
Sekelompok pemotor itu berhasil mengepung Millie dan Rafael, Millie segera turun melawan mereka bersama Rafael
Millie melindungi Rafael yang ada di belakangnya namun tetap saja Rafael tersungkur di hajar beberapa orang, Millie membuat lawannya terjatuh barulah menolong Rafael
"Pukul gue" ucap Rafael pelan
"Tapi bang.. " anak buahnya menolak, mereka hanya berpura-pura memukul Rafael
"Cepet.. temen lo udah hampir kalah dia kesini" akhirnya mau tidak mau mereka menghajar Rafael yang tidak melawan sama sekali
Millie menyelesaikan tiga orang dan mereka terjatuh bersamaan, kini dia berlari menendang salah satu orang yang memukul Rafael
perkelahian masih berlanjut Millie benar-benar melindungi Rafael yang ada di belakangnya meskipun dia juga terkena pukulan, Meskipun Millie cukup handal dalam berkelahi tapi satu wanita melawan tujuh pria memang terlalu sulit
Millie sudah merasa lelah dia menggelengkan kepalanya sedang memikirkan taktik untuk melawan mereka, hampir selesai Millie dengan susah payah mengalahkan mereka beruntung terdengar suara mobil polisi yang hendak patroli membuat mereka kabur
Millie menjatuhkan dirinya bersandar di motor dengan nafas ngos-ngosan, Rafael juga duduk di samping Millie ikut menyandarkan tubuhnya
"Bapak payah banget sih.. masa saya yang jagain bapak" ucap Allea sambil tersengal
"Kamu kan tau saya baru belajar bela diri"
"Haish... bapak gak apa apa? saya haus pak" Millie berdiri meregangkan otot ototnya
"Gak apa apa" Rafael ikut berdiri, karena jalanan gelap Millie baru melihat wajah Rafael yang lebam dengan kening sedikit berdarah
"Bapak luka? maaf ya pak gara gara saya bapak jadi kena" Millie mengangkat dagu Rafael
"Kamu kenapa bisa di kejar kejar sama mereka? "
"Ceritanya panjang pak, salah saya juga sih terlalu emosi hari itu" Jawab Millie
"Kamu salah apa? " tanya Rafael
"Gak usah kepo pak.. jalan pak kita cari apotek" Mereka melanjutkan perjalanannya menuju apotek
Sesampainya di apotek setelah membeli obat Millie membantu mengobati luka di wajah Rafael, Rafael menatap wajah Millie yang juga terluka
Meski hanya sedikit karena Millie melindungi wajahnya tapi sepertinya luka di tubuhnya cukup banyak hanya saja dia tidak menunjukkan rasa kesakitan, Millie menyimpan kembali sisa obat yang di oleskan ke wajah Rafael
"Kamu juga luka, gak sekalian di obatin? " tanya Rafael
"Gak usah lah, saya obatin di rumah aja" Jawab Millie
"Kamu gak merasa kesakitan? Padahal tadi saya liat kamu kena pukul"
"Sakitlah.. bapak kira saya robot? " Millie malah tertawa mendengar pertanyaan Rafael
"Kenapa kamu gak meringis atau ngeluh sakit gitu? padahal biasanya cewek sensitif"
"Buat apa? emang kalo meringis, nangis, bisa nyembuhin sakitnya? enggak kan? dah lah kita pulang pak capek saya" Millie kembali memakai tas di punggungnya
__ADS_1
"Kamu lanjut pulang aja, saya dianter sampai sini aja"
"Nanti ke bengkelnya gimana? " tanya Millie
"Biar nanti saya telepon orang, kamu hati hati''
'' Ya udah saya duluan pak" Millie mengambil dan memakai helmnya
Motor Millie melesat meninggalkan Rafael di apotek itu
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Bang.. lo gak apa apa? sorry tadi kekencengan ya? " anak buah Rafael menghampirinya ketika sampai di markas
"Gak apa apa.. sekarang gue tau kenapa dia bisa jago bela diri"
"Kenapa bang? "
"Dia udah sabuk hitam dan kadang di suruh ngajar orang baru juga, gue denger denger Dojo itu punya papanya"
"Pantesan, tendangannya kenceng banget"
Anak buah Rafael juga sama babak belur oleh Millie, Rafael masuk ke kamarnya dia mematut dirinya di cermin
"Gue harus buat lo bertekuk lutut di bawah kendali gue setelah itu gue akan dengan mudah hancurin lo" Gumam Rafael
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Nah.. nih anak pulang" Ello berkacak pinggang di depan pintu
