
Dua orang pria di dorong hingga tersungkur di hadapan Max yang duduk di sebuah kursi, Dua orang tersebut tampak menundukkan kepalanya
"Siapa yang menyuruh kalian? " Tanya Max
"Kalian tuli ya? " Para penjaga Max mendorong tubuh salah satunya dengan tingkat yang dia bawa
Salah satu mengangkat kepalanya dan Saat berbicara rupanya mereka tidak bisa berbicara, mendengar juga buta huruf, Max menggaruk kepalanya pasalnya dia juga tidak paham dengan apa yang di ucap mereka
"Tuan sepertinya kita membutuhkan seseorang yang bisa bahasa isyarat"
"Cari orang yang mengerti bahasa Isyarat, sementara itu bawa mereka ke sel " ucap Max
"Pinter banget orang itu, lo pikir siapa yang lagi lo hadapi sekarang? " Gumam Max
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Jangan nakal ya.. " Millie masih saja ketus pada Rafael
"Buka pintunya" ketus Millie ketika Rafael mengunci pintu mobilnya
"Cium dulu"
"Gak... cium aja sana cewek lain" ucap Millie
"Sayang... aku udah bilang kamu salah paham, aku udah ceritakan keadaan arumi sama kamu"
"Gak usah peluk peluk bisa kan? cuma modus aja, sekalinya playboy tetep aja playboy" Gerutu Millie
"Aku seneng deh di cemburuin sama kamu, aku merasa di cintai"
"Siapa juga yang cemburu, udah cepet buka pintunya" Rafael malah tersenyum menatap Millie menopang kepalanya dengan tangan diatas stir
"Cium dulu baru aku buka" Rafael mendekatkan wajahnya
"Tolong... tolong.. " Millie berteriak membuat Rafael segera membekap mulutnya
"Nanti orang ngira macem macem" Millie melepaskan tangan Rafael lalu kembali berteriak
"Tolong.. ada orang c*b*l, saya di lecehkan" Millie berteriak sambil membuka jendela mobil
Rafael membuka kuncinya pintu mobilnya membuat Millie langsung turun dan berlari menjauh, Millie menjulurkan lidahnya mengejek Rafael
Rafael terkekeh sambil menggeleng melihat kelakuan pacar kecilnya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Irene berjalan sambil mengelus perutnya yang membuncit, Kini dia sudah kebal dengan perkataan orang orang dan tidak menghiraukannya
Dia memiliki suami yang begitu perhatian dan menyayanginya tentu saja ocehan orang lain tidak akan dia dengar, Irene keluar dari area kampus menuju ke pinggir jalan
Tiba-tiba seseorang menabraknya hingga dia mundur beberapa langkah, tangan orang tersebut menarik Irene yang hampir terhuyung hingga menarik Irene ke dalam pelukannya
"Jalan hati hati dong" ketua Irene sambil menarik diri dari pelukan orang tersebut
"Hai... lama gak ketemu"
"Adrian, ngapain disini? " Tanya Irene
"Kebetulan lewat aja.. gue inget pertama kali kita ketemu disini"
"Hmm.. gue duluan ya, mau beli sesuatu dulu" Irene menghindari Adrian dari pada menjadi masalah jika Ello melihatnya
Saat Irene hendak pergi tiba tiba sebuah motor hampir menyerempet Irene beruntung Adrian kembali menariknya, Irene jatuh di pelukan Adrian hingga kepalanya membentur dada Adrian
"Lo gak apa apa? perut lo baik baik aja? " Adrian hendak memegang perut Irene namun sebuah tangan menepis nya
Ello melihat Adrian memeluk Irene namun tidak melihat adegan sebelumnya, Wajah dingin Ello membuat Irene merasa sedang dalam bahaya
"Jangan sentuh istri gue" Ello menarik tangan Irene dan membawanya pergi
Di dalam mobil Ello tidak mengatakan apapun dia hanya diam dengan wajah dinginnya, Irene hanya sesekali melirik dia takut untuk sekedar memulai obrolan
"Aduh.... " Irene meringis memegangi perutnya saat mobilnya sempat anjlok karena menginjak polisi tidur yang cukup tinggi
Irene mencelos saat Ello tidak bereaksi apapun bahkan dia hanya melirik sekilas lalu kembali menjalankan mobilnya, Irene merasa sedih melihat Ello yang dingin tidak seperti biasanya yang selalu manja manja dengannya dan selalu khawatir dengan hal hal kecil
