Youth Love

Youth Love
Eps 150


__ADS_3

"Oohh... tuan Rafael yang terhormat, anda luar biasa"Millie menggoda Rafael, Rafael keluar dari mobil dengan setelan jas


" Kita berangkat sekarang nyonya Rafael" Rafael membukakan pintu mobil untuk Millie


"Sejak kapan aku ganti nama? " Ucap Millie seraya mencebikkan bibirnya


"Kamu berbeda dengan baju itu.. jadi makin gemes " Millie mencubit pipi Rafael


Sesampainya di sekolah Rafael menuntun tangan Millie dan mengantarnya ke kelas layaknya para orang tua mengantar anak mereka yang baru pertama kali masuk sekolah


"Stop... duduk disini" Millie mengambil handphonenya dan memotret Rafael


"Kamu ganteng banget... '' Millie melihat hasil memotretnya


" Aku tau.. udah ganteng dari lahir" jawab Rafael



"Aku masuk ya.. daahh" Millie hendak pergi namun Rafael menarik tangannya hingga Millie menabrak dadanya


"Ucapan selamat tinggalnya mana? " Millie mengernyitkan dahinya


"Selamat tinggal" ucap Millie membuat Rafael terkekeh


"Bukan gitu, sini aku contohin" Rafael memeluk Millie dan mendaratkan kecupan di keningnya


"Ada orang malu" Millie mendorong Rafael


"Sana masuk.. aku gak bisa jemput nanti Sore, gak apa apa kan? " ucap Rafael


"Gak apa apa.. kamu hati hati ya"


Ketika masuk ke kelas Millie sudah di tunggu oleh teman temannya di mejanya, Baru saja duduk Dita sudah memberondongnya dengan pertanyaan


"Millie tadi yang nganter pak Rafael ya? kok dia jadi beda banget sih? sejak kapan pak Rafael deket sama om Max? Millie udah serius ya sama pak Rafael? jangan Jangan Millie mau cepet cepet nikah ya? "


"Astaga Dita... lo nanya kayak polisi lagi interogasi penjahat aja" ucap Jason


"Kan nanya... Jason bukannya penasaran juga? "


"Liat pacar gue ganteng kan? " Millie memamerkan hasil fotonya yang baru saja dia ambil


"Iya ganteng banget, Millie beruntung banget punya pacar kayak pak Rafael" cicit Dita


"Kebalik.. yang ada pak Rafael beruntung punya pacar kayak Millie, belum jadi menantu aja udah di bantu bangun lagi perusahaannya sama bokap Millie" ucap Niko


"Bener banget, hati hati cuma di manfaatin lo Millie" ucap Anna


"Nyamber aja lo kayak bensin" Millie melirik sekilas ke arah Anna


"Gue cuma kasih tau, kasihan aja kalo di deketin cuma buat uang dan kekuasaan doang"

__ADS_1


"Nih orang mulutnya minta di gampar" ucap Millie


"Sabar Millie sabar.. nanti cantiknya ilang" Dita mengusap lengan Millie yang hendak berdiri menghampiri Anna


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Irene sedang berjalan di atas tangga yang cukup sepi, Dari belakang Arumi hendak mendorong Irene namun malah dia yang jatuh terguling karena Irene melompat ke samping saat di hadapannya ada seekor katak kecil


"Aaarrrggghhh... sakit" Arumi memegangi kakinya


"Arumi gak apa apa? kenapa lo bisa jatuh? " Tanya Irene


"Gara gara lo, lepas jangan pegang gue" ucap Arumi marah marah, dia kesal kembali gagal mencelakai Irene


"Kok marah sama gue, lo jatuh sendiri kenapa marah marah"


"Sayang lagi ngapain disitu? aku cari cari ternyata disini" Ello membantu Irene berdiri


"Yang jatoh gue bukan dia, kenapa malah dia yang di bantuin" ucap Arumi


"Ya terus kenapa emangnya? lo berdiri aja sendiri gue mau bantuin istri gue, gak ada hubungannya dia jatoh apa enggak" ucap Ello


"Bantuin dia " ucap Irene


"Bentar" Arumi sudah senang mengira Ello akan menggendongnya


"Pak... sini" Ello memanggil seorang tukang kebun


"Ini ada yang jatoh, tolongin ya, kita buru buru soalnya" ucap Ello


Ketika tukang kebun itu mengulurkan tangannya Arumi menepisnya dan berniat berdiri sendiri namun kakinya benar-benar sakit karena terkilir, Akhirnya mau tidak mau Arumi berjalan di papah oleh tukang kebun menuju unit kesehatan


