iket? gue udah bilang kan sebelum kalian berbuat kurang ngajar sama gue, tangan lo gak akan berguna sebelum itu terjadi"


Pria itu berusaha mengangkat kursi yang di duduki Millie dengan tangan yang satunya lagi namun tidak bisa, karena banyak bergerak untuk melepaskan tangannya akhirnya pisau di sakunya terjatuh


Millie berusaha mengambil pisau itu dengan kakinya dan pria itu juga berusaha mengambilnya, Millie mengapit pisau tersebut di antara jempol kaki dan jarinya lalu menaikan kakinya ke pangkuannya dan perlahan menggesek pisau tersebut pada tali yang melilit tangannya


"Satu tangan lo masih utuh" Millie berhasil membuka ikatan kedua tangannya dan melemparkan pisau di tangannya hingga menancap di tangan pria tersebut


Tawa Millie dan suara teriakan pria tersebut menggema di ruangan tersebut, Millie mendengar suara mobil di depan bangunan tersebut.. karena terlalu panik akhirnya Millie membuat pria itu pingsan

__ADS_1


__ADS_2