Sesampainya di rumah Ello turun lebih dulu meninggalkan Irene, Irene masuk ke dalam kamar menyimpan buku bukunya lalu masuk ke kamar mandi
Keduanya tidak saling bicara Ello sibuk dengan laptopnya sementara entah sedang apa Irene di kamar mandi dengan begitu lama, Ello baru tersadar setelah memeriksa jam di tangannya
Irene sudah dua jam berada di dalam kamar mandi membuatnya khawatir, Ketika Ello membuka pintu kamar mandi Irene duduk lantai di dekat kloset menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya di atas lutut
"Hei... kamu ngapain disini? " Irene tertidur saat Ello mengangkat kepalanya
Sepertinya dia baru saja menangis terlihat dari genangan air mata di matanya, Ello mengangkat Irene dan merebahkan nya di ranjang
"Dasar.. bukannya nanya suaminya kenapa dia malah nangis di kamar mandi, aku cemburu tau gak? bukannya bujuk suaminya malah dia nangis sendirian" akhirnya Ello ikut tidur memeluk Irene
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Millie mau bareng gak? " Tanya Niko
"Gak deh, gue mau ke kantor Rafael dulu katanya dia lembur"
"Ya udah.. hati hati "
Millie pergi ke kantor Rafael dengan naik taksi sambil membawa makanan untuknya, Sesampainya disana Millie langsung menuju ruangan Rafael
__ADS_1
"Rafaelnya ada kak? " tanya Millie pada sekretarisnya
"Ada nona.. di dalam juga ada temannya"
"Siapa? " tanya Millie
"Tidak tau.. baru lihat kesini" Ucapnya
Millie pergi masuk ke dalam ruangan Rafael dan lagi lagi dia melihat Arumi menangis menutup wajahnya dan Rafael mengelus rambutnya
"Sayang sini.. kenapa bengong disitu? " Rafael memanggil Millie
"Aku ada urusan lain, aku kesini cuma mau kasih ini mungkin kamu belum makan" Millie meletakkan makanannya di atas meja lalu berniat pergi
"Mau kemana? kebiasaan suka pergi gitu aja padahal kamu pasti lagi salah paham kan? " Rafael menarik Millie hingga duduk di pangkuannya
"Siapa yang salah paham? bukannya kamu yang kayak gitu? "
"Terus kenapa itu bibirnya cemberut gitu? di gigit tawon? " Millie berusaha menyingkirkan tangan Rafael namun dia memeluknya semakin erat
"Jangan salah paham Millie.. kita gak ada hubungan apapun, gue udah anggap banget Rafael kakak gue sendiri" ucap Arumi
"Gimana gak salah paham kalo setiap liat deket banget gitu" batin Millie
"Gak kok.. gue gak salah paham, mau apapun diantara kalian gue gak berhak marah untuk itu.. kalian udah kenal lama sementara gue cuma orang baru yang gak tau apapun" jawab Millie
"Sepertinya lo harus bujuk sendiri, sorry gue udah melibatkan lo dalam masalah hidup gue'' ucap Arumi lalu pamit pergi
" Apa maksudnya tadi? kamu masih mikir yang enggak enggak? "
"Jangan gini.. lepasin, aku mau pulang" Millie menjauhkan kepala Rafael yang mengendus tubuhnya
"Siapa yang izinin pulang? kamu harus disini temenin aku lembur"
"Gak mau, aku mau nonton sama Jason" Millie berbohong
"Kamu berani nonton sama cowok lain? " Rafael sepertinya akan marah terlihat dari wajahnya
"Dia bukan cowok lain, dia temen lama aku.. aku udah anggap dia kakak aku sendiri" ucap Millie seolah membalikkan kata kata Arumi pada Rafael
"Berani kamu deket sama cowok lain liat aja apa yang akan aku lakuin sama dia" ancam Rafael
"Aku gak pernah ngancam kamu, kenapa kamu ngancam aku? kalo kamu bebas ketemu siapa aja berarti aku juga dong" Rafael tiba tiba menggigit leher Millie hingga memerah
"Akkhh... sakit" Millie memukul Rafael lalu menjauhkan diri
"Sekarang kamu boleh pergi kalo kamu mau, biar orang orang lihat tanda di leher kamu"
"Nyebelin tau gak? " Millie mengusap lehernya sendiri
