
"Mau kemana lagi? katanya tadi gak enak badan"
"Aku mau beli sesuatu ma... bentar aja kok" Irene membawa tas kecil pergi meninggalkan rumah
"Anak itu bentar bentar sedih, bentar bentar biasa aja.. aneh" mama Irene menggeleng mengingat kelakuan anaknya
Irene menghabiskan waktunya untuk berjalan jalan dengan mobilnya, dia hanya mencari hiburan di kala kesepian
"Kita mau kemana ya? Lo mau pergi ke suatu tempat gak? "Tanya Irene pada janin yang di kandungnya
" Itu kayaknya ada tukang rujak, kita kesana ya"
Ketika melewati Irene melihat berdiri di jembatan dia Melihat seorang gadis yang memakai pakaian pasien rumah sakit berdiri di pinggir jalan, entah kenapa Irene ingin terus menatapnya meskipun mobilnya sudah melewati gadis tersebut
Irene melihat dari kaca spion gadis itu naik ke pembatas jalan, Irene segera menepikan mobilnya dan berlari menghampiri gadis tersebut
"Hei... turun dari sana" teriak Irene
"Jangan mendekat atau gue loncat"
"Enggak.. oke diem disitu" Irene kembali menjauh
"Jangan melakukan hal bodoh, apapun masalah hidup lo akan ada jalan keluarnya.. mati bukan satu satunya cara, inget kedua orang tua lo pasti sedih liat anaknya mati sia-sia" ucap Irene
"Siapa lo larang larang gue? orang tua? gue udah bikin mereka sedih dan gue udah bikin mereka malu, dengan matinya gue setidaknya mereka tidak akan menanggung malu karena gue" Irene memutar otaknya agar dapat membujuk gadis itu turun
"Tapi mati bukan jalan satu satunya, gue juga udah bikin kecewa orang tua gue tapi mereka akan lebih sedih kalo kehilangan kita, masalah bisa di cari solusinya tapi nyawa? mereka akan bersedih selamanya ketika mengingat lo menyia-nyiakan hidup lo sendiri"
"Orang tua gue malu karena gue hamil di luar nikah tapi mereka gak mau kehilangan gue, mereka berusaha menyelesaikan permasalahan gue" gadis itu mulai menoleh
"Lo hamil di luar nikah? "
"ya... sekarang usianya sudah satu bulan lebih" jawab Irene
"Gak.. lo bohong" gadis itu kembali naik ke pembatas yang lebih tinggi
"Kayaknya dia juga hamil" batin Irene
"Stop... gue gak bohong, tunggu.. ini foto USG janin gue" ketika gadis itu hendak mengambil foto USG dengan tangannya tiba-tiba satu kakinya tergelincir membuat dia tergantung di pembatas jembatan
Irene berusaha menarik tangan gadis tersebut dia juga menangis ketakutan, niatnya bunuh diri tapi hampir jatuh membuatnya menangis ketakutan
"Perut gue sakit" Perut Irene tertekan besi pembatas karena berat badan gadis tersebut
__ADS_1
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Mami.. tunggu.. " Anna mengejar mami Rafael yang hampir naik angkot
"Apa? kamu mau ikut ke pasar? "
"Bukan.. aku mau bilang sesuatu sama mami" mami Rafael mengurungkan niatnya dan kembali berjalan dengan Anna
"Ada hal apa? " tanya mami Rafael
"Mami tau gak kenapa perusahaan papi kak Rafael bangkrut? "
"Om di tuduh korupsi padahal itu gak bener, kami harus menjual seluruh aset yang kami punya untuk membayar kerugian semua koleganya " tutur mami Rafael dengan sedih
"Kalo aku tau siapa yang bikin perusahaan tante bangkrut apa tante akan percaya? "
"Apa maksud kamu? " Mami tampaknya agak terkejut
"Aku dengar kak Rafael dan Millie bilang kalo papa Millie yang bikin perusahaan mami bangkrut"
"Gak mungkin, Millie pacar Rafael gak papanya setega itu.. Rafael sangat dekat papanya Millie
