
"Millie... " Rafael terbangun dari tidurnya ketika dering ponselnya membangunkannya
"Cuma mimpi" Rafael sampai banjir keringat
"Halo.. kamu kenapa kayaknya ngos-ngosan? " Tanya Millie saat Rafael menjawab teleponnya
"Aku mimpi buruk"
"Mimpi cuma bunga tidur, Aku udah tau dimana flashdisk itu nanti sore datang ke alamat yang aku kirim ya"
"Darimana kamu tau? " tanya Rafael
"Kamu tau Tara? ternyata dia nemuin flashdisk itu dan katanya passwordnya berhubungan sama aku"
"Jangan jangan cuma jebakan" ucap Rafael
"Enggak dia udah nunjukin flashdisk itu, kita ketemu di cafe nya papa Dita"
"Ya... mau akun jemput? " tanya Rafael
"Gak usah kita berangkat masing masing aja"
"Ya udah aku mandi dulu"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Lo tunggu di rumah ya, gue sama Ello mau pulang ke rumah mama mertua gue" ucap Irene pada Arumi
"Tapi gue takut disini sendiri"
"Ada bibi sama di jaga security juga" jawab Irene
"Gue gak boleh ikut kalian? "
"Masalahnya orang tua Ello masih kesel sama kebohongan lo, gue cuma takut lo gak enak ada disana Tampaknya Arumi tidak mau ditinggal di rumah sendirian
" Ayo pergi"
"Kok bawa tas? " Tanya Irene pada Ello
"Kita mau nginep"
"Tapi gimana sama Arumi? di tinggal bentar aja gak mau" Irene menarik tangan Ello dan membisikkannya sesuatu
"Lo gak usah ikut, nyokap gue gak suka sama lo.. gue harus jujur walaupun gak enak di denger" ucap Ello
"Tapi gue takut"
"Mama Irene pulang malem ini, gue udah izin juga sama mereka gak perlu takut.. ayo" Ello menarik tangan Irene pergi
Ello merasa tidak punya kewajiban untuk menjaga Arumi terus menerus, Ello ingin menghabiskan waktunya berdua dengan Irene agar dia cepat melupakan ketakutannya dan hidup rumah tangga mereka berjalan normal
__ADS_1
"Kalian udah datang.. sini sayang kamu pasti capek" Allea membawa Irene duduk
"Bentar.. mama udah potong buah buat kamu" Allea kembali dari dapur membawa beberapa buah yang sudah di kupas juga buah untuk rujak serta sambelnya
"Mama sengaja siapin ini, biasanya orang ngidam suka yang asem asem" Irene hanya tersenyum kikuk, bagaimana bisa dia menghabiskan semua buah itu
Tangan Ello terulur hendak mengambil buah di piring itu namun Allea memukul tangannya
"Ini buat menantu dan cucu mama, kalo mau ambil sendiri di kulkas"
"Pelit" Ucap Ello lalu pergi ke kamarnya
Irene mencicipi satu persatu buahnya di temani Allea, setelah memakan semuanya dia merasa mengantuk saking kenyangnya
"Kamu ngantuk ya? " Tanya Allea saat melihat Irene beberapa kali menguap
"Kekenyangan ma" Jawab Irene
"Ya ampun.. kalo udah kenyang kenapa di makan semuanya? Ayo mama anter ke kamar" dengan hati hati Allea membawa menantunya itu menuju kamar Ello
Saat masuk ternyata Ello sedang tidur terlentang menjadikan tangannya sebagai bantal, Irene duduk di tepi ranjang memainkan handphonenya
Tiba-tiba saja Ello menariknya ke belakang hingga tidur terlentang, Ello memeluk Irene dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Irene
"Ello.. tunggu.. tunggu dulu" Irene berusaha menyingkirkan Ello yang mengecup lehernya
Ello memandangi wajah Irene lekat membuatnya malu, Irene hendak bangun namun Ello menahan tubuhnya
"Apa lo gak pernah punya pacar? " tanya Ello
"Apa yang lo lakuin sama dia? peluk, cium? " Irene hanya diam saja tapi Ello sudah tau jawabannya
"Kenapa lo gak bisa lakuin itu sama suami lo sendiri? lo Takut apa? cuma peluk dan cium apa itu menyakiti lo? belom coba aja lo udah takut, gue gak mungkin nyakitin lo" Irene memandang wajah Ello
Benar yang di katakan suaminya apa yang dia takutkan saat ini, Ello sudah menjadi suaminya tapi dia masih tidak bisa menghilangkan rasa takutnya padahal dia belum mencobanya
Melihat Irene hanya diam memandangi nya Ello mengecup bibir Irene, Sekali Irene tidak bereaksi, dua kali Irene hanya diam, Ello melingkarkan tangan Irene di pinggangnya mereka saling memeluk
Awalnya Irene hanya diam memejamkan matanya namun semakin lama Irene mulai membalas ciuman suaminya, Irene sudah di kuasai namun untuk ke tahap selanjutnya Ello gagal karena ketukan di pintunya mengganggu mereka
