
Millie sedang bergurau bersama keempat teman laki-lakinya, mereka berjalan sambil tertawa sampai Millie tidak melihat jalan di depannya
Brukkkhh
"Sorry.. sorry... lo gak apa apa? " Millie mengulurkan tangannya pada gadis yang jatuh karena dirinya
Gadis itu tidak menjawab dia memegangi perutnya seraya mengepalkan tangannya erat, Millie memperhatikan dengan seksama wajah gadis itu lalu menyingkap rambut yang menutupi wajahnya
Millie teringat tentang masalah semalam dia di sangka hamil karena benda kecil milik gadis itu, Millie menyadari sesuatu dan langsung meminta Abra untuk menemaninya membawa gadis itu ke rumah sakit
"Hei.. mau kemana kalian? " tanya satpam sekolah
"Temen saya sakit pak, ini darurat" teriak Millie sambil masuk ke dalam mobil
"Tunggu... kamu gak bisa di percaya" satpam berlari untuk menutup gerbang namun terlambat mobil Abra sudah melewati gerbang
"Anak anak nakal itu pasti alasan lagi" satpam sudah tahu siapa Millie, Abra juga ketiga temannya yang selalu membuat ulah
Sesampainya di rumah sakit hanya Millie yang ikut masuk sementara Abra dia suruh menunggu di luar, Gadis itu tampaknya sangat gelisah Millie yang menyadari itu menggenggam tangannya
"Ada keluhan apa? " Tanya dokter
"Saya gak sengaja tadi nabrak temen saya sepertinya dia kesakitan" ucap Millie
"Enggak dokter saya gak apa apa.. saya mau pulang aja"
"Jadi sebenarnya sakit atau enggak? " tanya dokter
"Tadi dia kesakitan dok" jawab Millie
"En.. enggak dok saya baik baik aja" Dia menyangkal
Millie menggelengkan kepalanya ketika gadis itu berdiri hendak pergi, baru saja beberapa langkah tiba-tiba tubuhnya ambruk tidak sadarkan diri
Dokter sudah memeriksa gadis tersebut dia menatap Millie dengan tatapan menyelidiki, Millie berpikir dia akan terkena masalah lagi kali ini
"Panggil orang tuanya" ucap dokter
"Tapi saya gak tau orang tuanya dok"
"Kamu bilang tadi temen sekolah? seragam kalian juga sama"
"Satu sekolah doang, saya juga gak tau dia kelas berapa" jawab Millie
"Mana handphonenya? telepon orang tuanya" Millie mengambil handphone gadis itu dan menelpon kontak yang bertuliskan nama 'mama'
__ADS_1
"Halo.. kenapa? mama lagi kerja ini, nanti mama di marahin sama bos"
"Tante... saya temennya anak tante, sekarang anak tante di rumah sakit"
"Apa? rumah sakit mana? "
"Rumah sakit kasih ibu"
"Tolong jaga dulu di sana ya nak, tante kesana sekarang"
"Ibunya pasti syok banget" batin Millie menatap gadis itu yang belum sadar
Sesaat setelah gadis itu sadar ibunya pun datang dan dokter menceritakan tentang kondisi anaknya yang sedang hamil muda, Ibunya begitu syok sampai menampar dan menyerang anaknya, beruntung Millie dan dokter melerai
"Anak tidak tau di untung, ibumu mati-matian mencari uang untuk menyekolahkanmu ini balasannya? harusnya aku tidak melahirkan dirimu, apa kamu tidak memikirkan ayah dan ibumu ketika melakukan itu? almarhum ayahmu pasti akan sangat kecewa sama kamu" ibu itu histeris, Millie yang ada di sana hanya diam dia bingung harus bagaimana sekarang
"Kamu pasti udah tau sebelumnya kan ? atau jangan jangan kamu yang membawa pengaruh buruk buat anak saya" Ibu itu marah marah pada Millie
"Maaf ibu.. anak ibu yang mantap mantap kenapa saya yang di salahkan? saya gak ikutan bikin bu, jangan menyalahkan orang lain untuk keburukan anak ibu, kalaupun ada orang yang membawa pengaruh buruk buat dia harusnya dia tahu mana yang salah dan mana yang benar karena dia sudah besar, bukan begitu? " Millie terus bicara tanpa titik dan koma
"Anak ini" Gumam dokter mengulum senyumnya mendengar Millie
"Saya permisi, daaan.. satu lagi saya bukan teman anak ibu, saya bawa dia kesini karena merasa bersalah tadi saya nabrak dia, biaya rumah sakit udah saya bayar" ucap Millie lalu pergi
