Youth Love

Youth Love
eps 79


__ADS_3

"Kamu pulang aja deh, aku udah gak apa apa kok" Saat baru saja sadar Irene menyuruh Millie pulang


"Aku pergi nanti kalo orang tua kakak udah dateng"


"Mereka dateng bentar lagi, bukannya tadi pacar kamu telepon? "


"Tapi aku gak tega ninggalin kakak sendiri"


"Apaan sih lebay deh.. gak kenapa napa juga, pulang sana nanti kemaleman"


"Aku nunggu dokter aja kalo gitu"


"Enggak.. enggak... sana pulang"


"Kok ngusir"


"Aku mau langsung pulang kok sama mama, nanti aku gak mau nganterin kamu" ucap Irene


"Iihh.. tega deh, ya udah aku pulang.. kalo butuh bantuan telepon aja ya"


"Iya" saat Millie keluar dokter pun masuk


"Gimana keadaannya? masih pusing atau ada mual? " tanya dokter


"Mual pagi paling kalo mencium bau yang agak menyengat, suka kadang kadang lemes dok" jawab Irene


"Itu memang biasa terjadi.. "


"Lambung saya bermasalah kan dok? saya udah curiga soalnya seminggu ini saya sering mual" Sergah Irene, dokter menggeleng


"Kamu belum menikah? " kini giliran Irene yang menggeleng


"Pacar aja gak punya" jawab Irene


"Lalu siapa ayah dari bayi yang kamu kandung? " Irene membulatkan matanya


Air mata Irene perlahan turun membasahi kedua pipinya dengan bibir gemetar, Irene menggeleng meremas tangannya sendiri


"Gak... gak mungkin dok.. ini gak mungkin" Irene menangis sejadi-jadinya


"Ada apa? " dokter wanita itu berusaha menenangkan Irene


"Saya udah minum pil pencegah kehamilan dok, saya juga minum minuman beralkohol.. kenapa bayi pria sialan itu bisa tumbuh" Irene memukuli perutnya


Dokter dan suster menahan tangan Irene dan berusaha agar membuatnya tenang, Yang Irene takutkan akhirnya terjadi entah apa yang harus dia lakukan sekarang


"Dok.. saya mau aborsi dok, lakukan sekarang juga cepat lakukan sekarang" Irene berteriak


"Tidak bisa Nona, disini tidak boleh melakukan hal semacam itu jika kandungannya tidak bermasalah"


Irene turun dari ranjangnya dan bersimpuh di kaki dokter tersebut, melihat keadaan Irene membuatnya merasa iba

__ADS_1


"Saya tau itu sulit, coba tenangkan diri anda bicarakan hal ini dengan keluarga" Dokter membangunkan Irene dan membawanya duduk


"Tapi saya gak mau anak ini dok, saya di p*rk*s*, saya di lecehkan, apa yang akan saya katakan pada keluarga saya? "


"Itu bukan kesalahan anda dan anak ini juga tidak berdosa, menggugurkannya sama saja dengan membunuh.. saya tau anda wanita baik baik, apa anda akan tega membunuh seseorang? " Irene sejenak berpikir


"Bicarakan dulu dengan keluarga anda, saya yakin keluarga anda akan mengerti, cari solusi terbaik" terbersit dalam pikiran Irene dia akan meminta pertanggungjawaban terlebih dulu dari Ello setelah itu baru membicarakan hal ini dengan mama dan papanya


"Terima kasih dok.. saya akan bicarakan dengan keluarga saya" ucap Irene


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Permisi... " Millie mengetuk pintu bengkel Rafael ketika tidak melihatnya


"Ya sebentar" ucapnya dari dalam


Millie perlahan berjalan masuk dan melihat Rafael sedang mencari sesuatu, Millie memeluk Rafael dari belakang membuatnya terkejut


"Sayang kamu ngagetin aja" Rafael berbalik dan menjauhkan tubuh Millie


"Aku belum mandi" ucap Rafael


"Gak apa apa.. aku suka, kamu tetep wangi" Millie kembali memeluk Rafael menyembunyikan wajahnya di dada Rafael


"Suka ya? kalo gitu aku gak perlu mandi kalo mau ketemu kamu"


"Ihh.. gak gitu juga" Rafael mengangkat tubuh Millie seperti koala dan mendudukkan nya di atas meja


Anna berdiri mematung makanan yang dia bawa terjatuh berserakan, Millie menatap Rafael yang hanya menggedikkan bahunya


"Lo kenapa? " tanya Rafael


"Maaf.. " Anna mengambil wadahnya dan pergi


Millie melihat Anna mengusap matanya ketika berjalan pergi, Teman kecilnya Rafael ini sungguh aneh dia seperti membenci Millie juga bersikap berlebihan ketika melihatnya dan Rafael


