Youth Love

Youth Love
eps 129


__ADS_3

"Lepas.. gue bisa sendiri" Rafael menolak bantuan suster


"Kenapa ini Sus? " tanya Anna


"Pasien jatuh tapi tidak mau di bantu" jawab suster


"Kenapa kak? ayo bangun" Anna hendak membantu Rafael namun dia menepis nya


"Lepas gue bisa sendiri, lo pikir gue lumpuh? "


"Gak apa apa Suster bisa pergi" ucap Anna


Rafael berdiri dengan satu tangan yang berpegangan pada tempat tidur, tampak kemarahan di wajah Rafael marah


"Kakak kenapa? apa ini gara-gara Millie? "


"Jangan sebut nama dia lagi" ucap Rafael dengan dingin


"Apa mereka beneran udah selesai? rencana gue berhasil" Batin Anna


Pintu ruangan terbuka mami Rafael dan William masuk kedalam ruangan itu, tatapan Rafael begitu tajam membuat William canggung


"Gimana hari ini bang? lo udah mendingan? "


"Pergi lo dari sini, gue gak mau kenal sama penghianat" ucap Rafael dingin


"Maksudnya? "


"Lo penghianat, pergi dari sini" ucap Rafael tanpa menatap William


"Bang.. gue penghianat apaan? lo kok tiba-tiba ngomong gitu? " William benar-benar tidak mengerti apa yang di katakan Rafael


"Apa merebut pacar temen sendiri itu bukan penghianat? "


"Bang gue gak... "


"Pergi lo.. muak gue liat lo" Meskipun William berusaha menjelaskan namun lagi lagi Rafael tidak pernah mau mendengarkan


"Pergi dulu nanti biar tante yang bicara" ucap mami Rafael


Karena Rafael tidak mau menerima kehadirannya akhirnya William pergi dari pada membuat keadaan Rafael semakin parah


"Sorry kak William lo harus jadi kambing hitam" batin Anna


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Lagi ngapain? " Ello duduk di belakang Irene yang sedang duduk di sofa memandang keluar jendela


"Gue ngerasa di usir sama mama, kesini bawa baju gue segitu banyaknya"


"Lo sendiri yang ngajak Arumi tinggal di rumah, yang di lakukan mama sama papa udah bener"


"Kan kasian, gue pernah ngerasain frustasi itu gimana" ucap Irene


"Eehh... jangan gini" Irene menggedikkan bahu ketika Ello mencium bahunya


"Kenapa? apa lo gak mau jadi istri yang seutuhnya? "

__ADS_1


"Bu.. bukan gitu, Ello please kasih gue waktu" Irene berdiri dari duduknya


"Sini" Ello menarik tangan Irene agar duduk di pangkuannya


"Gak.. jangan gini" Ello benar-benar menariknya dan memeluknya setelah dia duduk


Irene hanya menunduk ketika Ello membelai wajahnya, Ello mengangkat dagu Irene dengan jari telunjuknya


"Boleh? gue janji gak lebih" Ello mengusap bibir Irene dengan ibu jarinya, seakan mengerti Irene mengangguk meskipun ragu


Ello menekan tengkuk Irene dengan tangannya, jangan di tanya bagaimana kencangnya detak jantung Irene saat ini


Laki-laki yang selama ini dia kejar kejar dengan segala penolakannya kini mengantarkan dirinya sendiri, Irene masih ketakutan tapi di hatinya ada perasaan aneh yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Mama... Papa.. " lirih Anggia ketika membuka matanya, kedua orang tuanya tidur di sofa dan di kursi tepat di samping tempat tidurnya


"Kamu mau minum sayang? kenapa nak, ada yang sakit? " Cindy terbangun dari tidurnya


"Mama maafin aku ma, aku banyak salah sama mama dan papa" Anggia sampai terjatuh dari ranjang dan bersimpuh di kaki Cindy


"Bangun sayang jangan seperti ini, apapun kesalahanmu mama maafkan nak, bukan sepenuhnya salah kamu ini juga salah mama yang gak bisa didik kamu dengan benar" Cindy membangunkan Anggia


"Aku yang salah ma.. mama dan papa orang tua yang baik, selalu mengajarkan aku yang baik, ampuni aku ma" Anggia menangis tersedu memeluk kaki Cindy


"Sudah sayang bangun, kejadian ini harus jadi pelajaran buat kamu.. jangan ulangi kesalahan yang sama"


Cindy membantu Anggia kembali berbaring lalu memeluknya, melihat anak dan istrinya berpelukan Danendra pun menghampiri mereka dan mencium kening mereka lalu memeluk keduanya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Ohh.. kamu bikin kaget aja, aku kan supir jadi harus nganter majikan kemanapun" jawab papi Rafael


