
Millie berjalan sendiri di koridor dengan buku bukunya, tiba tiba Ayunda dan temannya dengan sengaja menabrak Millie dari belakang hingga buku yang dia pegang berserakan
Tanpa bicara Millie memunguti bukunya sendiri lalu kembali melanjutkan langkahnya, Ayunda terlihat kesal Millie tak merespon sama sekali
"Heh.. junior beliin gue minum" ucap Ayunda menghentikan langkah Millie
"Gue punya nama" ucap Millie dengan nada ketus
"Oke.. siapa nama Lo kemaren? Mela, meli?"
"Millie... Ayunda " temannya mengingatkan
"Ohh ya.. Millie, beliin gue minum"
"Lo gak punya duit? nih.. beli sendiri" Millie mengambil tangan Ayunda lalu meletakkan uang lima puluh ribu di tangannya dan pergi
"Songong banget'' Ayunda meremas uang tersebut
"Jangan di gituin Ayunda, sayang uangnya" temannya melepaskan satu persatu jari Ayunda dan mengambil uang tersebut
"Lumayan buat jajan" ucapnya seraya memasukkan uang tersebut ke sakunya
"Lo sama aja" Ayunda menoyor kepalanya lalu pergi
Millie belum punya teman sama sekali dia hanya menghabiskan waktunya untuk membaca buku ataupun sekedar menikmati minuman di kantin
"Lo gak punya temen?" tiba-tiba Bastian dan Candra duduk di bangku yang di duduki Millie
"Emangnya kenapa?" jawab Millie tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dia baca
"Baca buku apaan sih?" Bastian mengambil buku dari tangan Millie
"Gak sopan banget sih, sini bukunya"
"Rajin juga Lo, gue kira Lo baca komik" Bastian menaruh buku Millie diatas meja
"Jadi orang ganggu banget sih" Millie mengambil kasar bukunya lalu beranjak
"Gak ramah banget" ucap Candra
"Bukannya bikin penasaran? baru dia loh yang gak tertarik sama kita" ucap Bastian
"Bener juga... jangan jangan dia gak doyan cowok" pikir Candra
"Lo inget cewek yang ngaku ngaku kenal sama kita di tempat golf? itu Millie dan cowok yang sangar hari itu pacarnya "
"Masa sih? kayak beda banget" Candra tidak mengenali Millie karena kali ini Millie selalu menggulung rambutnya
"Lo liat aja ''
"Millie tunggu " Ketika Millie menghentikan langkahnya Bastian membuka ikat rambut Millie hingga rambutnya tergerai
__ADS_1
"Ternyata bener" gumam Candra
"Lo lebih cantik kalo gini" ucap Bastian
"Gak jelas Lo" ucap Millie sinis lalu pergi
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Di kantor Rafael sedang memeriksa kembali pekerjaan bawahannya, emosinya benar benar tidak bisa di bendung lagi karena staf keuangannya ketahuan korupsi
"Siapa saja yang terlibat?" Rafael sudah memasang wajah yang tidak enak dipandang mata
"Anu.. anu.."
