
"Buat hidupnya susah seperti biasa nanti baru habisi, gimana kabarnya anaknya? "
"Baik tuan, anaknya masuk penjara sebagai tersangka pemeran video dan orang mengupload video itu sendiri tuan, tapi istrinya... "
"Istrinya kenapa? "
"Istrinya depresi dan sekarang berada di rumah sakit jiwa tuan"
"tidak ada saudara yang merawat? " tanya Max
"Tidak ada tuan, saya dengar dia berasal dari panti asuhan"
"Tidak apa apa.. kamu urus nanti keperluan dia" Max merasa iba dengan mama Raisa meskipun anak dan suaminya jahat
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Oma hari ini aku libur, aku mau ajak Oma jalan jalan sama kak Rafael mau kan? " Millie berlutut menyamakan tingginya dengan oma Rafael
Wajah wanita tua itu masih saja ketus tidak ada senyum sama sekali di bibirnya, Millie tidak menyerah dia terus mengajak oma bicara meskipun oma tidak menatapnya sama sekali
"Oma tau gak? Aku punya oma dan opa yang anaknya seumuran sama aku, anaknya jadi kayak cucunya "
"Oma gak pengen nikah lagi gitu biar bisa punya bayi lagi" celetuk Millie
"Astaga gadis ini.. ingin sekali aku memukul kepalanya" batin oma Rafael
"Kalo mau nanti aku kenalin sama opanya temen aku, masih ganteng kok cuma agak alot" ucap Millie sambil terkekeh, Sudut bibir Oma Rafael berkedut menahan rasa ingin tersenyum
"Lagi ngomongin apa nih? " Rafael baru saja datang
"Gak ada.. urusan wanita, ayo pergi" Millie mendorong kursi roda oma Rafael
Sesampainya di taman yang di penuhi bunga bunga, oma Rafael menghirup nafas panjang merasakan udara segar
"Titip oma ya aku mau ke toilet dulu" ucap Rafael
"Iya... jangan lama"
"Disini enak kan oma? aku pijitin ya" Millie memijat bahu oma Rafael
"Hei anak kecil... siapa yang nyuruh kamu pegang pegang saya? " batin oma Rafael tangannya bergerak gerak
"Oh.. mau tangannya ya, oke" Millie beralih duduk di bangku taman memijat tangan Oma Rafael
"Gadis bodoh jangan pegang pegang"
__ADS_1
"Oma... kenapa oma gak setuju aku sama kak Rafael? aku gak akan morotin dia kok kan papa aku kerja, aku juga gak akan selingkuh dari dia, aku gak nyakitin dia tapi kenapa Oma gak mau aku sama kak Rafael" ucap Millie sambil terus memijat tangan Oma
Oma Rafael memandang wajah Millie si gadis kecil kekasih cucunya itu, wajahnya yang kecil, cantik dan ceria tapi kenapa bisa oma Rafael tidak menyukainya hanya karena dia menggagalkan rencana perjodohan Rafael dan Raisa si gadis jahat itu
"Oma jangan galak galak aku juga mau di sayang kayak Raisa, Rafael cintanya sama aku Oma bukan sama Raisa masa Oma gak mau cucunya bahagia"
"Benar juga.. kenapa aku malah ingin menghancurkan kebahagiaan Rafael? meskipun ayah gadis ini sempat membuat bangkrut perusahaan papa Rafael tapi dia mengembalikannya kembali setelah membuang semua Duri di perusahaan itu" batin Oma Rafael
"Sayang... aku beliin ice cream" Rafael datang membawa beberapa cemilan di dalam kantong plastik
"Katanya dari toilet"
"Iya tadi dari toilet tapi liat minimarket jadi aku beli ini dulu, sayangnya aku kan gak bisa berhenti ngunyah" Ledek Rafael sambil mendorong bahu Millie dengan bahunya
"Terus aja ledekin, entar kalo udah cantik, langsing dan seksi aku cari oppa oppa Korea sama Anggia" Millie menatap sinis Rafael
"Berarti kamu gak boleh langsing biar gak nyari oppa oppa Korea, nih makan semuanya biar kamu makin bulet" Rafael meletakkan kantong plastik itu di pangkuan Millie
