
"William... lo sadar? " William hanya menjawab dengan kedipan mata
Begitu sulit mulutnya untuk bicara dan tubuhnya pun sulit untuk di gerakkan, Rafael memanggil dokter untuk memeriksa William kembali
"Dia kenapa dok? " tanya Rafael melihat William seperti mayat hidup
"Dia mengalami kelumpuhan namun hanya bersifat sementara, kita akan lakukan perawatan dan terapi semoga saja secepatnya dia bisa kembali seperti semula"
Setelah dokter pergi kini Rafael menelpon orang tua William untuk memberitahukan kondisinya karena Rafael tidak akan sanggup lagi menanggung biaya perawatan William
"Maaf Rafael tante sedang ada masalah yang harus di selesaikan dengan papanya William dan kami tidak bisa pulang tapi tante akan mengirimkan uang untuk perawatan William dan kebutuhannya, jangan katakan ini pada William tante tidak mau dia bersedih"
"Tapi tante... "
"Kamu tenang aja segala biaya hidup dan pengobatan William akan tante transfer sama kamu, Tante tutup dulu teleponnya ya"
"Wil.. keadaan lo udah baik baik aja, gimana kalo lo ikut pulang dan nanti dokter akan jadwalin buat lo terapi" William hanya mengedipkan matanya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Lo pikir gue gak bisa balas dendam" Millie tersenyum smirk saat melihat Anggia masuk ke dalam club malam
"Lo foto gue berarti lo sering datang kesini, bener aja kan kena lo sekarang" Millie memotret Anggia yang sedang duduk di pangkuan seorang pemuda dengan segelas wine di tangannya, mungkin itu pacarnya atau teman dekatnya
"Mamam tuh aib" Millie langsung mengirim foto tersebut pada semua orang yang ada di kontaknya termasuk orang tua Anggia
Karena Millie sudah di skors kini Anggia juga menyusul Millie di skors selama dua minggu, Anggia juga di kurung oleh orang tuanya selama masa skors masih berlaku
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Mau jalan kemana? " Ellia menelpon Dirga memintanya datang ke rumah
"Kita jalan sekitar sini aja, jalan kaki" ucap Ellia seraya berjalan mendahului Dirga
"Mau kemana? kok tumben cuma jalan kaki"
"Kita ngomong di taman aja"
Sesampainya di taman Ellia duduk di bangku taman begitupun Dirga, Dirga menggenggam tangan Ellia sambil menatapnya namun Ellia hanya menatap ke depan
"Aku.. aku.. aku mau putus" ucap Ellia
__ADS_1
"Loh.. kenapa? apa aku punya salah? kalo aku punya salah aku minta maaf"
"Kamu gak salah.. aku cuma ngerasa di antara kita Selalu ada bayang bayang Millie, kamu selalu ada buat aku tapi sepertinya pikiran kamu ada sama Millie" ucap Ellia
"El.. dengerin aku, aku memang ke pikiran sama Millie tapi aku bukan cinta sama dia.. aku khawatir sama Millie karena dia terlalu percaya sama Rafael dan akhirnya dia yang terluka" Dirga memutar tubuh Ellia agar menghadapnya
"Aku kepikiran karena aku tau sejak awal tapi Millie gak mau percaya dan akhirnya terjadilah penculikan itu, aku merasa bersalah karena gak bisa meyakinkan Millie"
"Aku juga lagi kepikiran sama Dita, sejak kejadian itu dia memang mengaku tidak takut dan tidak memikirkannya tapi kalo dia sendiri Dita akan melamun terkadang menangis" ucap Dirga
"Aku gak tau apa yang lagi aku pikirin tapi aku merasa hati kamu bukan buat aku " lirih Ellia
"Hati aku selalu buat kamu, aku cinta sama kamu dan cuma kamu, aku mohon jangan bilang putus lagi" ucap Dirga Dirga menggenggam tangan Ellia
"Maaf aku udah ragu sama kamu" lirih Ellia, Dirga memeluk Ellia dan mencium puncak kepalanya
"Aku gak mau dengar kamu bilang mau putus lagi, mengerti" Dirga mencolek hidung Ellia dengan jari telunjuknya
