
Max dengan wajah garangnya menatap Ello yang hanya menundukkan kepalanya, sementara Millie menenangkan Allea yang masih menangis karena kecewa pada anak sulungnya
"Aku gak mabuk pa.. Aku juga gak tau kenapa aku ngelakuin itu" ucap Ello
"Kamu gak mabuk tapi kamu tidurin anak orang? kamu udah gila? " Max menampar wajah Ello
"Aku gak tau kenapa aku gak bisa tahan pa.. sumpah aku gak bermaksud kayak gitu"
"Bawa wanita itu ke rumah, jadilah laki-laki yang bertanggung jawab" ucap Max
"Baik pa"
"Millie gak apa apa kan sendiri dulu? nanti bibi kesini buat jagain kamu" ucap Max
"Iya pa gak apa apa"
"Tapi inget jangan diem diem ketemu sama cowok itu" Max memperingatkan Millie
"Iya pa"
Max membawa Allea pergi tanpa memperdulikan Ello, Millie turun dari ranjangnya dan memeluk sang kakak
"Gue gak tau sebenarnya lo kenapa, gue cuma berdoa semoga masalahnya cepet selesai"
"Gue pulang dulu ya.. kalo ada apa apa telepon aja" ucap Ello
"Ya.. lo hati hati"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Malam itu di rumahnya Ello membawa Arumi bertemu langsung bersama orang tuanya, Arumi menundukkan kepalanya seraya menangis
"Ceritakan bagaimana Ello bisa masuk ke kamarmu? "
"Malam itu Ello tiba-tiba masuk dan.. dan.. dia memaksaku" Ello hanya tertunduk dia sendiri tidak terlalu mengingat kejadian itu dengan jelas
"Apa kamu tidak menolak? atau berontak dan berusaha kabur? "
"Sudah om tapi gak berhasil" lirihnya
"Apa yang kamu lakukan setelah itu? " tanya Max
"Aku tertidur om"
"Kenapa kamu malah tidur? kenapa bukannya lapor kalo kamu di paksa? " Arumi terlihat gelagapan mendengar pertanyaan itu
"Itu... itu.. aku... " Arumi semakin terisak
"Mau saya bawa ke rumah sakit? mungkin kamu terluka? "
"Eng.. enggak om, aku.. aku.. malu"
"Kenapa kamu seperti ketakutan? " tanya Max
__ADS_1
"Dia ketakutan karena papa menekan dia" sergah Ello
"Menekan bagaimana? papa cuma nanya kejadian yang sebenarnya, kenapa harus takut? kalo dia jujur papa ada di pihak dia" ucap Max
"Jadi om pikir aku berkata bohong? "
"Kapan saya bilang kamu bohong? saya cuma mau tau kebenarannya tapi kamu terlihat seperti ketakutan" ucap Max
"Pa.. dia korbannya, disana gak ada siapa siapa lagi selain dia"
"Pa.. mungkin dia hanya tegang" ucap Allea
"Lalu apa mau kamu? " tanya Max
"Aku mau pertanggungjawaban om.. siapa yang mau sama wanita yang udah gak suci? " lirihnya
"Banyak... banyak orang yang mau menerima wanita seperti itu asal dia mau berubah"
"Pa.. kenapa kamu seolah olah sedang melindungi anak kita, perbuatannya salah" ucap Allea
"Aku cuma kasih tau aja, siapa juga yang mau belain Ello"
"Kamu siap bertanggung jawab? " tanya Max pada Ello
"Siap gak siap pa.. ini salah aku"
"Ello sudah mengatakan akan bertanggungjawab, tapi... kamu kan gak hamil juga jadi pacaran aja dulu" ucap Max
"Tapi pa... "
"Maksud om tunggu Ello selesai kuliah dan punya pekerjaan baru dia akan nikahi kamu, om memang keras orangnya, jangan masukin hati ya kalo ada ucapan yang gak enak di dengar" ucap Allea dengan lembut
"Jadi gimana? " tanya Max
"Oke.. aku setuju" jawab Ello lagi pula dia juga belum siap untuk menikah
Arumi tidak bisa berkata kata lagi dia hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju, Dalam hati Arumi mengumpat dia sangka akan mendapatkan simpatik dari kedua orang tua Ello tapi nyatanya tidak
"Sialan nih orang tua" Arumi mengumpat dalam hatinya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Kamu ngapain disini? "