"Liat tuh Oma, cucu Oma nyebelin kan? " Ucap Millie, sudut bibir Oma Rafael terangkat melukis sebuah senyuman
"Oma senyum? oma senyum sama aku? aku gak mimpi kan? " senyum oma semakin mengembang
"Ayang aku seneng banget" Millie menangkup wajah Rafael, tanpa tahu malu Rafael ingin mencium Millie di hadapan oma nya, Millie mendorong kepala Rafael dengan jari telunjuknya lalu bergeser menjauh
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Hari berlalu bulan berganti dan kimia Ello sudah kembali melakukan aktivitas seperti biasa bersama Irene, pergi kuliah adalah rutinitas sehari-hari yang di lakukan keduanya
Perut Irene semakin membesar dengan perkiraan usia kehamilan 7 sampai 8 bulan, tubuh Irene jadi mengembang seiring bertambahnya usia kandungannya
"Jalan bentar aja rasanya udah capek banget" Irene duduk di depan kampus
"Ello ke Perpustakaan lama banget sih? masa tidur disana" Irene menunggu Ello yang sedang mencari buku
"Gue samperin aja deh" Irene berjalan kembali menuju Perpustakaan untuk mencari suaminya
Belum sampai di perpustakaan Irene melihat Ello memeluk pinggang Arumi, Irene kembali memutar tubuhnya dan berjalan pergi
"Aku udah pulang" Hanya itu pesan yang di tulis Irene
"Pulang sama siapa? "
"Sayang kamu dimana?
" Kamu pulang ke rumah mama kamu ya? kok gak ada di rumah? " Ello sudah sampai di rumah namun Irene juga pulang
__ADS_1
"Sayang balas pesan aku" Irene sama sekali tidak memperdulikan suara handphonenya yang berdering terus menerus
"Jadi marahin nih ceritanya? " tanya Aldi
Ya... Irene berada di taman dekat rumah Aldi, tempat yang dulu sering di datanginya saat sedang dilanda masalah
"Ya lo bayangin aja kalo pasangan lo peluk orang lain, lo pasti marah kan? "
"Udah tanya baik baik? " tanya Aldi lagi
"Enggak.... gue langsung pergi"
"Mungkin lo salah paham, kita gak tau yang sebenarnya kenapa gak nanya? " Irene menatap Aldi
"Karena gue takut dia bohong" jawab Irene
"Lo gak percaya dong sama suami lo sendiri? "
"Gue gak tau.. " Tiba-tiba saja mobil Ello sudah berhenti di depan mereka
"Kamu di cari cari taunya lagi disini? takut ketauan lagi ketemu berondong? " Ello menghampiri Irene dengan wajah marah
"Irene ayo pulang" ucap Arumi
"Kalian berdua ngapain kesini? kenapa gak menghabiskan waktu berdua aja? "
"Ello nanyain lo sama gue, gue pernah liat lo disini dan ternyata bener lo disini" jawab Arumi
"Udah pulang sana" ketus Irene
"Kamu yang harus pulang, ngapain berduaan sama cowok disini? " Ello menarik kasar tangan Irene
"Sabar kak.. kak Irene lagi hamil kalo terjadi sesuatu kak Ello pasti menyesal" ucap Aldi
"Diem lo anak kecil, mau mau nya lo ketemuan sama istri orang"
"Kita gak janjian, rumah gue itu dan gue juga lagi main bola sama temen-temen gue, bisa di liat itu temen temen gue " ucap Aldi
"Kak Irene kayaknya salah paham makanya dia kesini karena kesel, kalian berdua ngomong baik baik aja.. gue gabung sama mereka ya" Aldi pun pergi setelah suami Irene datang, dia menemaninya hanya karena khawatir akan terjadi sesuatu pada Irene
"Ayo pulang" Ello menarik kasar Irene hingga kaki Irene tidak bisa berjalan dengan benar
"Lepasin.. aku bisa pulang sendiri, kalian kalo mau pacaran pacaran aja, mau pelukan ciuman terserah" Irene menepis tangan Ello lalu berlari pergi dari sana
"Irene jangan lari lari" Teriak Ello sambil mencoba mengejar Irene
__ADS_1