"Dia suka sama kamu ya? " tanya Millie


"Ah.. Eng.. enggak.. mana mungkin, dia malu kali makanya wadahnya sampe jatuh" jawab Rafael


"Aku bersihin tumpahan makanannya dulu deh" Millie turun dari mejanya namun Rafael kembali mengangkatnya


"Gak usah.. biar aku aja" Rafael mengecup sekilas bibir Millie lalu mulai membersihkan makanan yang di tumpahkan Anna


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Ello mau kemana? " Allea dan Max masih menonton TV saat tengah malam, Ello turun dari kamarnya membawa jaket di tangannya


"Mau beli sate ma.. mama sama papa mau nitip sesuatu gak? "


"Sate? tengah malam gini? kamu gak lagi kesurupan kan? " tanya Max

__ADS_1


"Emang salah ya? aku pergi ya" Ello pergi dengan motornya mencari pedagang sate yang dia lihat di sosial medianya


Ello sudah mendapatkan satenya dan sekarang dia sedang membayar, seorang gadis di sampingnya sepertinya dia kenal meskipun menggunakan kacamata dan masker


"Habis mbak.. terakhir mas ini yang ambil" ucap kasir


"Masa gak ada satu porsi lagi mbak.. saya lagi pengen banget"


"Maaf mbak semua benar-benar sudah habis, mungkin mbak mau pesan yang lain? "


Wanita itu pergi begitu saja meninggalkan tempat tersebut, Ello mengejar wanita itu dan memberikan satenya padanya


"Nih.. anggap aja sebagai permintaan maaf gue, waktu itu gue keterlaluan sama lo" ucap Ello


"Gak usah makasih" Irene kembali melangkahkan kakinya


"Kata Millie lo pingsan dan masuk rumah sakit? " entah apa yang terjadi pada Ello, dia mendadak baik pada Irene


"Lo peduli? " tanya Irene dengan nada menyindir


"Gue.. gue cuma penasaran aja, gue takut lo punya penyakit yang akan menular ke Millie"


"Ikut gue" Irene menarik tangan Ello sampai ke mobilnya dan memberikan sebuah amplop


Ello membaca tulisan di secarik kertas tersebut dengan teliti, Tak di sangka Ello akan tertawa setelah membaca hasilnya


"Lo lucu banget, lo pikir dengan lo bawa hasil pemeriksaan gini gue akan percaya? berhenti ngejar-ngejar gue dengan cara kampung kek gini, bisa aja lo sengaja bikin ini kan? " Ello meletakkan kasar kertas tersebut di tangan Irene


"Lo pikir gue main main? lo pikir mata gue sembab karena apa? gimana caranya supaya lo percaya kalo orang yang lo lecehkan malam itu gue bukan Arumi" Irene bicara dengan menggebu-gebu


"Gue udah hafal trik lo, nih.. lo mau ini kan? berhenti ikutin gue dan berhenti ganggu gue" Ello menaruh satenya di atas mobil Irene


"Gue gak bohong.. lo cowok terbodoh yang pernah gue kenal, lo brengsek, mulai hari ini mulai detik ini gue gak mau lagi kenal sama lo" teriak Irene sambil melemparkan sate tersebut


Irene menangis di dalam mobilnya hal ini memang sudah dia prediksi akan terjadi, tapi dia tetap penasaran sebelum mengatakannya pada Ello


"Gue udah yakin.. maaf gue bukan ibu yang baik, gue gak berharap lo hidup" ucap Irene


Daripada harus memberitahu orang tuanya Irene lebih memilih menggugurkan bayinya, dia tidak mau membuat orang tuanya kecewa dan bersedih


Sesampainya di rumah Irene mencari situs untuk aborsi yang aman, dia juga sudah membuat janji dengan dokter dan akan melakukannya satu minggu lagi


"Maaf.. maaf.. kalo aja dia mau percaya dan bertanggung jawab, ini yang gue khawatirkan"


"Kenapa lo tumbuh? padahal gue udah minum obat, minuman soda, alkohol supaya lo gak tumbuh di tubuh gue, lo kecil kecil ngeyel banget.. bukan salah gue kan kalo gue singkirin lo.. itu salah lo sendiri tumbuh di rahim ibu yang salah" Irene berdialog sendiri sambil mengusap perutnya


"Ibu... ibu? " Irene mengulang kata ibu


"Hah.. lucu banget maksud gue bukan ibu yang salah tapi wanita yang salah karena gue gak mau jadi ibu dari anak pria brengsek"


"Kalo gue mau gue tinggal minum obat biar lo keluar sendiri tapi gue takut, gue takut bahayain diri gue sendiri" Irene kembali menangis dia merasa gila saat ini

__ADS_1


"Kalo bisa pergi ke bapak lo dan bilang kalo lo anak dia, jangan nyusahin hidup gue" Irene memukul perutnya sendiri sampai dia meringis kesakitan


__ADS_2