
"Kak beneran gak mau ikut jalan jalan? " Tanya Millie
"Enggak lah lagi males... di jemput kesini kan? aku gak bisa anter"
"Iya.. tenang aja, Jangan rebahan mulu dong bangun ngapain kek gitu" ucap Millie
"Oek... oek.. " Irene berlari menuju kamar mandi
"Kak.. kakak gak apa apa? " Tanya Millie
"Gak apa apa, udah biasa.. oek" Millie menatap iba pada Irene
"Kayak aku gak jadi pergi deh, aku tungguin kakak di sini aja"
"Gak perlu, kamu pergi aja.. ini cuma pagi aja kok setelah ini pasti lebih baik" jawab Irene
"Serius? "
"Iya.. ini jauh lebih baik" Millie memapah Irene menuju sofa
"Itu pacar kamu deh kayaknya.. sana pergi aja"
"Kakak gak apa apa?" tanya Millie
"Gak apa apa.. disini ada bibi, tenang aja"
"Ehh apaan nih? " Millie menginjak sebuah gelang di bawah sofa
"Bagus banget gelangnya.. punya kakak? " Tanya Millie
"Pake aja kalo mau tapi jangan sampe ilang ya? mahal tuh" Millie pun tersenyum mencoba gelang tersebut
"Pinjem ya, ini satu lagi rantainya putus? " tanya Millie
"Iya.. gak tau putus dimana, Tapi masih laku mahal tuh, itu limited edition cuma ada sepuluh pasang"
"Gak sayang apa beli ginian mahal mahal? " Ucap Millie
"Kan masih bisa di jual, makanya jangan sampe ilang.. susah tuh belinya "
"Oke.. aku jagain, pergi dulu ya.. daahh" Irene begitu percaya pada Millie, dia senang bisa dekat dengan Millie dia merasa memiliki adik di hidupnya yang sepi
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Kita jadi kan nganter kak William? "
"Jadi.. mereka udah siap tinggal nunggu tuan putri aja" jawab Rafael
"Kita kesana pake mobil siapa? " Tanya Millie
"Pake mobil William, aku kan gak punya mobil" Millie jadi merasa tidak enak dengan Rafael, Millie tidak bertanya lagi dia memeluk Rafael dan menyandarkan kepalanya di punggung Rafael
"Kamu tidur ya?" Tanya Rafael
__ADS_1
"Enggak kok, enak aja nyender" Jawab Millie
Mereka sampai di rumah Rafael langsung di sambut hangat oleh Mami Rafael, Anna menatap langit tidak suka pada Millie
"Lama banget, lain kali kalo mau ikut jangan lelet" Sindir Anna sambil melewati Millie
"Dihh.. apaan sih? " gumam Millie
" Mami duduk di depan aja, biar Aku sama mereka di belakang " ucap Millie ketika Anna membuka pintu depan
Millie menarik baju Anna ke belakang lalu mempersilahkan Mami Rafael masuk, setelah menyentuh Anna Millie menepuk-nepuk tangannya sendiri
"Millie memang sangat sopan, gak salah kamu cari pacar" ucap mami Rafael membuat Millie tersipu
"Jangan di puji mi, liat tuh idungnya kembang kempis" ucap Rafael aku seraya menatap Millie dari pantulan kaca
"Apa sih? usil deh"
Mata Anna Mendelik melihat kedekatan Millie dengan Rafael dan maminya, William senang Rafael tidak lagi menyalahkan Millie atas semua yang terjadi
Ketika William di temani mami masuk Millie, Rafael dan Anna menunggu di luar, Millie dan Rafael bersenda gurau sementara Anna sendiri terhalang tiga kursi dengan mereka
"Gelang baru? " tanya Rafael
"Ini pinjem punya kak Irene" jawab Millie
"Kalo aku masih banyak uang mungkin aku udah beliin buat kamu, gak perlu pinjem" Ucap Rafael
"Apa sih.. gak pengen juga, penasaran aja gimana rasanya pake gelang "
"Gak usah beliin apapun, aku bisa gini aja sama kamu udah seneng"
"Manis banget sih" Rafael terkekeh sambil mencubit hidung Millie
"Kak anter beli cemilan.. kayaknya bakalan lama deh" Anna menarik tangan Rafael yang di genggam Millie
"Lo beli sendiri aja lah" Rafael menepis tangannya