"Temenin kamu lah, aku liat tadi keluarga kamu pergi" jawab Rafael
"BIbi bentar lagi datang, pergi sana"
"Cuma bibi, dia gak mungkin bawa pistol kan? " Rafael malah naik ke ranjang di sebelah Millie
"Tapi dia bakal lapor sama papa"
"Aku bisa kabur sebelum papa kamu datang" Jawab Rafael Sambil memeluk Millie
__ADS_1
"Jangan gini malu nanti ada yang masuk"Millie berbalik membelakangi Rafael
"Bentar aja yang.. nyaman banget" Rafael mengusak kepalanya di punggung Millie
Pintu terbuka Millie dengan cepat menyingkirkan tangan Rafael lalu bangun untuk duduk, Rafael turun dari ranjang sambil tersenyum
"Non kata tuan.. "
"Jangan bilang papa ya bi.. kita gak macem-macem kok" bibi tidak bisa berbuat apa apa dia hanya mengangguk
"Tapi kalo nanti tuan tau gimana? " tanya Bibi
"Biar aku yang urus"
"Ini Non bibi bawain soto, di makan mumpung masih panas" bibi memberikan sebuah rantang pada Millie
Bibi duduk di sofa memperhatikan Rafael dan Millie yang sedang makan sambil tertawa ketika Rafael menceritakan hal yang lucu, bibi bisa lega melihat Millie tertawa lepas kembali setelah sempat beberapa hari mogok bicara bahkan tidak keluar kamar
"Kamu aja yang bodoh.. aduhh" Rafael meringis ketika Millie mencubit perutnya
"Lagian pertanyaannya apa jawabnya apa, mana kepikiran sampe situ" gerutu Millie ketika tidak dapat menjawab tebak tebakan konyol yang di berikan Rafael
"Dih.. kok marah? masa gitu aja marah? " Millie mengerucut bibirnya dia tidak ingin bermain tebak tebakan lagi
"Iihh.. gampang marah, gak mau menerima kekalahan.. lihat bi.. kayak anak kecil" Rafael menunjuk Millie sambil tertawa
"Gak lucu" Millie menarik tangan Rafael untuk menggigitnya namun Rafael juga bertahan menarik tangannya
Bibi menggelengkan kepala melihat keduanya ribut, melihat Rafael dan Millie seperti melihat kakak dan adik ini di rumah
Ello yang bersikap dingin nyatanya selalu tertawa jika bersama Millie, bahkan dia tidak pernah marah jika Millie menjahili nya
Alih alih dekat dengan kembarannya Ello lebih dekat dengan Millie, Apalagi Millie yang selalu membuat masalah dan di marahi oleh Max selalu butuh hiburan juga support dari sang kakak
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Kamu kenapa ngomong gitu sama Arumi? "
"Aku merasa ada sesuatu yang janggal, aku gak bisa percaya sama dia"
"Kamu gak liat dia ketakutan? dia melalui hal yang berat dan itu karena anak kita"
"Kamu jangan bodoh, aku sudah tamat dengan wanita wanita seperti itu, aku sudah hafal" ucap Max
"Oohh ya.. aku lupa, kamu memang selalu di kelilingi wanita seperti itu tapi.. jangan samakan semua wanita seperti itu"
"Bukan gitu sayang.. sini jangan marah dulu" Max memeluk Allea dan membawanya duduk di pangkuannya
"Maksud aku bukan menyamakan semua wanita, aku cuma mau Ello berhati hati.. ini ada yang aneh"
"Aneh gimana? " tanya Allea
"Ello di kasih obat makanya dia gak bisa tahan hasratnya, dan kamar.. apa kamu gak curiga gitu kenapa Ello masuk kamarnya dia, berarti kamarnya gak di kunci? dia temen kuliah Ello tapi kan dia gak ada keperluan juga disana, apa itu sebuah kebetulan? " Allea berpikir sejenak, tampaknya memang seperti sudah terencana
__ADS_1
"Hafal banget kamu" Allea menatap Max dengan Ekor matanya
"Jangan lagi.. please" Max memeluk dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Allea, dia tahu istrinya akan segera meledak jika mengingat wanita-wanita masa lalu Max