Tiba-tiba handphone papa tiri Rafael berdering dengan wajah paniknya dia menjawab teleponnya


"Halo.. tunggu di situ, saya kesana sekarang" jawab papa tiri Rafael lalu menutup teleponnya


"Aku pergi dulu ya, maaf gak bisa nganter pulang soalnya bos aku telpon"


"Gak apa apa.. kamu hati hati kerjanya" ucap mami Rafael


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Seminggu sudah berlalu Anggia mau pun Rafael sudah keluar dari rumah sakit, hari ini Millie dan Dita sedang lari pagi di sebuah taman


Mereka berlari kecil sambil mengobrol sambil menertawakan cerita cerita aneh Dita tentang Niko, Millie berhenti di sebuah bangku taman yang kursinya saling membelakangi dengan kursi lain


Setelah duduk disana cukup lama Millie dan Dita hendak melanjutkan kembali lari paginya Millie merasa seseorang yang duduk di belakangnya tidak asing


keduanya saling menoleh sampai wajah mereka berhadapan, lama mereka saling memandang namun seseorang membuat pemikiran keduanya buyar


"Disini gak enak kita pergi aja" ucap Rafael dengan dingin pada Anna


"Katanya kakak suka disini adem"


"Sekarang enggak lagi" ketus Rafael

__ADS_1


"Kalian gak perlu pergi, gue udah mau pergi kok.. ayo Dita" Millie menarik tangan Dita pergi


"Millie kayaknya pak Rafael sekarang galak banget ya, tadi ngapain dia sama Anna? bukannya pak Rafael pacarnya Millie?"


"Gue udah putus ta.. gue laper cari sarapan yuk" Millie mengalihkan pembicaraan dan berlari lebih dulu


"Millie tunggu..." Dita berlari mengejar Millie


"Gue yang pengen lepas dari dia tapi gue yang sakit hati sendiri, kenapa susah buat gue lupain dia? apa karena dia cinta pertama gue? " Batin Millie


Disana Millie juga melihat William dia segera bersembunyi di balik pohon, namun sialnya Dita malah memanggilnya dengan kencang hingga William mendengar dan menghampiri mereka


"Millie ngapain ngumpet di pohon? " Millie memejamkan matanya ingin sekali dia mencubit bibir Dita


Saat hendak pergi tiba tiba William memanggilnya dari belakang, Millie kembali memejamkan mata sebelum berbalik


"Millie"


"Sial" Batin Millie


"Lo lagi lari pagi juga? " tanya William


"Iya.. gue udah mau pulang " Jawab Millie


"Kok pulang? tadi katanya mau cari sarapan" lagi lagi Dita membuat Millie kesal


"Enggak.. gue sarapan di rumah aja"


"Tadi di depan ada tukang bubur ayam, kita sarapan bareng aja biar gue yang traktir" ucap William


"Boleh banget" Dita menjawab sambil menarik tangan William dan Millie


"Duhh.. nih anak bikin kesel aja" batin Millie


Millie dan Dita duduk di kursi sementara William memesan buburnya, Millie hanya diam saja sambil memainkan sendok


"Millie kenapa diem aja sih? " tanya Dita


"Lo sembarangan aja Terima tawaran orang, gue gak enak"


"Kan dia yang nawarin, lagian dia ganteng Millie kan jomblo bisa lah" ucap Dita tanpa dosa


"Iihh.. kalo Rafael liat bisa gawat" Millie melayangkan sendok hampir memukul kepala Dita namun dia urungkan


"Emang kenapa? kan udah putus emang gak liat tadi dia sama Anna? "


"Dengerin gue, kak William itu temen deketnya Rafael dan kalo dia lihat gue saya dia nanti hubungan pertemanan mereka bisa kacau.. ngerti? " Millie bicara setengah berbisik di hadapan Dita


"Ngerti"


William datang dengan pesanan mereka dan menyajikan bubur di meja, baru saja mereka makan satu suapan tiba tiba perkataan Dita kembali membuat Millie gedek


"Kakak temennya pak Rafael? emang kalo kakak pacaran sama Millie pak Rafael marah? kan kata Millie udah putus kenapa harus marah, iya kan? " William menoleh kearah Millie yang sedang komat kamit sendiri dengan wajah kesal


William gemas dengan ekspresi Millie pada teman di depannya, dia hanya tersenyum memandangi wajah Millie


"Nih makan.. tambahin cabe yang banyak biar seger " Millie menuang cabe sampai tiga sendok ke mangkuk Dita

__ADS_1


"Ihh.. Dita gak suka pedes Millie" Akhirnya Dita membuang sambal yang berada di atas buburnya dengan bibir manyun


__ADS_2