Youth Love

Youth Love
eps 95


__ADS_3

Millie menghentikan mobilnya di pinggir jalan dia tak kuasa menahan tangis, baru kali ini menangis karena di benci seseorang


Millie sudah menyayangi mami Rafael seperti orang tuanya sendiri hingga saat mendapatkan perlakuan seperti itu dari mami Rafael membuatnya sangat bersedih


Handphonenya berdering terus menerus namun Millie membiarkannya karena yang menelponnya adalah Rafael, Millie mematikan ponselnya lalu kembali menjalankan mobilnya


"Maaf.. aku gak akan biarin kamu durhaka sama orang tuamu" Millie berpikir jika tidak ada restu dari orang tuanya maka hubungannya tidak akan mudah


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Gimana ini? Anggia kemana? " Cindy sedang kalang kabut karena Anggia hilang di kamar rawatnya


"Pemuda yang harus bertanggung jawab atas kehamilan Anggia udah ketemu, dia ada di tempat gue" ucap Max


"Yang bener? gue bikin babak belur tuh anak" Ucap Danendra


"Jangan bertindak gegabah om.. kalo dia mati kita dalam masalah" ucap Ello


"Sesekali bertindak gegabah gak apa apa, jadi pria jangan lemah" Sergah Max


"Anakku berprikemanusiaan gak kayak kamu" cibir Allea


" Kenapa kalian jadi ribut? ini anakku gimana? " tangis Cindy semakin kencang


Tiba tiba pintu ruangan membuat semua orang menoleh kearah pintu, Anggia menundukkan kepalanya melangkah masuk menuntun tangan Irene


"Kamu kemana aja? kamu bikin mama panik" Cindy langsung memeluk anak semata wayangnya


Anggia tidak menjawab dia ikut menangis dengan sang ibu, Ello menghampiri Irene berniat membawanya masuk namun Irene mundur sebelum Ello mendekat


"Sayang kamu kenal sama Anggia? " tanya Allea seraya merangkul Irene


Irene sejenak saling pandang dengan Anggia yang menggelengkan kepalanya, Irene mengerti apa yang di maksud Anggia


"Aku ajak Anggia jalan jalan tante" jawab Irene


"Masih panggil tante aja, bentar lagi kan kamu nikah sama Ello jadi panggil mama" Irene hanya mengangguk sambil tersenyum


"Jadi kak Ello yang udah p*rk*s* kak Irene? " celetuk Anggia


"Ya ampun... " Cindy langsung membekap mulut Anggia


"Aku mau bicara sebentar sama Irene, permisi" Ello menarik tangan Irene pergi


Irene menepis tangan Ello yang menggenggam tangan nya, Irene sedikit menjauh saat berjalan dengan Ello

__ADS_1


"Sejak kapan lo kenal sama Anggia? " tanya Ello


"Baru hari ini, gue ketemu dia hampir bunuh diri"


"Kenapa lo bohong tadi? " Irene menghentikan langkahnya


"Dia takut orang tuanya tau... Anak itu masih labil kasian dia kebingungan"


"Cowoknya udah ke tangkep sama anak buah papa"


"Terus mau di apain? di nikahin? kayaknya dari awal cowoknya emang gak berniat bertanggungjawab, kasian juga Anggia kalo mereka nikah" ucap Irene


"Terus kalo gak nikah harus gimana? apa mau membesarkan anak itu tanpa ayah atau menggugurkannya? " perkataan Ello seperti menyinggung Irene


"Kalo gak ada yang tanggung jawab, kalo urus sendiri gak mampu ya mungkin itu satu-satunya jalan terakhir"


"Apa kalian para wanita gak mikir kalo janin itu juga bernyawa? apa kalian gak merasa bersalah? " tanya Ello


"Apa kalian para pria gak mampu bertanggung jawab? atau kalian para pria memang benar-benar brengsek cuma mau enaknya aja? tanpa kalian mikirin kehidupan kita para wanita setelah mengandung? apa kalian peduli sama masa depan kami? " jawab Irene


"Gue peduli.. gue bukan pria di luaran sana"


"Tapi awal nya enggak kan? lo ngerendahin gue.. Gue kesel, gue benci sama lo" Terlihat kemarahan di wajah Irene


"Gue mau pulang, gedeg liat muka lo" Jawab Irene tanpa berbalik


Irene benar-benar pergi meninggalkan Ello, pemuda itu hanya tersenyum menatap kepergian Irene


