Youth Love

Youth Love
eps 102


__ADS_3

"Kenapa? " Ello melihat Irene hanya melamun


"Gue nemu obat obatan sama bukti kalo Arumi pergi ke psikiater" jawab Irene


"Terus? "


"Ya masalah dia serius lah pasti, gue aja kemaren pengen mengakhiri hidup tapi gue mikir dua kali.. kasian mama sama papa" Ello melirik Irene dengan ekor matanya


"kalo sekarang, masih niat bunuh diri? " goda Ello


"Pengen bunuh lo" ketus Irene


"Sebentar lagi kita nikah.. lo mau tinggal dimana? " Tanya Ello


"Di rumah gue"


"Kenapa gak di rumah gue aja? disana rame lo gak akan kesepian" ucap Ello


"Enggak... lebih nyaman di rumah gue, kalo lo gak mau ya gak usah ikut.. kita masing-masing aja"


"Beneran? emang gak apa apa kalo udah nikah pisah rumah? "


"Siput aja rumahnya pisah tetep bisa bertelor" celetuk Irene


"Oh.. jadi kalo mau masih bisa walaupun rumahnya pisah?"


"Iihh.. apaan sih? tau ahh.. ngapain bahas yang gituan" Irene malu sendiri


"Bahas apa emang? maksud gue kalo mau ketemu masih bisa dong" Irene memalingkan wajahnya kearah jendela


Ello tersenyum menatap Irene yang sedang menahan malunya, handphone Ello berdering namun dia mengacuhkannya


"Kenapa gak di jawab? " tanya Irene


"Lagi nyetir, lo jawab aja" Irene mengambil handphone Ello ternyata nomor Arumi yang menelpon


"Halo Ello... gue butuh lo, lo dimana? "


"Gue sama Ello lagi di perjalanan pulang, lo dimana? " mendengar suara Irene, Arumi diam sejenak


"Ahh.. ya udah kalian hati hati, gue masih di kampus bentar lagi pulang"


"Ada yang bisa di bantu? " tanya Irene


"Gak... Ya udah gue tutup teleponnya ya" tanpa menunggu jawaban Irene, Arumi langsung mematikan teleponnya


"Gue saranin aja, jangan terlalu deket sama dia" ucap Ello


"Kenapa? " tanya Irene


"Sekarang gue merasa kalo dia bukan orang baik"


"Gak baik suudzon sama orang"


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Itu siapa? kayaknya bukan Rafael deh" Millie melihat seseorang berjalan di dekat rumahnya


Millie mengambil handphonenya dan menelpon Rafael, ternyata benar itu bukan dia karena Rafael sudah menjawab teleponnya


"Halo... "

__ADS_1


"Halo.. kamu lagi dimana? " tanya Millie


"Di bengkel, kenapa? "


"Gak apa apa, aku tutup teleponnya ya" ucap Millie


"Pasti ada sesuatu kan? ngomong aja? "


"Gak ada.. udah ya aku mau tidur, bye" Millie menutup teleponnya lalu pergi keluar untuk memastikan siapa yang berada di luar mengawasi rumahnya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Kenapa kamu melakukan itu? apa kamu gak punya sodara perempuan atau ibu kamu bukan perempuan? dia punya ayah kenapa kamu tega melakukan itu? " Danendra akhirnya bertemu dengan Rendi


"Lo kok lembek banget, hajar kek" ucap Max


"Lo maen hajar aja, gak liat mukanya udah gak beraturan? "


"Dia yang minta.. lagian anak kurang ajar kayak gini harus di kasih pelajaran, dia rela bonyok biar gak tanggung jawab sama Anggia kan brengsek" Max kesal sendiri dengan kelakuan Rendi hingga dia terus memancing agar Rendi melawan


"Kenapa kamu gak mau tanggung jawab? padahal kalian melakukan itu dengan sadar tapi kenapa kamu gak mau menerima resikonya? "


"Anak saya masih kecil, masa depannya masih panjang, tega kamu berbuat seperti itu? kamu gak mikirin masa depan dia yang udah kamu renggut? " Rendi hanya terdiam, dia tidak ada lagi keberanian untuk menjawab karena takut oleh Max


"Ngomong.. ngomong" Max mendorong bahu Rendi


"Pilih tanggung jawab apa pilih Liang kubur? " Rendi sampai beringsut ketakutan


"Rendi... " sebuah suara membuat mereka menoleh


"Kamu ngapain kesini? " Danendra menghalangi Anggia yang hendak masuk jeruji besi


"Kamu gak apa apa? kenapa bisa sampe kayak gini? " Anggia berlutut menyentuh wajah Rendi


"Aku minta maaf... tolong keluarin aku dari sini"


"Ini pasti kerjaan om kan? kenapa sih om tega banget? " Max mengernyitkan keningnya


"Anak lo bego ya? dia kerasukan apa sih? " ucap Max pada Danendra


"Anggia pulang.. angin malam gak baik buat kamu" Danendra menarik tangan Anggia menjauh dari Rendi