"Anu anu apa? panggil mereka semua kesini atau cuma kamu yang akan membusuk di penjara" bentak Rafael seraya menggebrak meja
"Ba..bbaik"
Rafael mengumpulkan orang-orang yang terlibat dalam penyelewengan dana ini namun satu orang sudah mengetahuinya lebih dulu dan kabur
"Sialan"
Rafael sudah melaporkan kejadian ini pada pihak yang berwajib juga menyuruh beberapa orang untuk mencari orang tersebut, Rafael sudah tidak ada mood untuk meneruskan pekerjaannya dan memilih pergi menjemput Millie
Sesampainya di depan kampus Rafael menunggu Millie keluar hingga satu jam dia menunggu di dalam mobil, Rafael keluar dari mobil ketika melihat Millie keluar halaman kampus
Kini Rafael kembali di buat kesal karena seorang pria berjalan bersama Millie, Dengan langkah besarnya Rafael menghampiri Millie
"Kalo aku belum pulang gak mungkin ada disini, cepet pulang" Rafael menunjukkan wajah ketusnya
"Kita diskusikan lagi besok" ucap Bastian
"Sorry.. gue gak minat" jawab Millie
"Gak minat apa?" tanya Rafael
"Nanti aku ceritain, ayo pulang" Millie memeluk tangan Rafael lalu mengajaknya pergi
Rafael mengemudikan mobilnya tanpa bicara sepatah katapun, Millie sesekali melirik Rafael berharap suaminya mengatakan sesuatu
Millie mencolek-colek lengan Rafael namun dia tidak merespon sama sekali, Millie juga menarik-narik lengan kemeja Rafael namun Rafael masih diam saja
"Yang.. berhenti dulu" Millie menepuk-nepuk dashboard mobil sambil menutup mulutnya
Saat Rafael menghentikan mobilnya Millie bergegas turun dan muntah di pinggir jalan, Melihat istrinya muntah muntah Rafael ikut turun dan memijat tengkuk Millie
"Kamu gak apa apa? " tanya Rafael
Millie hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya, Millie duduk di trotoar seraya memijat kepalanya
Rafael mencari air di dalam mobilnya namun tidak menemukannya, Rafael mencari warung di sekitar jalan itu dan melihat warung yang di carinya dalam jarak yang cukup jauh
__ADS_1
"Kita berhenti di warung sebelah sana aja, aku kehabisan air" ucap Rafael
Lagi lagi Millie hanya mengangguk lalu Rafael membantunya masuk ke dalam mobil, wajah Millie tampak pucat gadis itu menyandarkan tubuhnya di kursi
Sesampainya di warung Rafael turun membeli air untuk Millie, saat hendak memberikan air tersebut Millie terburu-buru turun dan kembali muntah
"Kamu kenapa sih? jangan jangan kamu hamil?" mendengar ucapan Rafael ibu ibu yang ada di warung itu menatap mereka
"Gak... gak mungkin, kuliah aku gimana?" ucap Millie
Melihat Rafael dengan setelan kerja dan Millie mendengar ucapan Millie membuat mereka saling berbisik, tatapan mereka sepertinya mengintimidasi pasangan muda itu
Millie menarik tangan Rafael untuk masuk kedalam mobil, Millie sangat kesal melihat reaksi ibu ibu itu
"Kenapa?" tanya Rafael
"Aku kesel banget sama mereka, pandangannya seolah olah kayak mencurigai sesuatu"
"Mungkin mereka ngira kita belum nikah kali" ucap Rafael
"Gak bisa apa nanya dulu? jalan, aku masih mual"
"Kita ke rumah sakit dulu ya.. siapa tahu ada Rafael junior di dalam sini" Rafael mengelus perut Millie
"Aku cuma telat makan aja tadi siang"
"Pokoknya aku mau periksa dulu baru kita pulang, aku yakin pasti kamu lagi hamil" wajah Rafael yang tadinya muram kini cerah berseri di Liputi kebahagiaan
Rafael dan Millie langsung pergi ke rumah sakit untuk menemui dokter kandungan, di ruang tunggu Rafael senantiasa mengelus perut Millie
Akhirnya giliran mereka untuk masuk ke ruangan dokter, Millie menjalani serangkaian pemeriksaan oleh dokter
"Bagaimana dokter.. istri saya sudah hamil berapa bulan?" tanya Rafael
"Maaf tuan tapi istri anda tidak sedang mengandung.. mual yang istri anda rasakan itu karena masuk angin tapi... ada sesuatu yang harus saya katakan" senyum bahagia di wajah Rafael pudar seketika
"Tentang apa dok?" tanya Millie
"Rahim anda bermasalah dan kemungkinan untuk hamil sangat kecil, kalian bisa melakukan perawatan rutin namun tidak menjamin akan cepat di berikan momongan"
"Kalian perlu berusaha dan berdoa semoga saja Tuhan segera menganugerahkan kalian seorang bayi" ucap dokter
Millie terdiam menatap Rafael dengan wajah kebingungan, Rafael merangkul istrinya seraya tersenyum untuk memberitahu pada istrinya bahwa semuanya baik baik saja
"Kita masih bisa berusaha" ucap Rafael
"Berarti kita gak bisa punya anak?" tatapan Millie berubah sendu
"Bukan gak bisa sayang, kita cuma butuh waktu lebih lama" ucap Rafael
Millie kecewa pada dirinya sendiri karena menghancurkan harapan Rafael yang ingin segera memiliki momongan, Millie memeluk Rafael menumpahkan segala kekecewaannya
__ADS_1