"Heemm" Ellia hanya mengangguk dalam pelukan Dirga
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Rafael juga melihat Millie namun saat Rafael menghampirinya Millie seperti tak melihatnya dan berniat pergi, Rafael mengejar Millie dan menahan tangannya
"Kenapa pergi? aku tau dari tadi kamu liatin aku"
"Apa sih? kepedean deh" Millie menarik tangannya
"Udah seminggu aku gak ketemu kamu, kamu gak kangen sama aku? " Tanya Rafael
"Iisshh.. kepedean banget sih jadi orang"
"Tapi aku kangen sama kamu, kamu enggak ya? " Rafael kembali menarik tangan Millie dan membawanya menuju warung
"Mau pesan minum? " tanya Rafael
"Enggak deh"
"Gak biasa minum di tempat begini ya? " Millie menoleh sekejap lalu kembali menatap ke depan
"Gue biasa makan apapun, gue juga suka jajanan kaki lima" Jawab Millie
__ADS_1
"Lo ngapain disini? " Tanya Millie
"Aku cari kerja tapi gak dapet juga, dulu waktu perusahaan papi masih ada aku gak mau tapi sekarang giliran aku mau cari kerjaan susahnya minta ampun" mendengar itu Millie langsung menggigit bibirnya
Dia merasa bersalah karena ini adalah ulah papanya, Millie mengetuk meja dan mengumpulkan kata kata sebelum mengatakannya
"Begini.. emmhh.. " Rafael tersenyum melihat Millie mengigit bibir bawahnya
"Lo gak usah cari kerja karena percuma, maksud gue.. gimana kalo lo buka usaha sendiri? " ucap Millie
"Misalnya? " Rafael bicara seraya menatap lekat wajah Millie
"Ya.. ya... usaha yang lo kuasai aja, misalnya bengkel atau mungkin rumah makan atau apa kek gitu" ucap Millie
"Kenapa aku harus bikin usaha sendiri? padahal aku sekarang lagi mikir enaknya kerja di ruangan ber-AC"
"Kalo usaha kan kita yang jadi bos, ya.. terserah lo aja itu cuma sekedar saran" Millie memalingkan wajahnya ketika Rafael memandanginya
"Mami nanyain kamu terus, aku sebenarnya mau ngajak kamu ketemu sama mami tapi belum tentu kamu mau karena tempat tinggal kita beda sama yang dulu"
Millie berpikir dia ingin bertemu mami Rafael namun takut jika papanya mengetahui hal tersebut dan kembali mengganggu mereka, namun jika dia menolak secara langsung dia takut Rafael akan mengira jika Millie hanya ingin berteman dengan orang orang kaya
"Hari ini gue ada janji sama temen, lain kali aja ya" ucap Millie
"Oke.. Aku harus pulang hari ini temen aku jadwal terapi, duluan ya" Millie menatap kepergian Rafael
"Gue harus bersikap seperti apa? kasian mami pasti kesusahan, gue harus bujuk papa"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Ada kemajuan setidaknya William bisa menggerakkan tangan dan kaki walaupun hanya sedikit, semoga terapi selanjutnya bisa lebih besar lagi kemajuan"
"Lo denger kan? lo bisa sembuh asal lo tekun dan semangat, nyokap sama bokap lo juga bentar lagi pulang" Rafael memberi semangat meskipun harus membohongi William
Orang tua William sedang mengalami masa sulit dalam hubungan mereka, rumah tangganya diambang kehancuran dan Rafael berusaha menutupi itu dari William agar dia tetap semangat
William memang kurang kasih sayang dari keluarganya sejak kecil, dia sering di tinggal ke luar kota bahkan keluar negeri
William terbiasa melakukan semuanya sendiri dan orang tuanya hanya akan memberikan uang.. uang.. dan uang tanpa peduli seperti apa kehidupan anaknya, meski begitu mamanya menyayangi William meskipun dengan cara yang salah
Berbeda dengan papanya yang tidak pernah menunjukkan rasa cemas ataupun kekhawatiran saat mendengar William dalam masalah atau musibah
__ADS_1