
Millie sampai di villa yang hari itu dia lihat Rafael masuk ke sana, tanpa mengetuk pintu Millie membuka pintu dengan kasar lalu masuk begitu saja
Terdengar suara teriakan di sebuah kamar di sertai suara barang barang pecah, Millie melihat kedalam kamar tersebut ternyata memang Arumi berada di sana dengan keadaannya yang kacau
"Kenapa dia gak mati? kenapa dia gak mati? kenapa dia di kelilingi orang orang yang baik yang sayang sama dia? harusnya gue yang nikah sama Ello, harusnya gue yang di sayang keluarga Ello bukan dia, semua gara-gara bayi itu.. bayi bayi sialan, gue juga akan singkirin kalian" teriak Arumi
Mendengar rencana jahat Arumi yang akan menyingkirkan keponakan yang baru saja lahir membuat Millie marah, Millie masuk kedalam kamar itu dan menampar Arumi dengan keras hingga dia tersungkur
Arumi memegangi pipinya yang terasa perih karena tamparan Millie, Millie menarik baju bagian depan Arumi hingga dia kembali berdiri
"Denger... jangan sekali kali lo ganggu keponakan gue, udah cukup sekarang gue akan bawa lo ke kantor polisi" Millie menarik baju Arumi hingga jalan sempoyongan
"Gue gak akan pergi.. Gue sebentar lagi jadi istrinya Ello, tunggu setelah gue singkirin Irene dan anak anak haramnya" ucap Arumi sambil cekikikan
"Lo emang gila" hardik Millie
"Gue emang gila, kenapa? gue mau orang tua gue sayang sama gue, gue mau mereka kembali berkumpul lagi, kakak gue.. kakak yang sayang sama gue pergi untuk selama lamanya karena lo sama Sony, kalo aja hari itu lo gak berantem sama Sony kakak gue gak akan mati" mula-mula Arumi menangis saat membicarakan orang tuanya namun saat membicarakan kakaknya dia menjadi marah dan kembali berteriak
Arumi mengambil sesuatu di saku celana bagian belakangnya, saat Millie lengah dia hendak menikam Millie dengan gunting namun beruntung Rafael datang di saat yang tepat
Rafael menepis gunting tersebut hingga pergelangan tangannya tergores, kemejanya robek dan darah menetes dari tangan Rafael
"Bang.. sorry.. gue.. bukan gue.. " Arumi menjadi panik dia menggigit kuku dengan wajah panik, takut dan bingung
Millie memukul belakang kepala arumi dengan tangannya hingga dia pingsan, tanpa bicara Millie menyeret sendiri tubuh Arumi keluar
"Sayang.. "
"Sini kunci mobilnya" Millie berbalik menadahkan tangannya, Rafael tanpa bertanya memberikan kunci mobilnya
Millie mengikat Arumi juga membekap mulutnya lalu memasukannya ke dalam mobil, Sebelum pergi gadis itu membalut luka Rafael dengan tangan kemeja Rafael yang di sobek
"Yang tangannya jadi pendek sebelah"
"Gak apa apa.. nanti beli lagi" jawab Millie
"Sakit yang pelan pelan" Millie mengikatnya terlalu kuat
"Lebay banget, udah ayo pergi"
"Motor kamu gimana? " tanya Rafael
"Biar bawahan papa yang ambil"
"Kamu masih marah? " Tanya Rafael
__ADS_1
"Menurut kamu? " jawaban Millie selalu terkesan dingin
"Aku minta maaf udah sembunyiin keberadaan Arumi, dia gak punya siapa siapa lagi yang dan dia melakukan itu pasti karena sakit jiwa nya"
"Ya makanya dia harus segera di bawa, kalo di biarin akan terjadi hal yang lebih mengerikan, dia akan membunuh bayi bayi kak Ello" Beruntung hari itu Millie mengikuti Rafael dan dia mengetahui keberadaan Arumi jika tidak mungkin saja tindakannya akan jauh lebih mengerikan
"Aku salah udah lindungi dia, maafin aku ya" Rafael hanya tidak tega meskipun Arumi bersalah tapi dia sudah menganggapnya seperti adik sendiri
"Aku belum bisa maafin kamu" ucap Millie
