
"Apa apan ini? bagaimana ini bisa terjadi? " Hendra marah marah para pihak yang berwajib membawa bukti korupsinya
"Semua bukti sudah kami miliki, silahkan ikut kami" Hendra melawan hingga polisi harus membawanya secara paksa
Istrinya tidak membela suaminya dia tahu bahwa suaminya bersalah, Sedari awal dia tak menginginkan semua ini jika tahu semua yang dia miliki adalah hasil dari mencuri hak orang lain
"Anda akan di bawa juga sebagai saksi" Istri Hendra juga di bawa untuk bersaksi
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Kamu sudah panggil Rafael kesini? "
"Udah pa.. tapi gak tau dia mau kesini apa enggak" Jawab Millie
"Kenapa memangnya? " Tanya Max
"Dia tahu kalo papa nyuruh aku buat jauhin dia, mungkin dia takut papa kan kejam"
"Bagus kalo dia tau, papa gak usah kasih dia pelajaran" Ucap Max sambil membaca koran
"Papa.... " rengek Millie
"Apa? memang benar, papa gak perlu repot repot pukulin dia lagi kan" Max sangat suka menggoda putrinya
"Papa jahat tau gak? kalo dia mati gimana? "
"Ya kubur, emang mau di pajang? " Max sudah ingin tertawa melihat wajah Millie
"Iihh... tau ahh, papa nyebelin"
Bibi berlari kecil menghampiri Max dan mengatakan bahwa Rafael sudah menunggu di depan, melihat Max berjalan ke depan Millie segera memeluk lengan sang ayah karena khawatir dia akan menyakiti Rafael
"Ikut keruangan saya sekarang" ucap Max
"Pa... jangan macem-macem kakinya aja masih di gips" Max sudah sangat ingin tertawa melihat Millie mengkhawatirkan pujaan hatinya
"Ini apa sih ikut ikutan mulu, sana ke kamar kamu "
"Pa.. papa " Millie merengek melihat Rafael di bawa keruangan kerja Max serta pintunya di kunci
Millie menempelkan telinganya di pintu berharap dia bisa mendengar percakapan antara Max dan Rafael, lama dia berdiri di sana tiba-tiba terdengar suara benda benda berjatuhan
"Pa... papa.. buka pintunya pa" Millie menggedor pintu setelah mendengar suara benda berjatuhan dari dalam
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Setelah di periksa istri Hendra mencari keberadaan Rumah mami Rafael untuk meminta maaf, Mami Rafael mempersilahkan istri Hendra serta anak nya masuk
"Mbak saya mau minta maaf, saya benar benar tidak tahu kalau mas Hendra memanfaatkan mbak"
"Kamu sudah cerita semuanya dan saya tidak bisa menyalahkan kamu sekarang biarlah hukum yang berjalan" ucap mami Rafael
"Tapi mbak.. "
"Tapi kenapa? " Tanya mami Rafael
"Perusahaan mas Hendra.. di tipu orang dan semuanya gak bisa aku kembalikan mbak, adapun rumah dan semua aset juga harus di jual buat nutupin semua hutang sama orang yang uangnya di ambil sama Mas Hendra"
"Sebenarnya saya marah tapi apa daya sekarang semuanya sudah terjadi dan semua uangnya juga gak bisa kembali mungkin saya harus merelakan semuanya" ucap Mami Rafael
"Saya bersumpah gak ngambil sepeserpun dari uang itu"
__ADS_1
"Saya percaya sama kamu, lalu setelah ini kamu mau pergi kemana? "
"Saya akan kembali ke rumah lama, meskipun rumah itu sudah usang tapi itu pemberian orang tua saya"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Kamu tau kenapa saya panggil kamu kesini? " Tanya Max
"Enggak om"
"Saya kembalikan perusahaan papi kamu, bilangin sama mami kamu jangan marahin anak saya lagi" Max memberikan map kepada Rafael
"Om ini.. ini bener? ini perusahaan papi saya? " Rafael tak percaya dia berkali membaca berkas tersebut sampai di bolak-balik
"Benar.. papa tiri kamu udah masuk penjara dan semua aset yang dia ambil sudah di kembalikan ke perusahaan papi kamu, Sekarang kamu penerusnya lanjutkan dengan benar apa yang sudah di bangun papi kamu"
"Makasih om makasih... Aku gak tau lagi harus dengan apa aku berterimakasih sama om" Rafael sampai memeluk erat Max
"Kamu mau bunuh saya"
"Maaf om maaf saya bahagia banget, Saya janji akan menuruti semua perkataan om" Rafael mencium tangan Max berkali-kali
"Benarkah? "
"Aduh.. kenapa perasaan gue jadi gak enak? " Batin Rafael
"Saya mau menukar perusahaan ini sama Millie, ambil perusahaan ini dan jauhi Millie"
Deg
Rafael mematung mendengar permintaan Max
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Jangan lari lari" Mama Irene memeluk anak semata wayangnya
"Aku kangen.. seneng banget aku bisa keluar dari rumah sakit"
"Inget ya janjinya, jangan keluyuran diem di rumah" ucap Ello membuat bibir Irene mengerucut
"Hmm.. mama setuju, jangan keluyuran tinggal di rumah, jangan pergi tanpa suami kamu" Mama Irene juga berpendapat sama demi kebaikan anak dan cucunya