"Kak Ello.. kak Millie.. Kak Millie kecelakaan" Suara Michelle mengejutkan mereka
Keduanya beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju lantai bawah, dimana Millie pulang menangis baju seragamnya berlumuran darah
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Sony sedang mendengar perbincangan antara Tara dan Millie di telepon, Sony akhirnya tahu rencana Tara dan Millie
"Apanya yang terbongkar? " Ucap Sony membuat Tara terkejut dan langsung menutup teleponnya
"Apa? lo ngomong apa sih? gue cabut ya " Tara terburu-buru keluar dari markas karena sudah punya firasat buruk
__ADS_1
Sony tidak memberi tahu yang lain dia mengejar Tara dengan mobilnya, Tara melesat dengan motornya tanpa tahu dia di ikuti oleh Sony
"Ini orang orang pada kemana? Gue liat dulu deh" Millie keluar dari cafe untuk menunggu tara Dan Rafael
Dari kejauhan Rafael sudah melihat Millie berdiri di pinggir jalan memainkan handphone, Rafael mengingat kejadian di mimpinya
Tempat, pakaian dan posisi dimana Millie berdiri sama persis, Rafael juga melihat dari kejauhan Tara di ikuti oleh mobil yang semakin melaju kencang
Rafael berlari ke arah Millie dan meneriaki nama Tara agar mempercepat laju kendaraannya, namun sepertinya Tara tidak mendengar itu
"Tara lebih cepet" Millie menoleh ke arah Suara teriak Rafael
Tiba-tiba tubuhnya di dorong oleh Rafael ke pinggir jalan, Terdengar suara benturan keras dan jeritan orang orang
Mobil tersebut menabrak motor tara lalu berniat menabrak Millie namun malah Rafael mengorbankan dirinya, tara dan Rafael tergeletak berjauhan di tengah jalan sementara mobil itu kabur karena orang orang mulai berkumpul
"Rafael" Millie berteriak berlari memeluk Rafael
"Kamu sayang sama aku kan? " lirih Rafael suaranya sangat pelan
"Aku sayang sama kamu, sangat sangat sayang sama kamu.. bertahan demi aku" Rafael batuk mengeluarkan darah dari mulutnya
"Jangan nangis" Rafael mengusap air mata Millie lalu tangannya terkulai saat Rafael tak sadarkan diri
"Enggak.. enggak.. jangan tutup mata kamu, aku mohon" tangis Millie semakin kencang saat tidak ada respon lagi dari Rafael
"Yang namanya Millie mana? ini manggil manggil terus" seseorang berteriak ketika Tara memanggil nama Millie
Millie meletakkan Rafael lalu menghampiri Tara dan duduk di sebelahnya, Tara mengambil sesuatu dari sakunya dan memberikannya pada Millie
"Ulang tahun lo" Ucap Tara sebelum tak sadarkan diri
Ambulans datang dan membawa keduanya ke rumah sakit, Millie mendorong Rafael menuju sebuah ruangan
Millie menunggu di depan pintu ruangan dengan keadaan kacau berlumuran darah serta acak acakan, Mami Rafael datang karena harus memanggil wali
"Bagaimana keadaan anak saya dok? " Mami Rafael hendak memarahi Millie namun pintu ruangan terbuka oleh dokter
"Masih dalam keadaan kritis, Benturan di kepalanya cukup parah, Kaki kiri dan tangan kiri nya patah.. hasil lain akan kita sampaikan saat hasil laboratorium nya keluar" ucap dokter lalu pergi
"Puas? kamu puas? ini yang kamu mau? kamu mengambil seorang anak dari ibunya dan sekarang kamu buat dia celaka.. ini yang kamu mau? " Millie hanya diam menundukkan kepalanya
"Mami udah mi.. nanti darah tingginya kumat" ucap Anna
"Anakku yang malang, dia satu satunya yang aku punya.. kenapa Tuhan.. kenapa gak dia aja yang terbaring di sana? " hati Millie mencelos mendengar orang yang dia sayangi mendoakan keburukan untuknya
"Aku rela tukar nyawaku Tuhan" batin Millie
Millie hendak mengikuti mami Rafael masuk ke ruangan Rafael namun di tahan, mami Rafael mengusir Millie dan tidak mengizinkannya datang kesana lagi
"Pergi dari sini dan jangan pernah temui Rafael lagi, pergi jauh jauh anggap kamu gak pernah mengenal kita" mami Rafael masuk kedalam ruangan
__ADS_1
Tubuh Millie gemetar tangisnya sampai tak bersuara melihat keadaan Rafael dari kaca yang ada di pintu
"Ini kedua kalinya kamu luka gara-gara aku, aku sayang sama kamu tapi mami bener aku emang harus pergi dari hidup kamu " Millie meninggalkan rumah sakit dengan berat hati