Youth Love

Youth Love
eps 24


__ADS_3

Pintu kamar inap Rafael di buka oleh Millie saat Rafael baru saja selesai keluar kamar mandi, Rafael hanya memakai celana pasien tanpa memakai baju


"Sayang.. " Rafael merentangkan tangannya melihat kedatangan Millie


"Pake bajunya " ucap Millie tanpa bersuara hanya gerakan bibir saja


"Apa? " tanya Rafael mengangkat alisnya


"Bapak.... wwooaaa " mereka histeris melihat tubuh Rafael, Millie menatap Rafael dengan tatapan kesal


Rafael segera mengambil baju dan memakainya sementara mereka yang menjenguk membulatkan mata dengan mulut menganga, Millie langsung duduk di sofa tanpa menghampiri Rafael seperti yang lainnya


"Bapak udah gak apa apa? "


"Mana yang sakit pak? "


"Boleh liat lukanya gak pak? "


"Kok bapak bisa di tusuk orang sih? "


"Saya udah gak apa apa, makasih ya udah nengokin sampe repot-repot bawa Buah segala" Ucap Rafael


"Gak ngerepotin kok pak"


"Iya.. kita malah seneng liat bapak baik baik aja"


"Heem.. pak apa lagi tadi kita dapet pemandangan bagus" Ucap salah satu murid sambil terkekeh


"Millie kok disitu, sini dong" ucap Rafael dengan tatapan menggoda


"Gak ahh.. Ngapain berdiri di sana? enakan di sini duduk" Jawab Millie


"Oke.. gadis gadis cantik saya harus istirahat, bagaimana kalo kalian pulang dulu? " Ucap Rafael


"Demi apa gue di panggil gadis cantik? "


"Bukan cuma lo doang"


"Tau.. kepedean lo" mereka saling berbisik


"Kalo gitu cepet sembuh ya pak, kita pulang dulu"


"Ayo Millie" Mereka mengajak Millie pergi, Millie berdiri mengambil tasnya


"Ehh.. Millie tunggu, tolong ambilkan buku di sofa saya kasih tugas buat besok biar kamu yang bawa" Rafael menunjuk buku tebal di atas sofa


"Kalian duluan aja, gue mau bahas buat pelajaran besok" Ucap Millie, mereka pun pergi meninggalkan mereka berdua


Millie membawa buku tersebut kepada Rafael dan duduk di kursi di samping ranjang, Rafael membuka buku sambil sesekali melirik Millie yang sedang memainkan ujung selimut yang di pelintir


"Sini" Rafael menepuk tempat tidur di sampingnya


"Disini juga bisa, mana tugasnya? aku mau pulang"


"Kalo gak boleh pulang gimana? Sini.. tolong kupas buahnya" Rafael menarik tangan Millie agar pindah ke sampingnya


"Gak mau.. kenapa gak suruh para gadis gadis cantik aja? Sini mana tugasnya" Millie hendak mengambil bukunya


"Siapa yang mau kasih kamu tugas? Aku kangen sama kamu" ucap Rafael seraya memeluk Millie dan mencium pipinya

__ADS_1


"Kamu cemburu ya? " Millie mengusap bekas ciuman Rafael


"Iisshh.. nyosor mulu" Millie mendorong kepala Rafael agar menjauh


"Kenapa gak boleh? Tambah lagi nih tambah lagi" Rafael mendaratkan kecupan beberapa kali di pipi Millie


"Ehem.. " Kedatangan mami Rafael yang tiba tiba membuat keduanya mematung


Rafael memegangi sebelah pipi Millie sementara bibir Rafael masih menempel di sebelah pipinya, Millie segera berdiri menjauh ketika mami Rafael mendekat


Tok..


"Jangan macem macem kamu" Ucap mami, Rafael mengelus keningnya yang di ketuk maminya dengan jari tengah


"Sakit sayang" rengeknya dengan nada manja


"Cih.. menjijikkan" Mami Rafael sampai bergidik membuat Millie terkekeh


"Kalo dia macam macam pukul aja kepalanya" Ucap Mami Rafael pada Millie,


Bukannya memperhatikan anaknya yang sedang sakit, mami Rafael justru malah menarik tangan Millie ke sofa untuk makan makanan yang dia bawa dari rumah


"Mami.. " Rafael memanggilnya


"Nih.. itu buat kamu, jangan ganggu kami" Ucapnya seraya memberikan piring berisi makanan pada Rafael


"Gue jadi ngerasa jadi anak tiri" gumam Rafael


"Emmhh.. mami, papa bilang polisi belum bisa nemuin pelakunya" Ucap Millie


"Kalo udah ke tangkap mami sendiri yang akan pukulin orangnya"