"Mama sama aja"
"Gak ada protes, sana istirahat ajak suami kamu nanti makan siang mama panggil" Ello membawa Irene pergi ke kamarnya
"Eeehh.. apaan nih? " Irene terkejut saat Ello mengangkat tubuhnya ke ranjang
"Tidur atau gue tidurin" mendengar ancaman Ello dengan cepat Irene menarik selimutnya dan meringkuk membelakangi Ello
Bukannya Irene yang tidur namun malah Ello yang tertidur nyenyak, Ello memeluk Irene dari belakang karena dengkuran halus suaminya
Irene memutar tubuhnya menghadap Ello dan menatapnya, Irene menyentuh bulu mata lentik Ello dan menggerakkan jari telunjuknya dari hidung ke bibirnya
"Apa? " Ello dengan suara parau nya menangkap tangan Irene lalu mengecup tangannya
"Kenapa gak tidur? "
"Gue.. gue.. tidur kok" jawab Irene
"Bohong... ayo tidur, gue masih ngantuk" Ello menarik pinggang Irene dan kembali tidur menyembunyikan wajahnya di dada Irene
__ADS_1
"Ja.. jangan gini" Irene mendorong Kepala Ello
"Kenapa? gue udah liat semuanya, lagi pula gue tau kok kita gak bisa ngapa-ngapain udah gini aja cukup" Ello kembali menyembunyikan wajahnya di dada Irene
"Ya udah lah gak apa apa, lagian seluruh tubuh gue juga udah dia... iihh.. gue apaan sih, lupain lupain lupain" Irene sempat menggantung kata katanya dan membayangkan sesuatu saat bersama Ello
"Gue udah gila" gumam Irene
"Siapa yang gila? " tanya Ello
"Eng.. enggak ada, ayo tidur gue ngantuk" Irene memeluk kepala Ello membuat kepalanya semakin terhimpit tubuh bagian depan Irene
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Maaf om saya gak bisa Terima ini, saya pilih Millie" Rafael menyerahkan kembali berkas yang dia pegang
"Kamu serius? kesempatan tidak datang dua kali, kamu masih muda masih bisa cari wanita yang cantik dewasa dan bisa di ajak serius"
"Pilihan saya tetap sama om, saya gak mau kehilangan Millie untuk yang kesekian kali nya.. gak apa apa saya akan merintis usaha saya sendiri asal Millie ada di samping saya" Rafael meyakinkan keputusannya
"Lalu dengan apa kamu akan memenuhi kebutuhan hidup anak saya? Dia terbiasa hidup serba berkecukupan sejak lahir, apa kamu bisa membahagiakan dia? "
"Saya berjanji om akan membahagiakan Millie dengan apapun caranya sebisa dan semampu saya, saya mohon om jangan melarang Millie untuk berhubungan dengan saya lagi" Max hanya manggut-manggut
"Kamu boleh pulang" ucap Max
"Saya tidak akan pulang sebelum om memberikan restu pada saya dan Millie"
"Apa kamu berjanji akan melindungi anak saya? berjanji akan selalu membelanya dan ada di sampingnya suka dan duka? berjanji akan selalu membahagiakan dia dan jangan menyakitinya? " Dengan mantap Rafael menjabat tangan Max
"Saya berjanji.. saya akan membuat Millie bahagia, saya akan melindungi Millie dan selalu berada di sampingnya, saya akan menunggunya sampai menyelesaikan pendidikannya" Max tersenyum seraya menepuk bahu Rafael
"Ambil berkas itu, saya tidak mau hidup anak saya menderita.. buat dia bahagia"
"Jadi.. jadi.. maksudnya om merestui saya dan Millie? " Wajah Rafael begitu berbinar
"Ya... tampaknya anak saya sudah kamu pelet" Rafael kembali memeluk Max
Tangan Max tanpa sengaja menjatuhkan asbak dari ujung meja hingga pecah, mereka mendengar suara ribut Millie dari balik pintu
"Kamu dengar? dia takut saya pukulin kamu sampai teriak teriak di luar"
Pintu terbuka Rafael tiba tiba terhuyung dengan sigap Millie menangkap tubuhnya, Rafael merintih kesakitan memegangi perutnya
"Lepaskan dia Millie, biarkan dia pergi" ucap Max
"Papa Rafael kenapa? papa kenapa jahat banget dia gak salah apa apa" Millie memeluk Rafael yang tergeletak tak berdaya di pangkuannya
"Papa... jahat, papa tega, ayo bangun.. kamu harus bangun kita ke rumah sakit" Millie menangis hendak membawa Rafael berdiri
"Aku... aku.. sayang sama kamu" kata kata terakhir Rafael sebelum dia pingsan
"Papa ini gimana? papa tolongin ini semua gara-gara papa, kalo dia mati gimana? papa ayo pa bawa ke rumah sakit" Millie menangis tersedu sekaligus panik
Tiba-tiba kedua pria itu tertawa membuat Millie memberangus kesal, Millie mendorong tubuh Rafael lalu berdiri
"Kalian nyebelin, aku gak mau ngomong sama kalian" Millie merajuk berlari naik ke kamarnya
"Nah sekarang selamat membujuk dia" ucap Max lalu pergi
"Loh.. om ini kan ide om kok gak tanggung jawab sih" Max berlalu tanpa mendengarkan perkataan Rafael
__ADS_1