"Abra" Millie senyum senyum sendiri memegangi lengan Abra
"Pinjem duit dong buat bayar rumah sakit, besok gue bayar janji " Abra menghela nafas
"Ayo deh" ketika Millie dan Abra hendak pergi seseorang menahan tangan Millie
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Millie, Millie mengepalkan tangannya seraya menggertakkan giginya
"Kenapa lo telepon nyokap gue? lo sengaja kan biar dia tau? lo udah tau kan sejak awal kalo gue hamil? " teriaknya di hadapan Millie
"Kalo lo gak hamil udah gue gampar lo, lo yang salah kenapa sekarang marah sama gue? lo pikir hamil kayak jerawat makin lama makin kempes? mau sekarang atau pun nanti lo juga bakal ketauan kecuali lo gugurin bayinya"
"Harusnya lo marah sama cowok yang buat lo hamil atau lo minta pertanggungjawaban buka malah nyalahin orang lain, emak sama anak sama sama suka nyalahin orang.. dasar beban keluarga" ucap Millie lalu pergi dengan kekesalannya
Abra menatap mereka bergantian lalu pergi mengejar Millie yang sudah berjalan lebih dulu, Abra tau betul sebenarnya Millie tidak berniat bicara seperti itu namun karena gadis itu lebih dulu menampar Millie jadi kata kata pahit dari mulut Millie terlontar begitu saja
"Apa lo gak keterlaluan tadi? " tanya Abra seraya mengeluarkan kartu di dompetnya, Millie menatap sinis membuat Abra menelan ludah
"Lo yang bayar gue ada urusan, nanti tunggu di mobil" ucap Millie lalu pergi
__ADS_1
Millie pergi menuju ruang rawat Rafael karena kebetulan dia berada di rumah sakit yang sama, Millie membuka pintu ruangan dan melihat Rafael berdiri berhadapan dengan seorang wanita yang memasangkan kancing kemejanya
"Millie.. " Rafael menghentikan tangan wanita itu dan berjalan ke arah Millie
"Maaf ganggu ya? aku cuma kebetulan nganter temen sekolah, aku harus kembali ke sekolah" Millie berbalik pergi
"Millie tunggu.. kamu mau kemana? " Rafael mengejar Millie dan menahan tangannya
"Mau ke sekolah lagi kasian Abra nungguin di bawah, kayaknya kamu juga udah sehat"
"Pipi kamu kenapa? " Rafael menyibak rambut Millie
"Gak apa apa.. kamu balik lagi aja ke kamar aku udah mau pulang kok"
"Kamu gak marah? aku belum jelasin soal dia" ucap Rafael
"Marah? kenapa harus marah? Kamu bebas punya teman cewek tapi jangan larang aku berteman sama cowok.. udah ya Abra nungguin" Tidak ada kemarahan sama sekali di wajah Millie
"Aku anter kamu pulang"
"Gak usah... kamu masih sakit, aku sama temen aku ke sini gak enak juga kalo ninggalin dia" Millie melepaskan tangannya dari Rafael
"Aku udah keluar dari rumah sakit, aku bisa anter kamu pulang jangan terlalu sering pergi sama temen cowok kamu" Millie mengerutkan keningnya
"Eemm... aku udah bilang jangan larang aku berteman sama siapa pun karena aku juga gak akan larang kamu, jangan egois" Millie menepis tangan Rafael lalu pergi
"Millie... " Millie tidak menghiraukan Rafael yang memanggilnya
Millie berjalan dengan cepat menuju tempat parkir dimana Abra sudah menunggu, Millie masuk ke dalam mobil dengan raut wajah cemberut
"Kenapa lo? gara gara di tampar? " tanya Abra
"Gak.. tamparannya gak berasa sama sekali" jawab Millie
"Terus kenapa? "
"Gue mau tanya sama lo.. kalo dada lo ngerasa sesak liat cewek yang lo suka keliatan mesra sama cowok lain itu kenapa ya? " Millie menghadap Abra
"Sesak? asma kali" jawab Abra
"Bukan bego.. kayak.. kayak.. kayak apa ya? dah lah gas usah di bahas kayak gue salah nanya orang" Ucap Millie
"Terus apa dong? "
"Udah gak usah di bahas, jalan.." Millie dan Abra pun pergi meninggalkan rumah sakit
__ADS_1
"Apa gue cuma iri? tapi kenapa rasa irinya beda sama kayak ke kak Dirga dan kak Ellia? bodo amatlah.. kenapa gue harus pikirin dia" Batin Millie