"Pa... lepasin Rendi dulu baru aku pulang"


"Setelah dia setuju bertanggung jawab baru dia boleh pulang, sekarang kamu pulang" Danendra menarik Anggia namun gadis itu berpegangan pada Rendi


Max yang kesal melepaskan tangan Anggia dan mengangkat tubuh Anggia di bahunya, Setelah itu dia memasukan Anggia paksa ke mobil


"Anggia dengerin om... boleh cinta sama seseorang tapi jangan bodoh, dia udah pernah mengecewakan kamu jangan terlalu percaya atau kamu akan di kecewakan untuk kedua kalinya "


"Om ngomong kayak gitu karena om sering mengecewakan tante Allea kan? aku percaya sama Rendi dia gak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya" Max menggaruk tengkuknya


"Nih gue gak mampu berkata kata, Anak anak gue gak ada yang kayak begini.. kalo udah kecewa anak anak gue pada cabut, cuma anak lo yang begonya kebangetan" ucap Max pada Danendra, sang ayah hanya diam saja karena yang di katakan Max memang benar


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Kok dia pergi? " gumam Millie


Setelah melihat Millie keluar orang itu pergi dengan terburu-buru, Millie dan orang itu kejar-kejaran hingga Millie memotong jalan dan berhasil menghadangnya


"Lo siapa? kenapa lo kayak mengintai rumah gue? " orang itu hanya diam

__ADS_1


"Lo ada niat jahat? " orang tersebut menggelengkan kepalanya


"Lo bisu? " Orang yang tingginya sama dengan Rafael itu mendekat membuat Millie waspada


Karena orang itu hanya diam dan memandangnya membuat Millie kesal, Millie menyerangnya namun orang tersebut tidak kembali menyerang dia hanya menahan serangan serangan Millie


"Lo siapa sih, lepasin gak? " dia mengunci pergerakan Millie


Millie tidak mau kalah dia memutar tangannya yang berada di atas kepalanya dan meraih masker orang yang berada di belakangnya juga menendang kaki orang tersebut, Millie membulatkan matanya melihat siapa orang yang berada di hadapannya


"Kak William? "


"Ya.. ini gue"


"Tapi.. tapi.. sejak kapan? " Millie mengelilingi William


"Jangan kasih tau Rafael, ini rahasia kita berdua" ucap William


"Tapi kenapa? "


"Ikut gue" William menarik tangan Millie dan membawanya ke tempat sepi


Mereka kini duduk di sebatang kayu menatap rumah rumah di bawah sana, sesekali William mencuri pandang ke arah Millie


"Lo tau Sony dari mana? " tanya William


"Gue kenal dia udah lama bahkan sebelum dia jadi pacar kakak gue"


"Lo punya masalah apa sama dia? sampai-sampai dia menempatkan lo sebagai musuh? " tanya William lagi


"Gue pergokin dia sama cewek lain terus gue kasih coret coret mobilnya, gue sama temen-temen gue di kejar sampe kita berantem"


"Roshie? gimana dia bisa jatoh? " Millie menoleh ke arah William hingga mereka kini saling memandang


"Lo percaya sama gue? bukan gue yang bunuh Roshie, gue gak tau gimana dia bisa kepeleset dan jatoh tapi gue pegangin dia kok, gue gak bisa tahan dia lebih lama karena Sony terus mukulin gue dari belakang"


"Gue percaya sama lo, gue punya rekaman CCTV di jalan hati itu... "


"Beneran? kenapa gak lo kasih tau temen lo yang lain biar mereka gak ngincer gue lagi? " Millie sangat antusias mendengar William memiliki rekaman tersebut


"Masalahnya flashdisk itu di kunci, cuma Sony yang bisa buka"


"Kita bisa ngarang aja, misalnya tanggal lahir atau tanggal tanggal spesial dia"


"Itu dia gue udah masukin kata dua kali dan sekarang cuma sisa satu kesempatan lagi, kalo salah lagi filenya rusak semua" ucap William


"Hadeeehh... terus gimana dong? "


"Gue masuk ke kamarnya dan liat ada foto foto lo disana, sebenarnya gue kesini mau tanya kali aja lo punya hubungan sama dia"


"Foto foto gue? kok bisa? " gumam Millie


"Lo punya hubungan sama dia? " Tanya William


"Enggak.. cuma dia pernah nembak gue sebelum jadi pacar kakak gue, cuma waktu itu gue masih terlalu kecil gue tolak aja"


"Kayaknya dia masih dendam karena di tolak sama lo"


"Kayaknya enggak deh, dia posesif sama kak Ellia kayak yang cinta banget gitu" tutur Millie


"Gue yakin dia masih suka sama lo, di kamarnya gak ada foto Ellia cuma foto foto lo" Millie cukup terkejut mendengar itu, setelah bertahun-tahun apa mungkin Sony masih menyimpan perasaannya?

__ADS_1


__ADS_2