Dua orang pria di dorong hingga tersungkur di hadapan Max yang duduk di sebuah kursi, Dua orang tersebut tampak menundukkan kepalanya
"Siapa yang menyuruh kalian? " Tanya Max
"Kalian tuli ya? " Para penjaga Max mendorong tubuh salah satunya dengan tingkat yang dia bawa
Salah satu mengangkat kepalanya dan Saat berbicara rupanya mereka tidak bisa berbicara, mendengar juga buta huruf, Max menggaruk kepalanya pasalnya dia juga tidak paham dengan apa yang di ucap mereka
"Tuan sepertinya kita membutuhkan seseorang yang bisa bahasa isyarat"
"Cari orang yang mengerti bahasa Isyarat, sementara itu bawa mereka ke sel " ucap Max
"Pinter banget orang itu, lo pikir siapa yang lagi lo hadapi sekarang? " Gumam Max
🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝
"Jangan nakal ya.. " Millie masih saja ketus pada Rafael
"Buka pintunya" ketus Millie ketika Rafael mengunci pintu mobilnya
"Cium dulu"
"Gak... cium aja sana cewek lain" ucap Millie
"Sayang... aku udah bilang kamu salah paham, aku udah ceritakan keadaan arumi sama kamu"
"Gak usah peluk peluk bisa kan? cuma modus aja, sekalinya playboy tetep aja playboy" Gerutu Millie
"Aku seneng deh di cemburuin sama kamu, aku merasa di cintai"
"Siapa juga yang cemburu, udah cepet buka pintunya" Rafael malah tersenyum menatap Millie menopang kepalanya dengan tangan diatas stir
"Cium dulu baru aku buka" Rafael mendekatkan wajahnya
"Tolong... tolong.. " Millie berteriak membuat Rafael segera membekap mulutnya
"Nanti orang ngira macem macem" Millie melepaskan tangan Rafael lalu kembali berteriak
"Tolong.. ada orang c*b*l, saya di lecehkan" Millie berteriak sambil membuka jendela mobil
Rafael membuka kuncinya pintu mobilnya membuat Millie langsung turun dan berlari menjauh, Millie menjulurkan lidahnya mengejek Rafael
Rafael terkekeh sambil menggeleng melihat kelakuan pacar kecilnya
🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝
Irene berjalan sambil mengelus perutnya yang membuncit, Kini dia sudah kebal dengan perkataan orang orang dan tidak menghiraukannya
__ADS_1
Dia memiliki suami yang begitu perhatian dan menyayanginya tentu saja ocehan orang lain tidak akan dia dengar, Irene keluar dari area kampus menuju ke pinggir jalan
Tiba-tiba seseorang menabraknya hingga dia mundur beberapa langkah, tangan orang tersebut menarik Irene yang hampir terhuyung hingga menarik Irene ke dalam pelukannya
"Jalan hati hati dong" ketua Irene sambil menarik diri dari pelukan orang tersebut
"Hai... lama gak ketemu"
"Adrian, ngapain disini? " Tanya Irene
"Kebetulan lewat aja.. gue inget pertama kali kita ketemu disini"
"Hmm.. gue duluan ya, mau beli sesuatu dulu" Irene menghindari Adrian dari pada menjadi masalah jika Ello melihatnya
Saat Irene hendak pergi tiba tiba sebuah motor hampir menyerempet Irene beruntung Adrian kembali menariknya, Irene jatuh di pelukan Adrian hingga kepalanya membentur dada Adrian
"Lo gak apa apa? perut lo baik baik aja? " Adrian hendak memegang perut Irene namun sebuah tangan menepis nya
Ello melihat Adrian memeluk Irene namun tidak melihat adegan sebelumnya, Wajah dingin Ello membuat Irene merasa sedang dalam bahaya
"Jangan sentuh istri gue" Ello menarik tangan Irene dan membawanya pergi
Di dalam mobil Ello tidak mengatakan apapun dia hanya diam dengan wajah dinginnya, Irene hanya sesekali melirik dia takut untuk sekedar memulai obrolan
"Aduh.... " Irene meringis memegangi perutnya saat mobilnya sempat anjlok karena menginjak polisi tidur yang cukup tinggi
Irene mencelos saat Ello tidak bereaksi apapun bahkan dia hanya melirik sekilas lalu kembali menjalankan mobilnya, Irene merasa sedih melihat Ello yang dingin tidak seperti biasanya yang selalu manja manja dengannya dan selalu khawatir dengan hal hal kecil