"Sayang.. aku juga mau beli cemilan, mau gak anterin aku? " ucap Millie dengan nada manja
"Kamu mau? kalo gitu kita cari" Rafael langsung berdiri dan Millie menggandeng tangan Rafael
"Kok diem? katanya mau di anterin cari cemilan? " tanya Millie ketika melihat Anna hanya mematung
Anna mengikuti mereka dengan wajah muram bagaimana tidak mereka selalu menempel walaupun saat berjalan, Di dekat rumah sakit ada sebuah minimarket mereka datang kesana untuk mencari cemilan
Millie berusaha menggapai snack yang tempatnya lebih tinggi, tiba-tiba saja tubuhnya melayang ketika Rafael mengangkat pinggang Millie ke atas
"Isshh.. kaget tau" Millie memukul bahu Rafael ketika menurunkannya
"Rajin berenang biar tinggi" ledek Rafael
"Kenapa? masalah sama tinggi badan aku? hhm.. pergi sana" Millie mendorong dada Rafael lalu pergi
__ADS_1
"Cih.. menggemaskan sekali" Gumam Rafael seraya mengikutinya
"Kak bisa tolong" langkah Rafael terhenti saat Anna meminta bantuannya
Mungkin Anna berpikir Rafael akan memperlakukannya seperti Millie tadi, Rafael menghampirinya mengambil snack itu dan meletakkannya di keranjang lalu pergi
"Bahkan dia gak ngomong sama sekali" lirih Anna
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Sial... " Irene turun saat ban mobilnya pecah
Irene menelpon bengkel langganan nya dan menunggu seraya duduk di dalam mobil, Tiba tiba dua motor berhenti di dekat mobilnya mengetuk pintu mobil
"Apa yang anda lakukan disini? " Irene belum menjawab dia melihat penampilan orang-orang tersebut sepertinya mereka preman
"Lo gak ngerti bahasa manusia? " bentak yang lain membuat Irene tersentak
"Gak apa apa.. kalian bisa pergi" ucap Irene
"Ban mobil lo kempes? Gue ganti gimana? "
"Gak usah.. saya gak bawa ban gantinya, ini lagi nunggu orang bengkel" jawab Irene
"Bagi duit dong" melihat ada yang tidak beres Irene segera menutup jendela mobilnya namun tangan mereka berhasil masuk sebelum jendelanya tertutup
Tangan mereka membuka pintu mobil dan menarik Irene keluar, Irene mengibaskan tasnya pada orang orang tersebut
"Kalian mau apa sih? minggir gak" Irene memukuli mereka dengan tasnya
Salah seorang dari mereka berhasil merebut tas tersebut dan mendorong Irene, ketika mereka hendak memukul Irene tiba tiba sebuah mobil berhenti
Irene menutup wajahnya mengira pukulan orang tersebut akan mengenai wajahnya, Irene membuka tangannya dan melihat salah satu dari mereka sudah tersungkur
Ello menghajar mereka dan mendapatkan kembali tas milik Irene, Ello menghampiri Irene dan mengembalikan tasnya
"Lo gak apa apa? " tanya Ello
"Enggak.. thanks" Ello melihat Irene memegangi perutnya
"Lo mau di anter ke rumah sakit? " tanya Ello
"Gak usah" Irene pergi begitu saja meninggalkan Ello
"Oh..ban mobilnya pecah" gumam Ello ketika melihat Irene pergi menjauh
"Mau gue anterin gak? " Irene bahkan tidak menoleh sama sekali dia tetap berjalan kaki menjauhi Ello
Ello mengikuti Irene dengan mobilnya sampai Irene berjalan begitu jauh, Irene berhenti sejenak untuk melepas sepatu hak tingginya
Irene duduk di trotoar memijat kakinya yang tampaknya sedikit lecet, mobil Ello berhenti di hadapan Irene dan turun melihat keadaannya
"Gue anter aja" ucap Ello
__ADS_1
"Gak perlu" Irene kembali pergi menenteng sepatunya berjalan tidak memakai alas kaki
Sialnya lagi cuaca hari itu begitu panas membuat Irene sesekali berjinjit, Ello kembali mengikuti Irene dari belakang sampai Irene mencegat taksi dan pergi