
"Sayang" Rafael melambaikan tangannya di depan gerbang sekolah
"Aduh... ngapain sih dia, gak kerja apa ya?" gumam Millie
"Liat muka pacar Lo berbunga-bunga banget kayaknya" ucap Jason
"Dia berbunga-bunga gue yang jengkel" jawab Millie
"Sayang ngapain sih malah bengong?" Rafael menghampiri Millie yang malah berhenti di tengah jalan
"Kita duluan ya.. bye" ketiga teman Millie memilih untuk pergi
''Langsung pulang jangan kelayapan" ucap Rafael
"Siap" jawab ketiganya sambil memberi hormat
"Ayo pulang" Rafael menarik tangan Millie
"Kamu gak kerja?"
"Abis ini aku pergi ke kantor lagi, mau pacaran dulu" jawab Rafael sambil menarik turunkan alisnya
"Aku laper"
"Kita makan dimana?" tanya Rafael
"Di Deket kantor kamu, aku pernah lihat disana ada hotpot kayaknya enak"
"Tapi kan jauh jaraknya sama rumah?" Millie justru sengaja agar membuat waktu lebih lama dan akhirnya Rafael harus kembali ke kantor
"Ya... gak apa apa, nanti kamu langsung ke kantor biar aku pulang sendiri"
"Oke kita kesana" Rafael memutar arah menuju tempat yang di maksud Millie
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Tuan ada beberapa file yang belum di tanda tangani" ucap sekretaris Max
"Simpan disana, kamu bisa pergi" Max hanya menjawab dengan datar sambil menatap layar ponselnya
"Apa tuan mau di buatkan kopi?"
"Saya rasa saya tidak mengatakan apa-apa lagi, dan satu lagi tugas kamu bukan membuat kopi saya bisa suruh OB, sekarang keluar"
"Ba..baik tuan" sekretaris baru tersebut tampaknya belum mengetahui sikap majikannya
"Cih... sok galak, liat aja nanti dia yang akan manggil gue terus keruangannya" ucapnya dengan percaya diri
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Makan lagi, kenapa gak di habisin? "
"Aku gak laper, kamu kalo mau balik ke kantor duluan gak apa apa nanti aku pulang sendiri" ucap Millie
"Kamu ikut ke kantor hari ini" ucap Rafael sambil mengulurkan sendok ke mulut Millie
"Aku.. aku.. "
"Mau cari alasan apa lagi? kamu kenapa sih kayak ketakutan gitu? emangnya aku mau ngapain kamu?" Millie hanya diam menerima suapan Rafael
"Ehem.... " Rebecca berdiri di dekat meja Millie dan Rafael
"Kayak jelangkung aja" gumam Millie
"Gak nyangka ketemu disini, Lo apa kabar?" tanya Rebecca
"Baik, sebaiknya Lo pergi deh kalo gak punya kepentingan" ucap Rafael
"Gak perlu galak galak kali, gue cuma mau bilang selamat buat Lo karena udah dapet mangsa baru... dan buat Lo hati hati aja, kalo udah bosen Rafael pasti mencampakkan Lo" Millie hanya tersenyum smirk menanggapi Rebecca
"Gue udah suntik campak waktu kecil jadi udah kebal kalo di campakan" jawab Millie
Rafael menahan tawanya melihat raut wajah Rebecca, rasanya ingin sekali Rebecca memukul mulut Millie saat itu juga
__ADS_1
"Lo Dateng kesini buat makan, kan? mending Lo cari meja lain terus pesen makan dari pada cuma berdiri disitu kayak orang bego" cicit Millie
"Mulut Lo..."
"Mulut gue kenapa? gue gak salah, kan? jangan bilang Lo Dateng kesini cuma karena Rafael ada disini? atau jangan jangan Lo ngikutin kita?" tebak Millie
"Ss..si..siapa yang ngikutin kalian?"
"Kalo gitu sana pergi, pesen makan kek ngapain juga disini?" Rebecca tidak menjawab apa apa lagi dia pergi karena merasa malu apa lagi Millie bicara cukup keras hingga mereka di tatap banyak orang
"Aku udah selesai" Millie menyimpan sendoknya diatas meja
"Aku bayar dulu kamu tunggu di mobil" Millie hanya menjawab dengan anggukan kepala lalu pergi
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Itu Ello... "
"Iya.. dia udah punya anak gak nyangka banget "
"Anaknya cakep cakep juga"
"Iyalah mirip bapaknya"
"Kok bisa ya Irene dapetin Ello padahal dulu Ello paling risih banget sama Irene"
"Dia kasih tubuhnya, apalagi? kayaknya Ello juga terpaksa nikahin Irene karena hamil duluan"
"Ssttt... Ello kesini" mereka diam saat Ello mendekat
"Ello selamat ya Lo sekarang udah punya bayi"
"Ya.. thanks" jawab Ello sambil berlalu melewati mereka
"Gila.... denger suaranya aja jantung gue rasanya dag-dig-dug "
"Kalo gak dag-dig-dug mati dong Lo"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Heem.. dia kekeh gak mau nikah padahal Rafael udah jujur sama papa soal hubungan mereka yang kelewat batas "
"Aku gak percaya Millie kayak gitu" Dirga tahu betul Millie, Meskipun anak itu nakal dari kecil tapi dia tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu
"Tapi kenyataannya gitu kan? awalnya aku juga gak percaya tapi ini keluar dari mulut Rafael sendiri dan mama juga liat apa yang mereka lakukan diacara pernikahan Ello"
"Gimana kalo itu cuma akal akalan Rafael? kalo bener Millie melakukan itu kenapa dia nolak di nikahin harusnya dia seneng dong cowoknya mau tanggung jawab?" Ellia menatap wajah Dirga
"Kamu kenapa sih setiap jalan sama aku selalu ngomongin Millie? sebenarnya kamu suka kan sama dia?"