"Sayang.. maafin ya.. ya.. " Rafael memeluk dan mengguncang tangan Millie yang sedang mengemudi
"Hei... lepasin kamu mau kita celaka? " gerutu Rafael
"Maafin aku dong cepet " Rafael mesin mengguncang lengan Millie dengan kata-kata manjanya
"Ya udah iya.. lepasin" ucap Millie setengah berteriak
"Jangan Teriak teriak juga dong"
"Bikin kesel mulu" ketus Millie
"Tapi cinta kan? " goda Rafael
"Enggak" Jawab Millie sambil mengernyitkan sebelah sudut hidungnya
"Kok pulangnya telat pa? " tanya Allea
"Itu.. anu.. apa.. ada meeting dulu di luar"
"Irene udah lahiran " ucap Allea
"Loh.. kapan, bukannya masih 7 bulan ya? " Max cukup terkejut
"Terpaksa lahir lebih awal karena dia jatuh dari tangga di dorong temannya"
"Siapa yang dorong menantuku? berani sekali dia" Max tampak sangat marah
"Arumi... mereka baru ngasih tau padahal operasinya sore mungkin Ello juga masih syok"
"Kamu gak kesana?" Tanya Max
"Ini juga mau kesana, nungguin pak maman dulu tadi pergi bentar"
"Ayo biar kita berangkat bareng aja" Max kembali mengambil jas yang sudah dia berikan pada Allea
__ADS_1
"Kamu gak capek? "
"Enggak.. aku gak sabar mau ketemu cucu pertama" Max menggandeng Allea pergi
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Lucu banget ya" Millie dan Rafael melihat anak anak Ello dari luar
"Kamu mau? aku juga bisa kasih" Ucap Rafael
"Ogah... "
"Gak tau aja, nanti kalo udah coba... Mmphhtt" Millie yang kesal segera membekap mulut Rafael
"Bisa gak sih pembahasannya gak usah ke arah situ? " gerutu Millie, Rafael malah tertawa dengan mulut masih di tutup tangan Millie
"Kalian disini juga? " Millie segera melepaskan tangannya ketika mendengar suara sang ayah
"Iya om.. kita temenin Ello disini"
"Terus gimana orang yang dorong Irene? " Tanya Max
"Beneran gila pa, aku udah bawa dia ke rumah sakit jiwa dan keluarganya juga pasrah aja kalo memang perlu di rawat di sana katanya gak apa apa" Jawab Millie
"Enak banget langsung di masukin ke RSJ, dia gak tau berurusan sama siapa" ucap Max
"Udah lah pa namanya juga gila dia gak tau mana yang bener dan salah, dia pengen semua kasih sayang orang di sekeliling kak Irene buat dia, alesannya aja gak masuk akal" Millie melihat kekhawatiran di wajah Rafael namun dia tak mampu mengatakannya
"Gak bisa, kalo dia udah niat berarti udah dia pikirkan sebelumnya, gimana bisa di bilang gak waras? kalo orang gila nyerang sembarangan wajar di sebut orang gila"
"Papa kebiasaan deh.. kalo udah di tangani sama yang berwajib dan ahlinya udahlah jangan turun tangan sendiri" ucap Allea
"Tetep aja papa gedeg, liat cucu cucu papa yang malang mereka lahir sebelum waktunya"
"Mereka sehat kok pa, beruntung udah hamil tua kalo enggak kasian kak Irene" ucap Millie
"Irene gak apa apa kan? " Tanya Max
"Papa langsung kesini gak liat kak Irene dulu? kak Irene badannya memar memar kayaknya keningnya robek deh soalnya pake perban"
"Kita kesana aja, Ello pasti butuh bantuan kita, orang tua Irene juga gak ada" Allea dan Max akhirnya pergi menuju ruangan dimana Irene di rawat
"Kamu tenang aja, aku yang jamin Arumi gak akan kenapa-kenapa" ucap Millie lalu pergi
"Bukan gitu yang.. " Sepertinya Millie cemburu terlihat dari gaya bicara nya, Rafael mengejar Millie
__ADS_1
Dia memang mengkhawatirkan Arumi namun hanya mengkhawatirkannya sebagai kakak pada adiknya, tapi bukan wanita namanya jika tidak mudah cemburu dan merajuk meskipun kelakuan Millie kayak abang abang tapi tetap naluri wanita selalu bekerja