Sesampainya di rumah Ello turun lebih dulu meninggalkan Irene, Irene masuk ke dalam kamar menyimpan buku bukunya lalu masuk ke kamar mandi
Keduanya tidak saling bicara Ello sibuk dengan laptopnya sementara entah sedang apa Irene di kamar mandi dengan begitu lama, Ello baru tersadar setelah memeriksa jam di tangannya
Irene sudah dua jam berada di dalam kamar mandi membuatnya khawatir, Ketika Ello membuka pintu kamar mandi Irene duduk lantai di dekat kloset menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya di atas lutut
"Hei... kamu ngapain disini? " Irene tertidur saat Ello mengangkat kepalanya
Sepertinya dia baru saja menangis terlihat dari genangan air mata di matanya, Ello mengangkat Irene dan merebahkan nya di ranjang
"Dasar.. bukannya nanya suaminya kenapa dia malah nangis di kamar mandi, aku cemburu tau gak? bukannya bujuk suaminya malah dia nangis sendirian" akhirnya Ello ikut tidur memeluk Irene
🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝
"Millie mau bareng gak? " Tanya Niko
"Gak deh, gue mau ke kantor Rafael dulu katanya dia lembur"
"Ya udah.. hati hati "
Millie pergi ke kantor Rafael dengan naik taksi sambil membawa makanan untuknya, Sesampainya disana Millie langsung menuju ruangan Rafael
"Rafaelnya ada kak? " tanya Millie pada sekretarisnya
"Ada nona.. di dalam juga ada temannya"
"Siapa? " tanya Millie
"Tidak tau.. baru lihat kesini" Ucapnya
Millie pergi masuk ke dalam ruangan Rafael dan lagi lagi dia melihat Arumi menangis menutup wajahnya dan Rafael mengelus rambutnya
"Sayang sini.. kenapa bengong disitu? " Rafael memanggil Millie
"Aku ada urusan lain, aku kesini cuma mau kasih ini mungkin kamu belum makan" Millie meletakkan makanannya di atas meja lalu berniat pergi
"Mau kemana? kebiasaan suka pergi gitu aja padahal kamu pasti lagi salah paham kan? " Rafael menarik Millie hingga duduk di pangkuannya
"Siapa yang salah paham? bukannya kamu yang kayak gitu? "
"Terus kenapa itu bibirnya cemberut gitu? di gigit tawon? " Millie berusaha menyingkirkan tangan Rafael namun dia memeluknya semakin erat
"Jangan salah paham Millie.. kita gak ada hubungan apapun, gue udah anggap banget Rafael kakak gue sendiri" ucap Arumi
"Gimana gak salah paham kalo setiap liat deket banget gitu" batin Millie
"Gak kok.. gue gak salah paham, mau apapun diantara kalian gue gak berhak marah untuk itu.. kalian udah kenal lama sementara gue cuma orang baru yang gak tau apapun" jawab Millie
"Sepertinya lo harus bujuk sendiri, sorry gue udah melibatkan lo dalam masalah hidup gue'' ucap Arumi lalu pamit pergi
" Apa maksudnya tadi? kamu masih mikir yang enggak enggak? "
"Jangan gini.. lepasin, aku mau pulang" Millie menjauhkan kepala Rafael yang mengendus tubuhnya
"Siapa yang izinin pulang? kamu harus disini temenin aku lembur"
"Gak mau, aku mau nonton sama Jason" Millie berbohong
"Kamu berani nonton sama cowok lain? " Rafael sepertinya akan marah terlihat dari wajahnya
"Dia bukan cowok lain, dia temen lama aku.. aku udah anggap dia kakak aku sendiri" ucap Millie seolah membalikkan kata kata Arumi pada Rafael
"Berani kamu deket sama cowok lain liat aja apa yang akan aku lakuin sama dia" ancam Rafael
"Aku gak pernah ngancam kamu, kenapa kamu ngancam aku? kalo kamu bebas ketemu siapa aja berarti aku juga dong" Rafael tiba tiba menggigit leher Millie hingga memerah
"Akkhh... sakit" Millie memukul Rafael lalu menjauhkan diri
"Sekarang kamu boleh pergi kalo kamu mau, biar orang orang lihat tanda di leher kamu"
__ADS_1
"Nyebelin tau gak? " Millie mengusap lehernya sendiri
Maaf ya up nya telat othor lagi atit 😪🤕🤒