"Berani kalo ada polisinya" Jawab mami Rafael seraya terkekeh


"Kayaknya gak usah di cari lagi deh, aku juga udah gak apa apa" ucap Rafael


"Gak bisa dong.. kalo di biarin nanti mereka mengulangi kesalahan yang sama ke orang lain, iya kan mi? " Tanya Millie


"Bener.. mami setuju sama Millie, orang orang sok jago kayak gitu emang harus di kasih pelajaran, itu anak anak alay yang mau sok jago nyerang orang sembarangan di jalan, paling kalo ke tangkap polisi nangis terus nyusain orang tua buat nebus dia di penjara" Rafael sampai melongo mendengar perkataan ibunya


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Millie mendengar suara seseorang menangis di toilet sekolah, Millie mengetuk beberapa kali namun suara itu malah menghilang


"Ada orang di dalam? lo kenapa? apa gue bisa bantu sesuatu? " tanya Millie


Seorang gadis keluar dari toilet dan pergi begitu saja tanpa menjawab, Millie bisa melihat orang tersebut menangis meskipun dia telah menutupnya dengan make-up


Millie masuk ke dalam toilet dan saat menutup pintu Millie menemukan sesuatu di belakang pintu sepertinya benda itu terjatuh, Millie mengambilnya dan melihat sampai membolak-balikan benda tersebut


"Ini apaan? simpen dulu deh nanti gue kasih" Millie memasukkannya ke dalam saku


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Millie pinjem pulpen dong punya kakak abis" Ellia masuk ke kamar Millie ketika dia sedang di kamar mandi


"Ambil aja di tas, nanti balikin lagi" teriaknya dari dalam kamar mandi


"Millie bisa bantuin mama bentar gak? " Allea tiba tiba masuk dia melihat Ellia berdiri mematung memegang sesuatu

__ADS_1


Tiba tiba kamar yang begitu hening kini di penuhi teriakan Allea ketika melihat benda kecil yang di bawa Ellia, semua orang bergegas naik setelah mendengar jeritan Allea yang memanggil Millie


"Milliiiiiiiiiiiiiiie... keluar kamu" teriak Allea


"Mama apaan sih teriak teriak? " Millie keluar bahkan hanya memakai handuk


"Ini apa? ini apa? kamu keterlaluan Millie, mama kasih kebebasan bukan untuk ini Millie, dimana otak kamu? " pekik Allea


"Sabar dulu ma.. itu bukan punya aku, itu punya temen aku jatoh di toilet"


"Kenapa ada di tas kamu? " tanya Allea


"Itu... itu... "


"Ada ini? kenapa ribut ribut? " tanya Max yang baru saja datang


"Gawat" Millie membulatkan matanya melihat keberadaan sang ayah


"Ini mama nemu alat tes kehamilan di tas Millie, hasilnya positif" semua orang terkejut mendengar hal itu


"Sumpah pa.. itu bukan punya aku, aku ambil cuma mau balikin sama temen tapi aku lupa"


"Mau jadi apa kamu? papa sekolahin, papa cukupin semua kebutuhan kamu, papa turutin semua kemauan kamu, papa kasih kebebasan tapi ini yang kamu kasih buat papa? memalukan" Max menghampiri Millie namun Ellia menahannya dengan cara memeluknya


"Pa... dengerin dulu penjelasan Millie, aku percaya Millie gak kayak gitu"


"Lepasin Ellia.. anak itu harus di hukum biar tau rasa"


"Ma... gimana ini? bantuin dong" ucap Ellia yang tidak sanggup menahan Max


"Pa.. pa.. dengerin dulu penjelasan Millie, kita bisa suruh dia tes ulang di rumah" Ello menenangkan Max


"Ambil alat tes nya" ucap Max, dia bisa tenang setelah mendengar ucapan Ello


Setelah mengambil alat tes nya Allea ikut masuk ke kamar mandi untuk memastikan Millie benar-benar melakukannya dan memberitahu caranya, beberapa saat kemudian mereka keluar dan memberikan hasil tes nya pada Max


"Udah aku bilang" gumam Millie


"Ini beneran kamu gak bohong? " tanya Max


"Bohong? apa aku harus tes lagi depan papa? "


"Millie... " Max menatap Millie tajam


"Iya pa... maaf'' Millie segera menunduk


" Maafin papa ya, papa gak percaya sama kamu" ucap Max


"Ya.. udah biasa" batin Millie


"Mama juga, mama harus nya jangan marah marah dulu" ucap Allea


"Ya... mama selalu ribut dalam masalah apapun membuat seisi rumah jadi heboh" batin Millie


"Yaaahh.. pergi yuk, kirain beneran kak Millie mau punya bayi" celetuk Michelle


"Heh.. bocah jaga tuh mulut, gue bejek-bejek nanti"


"Kaboooorrrrr" semua orang tertawa melihat Michelle lari ketakutan

__ADS_1


__ADS_2