" Mami tanya aja sendiri" Mami Rafael mengurungkan niatnya untuk pergi ke pasar dia kembali pulang ke rumah
Beberapa saat kemudian mami Rafael sudah sampai di rumah kembali, Rafael dan Millie sedang mengajak William berjalan jalan di halaman rumahnya
"Mami mau tanya, apa bener papa kamu yang bikin perusahaan almarhum papi Rafael bangkrut? " Millie dan Rafael saling pandang
"Mami ngaco deh.. itu gak mungkin" Rafael tertawa di paksakan sementara Millie tampak gugup
"Jawab yang jujur"
"Aku denger sendiri mami.. kak Rafael cuma lindungi Millie sebenarnya kak Rafael udah tau " sergah Anna
"Mi jangan jangan percaya... " perkataan Rafael terputus saat Millie menahan tangannya
"Semua ada alasannya mi... itu.. " Tanpa menunggu Millie menyelesaikan ucapannya mami Rafael menarik tangan Millie dan mengusirnya
"Pergi kamu dari sini... jangan pernah menampakkan wajah kamu lagi di hadapan saya dan jangan temui anak saya lagi" Millie di seret dan di dorong ke mobilnya
"Mi.. aku bisa jelasin"
"Pergi kamu dari sini, saya gak mau liat kamu lagi"
__ADS_1
"Mami gak bisa gitu dong, Millie pacar aku mi" Rafael membeli
"Kamu lebih memilih wanita yang sudah membuat hidup kamu menderita? kamu bahkan masih menginginkannya setelah dia menghancurkan perusahaan peninggalan papi kamu? kamu mau jadi anak durhaka? "
"Ini salah aku mi.. aku yang salah, apa yang menimpa kita sebenarnya salah aku dan suami mama" Millie menggelengkan kepalanya
"Aku minta maaf mi... aku janji bujuk papa buat kembaliin perusahaan keluarga mami, aku permisi" ucap Millie lalu pergi masuk ke dalam mobilnya
"Mi... Mami gak bisa bersikap seperti itu sama Millie" Rafael hendak menghampiri Millie namun mami nya menahan tangannya
"Kamu pilih dia atau mami? kalo kamu pilih dia silahkan pergi angkat kaki dari rumah ini dan jangan menanggap mami masih hidup" akhirnya Rafael diam menatap kepergian Millie
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Irene menggenggam tangan gadis itu meskipun perutnya begitu terasa sakit, beruntung pengendara lain berhenti dan membantu mereka
"Jangan berpikiran bodoh lagi" ucap Irene sambil memegangi perutnya
"Lo gak apa apa? "
"Gak apa apa, makasih bapak bapak sudah menolong kami" ucap Irene
Irene mengajak gadis tersebut menuju tukang rujak yang sedari dia inginkan, Kini mereka masih menikmati rujak yang mereka pesan di pinggir jalan
"Btw lo beneran hamil? "
"Iya.. berat buat gue, gue belum siap.. gue masih mau menikmati masa muda gue tapi gue kejadian itu membuat gue harus memiliki anak di usia muda" jawab Irene
"Pacar lo mau tanggung jawab? "
"Awalnya enggak... anak ini hasil p*rk*s**n tapi sekarang dia mau bertanggung jawab" ucap Irene
"Lo beruntung... gue harus menghadapi kenyataan kalo cowok yang gue sayang pergi gak mau bertanggungjawab"
"Gue yakin akan jalan keluar dari semua permasalahan.. lo di rawat di rumah sakit mana? biar gue anter" tanya Irene
"Gue Anggia" gadis itu mengulurkan tangannya
"Gue Irene, kita bisa sharing masalah kehamilan kalo lo mau jadi temen gue" Irene menjabat tangan tangan Anggia
"Gue mau.. selama ini gue gak pernah punya temen dekat"
"Gue juga, gue gak pandai berteman.. gue cuma satu temen yang sekarang mau jadi adik ipar gue" Irene dan Anggia masuk ke dalam mobil untuk mengantar Anggia kembali ke rumah sakit
__ADS_1
"Apa dia orang yang menyenangkan? "
"Tentu.. kapan kapan gue ajak lo ketemu sama dia"