"Silahkan yang mulia, maaf kan hamba" ucap Millie layaknya pengawal kerajaan
"Ohh... maling yang handal ya.. lo ambil sama STNK nya? bener bener luar biasa" Millie hanya senyum senyum menggemaskan
"Maaf.. abis motornya keren, cobain bentar.. gak lecet kok"
"Bukan masalah motornya.. gue takut lo kenapa napa" ucap Ello
"Aaahh.. kakak lo peduli banget sama gue" Millie berhambur memeluk Ello
"Gue cuma takut motor gue di bakar sama papa kalo lo kenapa napa"
"Cih.. gue kira lo khawatir sama gue" Millie melepaskan pelukannya lalu mendorong Ello
"Muka lo kenapa? " Ello mengangkat dagu Millie tinggi tinggi
"Sssttt.. nanti kedengeran sama mama, tadi cuma latihan doang"
"Siapa yang berani bikin kamu babak belur? " ternyata Max mendengar percakapan mereka, membuat Millie lemas karena pada akhirnya mamanya akan heboh sendiri
"Siapa yang babak belur? apa itu Millie? mana Millie? " benar saja Allea berlari menuruni anak tangga menuju keluar
__ADS_1
"Kamu kenapa lagi nak? kenapa kamu selalu pulang memar memar? aduuuhh.. gimana kalo wajah kamu babak belur gak ada cowok yang mau sama kamu" Allea nyerocos membolak-balik wajah serta tubuh Millie
"Kan.. kan.. mama heboh sendiri, aku gak apa apa ma" Millie menurunkan tangan Allea dari wajahnya
"Gak apa apa gimana? ini bibir berdarah, pipi memar, pasti badan kamu juga memar kan? " Millie menggaruk kepalanya
"Siapa yang bikin kamu kayak gini? teman kamu? pelatih? " Max ikut ikutan seperti Allea
"Ini karena copet.. udah lah aku gak apa apa, aku bisa jaga diri kok"
"Ini nih biang keroknya, kamu sih ngajarin dia bela diri udah tau ini anak petakilan, gimana kalo gak ada cowok yang mau sama dia? jangankan jadiin istri cowok cowok pasti takut sama dia" Allea jadi memarahi suaminya
"Kok jadi papa yang di salahin? " keduanya malah cekcok membuat Millie pusing, sementara Ello hanya bersandar di pintu menonton keduanya bersama dua adiknya yang lain
"Mama.. papa.. " Millie merangkul keduanya lalu mencium pipi Allea dan Max bergantian
"Millie suka kayak gini, Millie janji akan baik baik aja, jangan ribut lagi" ucap Millie bicara pelan pelan
"Kamu yang bikin kita ribut" ucap Max dan Allea bersamaan seraya menjewer kedua telinga Millie
"Mama.. papa.. sakit"
"Udah masuk sana mandi nanti mama obatin lukanya" titah Allea
"Siap mamaku yang cantik, yang demplon" cicit Millie seraya menepuk bokong Allea
"Ini anak kenapa sih? bener-bener deh" Allea menatap anaknya terheran-heran karena hanya dia yang membuat pusing kedua orang tuanya
Millie masih berbicara dengan Ello di depan pintu sementara adik adiknya dan orang tuanya sudah lebih dulu masuk, mobil Dirga baru saja masuk pekarangan rumah
"Pantesan kita ke Dojo kamu gak ada, udah pulang" ucap Ellia
"Ya kalo pacaran dulu mana sempet ketemu, ya kali gue masih di Dojo jam segini" jawab Millie terkesan sinis
"Biasa aja bibirnya" Ello mencomot bibir Millie yang manyun manyun saat dia mengomel
"Sakit.. " pekik Millie seraya memukul lengan Ello
"Ehh.. sorry gue lupa" Ello menangkup wajah adiknya dan meniup pelan luka Allea
"Lo kenapa? lo berantem sama siapa? " Dirga merebut wajah Millie dari tangan Ello dan menangkup nya
"Gak apa apa.. cuma pencopet "
"Bibir lo berdarah Millie" Dirga mengusap darah dari bibir bawah Millie dengan ibu jarinya
"Jangan pegang pegang, sembarangan lo" Ello menarik kepala Millie dan memeluknya
Ellia hanya diam mematung melihat mereka begitu perhatian pada Millie yang selalu membuat khawatir semua orang, Millie melompat ke punggung Ello dan mereka pergi dengan Millie yang meminta di gendong
"Kamu istirahat.. aku pulang ya" ucap Dirga
__ADS_1
"Iya.. makasih udah temenin jalan jalan" jawab Ellia
"Kalo ada apa apa hubungin aku aja" ucap Dirga seraya mengusap kepala Ellia lalu pergi