Harapannya menginginkan wanita yang menjadi istrinya harus banyak diam sekarang terwujud, setidaknya sikap ketus Irene lebih dia Terima dari pada sikap centil dan berisiknya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Millie baru saja sampai di rumahnya dan saat dia turun dari mobilnya dia terkejut saat seseorang menarik tangannya, dia tidak menyangka Rafael menyusulnya ke rumah


"Maafin mami.. aku bujuk mami nanti, jangan tinggalin aku" Rafael menggenggam kedua tangan Millie


"Aku malu.. aku malu sama kamu, sama mami.. aku gak punya muka buat terus bertahan di sisi kamu, aku usahain biar perusahaan papi kamu balik, maafin papa aku" Millie menarik tangannya dan melangkah pergi


"Kamu mau kemana? kita belum selesai, aku gak mau kamu nyerah gitu aja" Rafael memeluk Millie dari belakang


"Mami kamu gak akan restui kita, itu gak akan mudah.. aku gak mau membuat kamu jadi durhaka sama orang tua kamu, aku bukan siapa-siapa sementara mereka adalah keluarga tempat kamu pulang" Millie melepaskan tangan Rafael lalu kembali melangkah sampai pintu rumahnya


"Aku gak akan pergi sampai kamu bilang kita akan bertahan dan membuat semuanya kembali baik baik aja, Aku bisa perjuangin kamu, aku bisa melewati semua perintah papa kamu yang aneh aneh, apa kamu gak bisa sedikit bersabar dan berjuang sama aku? " Millie kembali menghentikan langkahnya


"Aku pengecut, aku sayang sama mami dan aku gak mau melukai perasaan mami.. Aku gak bisa liat mama aku menderita begitu pun mami" ucap Millie lalu benar benar masuk ke kamarnya

__ADS_1


Millie melihat Rafael dari jendela kamarnya pemuda itu masih duduk di teras rumahnya, Kedua orang tuanya datang bersama Ello


Mereka tampak berbincang lalu Rafael pergi setelah Max menepuk nepuk bahunya, Yang terjadi sebenarnya....


"Rafael.. ngapain duduk disana nak? ayo masuk" Ucap Allea


"Roman romannya ada yang lagi di cuekin nih" kelakar Max


"Saya pulang aja tan.. besok saya kesini lagi" lirih Rafael


"Anak muda kok loyo begitu, baru juga berantem sama pacar udah kayak akhir dunia"


"Om kayak yang gak pernah muda aja" cicit Rafael


"Lo aja yang lebay" ucap Ello seraya pergi menuju rumah


"Kamu mau masuk dulu? " tanya Allea


"Gak usah tan, Millie juga gak bakal keluar"


"Kalo pulang hati hati di jalan" Allea menepuk bahu Rafael lalu pergi masuk ke rumahnya


"Heh.. lebay, baik baik ya.. Millie kalo marah lama" Max juga menepuk bahu Rafael lalu pergi


Rafael sempat menatap ke arah jendela kamar Millie, dengan cepat Millie menutup jendela kamarnya saat mereka saling memandang


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Kakak darimana? aku nungguin kakak dari tadi" ucap Anna ketika Rafael baru saja sampai di bengkelnya


"Pergi" ucap Rafael lalu menabrak bahu Anna dan melewatinya


"Kakak kenapa benci sama aku? sementara sama Millie enggak? padahal dia yang udah bikin kakak dan mami menderita" Rafael berbalik dengan


"Jaga ucapan lo, lo yang jelekin Millie di depan mami? dan gue yakin lo gak akan menyampaikan kebenaran ini sama mami"


"Papanya Millie menjatuhkan perusahaan papi karena papa tiri gue korupsi, dia awalnya dendam sama gue karena gue hampir bunuh Millie, tapi yang dia lakuin emang bener.. sebelum kerugian perusahaan semakin meningkat perusahaan itu harus di tutup, jadi jaga mulut lo" ucap Rafael


"Bunuh Millie? jangan bohong" Anna tidak percaya melihat Rafael yang bucin hampir membunuh Millie


"Kalo lo gak tau kebenarannya jangan sembarangan ngomong, sekarang pergi" Rafael mendorong Anna sampai keluar sari bengkelnya


"Kak.. ini udah malem gue gak mungkin pulang sendiri"


"Pulang sendiri, gue gak nyuruh lo kesini jadi jangan nyusahin gue" Rafael mendorong motornya masuk lalu menutup dan mengunci bengkelnya membiarkan Anna di luar

__ADS_1


__ADS_2