"Bukan gitu... aku.. aku cuma gak percaya aja sama Rafael" jawab Dirga
"Kamu gak perlu urusin mereka, yang harusnya kamu pikirin itu hubungan kita"
"Sayang.. hubungan kita baik baik aja, apa yang harus dipikirin?"
"Menurut kamu baik baik aja tapi aku ngerasa kamu gak pernah serius, aku muak tiap ketemu kamu pasti ada aja yang di bahas tentang Millie.. Millie inilah Millie itulah, bukan sekali dua kali" ucap Ellia
"Sayang itu cuma perasaan kamu doang, aku cuma sayang sama kamu dari dulu sampe sekarang kamu selalu jadi prioritas buat aku"
"Apa gunanya jadi prioritas kalo di pikiran kamu masih ada cewek lain? aku rasa kamu harus bener bener pikirin lagi tentang hubungan kita, mau lanjut apa enggak.. Aku mau pulang" Ellia berdiri dari duduknya lalu pergi
"Kenapa sih gue harus bahas Millie?" Dirga merutuki kebodohannya
"El.. tunggu El" Dirga mengejar Ellia yang sudah keluar dari restauran
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Sayang kamu istirahat aja dulu aku ada meeting bentar" Rafael membereskan dokumen yang akan dia bawa
" Iya" singkat Millie sambil merebahkan tubuhnya di sofa
"Jangan disitu, kan ada kamar"
__ADS_1
"Nanti aku pindah.. kamu pergi meeting aja" Millie menjawab namun pandangannya masih fokus pada layar handphonenya
Rafael berjalan kearah Millie lalu mengambil handphone dari tangannya, Millie menghela nafas menatap Rafael dingin
"Aku gak suka kalo aku lagi ngomong kamu malah main hp"
"Iya.. udah sana katanya mau meeting, sini hpnya" Rafael memasukan handphone Millie kedalam sakunya
"Gak.. sekarang kamu istirahat masuk ke kamar"
"Iya tapi sini dulu hpnya, aku jenuh kalo gak ada hp" rengek Millie
"Justru aku ambil biar kamu tidur gak main hp lagi, udah sana masuk"
"Ngatur banget sih" Millie menggerutu sendiri sambil masuk ke dalam sebuah ruangan
Lama Millie berbaring sampai dia berpindah-pindah posisi namun belum juga tidur, Millie keluar lagi dan berjalan ke meja kerja Rafael
Disana handphone suaminya tergeletak diatas meja, Millie mengambilnya bermaksud untuk bermain game di handphone tersebut
"Sialan pake password segala" Millie mencoba beberapa kali memasukkan password yang dia acak
"Tanggal ulang tahun dia bukan, tanggal ulang tahun gue bukan, tanggal apalagi?" gumam Millie
"Dia pasti sembunyikan sesuatu, kalo enggak ngapain juga handphonenya dia pakein password?"
Sebuah pesan tiba tiba masuk saat Millie kembali memasukkan password asal-asalannya, dahi Millie mengkerut membaca sepenggal pesan tersebut
"Sayang kok gak tidur?" mendengar suara Rafael dengan segera Millie menaruh kembali handphone suaminya itu
"Gak ngantuk, sini hp aku"
"Kenapa kok mukanya kesel gitu?" tanya Rafael
"Gak.. aku cuma bosen, sini hpnya aku mau pulang"
"Kok pulang? kamu marah karena hpnya aku ambil?" tanya Rafael
"Enggak... sini hpnya aku mau ke rumah kak Irene"
"Mau pulang atau mau ke rumah Irene? Nih ambil aja sendiri" Rafael menunjuk handphone Millie yang ada di saku celananya
Millie mendekat dan mengulurkan tangannya untuk mengambil handphone namun Rafael langsung memeluknya, tidak peduli Millie menolak dan berontak Rafael memeluknya erat
"Lepasin gak? aku sesak nafas" Millie berusaha melepaskan diri
"Kamu kenapa sih? kalo masih cemberut aku gak mau lepasin"
Millie yang kesal akhirnya menggigit leher Rafael hingga bekas gigitannya memerah, seketika Rafael melepaskan Millie dan mengusap lehernya
"Sakit tau maen gigit aja"
"Sukurin, Aku mau pulang" Millie berbalik hendak pergi saat berhasil mendapatkan handphonenya
"Pergi aja kalo bisa" Rafael menekan remote yang otomatis akan mengunci pintu ruangannya
"Gak lucu tau gak? buka cepetan" Millie mengguncang handle pintu
Perlahan tapi pasti Rafael berjalan mendekati Millie lalu memeluknya dari belakang, tanpa Millie duga ternyata Rafael membalas gigitan Millie dengan menggigit pundaknya
"Iih.. kamu kayak anjing gila " Millie mendorong tubuh Rafael menjauh
"Kalo aku anjing gila, buat aku kamu seonggok daging yang lezat" Rafael menarik pinggang Millie dan mendaratkan ciuman di seluruh wajah Millie dan menjalar ke lehernya
"Berhenti... " Millie mendorong leher Rafael dengan setengah mencekiknya
"Siapa yang kamu anterin tadi pagi?" mata Rafael membulat
Deg
"Darimana dia tau" batin Rafael
Hai para readers yang othor cintai apa kabar?othor harap kalian selalu dalam keadaan baik 🥰🥰🥰
__ADS_1
Maaf untuk beberapa bulan ini othor gak pernah up episode episode dari cerita yang othor buat dikarenakan othor sedang dalam fase morningsickness yang sangat sangat parah
Akhir akhir ini mulai membaik semoga kedepannya bisa lebih maksimal dalam menyelesaikan cerita ceritanya...