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Seharian Rafael disibukkan dengan pekerjaan pekerjaan di bawah pengawasan Max, jika ada kesalahan Max selalu menyuruhnya mengulang dan mengulang kembali


"Istirahat bentar om.. pusing nih" Ucap Rafael


"Ya udah sekalian makan siang nanti lanjut lagi, kalo ini belum beres kamu lembur" Rafael


Benar saja pekerjaannya kali ini tidak selesai sampai waktunya pulang, kancing kancing kemeja Rafael sudah terbuka meskipun ada AC namun tidak bisa mengobati rasa gerah karena pekerjaan yang memusingkan kepalanya


"Belum beres juga? gimana sih katanya genius? "


"Kan kata om jangan sampe salah makanya saya kerjain hati hati" jawab Rafael


"Alesan aja.. gini aja, beresin semuanya dan bawa ke rumah saya lembur di rumah saya aja"


"Yang bener om? kalo gitu sih saya pasti semangat" Rafael berpikir bisa sambil bertemu pujaan hatinya


"Saya ajak kamu ke rumah bukan buat pacaran, gak ada ketemu ketemu Millie sebelum semuanya selesai.. ayo pulang"

__ADS_1


"Galak banget sih punya mertua, ampun deh" Gumam Rafael


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Millie sedang menunggu teman temannya di depan gerbang sekolah, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya


"Lo pacarnya Rafael kan? bisa ikut gue bentar gak? " ucap Rebecca


"Gak mau" jawab Millie dingin


"Gue mau kasih tahu sesuatu tentang Rafael"


"Gue gak mau tau" singkat Millie


"Walaupun dia pernah p*rk*s* cewek dan bikin kakaknya koma satu tahun lebih? " raut wajah Millie berubah seketika


"Ikut gue, gue cuma kasihan sama lo biar lo tau siapa Rafael sebenarnya" Millie masuk ke dalam mobil tanpa berkata apapun


Sesampainya di sebuah cafe Millie masih tidak bicara tatapannya membuat Rebecca menjadi canggung, Rebecca membetulkan posisi duduknya sebelum bicara


"Ada orang yang mau ketemu sama lo"


"Siapa? " seseorang tiba-tiba duduk bergabung bersama mereka


"Cih... lo ternyata, mau ngapain? " Tanya Millie sinis


"Lo salah paham sama gue, gue ngelakuin itu kemaren karena dendam gue sama Rafael belum selesai"


"Dendam apa? " tanya Millie


"Setahun lebih adik gue meninggal karena depresi, dia adalah korban p*m*rk*s**n geng werewolf, dia depresi dan akhirnya bunuh diri"


"Lo bohong.. kalian bersekongkol buat bohongin gue, Rafael gak sejahat itu" Millie berdiri dia tidak percaya apa yang di katakan mereka


"Lo udah di bohongin sama dia, lo pikir dia sebaik apa? kalo lo tau semua tentang keburukkan dia harusnya lo jangan menyangkal dulu apa yang orang lain sampaikan, seenggaknya lo cari tau kebenarannya"


"Logikanya kalo dia sebejat itu buat apa lo masih ngejar-ngejar dia? gue bukan orang yang gampang terhasut omongan orang lain" Millie menunjuk wajah Rebecca


"Gue gak punya waktu buat dengerin omong kosong kalian, permisi" Millie pergi begitu saja meninggalkan mereka


"Sial... kenapa dia gak percaya gitu aja? apa dia benar-benar di butakan cinta? " pria itu menggebrak meja dia begitu kesal


"Emang bener Rafael p*rk*s* adik lo? " Tanya Rebecca


"Enggak.. temennya yang ngelakuin itu"


"Jadi bukan Rafael? hebat juga cewek itu gak percaya" ucap Rebecca


"Dendam gue sama Rafael karena udah bikin gue koma setahun lebih, hari itu gue bunuh temennya yang udah p*rk*s* adik gue dan dia balas dendam, gue udah ceritain yang sebenarnya tapi dia gak percaya dan balas dendam sama gue... gue gak bisa lupain itu gara-gara dia nyokap gue serangan jantung setelah kehilangan anak perempuannya dan denger gue koma dan akhirnya nyokap gue juga meninggal"


Sikap Rafael yang mudah tersulut emosi dan sangat percaya pada teman temannya membuat dia tidak bisa berpikir jernih, sama halnya dengan yang dialami Millie tempo hari

__ADS_1


Rafael membalas dendam tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu, dia selalu menganggap teman temannya setia kawan hingga tidak pernah menaruh curiga pada mereka


__ADS_2